Sleman – Mrincingan Obah Ngolah Sampah Terpadu (Monster), Kelompok pengelola sampah dari Dusun Jumeneng, Margomulyo Seyegan, mengadakan studi tiru ke Huntap Jetis Sumur Glagahmalang, Glagaharjo Cangkringan Sleman pada hari Jum’at (12/5/2023).
Kunjungan yang dimaksudkan sebagai persiapan evaluasi Kampung hijau tahun 2023 ini menghadirkan pula pendamping dari Kalurahan, Kapanewon dan praktisi sampah Seyegan. Adapun Huntap Glagahmalang dijadikan tempat studi tiru dikarenakan indikator evaluasi kampung hijau semua terpenuhi disana.
Sebagai ucapan selamat datang, Wakhid Imam Prabowo, Dukuh Glagahmalang menyampaikan juga bahwa padukuhannya siap sebagai tempat studi tiru karena fasilitas yang ada dan prestasi yang pernah dicapai dalam pengelolaan lingkungan.
“Sederet prestasi Huntap Glagahmalang ini yang dapat dibanggakan antara lain juara Green and Clean, lomba keteduhan, lomba Proklim, Bedjo Bintang Tujuh dan Hatinya PKK,” ujar Wakhid.
M. Yusuf mewakili DLH Kabupaten Sleman dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan studi tiru ini merupakan program PUPM Kapanewon Seyegan yang menitikberatkan pada pengelolaan sampah sesuai dengan kampanye Bupati Sleman pada tahun yang lalu yaitu pilah sampah dari rumah.
Pada kesempatan itu pula, Yusuf juga berpesan untuk bisa memanfaatkan fasilitasi dari DLH, baik fasilitas fisik maupun non fisik dengan mekanisme proposal.
Margiyanti, pengurus sedekah Sampah Sido Rukun Glagahmalang, memberi gambaran tentang berdirinya sedekah sampah Sido Rukun yang merupakan Program Inovasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga berbasis komunitas.
Dalam profilnya, Margiyanti menceritakan bahwa persoalan sampah di lingkungannya merupakan dampak dari erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Berpindahnya warga Glagahmalang di Huntap Jetis Sumur menghadapi persoalan baru yaitu permasalahan sampah.
“Dengan intervensi yang berupa pembinaan, pelatihan dalam Pengelolaan sampah dari Rekompak akhirnya bisa terbentuk Paguyuban Sedekah Sampah Sido Rukun dan kemudian didirikan Rumah pilah sampah di Huntap Glagahmalang,” ungkap Margiyanti.
“Sikap masyarakat yang peduli dan kompak ini akhirnya membuahkan hasil dengan pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat. Glagahmalang yang terletak di lereng gunung dan berjarak kurang lebih 10 km dari gunung merapi tersebut sekarang menjadi kampung yang bersih, subur dan asri. Kebersihan dan pelestarian lingkungan menjadi kata kunci masyarakat Glagahmalang,” imbuh Margiyanti lagi.
Margiyanti juga menambahkan bahwa ada kontrak sosial magi masyarakatnya yaitu memelihara ayam di kandang kelompok, mengelola sampah dengan sedekah sampah dan pemanfaatan limbah cair keluarga.
Setelah pemaparan profil dilanjutkan dengan kunjungan lapangan yang dipandu oleh pengurus KWT, PKK, Posyandu, Karang Taruna dan Pengelola sampah Sido Rukun.
Peserta studi tiru dapat melihat 3 IPAL Komunal, lubang biopori dan 31 titik SPAH sebagai upaya konservasi air. Kegiatan pengelolaan sampah dari sampah anorganik dengan konsep Sedekah sampah, pengelolaan sampah organik dengan pembuatan POC, Ember tumpuk, komposter dan budidaya magot.
Pemanfaatan lahan kosong dengan penanaman sayur dengan metode hidroponik dan penanaman tanaman obat keluarga di halaman rumah Warga dan hampir di setiap sudut wilayah huntap.
“Berkeliling di Huntap Glagahmalang memang semua indikator evaluasi kampung hijau bisa terpenuhi. Demikian juga partisipasi masyarakat yang sudah berjalan dengan baik menjadi modal utama dalam pengelolaan lingkungan,” demikian kesan yang disampaikan oleh Suhadi dari Kapanewon Seyegan.
Suhadi berharap peserta bisa meniru apa yang dilihat dan dipelajari dalam studi tiru tersebut karena 5 indikator dalam evaluasi kampung hijau bisa langsung dilihat yaitu pengelolaan sampah, konservasi air, penghijauan dan pemanfaatan pekarangan, partisipasi masyarakat dan sanitasi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)