Menggugah Kesadaran Kerja Keras hingga Peduli Lingkungan Melalui Karnaval dan Jalan Sehat

Sleman – Setiap warga negara Indonesia harus mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan mengenang jasa perjuangan para pahlawan.  Para pahlawan sebagai pejuang mengorbankan harta, jiwa, raga untuk kemerdekaan. 

“Mensyukuri kemerdekaan dapat dilakukan dengan partisipasi aktif dalam pembangunan.  Bagi adik-adik remaja manfaatkan waktu untuk belajar tekun meraih cita-cita,” pesan H. Muhammad Yazid, anggota DPR tingkat DIY sebelum melepas peserta Karnaval dan Jalan Sehat Warga Tlukan Jetis (Kantis) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Kegiatan yang digelar Minggu (13/8/2023) diikuti seluruh warga Kantis yang terdiri dari RT 5 – 6 – 7 RW 07 Nasri III Sumbersari Moyudan Sleman. 

Yazid menegaskan agar seluruh warga Kantis Nasri III selalu guyup rukun menjaga ketenteraman hidup bermasyarakat.  Ia mengapresiasi keikutsertaan seluruh warga Kantis pada karnaval dan jalan sehat yang penuh dengan nuansa kreativitas.

Menurut Firia Damayanti dan Desi Ratnasari selaku tim kreatif, peserta terdiri 17 kelompok dengan ciri khas, unik dan menghibur seperti Pasukan Gagah Manja, terdiri bapak-bapak dengan kostum manis.  

“Ada juga Group Kompak terdiri dari ibu-ibu kompak membawa alat kebersihan, Pabudu (pasukan butuh duit), para Pejuang Rupiah yang terdiri bapak-bapak pekerja keras, Dekengane Pusat dengan kostum baju nuansa religi, pasukan Geger Gedhen, para bapak muda dengan mengenakan topeng-topeng raksasa menyeramkan,” jelas Firia.

“Sementara ada kelompok emak-emak Sobat ambyar, kelompok black sweet para pemudi cantik dengan memakai plesetan produk merek-merek terkenal, kelompok Mangkat Sek Bune terdiri para bapak dengan kostum siap ronda, bahkan ada kelompok pantang mundur.  Ada juga kelompok ibu sosialita, ngopi sek maseh, hingga kelompok tenaga medis,” imbuhnya.

Ada juga karnaval dan jalan sehat menempuh rute kurang lebih 3,5 km melewati Dakawon dan Pedukuhan Semingin Sumbersari Moyudan.  Usai jalan sehat dilanjutkan  dengan makan bubur bersama dan pembagian door prize. 

“Asik, menghibur dan menyenangkan,” kata Budiyanto salah satu peserta dari RT 05. 

Sementara Zamzuri Latif Dukuh Nasri III menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang dengan penuh kesadaran mengikuti kegiatan.  Tema utama peringatan HUT RI di RW tersebut adalah dengan semangat kemerdekaan kita wujudkan lingkungan bersih indah dan nyaman.  Menurut Risdiyanto koordinator acara, kegiatan ini juga mengajak semua warga untuk peduli lingkungan, menjaga kebersihan seperti memilah sampah. 

“Pahlawan berjuang meraih kemerdekaan, kita berjuang agar wilayah kita zero sampah,” tegasnya. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Lalat Tentara Hitam Diyakini Efektif Uraikan Sampah Organik

Sleman – Sampah menjadi masalah serius yang dialami oleh masyarakat baik yang berada di perkotaan maupun di pedesaan. Sifatnya yang sulit dan lama untuk diurai menjadikan jumlah sampah selalu meningkat dari waktu ke waktu. Hal tersebut memerlukan penanganan khusus agar tidak terjadi pencemaran, polusi maupun kerusakan lingkungan karena sampah ,yang berakibat pada penurunan derajat kesehatan masyarakat.

“Memilah sampah organik dan anorganik adalah langkah pertama yang bisa dilakukan di lingkungan rumah tangga dan merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sampah secara menyeluruh” kata Michael Yoga Setiawan pada acara Sosialisasi Pembuatan Ember Tumpuk untuk Lindi yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana dalam rangkaian kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa /Pengabdian Masyarakat (PKM PM) bertempat di padukuhan Suruh Donoharjo  pada Sabtu (12/8/2023).

Pada kenyataannya, lanjut Yoga, komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, yaitu sampah yang berasal dari sisa organisme hidup misalnya limbah pasar atau limbah dapur seperti sisa sayuran, buah-buahan, nasi basi  atau sisa makanan lainnya. Jenis sampah ini mudah terurai dan menyatu kembali dengan alam.

“Untuk mengolah sampah organik selain  dengan pengomposan juga bisa dilakukan dengan budidaya BSF( black soldier fly) atau Lalat Tentara Hitam. BSF Adalah sejenis lalat berwarna hitam , bentuk tubuh menyerupai tawon. Ukuran panjang tubuh lalat dewasa sekitar 16 mm dengan dominasi warna hitam,” terangnya.

Berbeda dengan lalat pada umumnya yang terkesan menjijikkan karena hinggap di tumpukan sampah, BSF  adalah lalat bersih, tidak  hinggap pada makanan dan bukan merupakan vektor penyakit sehingga tidak berbahaya terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

“Lalat ini bersahabat dengan manusia berdasarkan manfaatnya,” imbuh Yoga.

Dijelaskan bahwa siklus hidup lalat tentara hitam rata-rata sekitar 40 hari.  Seekor lalat BSF betina mampu menghasilkan 500 sampai 900 telur  sekali perkawinannya yang kemudian menetas dan menjadi larva. Larva inilah yang disebut dengan maggot atau belatung.

Yoga meyakini, dengan penggunaan maggot ini sangat efektif untuk mengatasi sampah organik rumah tangga karena makanan larva adalah sampah organik  sehingga sampah tidak akan cepat menumpuk meskipun selama satu bulan namanya. Hal inilah yang membuatya optimis jika semua rumah tangga menggunakan cara ini maka masalah sampah lambat laun akan teratasi.

Pengolahan sampah organik menggunakan maggot dilakukan dengan metode ember tumpuk. Satu ember yang telah dilubangi pada bagian bawahnya diisi bahan organik limbah rumah tangga sebagai media untuk mengundang lalat atau meletakkan telur BSF sedangkan ember kedua bagian bawah diletakkan sebagai penampung hasil dekomposisi berupa cairan Lindi yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair atau POC yang berguna untuk nutrisi tanaman.

“Lalat tentara hitam juga bisa dibudidayakan sebagai sumber pakan alternatif untuk ternak seperti unggas, ikan, burung berkicau dan hewan peliharaan lainnya,” ungkap Yoga.

Ia yakin semakin banyak masyarakat yang melakukan budidaya BSF akan mendatangkan keuntungan tidak saja mengatasi masalah sampah organik tetapi juga mendapatkan keuntungan secara ekonomi.(Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Panwaslu Tempel Gencarkan Kampanye Cegah Pelanggaran Pemilu 2024

Tempel – Jelang Pemilu 2024 Panwaslu Kapanewon Tempel Kabupaten Sleman Yogyakarta, menggencarkan kampanye pencegahan pelanggaran pemilu di wilayahnya, Minggu (13/8/2023).

Dalam upaya pencegahan pelanggaran Pemilu 2024 tersebut, belasan anggota Panwaslu Kapanewon Tempel Sleman mendatangi sejumlah tempat keramaian untuk memberikan edukasi langsung pentingnya pencegahan pelanggaran Pemilu 2024 tersebut.

Berbagai tempat keramaian seperti di Lapangan Tempel, yang saat ini tengah berlangsung gelar Budaya dan Bazar UMKM, serta di perempatan Jalan Raya Magelang-Yogyakarta di Palbapang, Tempel, Sleman.

Selain memberikan imbauan langsung, petugas Panwaslu Kapanewon Tempel Sleman juga membagikan stiker berisi pesan untuk mencegah pelanggaran Pemilu 2024.

Ketua Panwaslu Kapanewon Tempel Moch Noor Wachid, mengatakan langkah tersebut merupakan upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah pelanggaran Pemilu 2024.

Berbagai potensi pelanggaran Pemilu 2024 seperti politik uang, sara, penyebaran berita bohong alias hoaks, dan netralitas ASN.

“Dengan edukasi itu kita berharap masyarakat paham, dan berani melapor saat ada pelanggaran pemilu,” kata Moch Noor Wachid.

Selain membagikan stiker dan memberikan imbauan langsung, Panwaslu Kapanewon Tempel juga membentangkan spanduk berisi pesan pencegahan pelanggaran di simpang Jalan Raya Palbapang.

“Harapannya, dengan menggaungkan pesan pencegahan pelanggaran Pemilu 2024, masyarakat bisa semakin peduli,” harap Wachid.

Moch Noor Wachid mengatakan, berbagai upaya lain pencegahan pelanggaran Pemilu 2024 di wilayah Tempel juga dilakukan melalui berbagai forum warga seperti PKK, Karang Taruna, dan sebagainya.

Sementara itu terkait potensi kerawanan yang mungkin terjadi, Moch Noor Wachid menekankan pentingnya mewaspadai kekeliruan penggunaan formulir Memilih di wilayah perbatasan.

Moch Noor Wachid menjelaskan, Kapanewon Tempel di kabupaten Sleman DIY berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hal tersebut memungkinkan adanya pemilih dari wilayah Jawa Tengah yang pindah lokasi pencoblosan di Tempel dengan menggunakan formulir Memilih

Menurut Noor Wachid, potensi pelanggaran terjadi karena bisa saja pemilih menggunakan formulir Memilih untuk memilih Calon Legislatif yang ada di Kapanewon Tempel. Dia menjelaskan, bahwa formulir Memilih hanya boleh digunakan untuk pemilih dari luar DPT untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Karena itu, pihaknya menekankan pentingnya pemahaman regulasi agar tidak terjadi pelanggaran penggunaan formulir Memilih untuk memilih calon legislatif.

“Hal itu juga untuk mencegah agar jangan sampai terjadi PSU atau pemungutan suara ulang di wilayah Tempel,” katanya.

Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kapanewon Tempel Kabupaten Sleman pada Pemilu 2024 tercatat sebanyak orang dengan jumlah TPS 177, tersebar di 8 kalurahan. (Prasetyo Wibowo/KIM Tempel)




Panwaslu Tempel Sosialisasi Pencegahan Politik Uang dan Berita Hoaks

Tempel — Panwaslu Kapanewon Tempel, menggelar sosialisasi pencegahan praktik politik uang, politik SARA serta mendorong netralitas ASN pada Minggu (13/08/2023).

Sosialisasi dilakukan dengan membagi-bagikan stiker kepada masyarakat baik PKL, pejalan kaki maupun pengguna jalan. Tak hanya itu mereka juga memasang spanduk imbauan di sejumlah titik strategis seperti kantor pemerintahan di Kapanewon Tempel.

Ketua Panwaslu Tempel, Muh Noor Wachid mengatakan, kegiatan sosialisasi ini digelar sebagai bagian upaya pencegahan sekaligus edukasi kepada masyarakat.

“Terkait praktik kecurangan money politik dan netralitas ASN,” ujarnya.

Diharapkan lewat kegiatan ini masyarakat dapat turut berperan aktif dalam melakukan pencegahan praktik kecurangan tersebut dalam pemilu 2024.

“Sehingga ketika masyarakat menemukan pelanggaran, akan berani melapor,” katanya.

Salah satu hal yang juga menjadi perhatian Panwaslu Tempel adalah terkait penyebaran berita hoaks, yang kerap terjadi dalam proses pemilu. Dengan sosialisasi ini diharapkan masyarakat dapat memfilter berita hoax tersebut.

“Harapannya nanti bisa menekan angka pelanggaran pemilu di kecamatan Tempel. Sehingga tercipta pemilu yang bersih akuntabel dan bermartabat,” imbuhnya. (Prasetyo Wibowo/KIM Tempel)




Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo Dapat Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Ngemplak – Upacara Adat Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo, di Pondok Wonolelo, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak Resmi Dibuka oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Jumat Malam (11/8-2023) dan akan berlangsung selama 16 hari hingga 26/8/2023. Pembukaan ditandai dengan pemukulan Gong oleh Wakil Bupati didampingi Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi DIY KPH Yudonegoro, dilanjutkan pengajian akbar oleh KH. Muhammad Rofi Umar asal Ceper Klaten, di Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo Padukuhan Pondok Wonolelo.

Heriyanto menyampaikan bahwa Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo akan dilaksanakan selama enambelas hari, dimulai tanggal 12 Agustus hingga 16 Agustus mendatang.

“Sedang Kirap Pusaka Ki Ageng Wonolelo dan Penyebaran Apem direncanakan pada Jumat Pon tanggal 25 Agustus 2023. Sedang pentas kesenian selama limabelas hari mulai 12/8 hingga 26/8 2023,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, Trah Ki Ageng Wonolelo beserta Panitia akan melaksanakan pentas kesenian baik klasik, moderen maupu Senin religius. Materi pentas kesenian meliputi Wayang Kulit, Kethoprak, Karawitan, Sronthol, Jathilan, Macapat. Selain itu juga Solawatan, Hadroh, Kesenian Badui, Kubra Siswa, tidak ketinggalan Tari Kreasi yang dibawakan anak-anak hingga Orkes Melayu.

Di arena pasar malam Saparan Ki Ageng Wonolelo juga disajikan stan-stan UMKM dan perorangan baik dalam bentuk sajian makanan maupun peralatan rumah tangga dan cenderamata.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa dalam sambutanya mengatakan, acara tahunan Saparan Ki Ageng Wonolelo merupakan agenda tahunan yang selalu dinanti warga masyarakat Sleman, karena rangkaian acaranya merupakan bagian dari pada acara tradisi religi budaya dan menjadi kekayaan kabupaten Sleman.

“ Tradisi itu perlu dilestarikan, karena dalam tradisi itu. Terdapat penghargaan dan pengakuan akan jasa besar Ki Ageng Wonolelo dalam syiar agama Islam, dan kita bersama turut mendoakan,” ujar Danang.

Danang juga mengatakan bahwa selama penyelenggaraan, diharapkan juga menjadi bagian dari upaya peningkatan ekonomi masyarakat yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Karena di arena perayaan banyak penjaja stan baik dari UMKM maupun masyarakat umum. Disepanjang jalan penuh orang jualan, maka saya berharap ada peningkatan ekonomi masyarakat,” pinta Danang.

Sementara itu KPH Yudonegoro dalam sambutanya berharap agar tradiadisi tahunan yang sudah menjadi warisan budaya tak benda itu dapat dijadikan sarana mengimplementasikan Keistimewaan Yogyakarta untuk kesejahteraan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. (Tri Joko S/KIM Kalasan)