Sambut Muscab, Muhammadiyah Purwomartani Gelar Pengajian

Kalasan – Menyambut Muscab PCM Kalasan yang ke 17 dan Muscab PCA Kalasan yang akan diselenggarakan pada Minggu, 3 September 2023 di SD MUH Kadisoko, pada Sabtu (26/8/2023)  diadakan Pengajian Songsong Muscab bertempat di Lapangan Bayen Purwomartani Kalasan Sleman.

Pengajian yang dikoordinasikan olen PRM Purwomartani tersebut dihadiri 2500 jemaah yang terdiri dari  Pengurus PCM , PRM , ORTOM dan segenap Guru dan Karyawan AUM , Jamaah Masjid Muhammadiyah serta para orang tua wali murid yang putra-putrinya belajar di sekolah yang bernaung di bawah Muhammadiyah .

Hadir pula dalam Pengajian tersebut Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Sleman yang diwakili   H. Irfan Harits,   Panewu, Kapolsek,  Danramil,  Kepala KUA, Lurah Se Kapanewon Kalasan serta Ketua Ketua Ormas di Kalasan.

Pengajian tersebut digelar bersamaan juga dengan Milad SMP MUH 2 Kalasan yang ke 58 yang ditandai dengan Penanaman Pohon Glodokan oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Dalam kesempatan tersebut, Kustini mengajak semua peserta pengajian agar menjalin hubungan yang baik antara warga Muhammadiyah  dan pemerintah Kabupaten Sleman.

Dirinya juga berharap agar Muhammadiyah dapat terus menjalankan program yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Pimpinan cabang yang nanti akan menyelenggarakan Muscab bisa mengambil program program yang rahmatan lil ‘alamin,” harapnya. (Arief Hartanto)




Pentingnya Kolaborasi Semua Pihak untuk Perlindungan Anak

Sleman – Dalam upaya mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang tinggal Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), Forum LKSA Kabupaten Sleman kembali menggelar forum tahunan dimana Forum LKSA yang kedua ini diselenggarakan pada hari Kamis (24/8/2023), mulai pukul hingga di Aula Dinas Sosial Kabupaten Sleman.

Dengan dihadiri oleh para Pengasuh LKSA se Kabupaten Sleman dan pemerhati perlindungan anak dan keluarga, forum ini bertujuan untuk menggali isu-isu penting yang berkaitan dengan tantangan pengasuhan yang dihadapi oleh anak-anak di LKSA, serta peran orang tua dan pengasuh dalam mengatasi tantangan tersebut, terutama dalam era digital yang  massif  dalam kehidupan sehari-hari.

LKSA sendiri  lembaga-lembaga kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat yang melaksanakan pengasuhan anak.

Ketua Forum LKSA Kabupaten Sleman,  Wahyu Purhantara dalam sambutannya, menekankan  pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat termasuk LKSA, dan keluarga dalam memberikan perlindungan dan dukungan yang tepat bagi anak-anak di LKSA.

“Anak-anak adalah aset berharga bangsa, dan kita harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka secara optimal,” ujar Wahyu.

“Kekerasan yang terjadi di lingkungan anak-anak kita, kata Wahyu yang juga sebagai Ketua MPKS PDM Sleman, justru berasala dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, kakak/ adik, kakek, oom, tante, sahabat, pacar, dan lain-lain. Anak-anak kita tidak sadar, jika medsos yg dimiliki olehnya justru malah menjadi sumber kekeran baginya,” imbuhnya.

Salah satu poin utama dalam forum ini adalah sesi pembicaraan tentang “Permasalahan Anak di LKSA” oleh Nyadi Kasmoredjo, seorang tokoh yang telah lama berkontribusi dalam memperjuangkan hak-hak anak serta membahas tantangan khusus yang dihadapi oleh anak-anak yang tinggal di LKSA, termasuk akses terhadap pendidikan berkualitas, kesehatan, dan partisipasi dalam kegiatan sosial.

Pembicara lainnya, Arief Winarko dari Perkumpulan Anak Bumi Indonesia, memberikan materi menarik mengenai “Tantangan Pengasuhan Anak di Era Digital.”

“Dalam era di mana teknologi semakin merasuk ke dalam kehidupan anak-anak, orang tua dihadapkan pada tantangan baru dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak mereka,” ujar Arief.

Arief menyajikan berbagai tips dan strategi yang dapat membantu orang tua menghadapi tantangan ini dengan bijak.

Diskusi dan tanya jawab antara para peserta forum memberikan wadah yang berharga bagi pertukaran pandangan dan pengalaman. Para peserta sangat antusias dalam berbagi solusi yang dapat diterapkan dalam lingkungan LKSA maupun di rumah masing-masing. (Arief Hartanto)




Aisyiyah Tempel Dorong Kesejahteraan Spiritualitas Lansia Melalui Program Griya Lansia

Sleman – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) di Kapanewon Tempel telah meluncurkan program inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dalam komunitas. Dengan nama “Griya Lansia,” program ini telah menjadi agenda rutin setiap bulan sejak diluncurkan pada bulan Januari 2023.

Di bawah kepemimpinan Siti Rofiah, program ini telah menjadi landasan untuk merawat dan memberikan perhatian khusus kepada para lansia di wilayah Tempel.

“Griya Lansia adalah inisiatif yang mencerminkan komitmen PCA Cabang Aisyiyah dalam mengembangkan lingkungan yang ramah lansia. Kegiatan ini diadakan secara berkala setiap bulan sekali, dengan fokus pada berbagai aspek penting dalam menjaga kesehatan fisik dan spiritual para lansia” tutur Ervin Iswandayani salah satu Pegiat Griya Lansia pada Jumat (25/8/2023).

“Setiap bulannya setiap ranting PCA mengirimkan 7 lansia untuk berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan yang dirancang dengan baik,” imbuhnya.

Agenda sendiri dimulai dengan pemeriksaan kesehatan menyeluruh yang dilakukan oleh tim medis terlatih.

“Hal ini tidak hanya memastikan pemantauan kesehatan yang berkala, tetapi juga memberikan lansia akses kepada perawatan yang mereka butuhkan,” tutur Ervin.

Selain pemeriksaan kesehatan, Griya Lansia juga menyediakan kegiatan senam yang berfokus pada kebugaran fisik. Para lansia diajak untuk berpartisipasi dalam sesi senam yang bermanfaat untuk mempertahankan kelenturan tubuh dan kesehatan jantung.

Aspek spiritualitas tidak dilupakan dalam program ini. Kegiatan tahsin, yang merupakan rangkaian bacaan Al-Quran, memberikan kesempatan bagi lansia untuk terhubung dengan dimensi spiritual mereka. Selain itu, pengajian juga menjadi bagian integral dari program, dengan pembelajaran agama dan diskusi bermakna untuk memperkaya pengetahuan spiritual.

Sesi berakhir dengan acara makan siang bersama. Setelah melewati pemeriksaan kesehatan, senam, tahsin, dan pengajian, para lansia dan peserta acara berkumpul untuk berbagi hidangan dan cerita.

“Ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang membangun ikatan sosial yang kuat dan memperkuat jaringan sosial dalam komunitas,” terang Ervin lagi.

Acara Griya Lansia berlangsung di Gedung Dakwah Mororejo Tempel, dimulai dari jam hingga . Durasi yang terukur memungkinkan para lansia untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam semua kegiatan yang telah direncanakan dengan cermat.

Pimpinan Cabang Aisyiyah Kapanewon Tempel telah menciptakan platform yang bermanfaat dan relevan bagi lansia di komunitas. Griya Lansia bukan hanya sekadar serangkaian kegiatan, tetapi juga merupakan wujud perhatian dan dukungan yang nyata terhadap para lansia.

“Melalui pemeriksaan kesehatan, senam, tahsin, pengajian, dan interaksi sosial, PCA telah berhasil merangkul para lansia dalam lingkungan yang peduli dan berdaya,” pungkas Ervin. (Arief Hartanto)




Gamping Fokus Tangani Masalah Sampah

Sleman – Sampah bisa berdampak tidak baik bagi Kesehatan warga masyarakat jika penanganannya buruk karena memiliki potensi timbulnya berbagai macam penyakit diantaranya tifus, diare, kolera, serta cacingan. Di samping itu dapat mempengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang merugikan seperti menimbulkan bau tak sedap dan banjir jika sampah menumpuk di saluran air.

Hal tersebut diungkapkan oleh Panewu Gamping, Yakti Yudanto dalam Rapat Koordinasi Pimpinan Kapanewon Gamping yang digelar di Joglo Resodinomo Gamping, Sleman, Jumat (25/8/2023).

Kegiatan dihadiri oleh Kepala Kepolisian Sektor Gamping, Kompol Surahman, Batituud Koramil 17/GP, Serma Acip Mulyawana mewakili Komandan Koramil 17/GP, Panewu Anom Gamping, Dewanto Tri Nugroho, Kepala Instansi Pemerintah tingkat Kapanewon Gamping yang terdiri dari Puskesmas Gamping I, Puskesmas Gamping II, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Kantor Urusan Agama, UPT Pelayanan Pendidikan, Unit Pengelola Kegiatan, Balai Penyuluh Keluarga Berencana, Panitia Pemilihan Kecamatan, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan Gamping, serta Lurah se-Kapanewon Gamping.

“Banyak kasus pengelolaan sampah yang tidak baik sehingga Tempat Pengolahan Sampah (TPS) ditutup oleh pemerintah setempat maupun ditutup paksa oleh warga masyarakat. Guna mengatasi permasalahan sampah, kita harus mulai membatasi jumlah sampah dengan melakukan pengelolaam sampah dengan lebih baik secara mandiri,” tutur Yakti.

Ia menambahkan bahwa kesadaran dalam mengelola sampah harus diawali dari diri sendiri sehingga pengaruh buruk akibat sampah dapat berkurang secara perlahan sehingga lingkungan sekitar akan menjadi lebih baik bagi kehidupan masa depan.

Hal senada disampaikan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman Komisi D, Respati Agus Sasangka dan Sri Riyadiningsih selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman Komisi B yang mengikuti kegiatan tersebut bahwa permasalahan sampah merupakan tanggung jawab dari pemerintah dan seluruh masyarakat, karena semuanya ikut andil dalam menghasilkan sampah sehingga harus turut bertanggung jawab.

Regulasi berkaitan dengan pengelolaan sampah telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Hanya saja, implementasi dari regulasi tersebut masih sangat minim karena kesadaran warga masyarakat terhadap sampah masih rendah yang menyebabkan banyaknya penumpukan sampah di pemukiman saat adanya penutupan Tempat Pembuangan Sampah yang dilakukan pemerintah karena kapasitasnya sudah melebihi daya tampungnya.

“Perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak dan sektor, khususnya antara masyarakat dengan pemerintah untuk mengelola sampah karena perbaikan dalam budaya masyarakat tetap harus didukung dengan tersedianya anggaran, serta perbaikan infrastruktur dan sistem yang dilakukan oleh pemerintah,” imbuh Respati. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Peran Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan

Sleman – Setiap orang mempunyai ruang tersendiri untuk berjuang dan berkarya. Pernyataan ini mengandung pengertian bahwa berjuang dan berkarya memiliki makna yang cukup luas. Siapa pun dapat berkontribusi bagi bangsanya melalui profesi dan keahlian masing-masing, tidak terkecuali orang-orang yang mengabdikan dirinya sebagai seniman.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Panewu Depok Wawan Widiantara dalam Pembukaan Festival Gelar Budaya dan UMKM Kapanewon Depok 2023 di Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman, Sabtu (26/8/2023).

Menurut Wawan, perjuangan para seniman memiliki andil besar dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Peran para seniman tersebut mengisyaratkan bahwa berjuang tidak selamanya harus dengan mengangkat senjata.

Salah satu bentuk dukungan dan kontribusi seniman terhadap perjuangan, bagi Wawan antara lain adalah munculnya berbagai produk seni sebagai bentuk ungkapan mereka dalam mengekspresikan dirinya, salah satunya adalah dalam bentuk jathilan.

Jathilan adalah kesenian yang menyatukan unsur gerakan tari dengan ritual sebelum pagelaran dimulai. Masyarkat mengenal jathilan dengan berbagai sebutan, yaitu kuda lumping, jaran kepang, dan kuda kepang. Kesenian Jathilan digunakan sebagai sarana hiburan masyarakat.

Jathilan dikenang sebagai gambaran era Perang Jawa. Rakyat yang mendukung perjuangan menggunakan properti kuda tiruan yang terbuat dari bambu. Dukungan itu sebagai sebuah apresiasi prajurit berkuda Pengeran Diponegoro melawan Balanda.

“Bukti di Depok sini sudah merdeka antara lain dibuktikan dengan setiap seniman bisa mengekspresikan karya seninya,” ujar Wawan.

Pagelaran Jathilan dalam rangka Hari Jadi Keistimewaan DIY dan HUT ke-78 RI ini menampilkan Turonggo Mudo Lestari Budoyo dari Padukuhan Nayan Maguwoharjo, PS. Satrio Mudho Mustiko dari Padukuhan Kledokan Caturtunggal, dan PS. Madu Mudo Turonggo dari Padukuhan Kayen Condongcatur. (Athiful/KIM Depok)