Peletakkan Batu Pertama oleh Bupati Sleman Tandai Dimulainya Pembangunan Ponpes Al Muharrir

Sleman – Pembangunan Masjid Darussalam sekaligus Pondok Pesantren Al Muharrir yang berlokasi di Dusun Jlegongan, RT 01 RW 11, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman telah dimulai dengan peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, Sabtu (4/3/2023).  Masjid yang menempati area seluas 362 m2 yang merupakan tanah wakaf dari keluarga Sriyono tersebut akan dikelola oleh Yayasan Mustadh’afin Bina Insani.

Hadir dalam peletakan batu pertama tersebut, mantan Bupati Sleman Sri Purnomo, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Arif Kurniawan,  Plt Panewu, Danramil, Polsek, KUA Seyegan, Lurah Margodadi, Dukuh setempat dan tokoh masyarakat serta alim ulama di wilayah Seyegan.

Yayat Hidayat, Ketua Panitia Pembangunan dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagaimana nama Al Muharrir yang berarti pengabdian masyarakat, keberadaan madjid dan Ponpes nantinya juga berusaha untuk memberdayakan masyarakat melalui proses pendidikan, pengasuhan, pengajian dan pemberian skill kepada masyarakat.

Dengan visi misi yayasan Bina Insani, yang memberikan pengasuhan kepada anak yatim dan dhuafa, keberadaan madjid dan ponpes diharapkan mampu memberi pelayanan dan pendampingan sehingga bisa melahirkan generasi unggul.

“Pada dasarnya yayasan ini juga milik masyarakat sehingga yayasan berharap masyarakat juga mendukung dengan keberadaan masjid dan ponpes Al Muharrir,” ujar Yayat.

Siti Baroroh, Plt. Penewu Seyegan dalam sambutannya mengharapkan pembangunan masjid Darussalam merupakan langkah pertama Ponpes Al Muharrir mendapat dukungan dari masyarakat muslim dimanapun berada sehingga pembangunan bisa berjalan dengan lancar.

Sementara Kustini Sri Purnomo, Bupati Sleman dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada panitia dan mendukung sepenuhnya pembangunan masjid dan Ponpes.

“Masjid pada dasarnya milik umat sehingga ada kewajiban untuk memakmurkan masjid setelah selesai dibangun. Sedangkan keberadaan Ponpes merupakan tempat generasi penerus untuk meningkatkan imtaq dan menciptakan generasi Qurani,” ujar tukas Kustini.

Kustini juga berpesan untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunannya sehingga masyarakat merasa memiliki.

Setelah selesai sambutannya, dengan didampingi tamu undangan, Bupati Sleman berkenan untuk meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Darussalam dan Ponpes Al Muharrir, diikuti oleh Sri Purnomo, Siti Baroroh dan Arif Kurniawan. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

Sebagai penutup acara, dilaksanakan Pengajian yang disampaikan oleh Sri Purnomo. Dalam tauziahnya, Sri Purnomo selain menyinggung tentang kewajiban umat islam untuk memakmurkan masjid, juga disampaikan tentang persiapan dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan.

Sri Purnomo, menyampaikan tentang amalan di bulan sya’ban yang banyak dilupakan oleh umat islam. Sri Purnomo mengajak jamaah yang hadir untuk memperbanyak amalan sunnah dibulan sya’ban terutama puasa sunnah karena pada bulan ini amalan manusia dilaporkan kepada Allah SWT.

“Sekaligus amalan di bulan sya’ban tersebut dijadikan pemanasan untuk memasuki bulan suci Ramadan.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Tingkatkan Daya Tarik Wisata, Pemkab Sleman Gelar Tour de Sleman 2023

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menggelar kegiatan Tour de Sleman pada Minggu (5/3/2023). Kegiatan yang diiniasiai oleh Dinas Pariwisata Sleman ini dibuka langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo di Pendopo Rumah Dinas Bupati. Selain itu, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa turut serta meramaikan kegiatan ini dengan menjadi peserta.

Tour de Sleman sendiri merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk mengangkat citra potensi pariwisata Sleman melalui kegiatan bersepeda. Selain untuk menarik kunjungan wisatawan ke destinasi yang ada di Sleman, Tour de Sleman ini juga diselenggarakan untuk  memperkenalkan produk wisata budaya.

Koordinator acara Tour de Sleman 2023, Luqi, mengatakan, pada tahun ini Tour de Sleman dilaksanakan dengan menempuh jarak lintasan 110 km. Terdapat 3 kategori peserta pada kompetisi ini yakni, kategori pria dengan usia lebih dari 40 tahun, pria berusia kurang dari 40 tahun, dan kategori wanita.

“Ini adalah pelaksanaan ketiga kalinya dengan total 240 peserta. Sebelumnya meskipun masa pandemi, kami juga telah melaksanakan Tour de Sleman secara virtual,” jelas Luqi.

Pada tahun ini, peserta Tour de Sleman tak hanya datang dari Kabupaten Sleman saja. Luqi menjelaskan tercatat beberapa masyarakat dan komunitas pesepeda hadir dari Semarang, Solo, Jakarta, Madura, hingga Yaman. Luqi berharap, pelaksanaan di tahun berikutnya Tour De Sleman dapat dikenal semakin luas oleh para wisatawan dan komunitas sepeda.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas penyelenggaraan Tour de Sleman 2023. Kegiatan ini dinilai Kustini sebagai ajang kreatif untuk memperkenalkan potensi wisata Sleman. Dengan bersepeda, masyarakat dapat mengenal berbagai pilihan wisata di Sleman secara lebih dekat, sekaligus meningkatkan kesehatan.

“Kegiatan ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Saya harap nantinya peserta yang ikut dapat mempromosikan wisata-wisata yang ada di Sleman,” kata Kustini.

Kustini menyatakan, Pemerintah Kabupaten Sleman sangat mendukung pelaksanaan Tour de Sleman dan menambahkan even ini dalam agenda tahunan Kabupaten Sleman. Dengan begitu, Kustini berharap keterlibatan peserta dalam Tour de Sleman dapat meningkat setiap tahunnya.




Pemkab Sleman Raih WTP 12 Kali Berturut – Turut

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk 12 kali secara berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2022. Predikat WTP tersebut disampaikan Kepala BPK Perwakilan DIY, Widhi Widayat dalam kegiatan penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan laporan keuangan Pemkab Sleman bertempat di Kantor BPK Perwakilan DIY, Jumat (3/3).

Kepala BPK Perwakilan DIY, Widhi Widayat mengatakan bahwa BPK memberikan predikat opini WTP karena Pemkab Sleman dinilai berhasil menunjukan komitmen dalam melakukan perbaikan pengelolaan keuangan.

“Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan BPK, atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2022, termasuk implementasi atas rencana aksi yang telah dilaksanakan, maka BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2022,” jelasnya.

Widhi menyebut predikat yang diraih Pemkab Sleman ini menunjukkan komitmen dan upaya nyata DPRD serta manajemen Pemerintah Kabupaten Sleman, untuk terus mendorong perbaikan pengelolaan keuangan, dengan menjalankan dan menerapkan praktik-praktik pengelolaan keuangan yang baik.

Di samping itu, ia juga menuturkan Pemkab Sleman telah menindaklanjuti rekomendasi pemeriksaan sebanyak 917 rekomendasi dari 965 rekomendasi atau sebesar 95,03%. Persentase tersebut meningkat 2,61% dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 92,42%.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan terima kasih kepada BPK yang telah menyelesaikan pemeriksaan rinci Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2022.

“Pemeriksaan ini menjadi salah satu komponen evaluasi yang strategis bagi Pemkab Sleman untuk melihat seberapa efisien penggunaan anggaran di tahun 2022 lalu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.

Lebih lanjut, Kustini menyampaikan bahwa laporan hasil pemeriksaan yang diterima Pemkab Sleman menjadi bukti dari komitmen Pemkab Sleman dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Kustini menyebut Pemkab Sleman terus berupaya untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan daerah sehingga berhasil mewujudkan pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien.

“Syukur Alhamdulillah pada tahun ini Sleman masih berhasil mempertahankan opini WTP atas LKPD Tahun 2022. Predikat ini ini merupakan opini WTP yang kami peroleh selama 12 tahun berturut-turut. Predikat ini mendorong kami untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan yang transparan, akuntabel dan professional untuk mewujudkan good governance,” ujar Kustini.




Kembangkan Industri Bambu Seyegan, Disperindag DIY Gelar Bimtek Wirausaha Baru

Sleman – Dalam rangka penumbuhan dan pengembangan Industri kecil, menengah dan aneka, Disperindag DIY melalui dana APBN anggaran tahun 2023 mengadakan Bimtek Wira Usaha Baru (WUB) Industri Kecil Menengah (IKM) Mebel Bambu di Seyegan. Kegiatan yang berlangsung selama 5 hari dari Kamis (2/3/2023) sampai dengan Selasa (7/3/2023) ini diikuti oleh 20 peserta yang mana 4. Bertempat di rumah Ketua Kelompok Pengrajin Kamal Ngremboko, Kamal Kulon Margomulyo, kegiatan ini menghadirkan 2 instruktur dari ISI Yogyakarta.

Bimtek dibuka oleh Sri Lestari, Ulu ulu yang mewakili Lurah Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, Sri memberi arahan bahwa pelatihan bagi pengrajin mebel bambu ini hendaknya berkelanjutan sehingga bekal yang didapat dapat meningkatkan ketrampilan sebagai modal usaha dari pengrajin. Sri Lestari juga berharap, peserta dibuatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai kelengkapan operasional dari pengrajin.

Siti Baroroh, Plt Panewu Seyegan dalam pengarahannya menyampaikan perlunya kreativitas dalam menciptakan produk sehingga mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Selain memberi pengarahan, Siti juga memberikan materi tetang IUMK yaitu Ijin Usaha Mikro Kecil yang merupakan legalitas pelaku usaha.

“IUMK merupakan fasilitasi dari pemerintah sehingga pelaku usaha bisa mengakses permodalan ataupun KUR,” terang Siti.

Siti menambahkan, manfaat dari IUMK bagi pelaku usaha yaitu mendapat perlindungan usaha, kerja sama dengan pihak lain, pendampingan pengembangan usaha, kemudahan dalam akses permodalan dan mendapat pemberdayaan dari pemerintah. 

“Adapun tujuan IUMK adalah membangun data base, menaikkan status usaha, perlindungan dan penguatan modal,” imbuh Siti.

Reza Arfani  mewakili Kepala Disperindag DIY membuka secara resmi Bimtek WUB IKM Mebel Bambu di Seyegan. Reza menyampaikan bahwa kegiatan Bimtek ini dibiayai dana Dekonsentrasi dari Pusat (APBN). Latar belakang Bimtek WUB IKM mebel bambu sendiri adalah kekawatiran dari pengrajin bambu untuk meneruskan usaha kerajinan bambu tersebut kepada generasi muda atau milenial.

“Dengan kondisi tersebut maka diusulkan untuk Bimtek bagi Wira Usaha Baru (WUB) yang pesertanya maksimal berusia 40 tahun,” ujar Reza.

Reza menyadari kepeminatan pengrajin mebel di usia muda sangat rendah, sehingga panitia juga merasa kesulitan untuk menjaring pengrajin bambu usia milenial sebagai peserta bimtek. “Untuk itu Disperindag mempunyai tantangan kedepan untuk meningkatkan animo pengrajin bambu dengan memfasilitasi dan memberikan banyak kemudahan sehingga generasi penerus pengrajin mebel bambu dapat terpenuhi,” ungkap Reza.

Rahmawan D Prasetyo dari ISI Yogyakarta,  membuka pelatihan hari pertama dengan menjelaskan tentang Konsep Kewirausahaan, mulai dari manfaat kewirausahaan, jenis wirausaha, startup bisnis sampai dengan industri kreatif.

Rahmawan yang juga dosen Design Produk/interior ini juga menjelaskan secara global bisnis retail dan strategi usahanya.

Instruktur yang kedua adalah Sekar Adita yang juga dari ISI Yogyakarta yang memberikan materi tentang Desain Furniture. Dita menyampaikan tentang Fundamental Desain Furniture, pendekatan studi desain furniture yang mengandung aspek fungsi kegunaan, aspek teknologi, aspek gaya dan indikator status sosial.

Dita juga menambahkan tentang pendekatan konsep Desain Furniture yang meliputi eksistensi, fungsi dan kebutuhan. “Untuk konsep yang terakhir ini tetap memperhitungkan beberapa faktor yaitu kenyamanan, keselamatan, keamanan, keindahan dan efisiensi,” jelas Dita.

Di bagian akhir, Dita menambahkan tentang fungsi dan jenis furniture, juga disinggung tentang egronomi dalam desain furniture.

Kegiatan dilanjutkan tanya jawab dan diskusi termasuk kesepakatan dengan peserta mengenai pembagian kelompok kerja dan jadwal praktek yang dimulai pada hari sabtu. Kegiatan yang dimulai pada pukul wib tersebut berakhir pada pukul 14 30 wib. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Momen HPSN, Bupati Sleman Ajak Masyarakat Kelola Sampah Mandiri

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengajak masyarakat untuk mengelola sampah di lingkungan masing-masing. Hal tersebut disampaikan dalam acara Gropyok Sampah dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2023, Jumat (3/3/2023) di Kantor Kapanewon Minggir, Sleman.

Gropyok Sampah ini diinisasi oleh Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Minggir dengan membersihkan sampah organik maupun non organik di sekitaran kantor Kapanewon Minggir

Pada kesempatan tersebut Kustini mengajak masyarakat untuk senantiasa menanggulangi sampah berserakan yang ada di lingkungan masing-masing. Ia menambahkan agar sampah dapat dikelola serta dipilah secara mandiri.

“Mari bersama-sama kita mengelola sampah di lingkungan kita masing-masing agar menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” ujarnya

Lebih lanjut, Kustini berharap sampah tersebut tidak hanya dibuang namun bisa diterapkan 3R yakni reduce, reuse, recycle yang dimana sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. Ia menambahkan apabila giat gropyok sampah dapat diterapkan disetiap padukuhan bukan tidak mungkin Kabupaten Sleman dapat meraih penghargaan Adipura.

Sementara itu, Ketua FLH Kapanewon Minggir, Sumarsono mengatakan maksud dan tujuan dari kegiatan ini yakni mengoptimalkan pengurangan sampah dan mengkampanyekan pengelolaan sampah kepada masyarakat Kapanewon Minggir

“Kegiatan ini bermaksud untuk membantu pengurangan sampah serta mengkampanyekan kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah,” ujar Sumarsono

Lebih lanjut, ia mengatakan peserta Gropyok Sampah pada hari ini adalah perwakilan 25 pengelola sampah yang tergabung FLH Kapanewon Minggir, perwakilan SDN Kebon Agung, serta relawan.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Sleman juga menyerahkan bantuan alat pengolah sampah kepada 3 kelompok Pengelola Sampah Padukuhan yang ada di Kalurahan Sendangagung. Alat tersebut antara lain 1 buah gerobak, 4 komposter, 4 tempat pemilah sampah, dan 4 tong plastik.