Songsong Bulan Ramadan dan Hari Jadi ke -107 Kabupaten Sleman adakan Salat Subuh Berjemaah dan Jalan Santai

Menyongsong datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus menyambut Hari Jadi ke-107 Kabupaten Sleman, Pemkab Sleman mengadakan salat subuh berjemaah di Masjid Agung dr. Wahidin Sudirohusodo, Sleman, Minggu (19/3/2023).

Usai salat subuh berjemaah kemudian dilanjutkan dengan jalan santai bersama.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo berharap dengan adanya salat subuh berjemaah ini dapat meningkatkan ketaqwaan kita dalam rangka mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan 1444 H.

Dengan kegiatan ini, diharapkan pula masyarakat Sleman dapat menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan badan yang sehat dan dengan suka cita.

“Ini juga sekaligus dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Sleman. Maka, mari kita sambut hari jadi ini dengan berbahagia. Karena hari jadi Sleman bukan hanya milik Pemkab Sleman, tapi milik semua warga masyarakat Sleman,” tuturnya.

Sementara Muhtadi, ., MM., selaku Kepala Bagian Kesra Setda Sleman sekaligus ketua panitia kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun, namun sempat beberapa kali terhenti akibat pandemi COVID-19.

Jalan santai kali ini menempuh jarak kurang lebih satu kilo meter, yakni dengan rute start dari masjid agung Sleman Jalan Parasamya, Jalan Pringgodiningrat, Stadion Tridadi, Rumah Dinas Bupati Sleman, dan finish kembali di Masjid Agung Sleman.

Dalam kegiatan ini juga diserahkan sejumlah paket bantuan bagi lansia yang tinggal di sekitar Masjid Agung Sleman. Panitia juga membagikan berbagai macam doorprice bagi jemaah salat subuh dan peserta jalan santai.




Wujudkan Kerukunan, Warga Nasri Sumbersari Lesarikan Budaya Gotong-royong

Sleman – Salah satu budaya masyarakat yang luhur adalah saling membantu dan gotong-royong seperti sambatan untuk membangun dan memperbaiki rumah.  Tradisi tesebut terus dilestarikan masyarakat Nasri III Sumbersari Moyudan Sleman.  Kegiatan gotong-royong juga diteruskan kepada generasi muda, agar budaya sambatan dan gotong-royong tetap lestari dan berkembang di masyarakat. 

“Gotong-royong sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat seperti pembangunan jalan, membantu keluarga yang anggota keluarganya meninggal (sripah), hajatan, hingga kegiatan sosial keagamaan,” papar Zamzuri Latif Dukuh Nasri III Sumbersari Moyudan Sleman Minggu (19/3/2023) di sela gotong-royong sambatan memperbaiki rumah Hadi Utomo warga RT 06, yang sebagian atapnya rusak karena dilanda badai angin minggu lalu.

Kegiatan dimulai dengan pengumuman oleh Bagus Prabantoro ketua RT 06 yang menggerakkan warga untuk gotong royong untuk menurunkan atap rumah berupa empyak dan genting rumah Hadi Utomo.  Kegiatan dilaksanakan mayoritas oleh bapak-bapak muda usai kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan makam untuk persiapan nyadran. 

“Sambatan di rumah Bapk Hadi Utomo ini merupakan upaya kita nguri-uri atau melestarikan tradisi para leluhur kita, menjaga kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat,” kata Risdiyanto ketua RT 07 didampingi Alvan Rizqiana ketua RT 05 Nasri Sumbersari Moyudan Sleman.

Risdiyanto menegaskan, gotong-royong sudah menjadi budaya di kampungnya. Deperti saat terjadi pandemi, warga digalakkan melakukan gotong-royong,  kerja sama berupa pengumpulan dana untuk keluarga terdampak pemberian bantuan, hingga penyemportan dengan disinfektan secara rutin.  Dalam setiap kegiatan, generasi muda selalu diberi kepercayaan dan dilibatkan. 

“Keterlibatan remaja bagian dari upaya  untuk regenerasi sehingga pelestarian budaya gotong-royong tetap terjaga,” kata Risdi di sela gorong royong persiapan nyadran warga Nasri dan sekitarnya. 

Gotong-royong kebersihan lingkungan pun dilakukan secara rutin setiap bulan.  Sementara gotong-royong menjaga keamanan dengan ronda malam satu RW 07, yakni Kamling Jagabaya yang eksis sejak tahun 2006 hingga 2023 ini.

“Ronda terjadwal, setiap malam antara 6 hingga 10 personil, dengan mengumpulkan jimpitan uang 200 rupiah per rumah.  Hasilnya, kami memiliki meja kursi dan tenda hingga peralatan memasak untuk masyarakat,” tutur Dhedy Theo ketua Kamling Jagabaya RW 07 Nasri III Sumbersari Mayudan. 

“Untuk menjaga keberlangsungan, dilakukan pertemuan rutin setiap malam Selasa Kliwon dan masih berlangsung hingga kini.  Itulah upaya melestarikan gotong-royong untuk kepentingan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat,” pungkasnya. (Edy-KIM Sumber Biwara Moyudan)




Tingkatkan Kapasitas Panwascam, Bawaslu Sleman Gelar Rakernis

Sleman – Untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia pengawas pemilihan umum, maka Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sleman menyelenggarakan rapat kerja teknis (Rakernis) peningkatan kapasitas bagi Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kecamatan se-Kabupaten Sleman yang berlangsung di Hotel Grand Keisha Yogyakarta, Jumat (17/3/2023).

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Sleman, M. Abdul Karim Mustofa didampingi Koordinator Divisi Sumberdaya Manusia, Organisasi, Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Sleman, Vici Herawati diikuti oleh Ketua dan Anggota Panwaslu Kecamatan se-Kabupaten Sleman yang diharapkan dapat menambah kepercayaan diri pengawas dalam menjalankan tugas dan kewenangan pengawasannya di level kecamatan.

“Sebagai pengawas pemilu di tingkat kecamatan harus memiliki kemampuan merekam atau mencatat setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya sebagai wujud rasa tanggung jawab tugas pengawasan, serta harus bisa menempatkan diri dengan baik saat pengawasan melekat,” tutur Karim.

Di sisi lain, Koordinator Divisi Sumberdaya Manusia, Organisasi, Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Sleman, Vici Herawati menjabarkan tentang pola hubungan dan organisasi pengawas pemilu kecamatan sesuai yang dituangkan dalam Peraturan Bawaslu Nomor 3 Tahun 2022 dan Peraturan Bawaslu Nomor 15 Tahun 2020 secara detail.

Dalam menjalankan ketugasannya, Panwaslu Kecamatan dibagi dalam Koordinator Divisi yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Ketua Bawaslu Kabupaten Sleman. Selanjutnya, berkewajiban untuk melakukan pembinaan Panwaslu Desa dan Pengawas Tempat Pemungutan Suara melalui supervisi pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban serta menyediakan wadah konsultasi.

“Pengawas pemilu tergolong sebagai pejabat publik karenanya harus bisa bersikap profesional, memiliki rasa percaya diri, berpostur badan yang baik, bersifat komunikatif, serta berkemampuan dalam penguasaan forum,” tegas Vici.

Di bidang pencegahan, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Sleman, Arjuna Al Ichsan Siregar mengingatkan bahwa Panwaslu Kecamatan memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap tahapan penyelenggaraan pemilu di wilayah kecamatan meliputi pemutakhiran data pemilih, proses pencalonan yang mencakup persyaratan, tata cara pencalonan dan verifikasi faktual, kampanye, logistik pemilu dan pendistribusiannya, penghitungan surat suara, pergerakan surat suara dari Tempat Pemungutan Suara ke Panitia Pemilihan Kecamatan, rekapitulasi suara, pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang, Pemungutan Suara Lanjutan, serta Pemilu Susulan.

“Pengawas Pemilu wajib menuangkan setiap kegiatan pengawasan ke dalam lembar formulir model A. Jika hasil pengawasan terdapat dugaan pelanggaran berupa kesalahan administratif oleh penyelenggara, maka dilakukan saran perbaikan. Apabila saran perbaikan tidak diindahkan dan dilaksanakan maka dapat dijadikan sebagai temuan dugaan pelanggaran pemilu,” tegas Arjuna.

Ia menambahkan guna melengkapi pembuatan laporan hasil pengawasan maka formulir model A disampaikan pada rapat pleno dengan disertai uraian peristiwa dan hasil pengawasan, surat atau dokumen berupa foto maupun video, dokumen elektronik, serta bukti lainnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Sambut Ramadan 1444 H, Masjid Al-Muttaqin Sumbersari Moyudan Gelar Pengajian

Sleman – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, Takmir bersama Remaja Masjid Al-Muttaqin  Blendung Sumbersari Moyudan Sleman mengadakan kegiatan Pengajian Jelang Ramadan 1444 H.  Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN).

“Masjid harus dimakmurkan dengan banyak kegiatan untuk kemaslahatan umat.  Pengajian ini mendukung program pemerintah dalam kehidupan beragama.  Kami sampaikan terima kasih kepada warga masyarakat yang telah mendukung program-program pemerintah,” kata Sukadi Lurah Sumbersari saat memberi sambutan pada kegiatan yang dihelat Sabtu malam (18/3/2023).

Fada, ketua Panitia Ramadan Masjid Al-Muttaqin mengajak jamaah untuk menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan gembira, bahagia, damai, tenang dan sejahtera. 

Sementara, Agus Iskandar, Ketua Takmir, menekankan pentingnya jamaah untuk memakmurkan masjid Al-muttaqin dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. “Jika jamaah masjid aktif memakmurkan masjid, warga dan masyarakat sekitarnya pun akan dimakmurkan oleh masjid,” tegas Agus Iskandar yang juga Kamituwa Sumbersari.  

Dampaknya, lanjutnya, Kalurahan Sumbersari bisa menjadi desa yang Qoriyyah Toyyibah, desa yang baik dan Allah selalu menurunkan ampunan kepada setiap warga yang rajin makmurkan masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan maupun sosial.

Hadir sebagai pemberi tausiah dalam pengajian adalah Jumarudin, Anggota Komisi Ekonomi Majlis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyaakrta (DIY). Dalam kesempatan tersebut, Jumarudin menyampaikan ayat-ayat tentang menyambut, selama dan setelah Ramadan.

“Intinya bagaimana agar kegiatan kita setiap hari seperti dalam bulan Ramadan. Bagaimana kita bersama keluarga dan masyarakat bisa Idulfitri setiap hari,” tegas Jumarudin. 

“Idul Fitri dalam artia kembali suci, kembali semangat mengamalkan ajaran agama seperti yang dilakukan  selama Ramadan. Kebiasaan selama Ramadan terus diamalkan pada sebelas bulan setelah Ramadan,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Melihat Tradisi Nyadran di Dusun Pringwulung Condongcatur

Sleman – Warga Padukuhan Pringwulung menggelar acara Nyadran untuk mendoakan para arwan nenek moyang yang dilaksanakan di Balai Padukuhan Priwulung, Condongcatur, Sleman, Minggu (19/3/2023). Kegiatan tersebut dihadiri oleh 750 warga Priwulung beserta ahli waris para nenek moyang.

Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan warga setiap tahun di bulan Sya’ban atau Ruwah untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif.

“Sebelumnya dilakukan pembersihan malam leluhur, tabur bunga dan puncaknya doa bersama warga dan ahli waris dengan tempat di Balai Padukuhan Pringwulung agar mampu menampung warga dengan jumlah banyak dan tetap memberikan kenyamanan di tengah cuaca yang masih musim hujan ini,” ungkap Sahid.

Dirinya berharap dengan acara nyadran ini, masyarakat dapat berkumpul bersama untuk melakukan doa kepada para leluhur, sehingga dapat menciptakan suasana  kerukunan yang dapat membuat hubungan menjadi lebih erat dan harmonis.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji yang turut hadir mengikuti acara tersebut berharap warga Padukuhan Pringwulung tetap kompak, terjalin kebersamaan, berbudaya dan selalu melestarikan budaya luhur nenek moyang.

Menurutnya, di wilayah Condongcatur masih ada beberapa padukuhan yang masih menyelenggarakan acara tradisi Nyadran untuk membangun masyarakat menjadi seimbang.

“Masyarakat mampu menciptakan “kemesraan rohani” antara manusia, alam dan Tuhan sang pencipta. Nyadran tak hanya urusan religi namun erat kaitannya dengan budaya, nasionalisme bahkan pariwisata,” ujarnya. (Wasana/KIM Depok)