Perang yang Serut, Lakon Drama Tari yang Menggambarkan Perjuangan Warga Serut Melawan Penjajah

Prambanan – Pemerintah Kalurahan Madurejo Prambanan menggelar pertunjukan Drama Tari dengan Lakon Perang yang Serut. Drama tersebut dibawakan seniman dan seniwati Sanggar Sekar Jagad di bawah asuhan Hajar Satoto (Totok) di Pendapa Ayodya Tulada Komplek Kantor Kalurahan Madurejo, Minggu malam (20/8/2023).
Menurut Lurah Madurejo H Sumadi, di sekitar kantor Kalurahan Madurejo, tepatnya di Padukuhan Serut dahulu pernah menjadi tempat terjadinya perang antara tentara Belanda dengan pejuang pribumi dan relawan yang berasal dari masyarakat.
“Maka sebagai pengingat sejarah, di wilayah Padukuhan Serut dibangun fasilitas umum untuk aktifitas pemerintahan tingkat Kalurahan, yang kini sebagai Kantor Kalurahan Madurejo yang baru dibangun pada tahun 2003 dengan dana sebesar 1 Miliar. Di samping fasilitas perkantoran yang komplit, ditambah monumen terbuat dari batu besar dan dua buah bom. Semua itu menjadi monumen perjuangan masyarakat Madurejo,” terangnya.
Terkait dengan lakon Perang Serut, H Sumadi meminta masyarakat untuk mengambil inti cerita yang menggambarkan semangat juang para pahlawan kala itu, diwarisi oleh masyarakat sekarang.
“Hembregah berjuang untuk membangun Kalurahan dan masyarakat Madurejo Maju dan Sejahtera,” harap Sumadi.
Sementara itu Hajar Satoto, inisiator pementasan sekaligus pengarang cerita, tata laku, tata busana hingga iringan Gending, menuturkan, Drama Tari Perang Serut menggambarkan perjuangan heroik pejuang pribumi bersama masyarakat Madurejo melawan tentara Belanda pada tahun 1949.
“Pada saat itu diperoleh informasi bahwa pasukan tentara belanda hendak menuju Wonosari melalui Serut, informasi disampaikan kepada pejuang pribumi yang kemudian menggerakkan relawan yang berasal dari masyarakat Madurejo,” tuturnya.
Oleh para pejuang, jalur yang akan dilalui oleh pasukan tentara Belanda dipasang dua buah bom masing-masing seberat 250 kg yang diambil dari gudang senjata yang ditinggal oleh Belanda pasca terjadinya perjanjian Roem Royen.
“Dua buah bom itu meledak tepat pada saat rombongan tentara Belanda melintasi jalan di wilayah Padukuhan Serut dan mengakibatkan 8 tentara Belanda tewas, yang kemudian digambarkan terjadinya perang sengit antara pimpinan pejuang pribumi beserta masyarakat dengan komandan pasukan Belanda yang akhirnya pasukan Belanda habis dan tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Wonosari,” ujar Totok.
Pertunjukan Dramatari Perang Serut garapan Totok itu dibawakan Seniman Seniwati Sanggar Sekar Jagad didukung para mahasiswa ISI Yogyakarta yang akan segera mengakhiri tugas belajarnya di Madurejo selama satu bulan.
“Kami ingin tampil total sebagai persembahan hiburan di bulan peringatan kemerdekaan tahun ini,” pungkas Totok.
Sebelum pertunjukan Drama Tari, juga ditampilkan fashion show ibu- ibu PKK dengan mengenakan kain motif batik khas Madurejo dengan model motif yang diresmikan malam itu juga. (Tri Joko S/KIM Kalasan)



