Bullying adalah peristiwa yang wajib dicegah sedini mungkin karena berdampak buruk pada anak yang mengalami maupun melakukan bullying. Saat ini berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menangani bullying di satuan pendidikan dengan tujuan menjadi menjadikan satuan pendidikan yang ramah anak, salah satunya dengan kegiatan Roots Day yang diselenggarakan MAN 2 Sleman pada Senin (17/4/2023).
Roots Day adalah kegiatan kampanye pencegahan bullying dan deklarasi anti bullying yang diinisiasi oleh agen perubahan. Roots Day menjadi puncak dari Program Pencegahan Bullying “Roots” yang merupakan kerjasama antara UNICEF dan Kementerian Agama RI untuk mendukung Madrasah Ramah Anak.
Program Roots (yang berarti akar dalam bahasa Inggris) bermaksud untuk mencegah bullying dari akarnya menggunakan teori jejaring sosial yang berpusat pada siswa. Agen lerubahan dipilih oleh teman-temannya sendiri melalui sistem voting, kemudian dilatih oleh fasilitator guru selama 15 kali pertemuan untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mencegah bullying dan menyebarkan perilaku positif di madrasah.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Abd Su’ud dalam sambutannya menyampaikan bahwa MAN 2 Sleman harus berbangga hati sebagai salah satu madrasah piloting pencegahan bullying di DIY dan Madrasah Inklusi. “MAN 2 Sleman harus menjadi madrasah yang aman dan ramah anak dan menjadi contoh bagi madrasah lainnya,” imbuhnya.
Fauzia Firdanisa, Staf Perlindungan Anak UNICEF Jakarta memberikan apresiasi kepada MAN 2 Sleman yang sudah menerapkan disiplin positif dan Roots untuk mendukung Program Madrasah Ramah Anak. Menurut Fauzia, Roots Day ini bukan akhir tapi awal bagi MAN 2 Sleman untuk melanjutkan menyebarkan pesan pesan anti bullying dan melakukan kegiatan positif di madrasah agar madrasah bebas dari perundungan dan terus berprestasi.
Dalam rangkaian kegiatan Roots Day di MAN 2 Sleman, agen perubahan mengkampanyekan perilaku positif dan pesan anti perundungan kepada warga madrasah melalui karya seni, drama puisi, deklarasi madrasah tanpa bullying serta talkshow tentang persoalan bullying yang dipandu oleh fasilitator guru yang menghadirkan Arie Rukmantara, Kepala Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa-Bali, Riska Puspitasari, KSKK Kemenag RI, Perwakilan Agen Perubahan, dan Perwakilan Fasilitator Guru dari MAN 2 Sleman.
Riska Puspitasari, Kasi Kelembagaan dan Kerja Sama KSKK Kemenag RI menyampaikan bahwa dukungan kebijakan sudah dilakukan di Kementerian Agama, karena Kementerian Agama sudah ada surat edaran tentang sekolah ramah anak, bahwa sekolah di bawah Kemenag menjadi madrasah ramah anak, yang di dalamnya terdapat indikator sekolah aman dan nyaman tanpa kekerasan dan bullying.
Sementara Arie Rukmantara, Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Jawa-Bali menegaskan pentingnya usaha pencegahan bullying di madrasah. “Harapannya pencegahan selalu dilakukan, karena ketika anak telah menjadi korban, tidak hanya itu menyebabkan dampak negatif bagi fisik dan mental anak, pemulihan dan rehabilitasi akan mengabiskan biaya yang sangat besar bisa jutaan rupiah bahkan lebih,” tegasnya. (Sinung/KIM Gamping)