Sleman – Untuk mempererat silaturahmi antar petugas kesehatan dengan dinas lainnya, Puskesmas Berbah mengadakan kegiatan syawalan di Puskesmas Pembantu Jagalan, Kalitirto, Berbah, Sleman, DIY, Sabtu (20/5/2023). Syawalan dihadiri langsung oleh Panewu Berbah, Tri Akhmeriyadi.
Kepala Puskesmas Berbah, Hari Pratono berharap kegiatan syawalan ini dapat mempererat silaturahmi lintas sektor sehingga dapat memperkuat kinerja setiap petugas untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat.
Syawalan ini sendiri menghadirkan Ustaz Wuntat Wawan Sembodo, seorang pengajar sebagai narasumbernya. Dalam tausiahnya, Wuntat menyampaikan
inti syawalan atau halal bihalal adalah saling memaafkan dan memberi maaf antar sesama sehingga terbebas dari kedosaan.
“Sehingga menjadikan Idulfitri kembali suci atau kosong, yang dalam bentuknya kosong adalah bulatan bisa disebut nol,” ungkapnya.
Wuntat menuturkan, angka nol terbentuk setiap hari ketika kita melaksanakan salat setiap satu rakaat akan terbentuk angka nol.
“Bisa dihitung dengan ketika takbiratul ikram mengangkat tangan bersedekap berdiri tegak terhitung 180 derajat ketika rukuk bentuk tumbuh 90 deraja; dan sujud membetuk 45 derajat setiap rokaat dia sujud. Kalau digabungkan takbiratul ikhram, rukuk dan dua kali sujud itungannya adalah 360 derajat yang menggambarkan angka nol, sehingga dalam salat itu membentuk sesuatu yang kosong. Maksudnya menyerahkan diri pada Allah mengosongkan pikiran dan hati,” ujarnya.
Sedangkan dalam kehidupan orang Jawa, Wuntat menggambarkan sirkulasi hidup manusia melalui tembang Mocopat diawali dengan Maskumambang menggambarkan sperma bercampur dengan sel telur yang mengambang di lautan rahim ibu, ketika bayi lahir disebut Mijil, Kinanti menggambarkan anak kecil yang masih selalu diasuh dituntun dituntun okeh orang tua, sinom menggambarkan masa pemuda,
Asmorondono menggambarkan manusa masuk usia pernikahan untuk melanjutkan keturunan, gambuh melambangkan puncaknya kekuatan, dandanggulo adalah hasil pencapaian yang berasa manis.
“Sedangkan pangkur meninggalkan hal hal duniawi, megatruh adalah lepasnya roh dari badan manusia dan terakhir pucung atau dipocong dengan kain kafan kembali kepada Allah,” tuturnya.
Menurut Wuntat bahwa kembali kekosongan seperti Idulfitri ini bisa terjadi setiap hari dengan melakukan salat yang pengejawantahan menyerah diri pada Allah SWT, menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
“Ini semua akan membentuk kekosongan yang oleh Allah, akan memberikan banyak kemudahan dan limpahan rahmat, yang implementasi dalam kehidupan memberikan suasana yang sejuk damai sejahtera dalam lindungi Allah,” jelasnya lagi.
“Hal itu semua bila diterapkan dalam dunia kerja seorang karyawan harus tunduk pada aturan, berserah tidak memperkeruh suasana tidak saling mencederai dan jangan mau diadudomba yang membuat suasana kerja kurang kondusif. Jalin silaturahmi tingkatkan kerjama dan semangat kerja,” tutup Wuntat. (Kusnadi/KIM Berbah)