Gunakan Besek, Ibadah Kurban di Nasri Ramah Lingkungan

Sleman – Masyarakat Pedukuhan Nasri III Sumbesari Moyudan Sleman melaksanakan ibadah kurban dengan tetap memperhatikan lingkungan.  Hal itu terlihat saat panitia menggunakan besek untuk pembagian daging kurban. 

“Sudah tiga tahun ini, panitia menggunakan besek untuk penyaluran daging kurban, upaya meminimalisir penggunaan plastik,” terang Zamzuri Latif Dukuh Nasri III Sumbersari Moyudan Sleman di tengah pelaksanaan penyembelihan hewan Kurban Rabu (28/6/2023).

Latif menambahkan penggunaan plastik untuk bungkus kurang ramah lingkungan sehingga besek yang terbuat dari bambu dijadikan alternatif.

“Paling tidak penggunaan plastik sudah dikurangi agar lebih ramah lingkungan, tambah Latif saat penyembelihan hewan kurban di Tlukan RW 07 Nasri III Sumbersarim,” ujarnya.

Selain itu, untuk kotoran dalam jerohan sapi dan kambing semua dipendam di dalam lubang sedalam sekitar 1,5 meter.  

“Masyarakat sadar, pembuangan kotoran atau pencucian jerohan di sungai mencemari dan berdampak buruk serta tak sehat,” tambah Latif. 

Boimin selaku ketua panitia menegaskan ibadah kurban selain peduli warga yang kurang mampu, juga harus peduli lingkungan. Ia menegaskan agar masyarakat semakin peduli dengan lingkungan, seperti dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, yang memanfaatkan besek untuk pengemasan daging kurban ini.

Warga RW 07 menyembelih 3 ekor sapi dan dua ekor kambing.  Panitia menyalurkan 171 paket daging untuk warga RW 07, SD Muh Semingin serta PBHA di Klodran Sumberagung Moyudan Sleman.

Di Padukuhan Nasri terdapat empat tempat penyembelihan, yakni Tlukan, Dakawon, Semingin Kidul dan Nasri Utara.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Kemenag Sleman Sosialisasikan Kampung Moderasi Beragama di Kalurahan Margodadi Seyegan

Sleman – Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman, mengadakan sosialisasi kampung Moderasi Beragama di  Kalurahan Margodadi Kapanewon Seyegan pada hari Selasa (27/6/2023). Kegiatan yang diikuti peserta dari tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama tersebut menghadirkan narasumber dari Kemenag Kabupaten Sleman dan Kanwil Kementrian Agama Provinsi DIY.

Kepala Kantor Urusan Agama  (KUA) Kapanewon Seyegan, Edy Hermanta, menekankan bahwa di Seyegan sendiri tidak pernah terjadi konflik agama. “Masyarakat sudah bisa mengambil sikap untuk melawan media yang intoleran dan mengembangkan nilai moderat,” ujarnya.

Edy berpesan untuk mewariskan sikap moderat ini kepada generasi muda dalam membangun negara dengan menjaga kerukunan, tidak berpikiran sempit sehingga stabilitas Nasional bisa terjaga.

Di bagian akhir Edy menyampaikan dengan menjaga sikap moderat, toleransi juga bisa terjaga yaitu dengan mengakui keberadaan  orang lain.

Zaenuddin, Kasi Bimas Islam  Kemenag Kabupaten Sleman, dalam paparannya menjelaskan dari awal apa itu Moderasi beragama, muatan pesan keagamaan, dan indikator moderasi beragama.

Zaenuddin mengatakan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan kita dalam beragama. Moderasi merupakan cara pandang, sikap dan praktek beragama dalam kehidupan bersama.

“Adapun indikator moderasi beragama diwujudkan dalam komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi,” jelas Zaenuddin.

Di bagian akhir Zaenuddin menyampaikan 9 kata kunci moderasi beragama, 4 diantaranya sudah masuk indikator, sedangkan 5 yang lain adalah kemanusiaan, berimbang, kemaslahatan umat, adil dan taat konstitusi.

Sementara Nurhuda, Kepala Bidang  Penaiszawa Kanwil Kementrian Agama Provinsi DIY, dalam paparannya menyampaikan tentang Kampung Moderasi Beragama yang maksudnya adalah sebagai upaya pembangunan paradigma masyarakat tentang kesadaran moderasi beragama yang dilaksanakan berbasis lingkungan desa/Kalurahan.

Menurut Nurhuda, Kampung Moderasi Beragama adalah istilah bagi desa/Kalurahan yang masyarakatnya memiliki cara pandang, sikap dan praktek beragamanya yang moderat dalam rangka mensukseskan pembangunan Nasional.

Lebih jauh , Nurhuda menjelaskan tentang alur pembentukan Kampung Moderasi  Beragama (KMB) mulai dari pembentukan pokja KMB, penentuan kampung rintisan,penilaian hasil rintisan, pengembangan KMB, laporan kegiatan rintisan.

Di bagian akhir, Nurhuda menyinggung tentang pengembangan KMB mulai dari potensi daerah, program pengembangan dan upaya pengembangan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Proklim di Padukuhan Pondok Dievaluasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan Evaluasi dan Kunjungan Lapangan Lomba Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat Kabupaten Sleman tahun 2023 di Padukuhan Pondok, Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (27/6/2023). Tim yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, Dinas PMK, Dinas Pertanian, dan Bappeda Sleman ini disambut langsung oleh Panewu Depok, Wawan Widiantoro.

Dalam kesempatan tersebut, Wawan menuturkan bahwa masyarakat Padukuhan Pondok yang merupakan wilayah perkotaan selalu beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan melakukan mitigasi perubahan iklim.

Wawan menambahkan, Padukuhan Pondok dipilih mewakili Kapanewon Depok karena pada tahun 2019 berhasil menjuarai Lomba Wajah Padukuhan tingkat Kapanewon Depok.

“Di samping itu Padukuhan Pondok memiliki fasilitas pendukung untuk diangkat pada evaluasi proklim yaitu TPS 3 R (satu satunya yang memiliki TPS 3 R di Kapanewon Depok ), IPAL Komunal “Sumber Sehat”, dan Drainase & SPAH pembanguan Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU),” ungkapnya.

Lebih lanjut Wawan berpesan kepada seluruh elemen masyarakat untuk tetap saling kompak, mempertahankan lahan hijau yang notabene 40 persen lahan di Padukuhan  Pondok adalah lahan pertanian.

“Proklim dilakukan dalam rangka mendorong masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca serta memberikan penghargaan terhadap upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah,” jelas Wawan.

Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, Eni Yuliani, yang juga selaku Ketua Tim Juri Evaluasi Proklim Tahun 2023 menyampaikan tujuan evaluasi dan perlunya keberlanjutan kegiatan dimasyarakat setelah evaluasi dilakukan.

Menurut Eni, Program Kampung Iklim (Proklim) adalah kegiatan masyarakat sebuah kampung baik teknis maupun non teknis berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pengurangan salah. Satu penyumbang terbesar perubahan iklim, kampung iklim masyarakatnya melakukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara terukur dan berkesinambungan

” 3 (tiga) indikator komponen dalam Proklim adalah Kegiatan Adaptasi perubahan iklim, Kegiatan Mitigasi Perubahan iklim dan Kelompok masyarakat dan dukungan berkelanjutan, sedangkan penilaian meliputi Administrasi dan Verifikasi Fisik (lapangan)”, ungkapnya

Dalam kesempatan ini, Eni juga memperkenalkan tim yang terdiri dari beberapa instansi yaitu Bappeda, DLH, PMK, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman dan dari Yayasan OISCA.

Tim Evaluasi Proklim dibagi menjadi Tim Administrasi dan Tim Lapangan yang menilai kegiatan yang telah dilakukan masyarakat sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim serta kegiatan Mitigasi terhadap perubahan iklim, selanjutnya tim juri mencocokkan dokumen kegiatan tersebut dengan realitas dilapangan serta keberlanjutan serta lembaga masyarakat yang sangat penting untuk pelaksana dan pengambil kebijakan program

Arizka Asfandaru selaku Ketua Kampung Hijau Padukuhan Pondok kemudian memaparkan profil Padukuhan Pondok, Kelembagaan Padukuhan, legalitas kegiatan masyarakat, potensi Padukuhan, Program Proklim Padukuhan Pondok (kegiatan perubahan iklim, kegiatan adaptasi, mitigasi dan  kelompok masyarakat dan dukungan keberlanjutan) serta program kerjasama masyarakat (program jangka pendek, menengah dan panjang untuk kegiatan pengelolaan lingkungan)

Setelah peninjauan lapangan dilakukan pelepasan Tim evaluasi Proklim dilakukan oleh Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji.

“Evaluasi kita terima untuk kemajuan Padukuhan Pondok, hasil evaluasi dari tim dapat dipergunakan sebagai bahan acuan untuk perbaikan perbaikan kedepanya, tetap semangat, kompak selalu dijaga kegotongroyongan, kekompakan dan kebersihan lingkunganya,” tutupnya. (Wasana/KIM Depok)




DPPP Kabupaten Sleman Lakukan Monev Hasil Pelatihan  di KWT Sarimaju Sumbersari

Moyudan – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan ( DPPP) Kabupaten Sleman melakukan Monitoring dan Evaluasi Hasil Pelatihan Kepada KWT Sarimaju Sumbersari, di Blendung, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Selasa (27/6/202).

Monev dilakukan oleh Panji Hanggara, dari DPPP Kabupaten Sleman, didampingi Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan Kapanewon Moyudan, Ponirin, Petugas Penyuluh  Lapangan Sumbersari, Naryanto, diterima oleh Dukuh Blendung, Rizky Anas Ikhwanudin, Ketua KWT Djumanah, dan 25 peserta pelatihan.

“Langkah tersebut sebagai tindak  lanjut  dari pelatihan pengolahan produk makanan dan pemasarannya yang telah terlaksana pada 20-22 Februari 2023. Adapun tujuannya adalah agar hasil pelatihan sesuai yang diharapkan, yaitu dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Panji.

Dari wawancara kepada para peserta pelatihan, Panji menemukan bahwa 50% harapan tercapai, dan 50% sisanya terhalang kendala yang dihadapi.

“Kendala tersebut  adalah persaingan harga produk di pasaran, mahalnya alat prouksi yang belum mampu terbeli, serta  teknik pemasarannya yang masih skala lokal atau masyarakat setempat,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Panji memberikan solusi agar peseta berlatih memanfaatkan media online.  Pihaknya juga bersedia membantu memasarkan lewat online, melalui Pasar Tani Store.

“Lewat online, kita bisa menjangkau pasaran lebih luas, dan harga bisa menyesuaikan. Silakan kirim data, lalu admin yang menangani. Kalau ada yang beli, admin menghubungi panjenengan,” tukasnya.

Terkait mahalnya alat produksi yang belum mampu terbeli karena keterbatasan dana, dijawab oleh Ponirin.  Ia  memberikan masukan agar peserta mengajukan proposal penguatan modal berupa pinjaman kepada dinas terkait, atau dapat meminta bantuan alat kepada dewan.

Pada kesempatan itu hadir juga Lilik Adi Raharja dari Yayasan Pendidikan Sosial Dakwah Islam Robbani Yogyakarta. Lilik mengatakan bahwa yayasan tersebut adalah  lembaga resmi untuk mengurus sertifikasi halal. Ia siap membantu para pelaku UMKM untuk mengurus sertifikasi halal secara gratis . (Eny MS/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Bupati Sleman Minta Kalurahan untuk Terus Berinovasi

Sleman – Menutup rangkaian Evaluasi Kalurahan Inovatif, Bupati Sleman Kustini Sri  Purnomo meninjau kantor Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, pada Senin (26/6). Pada kesempatan itu, Kustini hadir didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan, dan jajaran.

Kustini Sri Purnomo menyampaikan apresiasi terhadap presentasi warga Kalurahan Jogotirto. Kustini menilai hal itu sebagai wujud kepedulian warga terhadap perkembangan kalurahannya. Melalui inovasi yang dipaparkan, Kustini berharap dapat menumbuhkan rasa handarbeni atau rasa saling memiliki terhadap satu sama lain. Dengan begitu, semangat gotong royong untuk meningkatkan kesejahteraan pun dapat ikut berkembang.

“Alhamdulillah Jogotirto adalah Kalurahan ke-17 dari 17 Kapanewon yang ada di Sleman dan menjadi penutup rangkaian evaluasi kalurahan inovatif.  Dari hasil pantauan kami, semua Kalurahan memiliki inovasi yang menarik dan memiliki keunggulannya masing-masing, termasuk juga dengan Kalurahan Jogotirto. Semoga inovasi yang dilahirkan dapat berjalan lancar dan menjadi kekuatan tersendiri bagi masing-masing Kalurahan,” kata Kustini.

Kustini menyampaikan arahan agar Evaluasi Kalurahan Inovatif tidak hanya dipandang sebagai sebuah kompetisi. Namun dapat diniatkan sebagai wujud keseriusan warga dalam meningkatkan kepedulian satu sama lain dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Maka dari itu, Kustini berpesan agar inovasi yang sudah dipaparkan dapat dijalankan sebaik mungkin.

Pada kesempatan itu, Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari menyampaikan, Kalurahan Jogotirto memiliki visi untuk mewujudkan kawasan ekonomi kreatif terintegrasi kawasan wisata, menuju Kalurahan yang sejahtera, mandiri, dan berbudaya. Sehingga pihaknya memiliki beberapa inovasi, baik di bidang UMKM, sosial hingga layanan administrasi kependudukan.

“Salah satu inovasi produk yang dihasilkan ibu-ibu PKK adalah jogo lilin, yakni produk lilin yang kami desain secara menarik. Selain itu kami juga memiliki kegiatan sosial dengan melibatkan karang taruna. Semoga inovasi ini dapat terus memberikan manfaat khususnya bagi masyarakat Kalurahan Jogotirto,” ujarnya.

Selain itu, di bidang administrasi kependudukan, Kalurahan Jogotirto juga memiliki inovasi Palawija. Inovasi ini memberikan layanan pembuatan akta kelahiran dan akta kematian bagi warga Kalurahan Jogotirto. Dengan layanan ini, Mitha berharap dapat memudahkan warganya untuk mendapatkan akta kelahiran ataupun kematian dengan lebih mudah dan cepat.