Wabup Sleman Ajak Anak Muda Maknai Kemerdekaan Dengan Berkarya

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengajak anak muda Sleman memaknai Kemerdekaan RI ke-78 dengan berkarya sesuai bidang masing-masing, hal tersebut ia sampaikan pada acara Ngopi Kebangsaan dengan tajuk “Orang Muda Merawat Pancasila : Pemerintah & Orang Muda Bekerjasama Membangun Bangsa Indonesia Damai” yang diselenggarakan Kevikepan Yogyakarta Barat pada Selasa, (22/8) di Kopi nJongke, Mlati, Sleman.

Danang menyampaikan tema tersebut juga bisa dimaknai sebagai sarana introspeksi dan merenung kembali tentang kontribusi orang muda pada bangsa Indonesia. Kemajuan teknologi harus bisa dimanfaatkan anak muda sebaik mungkin dan harus bisa memilah informasi yang baik dan buruk.

“Saya berpesan kepada anak muda serta mengajak untuk memaknai kemerdekaan RI ke-78 dengan berkarya sesuai bidang masing2. Semoga bisa menjadi penyemangat temen2 semua,” jelasnya

Lebih lanjut, Danang juga menyampaikan akan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam mencegah faham radikal yang dapat merusak bangsa. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara sangat penting dalam menyatukan berbagai suku, bahasa, dan agama.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan orang yang pintar namun juga berani, karena orang yang pintar dan berani biasanya didasari dengan kebenaran,” pungkasnya

Dalam acara tersebut juga dilakukan sesi diskusi bersama dengan akademisi dan praktisi serta Romo Vikep AR. Yudono Suwondo, Pr  yang memandu acara. Kemudian diakhiri penyerahan cenderamata dari Kevikepan Yogyakarta Barat kepada Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa




Yang Muda, Yang Memilih

Sleman – Yang Muda, Yang Memilih adalah jargon yang dipilih oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Ngaglik saat melakukan sosialisasi kepada pemilih pemula di SMA Negeri 1 Ngaglik, bekerja sama dengan Panitia Pemungutan Suara (PPS) Donoharjo, Kapanewon Ngaglik pada hari Selasa (22/8/2023).

Para siswa yang saat ini duduk di bangku SMA adalah calon pemilih pemula yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya. Oleh karena itu kegiatan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan politik kepada para pemilih pemula agar bisa mengerti tentang perlunya menggunakan hak suara untuk menyukseskan pemilihan umum serentak tahun 2024. Hal tersebut yang ditekankan oleh Dita Hendri Irawan ketua PPK Ngaglik.

“Pendidikan politik  kepada pemilih pemula dimaksudkan agar mereka memahami dan mengetahui hak dan kewajiban dalam berpolitik terutama hak pilih bagi warga negara yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih, mengetahui tahapan pemilu, mengenal partai politik peserta pemilu, memberikan pemahaman menjadi pemilih cerdas, serta mengetahui apa saja yang akan dipilih pada pemilu serentak 2024,” kata Dita Hendri.

Sementara itu Achmad Novrizal Hidayat dari Divisi Sosialisasi dan Partisipasi masyarakat dan manusia sumber daya manusia (SDM  )PPK Ngaglik dalam materinya menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan pemilih pemula adalah warga negara Indonesia yang pada hari pemungutan suara sudah berusia 17 tahun atau belum berusia 17 tahun tetapi sudah /pernah menikah.

“Anggota TNI atu Polri yang telah memasuki masa pensiun juga disebut pemilih pemula karena pada saat mereka masih aktif sebagai anggota tidak memiliki hak pilih,” kata Rizal.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan simulasi untuk mengecek nama pemilih dengan mengakses nama pemilih pada laman 

“Jika namanya sudah terdaftar sebagai pemilih tetap , gunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya jangan golput , jadilah pemilih cerdas dengan cara mengenali siapa calon yang akan dipilih, cari tau visi dan misinya, tolak politik uang  dan jangan mudah terprovokasi dengan berita hoaks, serta bijak dalam menggunakan sosmed,” terang Novrizal

Novrizal berharap para pelajar yang kini namanya sudah terdaftar sebagai pemilih tetap untuk berpartisipasi dalam Pemilihan Umum tahun depan dengan menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani.

“Bentuk partisipasi selain sebagai pemilih , dapat dilakukan dengan terlibat dalam penyelenggaraan pemilihan, mengawasi setiap tahapan, turut menyosialisasikan pemilihan dan memantau hasil pemilihan.  Mengecek data diri sebagai calon pemilih seperti yang sudah disimulasikan juga merupakan bagian dari partisipasi yang dilakukan oleh warga negara termasuk generasi muda,” turunya.

Novrizal menambahkan bahwa pada gelaran Pemilu Serentak yang dilaksanakan pada 14 Februari 2024 tersebut, pemilih akan memperoleh 5 surat Suara untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden,  DPD (Dewan Perwakilan Daerah), DPR RI, DPR Provinsi, dan DPR Kabupaten.

Sementara itu kepala sekolah SMAN 1 Ngaglik Yunan Helmi menyambut baik acara sosialisasi tersebut sebagai pendidikan politik kepada para siswa.

“Para siswa perlu diberikan pendidikan politik ,belajar berdemokrasi . Ini juga bagian dari pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn),” tandasnya. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Adakan Evaluasi Display Varietas di Margodadi

Sleman – Kelompok Tani DADI MAKMUR Padukuhan Jlegongan Kalurahan Margodadi Seyegan mendapat kunjungan dari Direktorat Pembenihan Tanaman Pangan Kementrian  Pertanian untuk evaluasi display varietas. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Selasa (22/8/2023) di lokasi uji coba varietas yaitu di hamparan 1 Ha sawah milik Kelompok Tani Dadi Makmur Jlegongan.

Tim evaluasi Pusat didampingi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, melihat langsung 10 jenis varietas yang ada di sawah kelompok tani sekaligus melihat dari dekat pertumbuhan varietas yang akan di evaluasi. Kesepuluh varietas yang ditanam oleh kelompok tani adalah Inpari 32, Inpari in Nutri Zinc, Pajajaran, IPB, Bridantara 8, Menor, Inpari 42, Cakrabuana, Mekonga dan Mapan.

Didampingi Ketua Kelompok Tani, tim mengulik berbagai hal berkaitan pertumbuhan tanaman, ciri fisik, jumlah rumpun, besar malai, ketahanan terhadap hama sampai dengan varietas yang paling disukai oleh burung.

Setelah kunjungan lapangan tersebut, tim mengadakan sarasehan dengan kelompok tani yang diadakan di rumah Ketua Kelompok Dadi Makmur, Tukimun di dusun Jlegongan.

Siti Rochayati, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dalam pengantarnya menyampaikan selamat datang kepada Tim evaluasi sekaligus melaporkan bahwa secara fisik 10 varietas yang ditanam sudah bisa diketahui dan dengan display ini sangat diperlukan karena dapat membantu petani untuk mengenal varietas baru dari tanaman padi.

“Harapannya dengan hasil yang bagus ini, bisa disarankan kepada petani untuk menanamnya sekaligus juga akan disukai pasar sehingga penjualannya lancar,” ujar Siti.

Dina dari Direktorat Perbenihan dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan display adalah untuk memperkenalkan varietas padi yang baru kepada petani supaya tidak terpaku pada satu jenis varietas saja. “Karena varietas yang terlalu sering ditanam, secara kualitas akan menurun,” tuturnya.

“Selain itu, display dimaksudkan untuk melihat perbedaan 10 varietas yang ditanam, dan membandingkan mana yang paling cocok,” lanjut  Dina.

Sarasehan sendiri menghadirkan Ketua Gapoktan Margodadi, 10 petani yang menanam padi untuk uji vaietas dengan didampingi PPL dari BP4 Seyegan. Dalam dialognya, petani penggarap memang lebih menyukai tanaman padi varietas lama, cenderung tidak mau pindah ke varietas baru.

Disamping itu, petani selama ini menanam padinya dari hadil panen padi sebelumnya, sedangkan varietas yang baru, untuk penanaman berikutnya harus memberi di balai perbenihan.

Dari dialog yang terjadi, Vivi dari Direktorat Perbenihan memberikan sumbang saran kepada kelompok tani untuk mengevaluasi secara keseluruhan setelah panen, dipilih yang paling disukai diantara 10 varietas dan nanti akan dibantu untuk pengadaan benihnya.

Vivi juga sampaikan hasil tinjauan lapangan yang dilakukan terlihat perawatan yang belum optimal, masih banyak rumput liar yang tumbuh. Sekaligus Vivi juga memberi saran kepada kelompok tani untuk menanam padinya dengan varietas yang digilir.

“Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kualitas tanaman dan resistensi terhadap hama. Tanaman padi yang sering ditanam, hanya tahan terhadap satu jenis hama saja. Untuk itu, petani dimohon untuk mengganti dengan varietas yang lebih baik,” ujar Vivi.

Tukimun, mewakili Kelompok Tadi menyampaikan bahwa kendala yang dihadapi petani memang sangat beragam, kelangkaan pupuk yang berkaitan dengan kartu tani dan pengadaan benih yang masih silit menjadi permasalahan yang sering dihadapi petani.

Beni Sujendro, Ketua Gapoktan Margodadi di akhir sarasehan menyampaikan kepada Tim evaluasi, bahwa  masih diperlukan kegiatan serupa di wilayahnya, untuk itu di tahun tahun mendatang masih ditunggu display varietasnya dari Direktorat Perbenihan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kapanewon Tempel Gelar MTQ Pelajar Tingkat SD

Sleman – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pelajar sekolah umum jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Kapanewon Tempel tahun 2023 dilaksanakan pada hari Selasa (22/8/2023) bertempat di SD Negeri Margorejo, Tempel, Sleman. Acara dibuka secara resmi oleh Panewu Tempel, Agung Dwi Maryoto.

Acara ini  juga dihadiri  oleh Danramil 04/Tempel Sleman Kapten Inf Sudjana, perwakilan Kapolsek Tempel, perwakilan Kantor Urusan Agama Tempel.

Panewu Tempel, Agung Dwi Maryoto mengungkapkan rasa senang dan bangga atas pelaksanaan MTQ tingkat Sekolah Dasar tahun ini. Karena menurutnya sejalan dengan program kabupaten Sleman untuk menumbuh kembangkan pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an, serta sebagai wadah seleksi di tingkat Kapanewon, untuk kemudian nantinya bisa diikutkan di tingkat Kabupaten.

“Harapanya dengan kegiatan MTQ ini dapat mendorong pentingnya generasi muda untuk memiliki motivasi tinggi dalam mempelajari, menggali dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an sehingga menambah minat generasi muda terhadap pengkajian Al-Qur’an yang saat ini cenderung melemah, baik kualitas maupun kuantitasnya,” harap Agung. (SBD/KIM Tempel)




Buku Toponimi Ungkap Seluk Beluk Padukuhan di Sleman

Sleman – Buku Toponimi jilid 2 telah diluncurkan oleh Kepala Dinas Kabudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman pada tanggal 10 Agustus 2023 lalu. Sebuah buku yang memuat sejarah asal-usul nama padukuhan, sesuai dengan judul Toponimi (Yunani topos = tempat, nomos = nama).

Menurut Edy Winarya Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, buku tersebut ditulis bertujuan untuk mengungkap  nama-nama padukuhan di wilayah Kabupaten Sleman. Banyak kajian nama padukuhan bisa berasal dari sebuah tulisan (prasasti), flora-fauna, maupun sebuah kejadian. Berdasarkan realita  tersebut mendorong Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman untuk mengungkap nama-nama padukuhan agar kearifan lokal yang terkadung di dalamnya dapat dipresentasikan dalam .

 ” Dengan terdokumentasinya asal-usul nama padukuhan bisa memberikan makna yang kuat bagi kesinambungan riwayat disetiap padukuhan melalui budaya tulis, sehingga generasi berikut tidak gagap memahami riwayat padukuhan yang memiliki sejarah,” ungkap Edy Winarya.

BukuTtoponimi jilid 2 tersebut diberi judul “Dari Demak Bintoro Sampai Beteng Diponegoro.”  Menurut Budi Sarjono dan Sutopo Sugihartono sebagai penulis bahwa di dalam buku itu memuat sejarah yang sudah terjadi ratusan tahun yang lalu baik sejarah Mataram, Mojopahit, Kediri dan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kompeni.

Diterbitkannya buku Toponimi tersebut disambut gembira dan bangga oleh Dukuh dan Lurah yang wilayahnya ditulis. Seperti  halnya  Staf Kalurahan Sumberrahayu Moyudan Gayatri sewaktu penulis menyerahkan buku Toponimi Selasa (22/8/2023) di kantornya.

Gayatri mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman atas diterbitkannya buku Toponimi dan merasa bangga karena salah satu padukuhan di wilayah Sumberrahayu yaitu Padukuhan Gamplong masuk dalam buku tersebut.

“Kami bangga dan gembira menerima buku ini, yang selama ini saya juga tidak tahu sejarah asal mula berdirinya Padukuhan Gamplong,” ujar Gayatri.

Hal senada diungkapkan oleh Pj Lurah Caturtunggal Depok Aminudin Azis  yang juga menerima buku Tponimi dari penulisnya Nyadi Kasmoredjo pada Selasa (22/8/3023). Aminudin juga merasa senang dan bangga dengan dituliskannya Padukuhan Tambakbayan.

“Dengan buku ini semoga bisa membuka sejarah bagi anak cucu,” tutur Aminudin.

“Semoga ke depan semua padukuhan di Sleman bisa ditulis sejarahnya, karena dari Padukuhan baru terungkap 60 padukuhan, 30 padukuhan di Toponimi jilid 1 yang diterbitkan tahun 2021 dan 30 padukuhan dijilid 2 yang diterbitkan tahun 2023,” harap Aminudin. (Giek/ KIM Sumber Biwara Moyudan)