WBTB Suran Mbah Demang Dorong Generasi Muda Lestarikan Upacara Adat

Untuk mendorong dan menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian upacara adat dan kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Sleman, khususnya di wilayah Kapanewon Gamping, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menggelar kegiatan ‘Suran Mbah Demang’ yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) kategori adat dan tradisi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak tahun 2016 yang berlangsung di Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (25/7/2023) malam.

Prosesi Upacara Adat Suran Mbah Demang yang digelar setiap tanggal 7 bulan Sura malam hari ini dihadiri oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo didampingi Panewu Gamping, Yakti Yudanto dan Panewu Anom Gamping, Dewanto Tri Nugroho, serta Lurah Banyuraden, Sudarisman yang secara resmi membuka kegiatan kirab pusaka dengan menyebar ‘udik-udik’ berupa beras kuning dan uang logam, serta melepas burung merpati putih sebelum melepas peserta kirab pusaka, kitab, dan bendhe menuju ke Rumah Tabon Ki Demang Cokrodikromo yang berada di wilayah Modinan.

Adapun Kirab budaya Suran Mbah Demang mengambil rute melewati jalan di sepanjang kelurahan Banyuraden yang berawal dari halaman Kantor Lurah Banyuraden menuju Rumah Tabon Ki Demang Cokrodikromo di jalan godean Km 3 Modinan. Peserta kirab budaya tersebut terdiri dari prajurit Bregada Pesanggrahan, Bregada Ranu Wira Patuk, Bregada kaliabu, Bregada Turangga Sumberarum, Bregada Guyangan, Bregada Kramatan, yang mengawal 2 buah gunungan berupa sayuran dan buah hasil bumi yang diperebutkan masyarakat dengan mitos mendapatkan berkah.

“Perayaan upacara adat seperti ini harus dilestarikan sebagai upaya pemerintah daerah bersama masyarakat setempat melestarikan warisan budaya dalam konteks keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengedepankan kebudayaan dalam pembangunan daerah,” tutur Kustini.

Di samping ratusan bregada, terdapat beberapa kesenian tradisional yang menyertai jalannya kirab pusaka antara lain kesenian Tek-Tek Geplakan, Gedruk, Jathilan, serta berbagai macam Ogoh-Ogoh yang berasal dari wilah Kajor, Kramatan, Dukuh, Modinan, Patran, Dowangan, dan Banyumeneng untuk menyemarakkan kirab dan memberikan hiburan bagi masyarakat yang menyaksikan.

“Warisan Budaya Takbenda kategori adat dan tradisi yang ada di Sleman, khususnya di wilayah Kapanewon Gamping harus selalu dikembangkan setelah ditetapkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan SK Nomor 244/P/2016 tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2016,” tegas Kustini.

Ia berharap masyarakat tidak hanya sekedar mengetahui warisan kebudayaan yang dimiliki kabupaten Sleman, namun masyarakat harus memahami dan berpartisipasi secara aktif dalam pelestariannya sehingga dapat dilanjutkan hingga generasi muda.

“Dengan keluarnya sertifikat penetapan WBTB yang merupakan tonggak penting dalam upaya melindungi dan menghargai kekayaan budaya milik masyarakat gamping maka menjadikan komitmen pemerintah daerah maupun masyarakat untuk melestarikan dan mewariskan kepada generasi penerus sehingga menjadi cermin identitas masyarakat,” imbuhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pentingnya Validasi Data untuk Tangani Tuberculosis

Sleman – Dalam rangka pencapaian eliminasi TB (tuberculosis) pada tahun 2030, Lembaga Sinergi Indonesia Sehat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mencegah dan menangani kasus TBC di Kabupaten Sleman.

Hal tersebut disampaikan Amira dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada acara Rapat Koordinasi Tingkat Kabupaten dan Validasi Data Kader Tuberkulosis, Selasa (25/7/2023) di Aula Kalurahan Donoharjo.

Amira menekankan penting bagi masyarakat untuk dapat mengetahui kondisi kesehatannya sehingga penanganan akan lebih mudah.

“Sehingga perlunya berbagai strategi, salah satunya dengan bantuan kader TB,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Nurcholis Majid  kepala SSR (Sub Sub Recipient) dari Lembaga Sinergi Sleman menjelaskan bahwa  TBC  memiliki efek yang sangat besar bagi perkembangan anak karena dapat menyebabkan  Gizi buruk, stunting serta IQ turun.

“Karena itu perlu strategi yang luar biasa agar dapat menyelamatkan generasi kita dari ancaman penyakit TBC beserta akibat turunannya. Perlu pergerakan dari berbagai pihak baik Puskesmas, Kader, Programer, Kalurahan, Padukuhan maupun di tingkat RT dan RW,” jelas  Nurcholis.

Sementara Itu,  Prima dari Lembaga Sinergi menjelaskan bahwa dalam upaya penanganan dan pencegahan TB, bersama Puskesmas dan kader TB melakukan kegiatan investigasi kontak, penemuan kasus, pencegahan juga pendampingan minum obat kepada pasien.

“Dalam pelaksanaannya masih banyak kendala diantaranya  masih ada Puskesmas yang tidak memiliki kader dan belum semua puskesmas mengimplementasikan program TPT ( terapi pencegahan tuberculosis) pada balita yang kontak serumah dengan Indeks Kasus, sehingga capaian TPT masih sangat sedikit,” terang Prima.

Kendala lainya, lanjut Prima adalah tidak semua kader dapat memberikan edukasi secara lengkap, serta jumlah skrining dan pemeriksaan yang masih sedikit.

“Beberapa puskesmas tidak mempunyai data alamat yang lengkap, sehingga menyulitkan kader dalam melakukan kegiatan investigasi kontak,” terang Prima.

Untuk menanganinya, telah dilakukan beberapa strategi, seperti dengan penarikan data indeks secara berkala, melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas, melakukan re-visit terhadap kontak serumah, dan mendorong Puskesmas untuk melakukan kegiatan IK (investasi kesehatan) dengan menggunakan kader dusun.

“Strategi penanganan juga dengan meningkatkan jejaring dengan stakeholder agar dapat meningkatkan capaian terduga TB serta koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas agar pemberian TPT (terapi pencegahan tuberculosis) pada balita dapat berjalan dengan baik,” jelas Prima lagi. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Kapanewon Seyegan Gelar Sarasehan Keistimewaan

Sleman – Kapanewon Seyegan menggelar sarasehan keistimewaan untuk usulan program dan kegiatan dana Keistimewaan tahun 2025, bertempat di aula lantai II Kapanewon Seyegan, Selasa (25/7/2023). Kegiatan dihadiri Panewu Seyegan, pamong 5 Kalurahan masing masing carik, ulu ulu, pangripto, Ketua LPMKal dan Ketua KIM Seyegan menghadirkan 3 nara sumber dari Bappeda Kabupaten Sleman dan 2 Staf Ahli DPRD Provinsi DIY.

Samino, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa usulan Danais dari Kapanewon Seyegan untuk tahun 2025 masih melingkupi usulan kelembagaan, kebudayaan, jaga warga dan Tata ruang.

“Di samping itu Danais juga bisa untuk membiayai banyak kegiatan termasuk program treatment/pengurangan stunting dan RTLH. Untuk itu mohon dicermati,” ujar Samino.

Samino juga mengingatkan bahwa ada 2 mekanisme yaitu langsung ke Propinsi melalui proposal atau melalui Kabupaten dengan mekanisme RKA dan KAK.

Rini Nurhidayati, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan, dalam sarasehan tersebut memaparkan usulan kegiatan berikut pendanaannya dari 5 Kalurahan di wilayah Seyegan. Harapannya usulan kegiatan mendapat pencermatan dari staf Ahli DPRD Propinsi yang hadir.

“Secara total usulan Danais dari Kapanewon Seyegan untuk kegiatan tahun 2025 berjumlah Rp ,-.,” terangnya.

Ragil Wicaksono, dari Bidang Perencanaan Bappeda Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa usulan kegiatan yang dibiayai Danais merupakan usulan prioritas yang berdampak langsung pada pemberdayaan Masyarakat dan kegiatan untuk pengurangan kemiskinan.

“Adapun usulan yang langsung ke pemerintah provinsi melalui Dinas terkait,” ujarnya.

Ragil menjelaskan tentang tata cara usulan Danais dengan tahapan bulan Mei usulan ke Kapanewon, bulan Juni usulan ke Bupati melalui Bappeda, dilakukan sinkronisasi , baru kemudian diusulkan ke Paniradya (Provinsi).

Susanto Budi Raharjo, menuturkan danais dijalankan sesuai Dengan amanat UU Keistimewaan. Sumber dana Danais berasal dari APBN yang secara khusus dialokasikan untuk DIY.

“Adapun tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakat dengan konsep peningkatan UMKM atau pelatihan pelatihan bagi masyarakat,” ungkap Susanto. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Paguyuban Seni Karawitan Sekar Budaya Kalurahan Condongcatur Diresmikan

Sleman – Carik Condongcatur meresmikan Paguyuban Seni Karawitan “Sekar Budaya” Condongcatur di kediaman salah seorang warga yaitu Rusman di Sengkan, Kalurahan Condongcatur, Selasa (25/7/2023)

Pengukuhan ditandai dengan diserahkannya SK Lurah Condongcatur dengan Nomor 139/ tentang Pengukuhan Payuban Seni Karawitan “Sekar Budaya” Condongcatur oleh Carik Condongcatur kepada Ketua Paguyuban Seni Karawitan Sekar Budaya Condongcatur, Ganep Sri Lestari

Dalam sambutanya Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari menyampaikan Apresisi atas terbentuknya paguyuban seni karawitan ini

“Untuk melestarikan budaya bangsa khususnya di bidang seni karawitan diwilayah kalurahan Condongcatur paguyuban yang sudah terbentuk perlu diberikan pengakuan sebagai wadah masyarakat dalam mengembangkan kesenian karawitan,” ucapnya

“Harapanya generasi muda kedepan juga tertarik ikut bergabung melestarikan seni budaya karawitan agar dapat terus lestari,” tutur Riska.

Penasehat Paguyuban Seni Karawitan Sekar Budaya Condongcatur, FA. Triwusuno menyampaikan bahwa sebelumnya kelompok seni karawitan ini sudah eksis berkegiatan dan mengadakan latihan rutin karawitan setiap malam Rabu pada setiap minggunya.

“Juga Macapatan setiap malem Sabtu Legi bertempat di kediaman Bp. Rusman dan FA. Triwusono di sengkan serta di kediaman Bp. Sugiyono /Ibu. Adriyani di Pondok Condongcatur,” ungkap Tri.

“Kedepan setelah diresmikannya Paguyuban Sekar Budaya ini latihan rutin akan dilaksanakan di Kalurahan Condongcatur,” tambah FA. Triwusono.

Sementara di tempat terpisah, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji mengatakan bahwa Paguyuban adalah wadah untuk mengembangkan dan melaksanakan kegiatan seni budaya agar dapat terkoordinir.

“Di samping itu paguyuban sebagai wadah untuk mencetak kader kader seniman seniwati generasi penerus dalam melestarikan seni budaya Jawa karena Paguyuban merupakan wadah melaksanakan kegiatan seni budaya secara kelompok sebagai upaya melestarikan budaya seni tradisi Jawa agar tetap lestari dan dapat meningkatkan kreasi serta kemampuannya dalam berkegiatan,” tukasnya. (Wasana/KIM Depok)




FKDM dan FPK Terus Bersinergi Jaga Kondusivitas Wilayan Tempel

Sleman – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kapanewon Tempel menggelar Rapat Koordinasi terkait Perkembangan Kondisi Masyarakat Kapanewon Tempel, bertempat di Wahana Wisata Embung Mororejo, Kapanewon Tempel, Selasa (25/7/2023). Kegiatan dihadiri langsung oleh Panewu Tempel, Agung Dwi Martoyo.

Dalam sambutannya, Agung mengapresiasi kiprah FKDM dan FPK bersama masyarakat yang telah bekerja keras saling menjaga kondusivitas, keamanan, dan ketertiban di wilayah Tempel.

“Sehingga sejauh ini dalam keadaan aman tertib dan terkendali,” ujar Agung.

Agung juga mengapresiasi perkembangan kemajuan laporan dalam hal siklus tahunan yang setingkat lebih maju dibandingkan kapanewon lain se-Kabupaten Sleman. Selain itu, iya juga menyoroti perkembangan kemajuan tentang pendataan kesejahteraan keluarga .

Sementara itu, Supardi, Kepala Jawatan Keamanan Tempel menyampaikan perlunya ditingkatkan kewaspadaan terhadap kegiatan yang bersifat abu-abu di masa jelang kampanye.

“Di mana belum masanya kampanye tetapi dari bakal calon legislatif sudah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat baik dalam kegiatan penyaluran dana pokir dewan , atau BKK untuk Kalurahan,” ujarnya.  

Supardi juga menegaskan kembali soal netralitas ASN, perangkat kalurahan, serta TNI polri dalam penyelenggaraan pemilu 2024.

Acara dilanjutkan dengan paparan dan laporan dari masing-masing koordinator wilayah FKDM dan FPK tentang apa yang terjadi dan apa yang akan dikerjakan selanjutnya di wilayah ketugasannya masing masing, khususnya dalam hal menyambut peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan adanya kegiatan Merti Desa dalam bulan Agustus ini.

“Terkait pemilu 2024 FKDM atau pun FPK diharapkan menjadi agen atau kader partisipatif dalam keikutsertaan nya dalam pemilu,” ujar Imam Nayoko selaku Ketua FKDM Tempel.

“Di waktu yang akan datang FKDM mohon perlu kiranya dalam forum ini mengundang panwascam untuk informasi tentang pengawasan pemilu karena berkaitan fungsi nya dalam hal cegah, awasi, dan tindak pelanggaran pemilu,” ungkapnya.

Di akhir laporan nya Imam menyampaikan laporan kondisi malam hari di mana banayk ditemukan lampu jalan dan lampu traffic light mati di berbagai titik.

Sementara itu Muhidin selaku Ketua FPK Tempel juga melaporkan perkembangan mengenai PSHT yang masih dibekukan latihan nya terkait kejadian bentrok bbrp waktu yang lalu, serta mengapresiasi kinerja Kapanewon dalam usaha menurunkan angka kemiskinan di Tempel dan stunting yang masih menjadi pekerjaan besar bersama. (SBD/KIM Tempel)