Sleman – Keberadaan bank sampah dan kelompok pengelola sampah sangat diperlukan dalam upaya pengurangan sampah buangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Berkaitan dengan itu, PT Unilever Tbk bekerja sama dengan kelompok Persada Yogyakarta serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Workshop Peningkatan Manajemen Bank Sampah di Aula Pangripta Komplek BAPPEDA Kabupaten Sleman, Rabu (9/8/2023).
Hadir dalam kegiatan tersebut dari Unilever, DLH kab Sleman, ketua JPSM sehati, 50 pengurus bank sampah di kabupaten Sleman.
Dalam sambutannya melalui telewicara, Maya Tamimi Head of Division Environment & Sustainility Unilever Indonesia menyampaikan Unilever mempunyai misi mengurangi sampah dari sumbernya, serta bertujuan Membangun planet bumi lebih Lestari, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil dan inklusif.
Ia memaparkan, target pencapaian Unilever pada tahun 2025 adalah mengurangi penggunan virgin plastik, memperbaiki recyclebility/keterdaurulangan plastik kemasan, membantu pengumpulan dan pemrosesan plastik kemasan lebih banyak dari yang dijual,dan meningkatkan penggunaan post-consumer recycling dalam kemasan.
“Langkah tersebut dilakukan Unilever untuk mengurangi penggunan pengambilan fosil dari perut bumi dan mengurangi sampah kemasan yang beredar di masyarakat,” terang Maya.
Maya menjelaskan bahwa peran bank sampah dan kelompok sampah mandiri tetep diperlukan dalam upaya pengelolaan dan pengurangan sampah di masyarakat.
“Pengelolaan sampah itu menjadi tanggung jawab kita bersama, jadi semua lapisan masyarakat wajib mengelola sampah untuk menjaga kelestarian bumi yang kita tempati,” tukas Maya.
Muhammad Yidin, Kepala Seksi Pengelolaan Persampahan DLH Sleman menyampaikan bahwa kabupaten Sleman merupakan wilayah dengan pertumbuhan yang pesat dalam pembangunan dan pertambahan penduduk. Sleman juga merupakan magnet yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak berdatangan penduduk dengan tujuan belajar, mencari penghidupan, dan bertempat tingal.
“Bisa dikatakan Sleman merupakan Indonesia kecil tempat berkumpul berbagai suku dengan karakter yang berbeda beda serta harus ada penanganan yang berbeda,” Kata Yidin.
Dengan bertambahnya penduduk, lanjut Yidin, bertambah pula sampah yang dihasilkan sejalan dengan tambah banyaknya hotel, restoran, serta pedagang kaki lima .
Ia menambahkan bahwa di Kabupaten Sleman sendiri saat ini terdapat 28 TPS3R, terbanyak di DIY serta mempunyai kelompok pengelola sampah sekitar 300 kelompok.
Namun menurutnya, meski peran serta bank sampah dan kelompok sampah yang lain sangat baik namun belum bisa mengurangi sampah secara signifikan. Karena kelompok tersebut bersifat sukarela keiklasan.
“Harapannya dengan workshop peningkatan manajemen bank sampah kali bisa menggugah semangat pengurus serta menambah kemampuan dalam mengelola sampah menjadi lebih baik,” tambahnya/
Ketua Kelompok Persada Yogyakarta Widiandayani mengucapkan terimakasih kepada kelompok pengelola sampah terutama bank sampah yang telah berkontribusi nyata melakukan pengelolaan sampah juga mengurangi sampah yang dihasilkan masyarakat.
“Dalam rangka memberi apresiasi kepada penggiat bank sampah Unilever lewat kelompok Persada memberikan penyemangat dengan cara membayar 350 rupiah dari semua jenis plastik yang terjual melalui nota catatan penjualan yang terverifikasi. Harapannya dengan adanya apresiasi tersebut bisa menyemangati kelompok pengelola sampah untuk merasa memperoleh perhatian,” jelas Widi.
Sedangkan Hijrah Purnama Putra, Ketua JPSM Sehati kabupaten Sleman menyambut baik tawaran dari Unilever lewat kelompok Persada Yogyakarta untuk mendapatkan klaim dari penjualan semua jenis plastik dari kelompok pengelola sampah Sleman.
“Untuk mekanisme mendapatkan klaim akan dibicarakan oleh pengurus JPSM lebih lanjut,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)