Kalurahan Budaya Sendangtirto Dikukuhkan

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengukuhkan Kalurahan Sendangtirto Berbah sebagai Rintisan Kalurahan Budaya, Sabtu (23/9). Bertempat di Embung Sendangtirto, pengukuhan ini merupakan bentuk fasilitasi gagasan masyarakat dalam pelestarian budaya.

Kustini mengatakan, tujuan dibentuknya Rintisan Kalurahan Budaya adalah memfasilitasi berbagai ide untuk mengimplementasikan pada kegiatan upaya pelestarian seni budaya. Menurutnya, semangat dan antusiasme masyarakat Sendangtirto harus dibarengi dengan pengelolaan baik sebagai wujud keseriusan bersama dalam menguatkan serta melestarikan budaya khususnya di Kalurahan Sendangtirto.

“Dengan dikukuhkannya Sendangtirto sebagai rintisan kalurahan budaya, saya berharap pengurus yang telah dikukuhkan mampu menjadi penggerak segala bentuk aktivitas seni budaya dan kesenian yang ada dengan tujuan melestarikan budaya sekaligus memfasilitasi antusiasme masyarakat,” ujarnya

Lebih lanjut, Kustini berharap  semua Kalurahan yang sudah menjadi rintisan Kalurahan Budaya termasuk Sendangtrito kedepannya dapat menjadi Kalurahan Budaya. Ia menyampaikan Pemkab Sleman melalu Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) akan melakukan pendampingan serta bekerjasama dengan Kalurahan untuk menggali potensi budaya serta mendorong keterlibatan masyarakat didalamnya.

Sementara itu, Lurah Sendnagtirto, Amir Junawan menjelaskan Pengukuhan Rintisan Kalurahan Budaya sekaligus memperingati Hari Jadi Kalurahan Sendangtrito ke 77. Ia berharap dengan dikukuhkannya ini menjadi motivasi masyarakat Sendangtrito untuk terus melestarikan budaya. Ia juga berterimakasih atas dukungan dari Pemkab Sleman dan berharap kedepan aktivitas seni budaya di Sendangtirto semakin maju dan berkembang

“Kalurahan Sendangtirto hampir seluruh padukuhannya telah memiliki kelompok kesenian dan kebudayaan mulai dari tari-tarian, bregada, ketoprak, dan lain sebagainya. Kami berterimakasih atas dukungan Pemkab Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) semoga dapat memotivasi kami agar lebih maju dan berkembang sehingga menjadi Kalurahan Mandiri Budaya kedepannya,” ujar Amir

Acara tersebut juga diisi oleh penampilan tari dari berbagai kelompok tari dari berbagai kelompok umur di Kalurahan Sendangtirto dan diakhiri dengan potong tumpeng oleh Bupati Sleman sebagai wujud syukur Hari Jadi Kalurahan Sendangtirto ke 77.




Bupati Berharap Rois Bisa Merangkul Masyarakat Wujudkan Sleman Sebagai Rumah Bersama

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman kembali melaksanakan pembinaan Forum Rois Sleman sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan para rois Kabupaten Sleman.  Kali ini, pelaksanaan pembinaan diikuti oleh Forum Rois Kapanewon wilayah Sleman Tengah bertempat di Ruang Rapat Sembada, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, pada Sabtu (23/9).

Pembinaan ini diselenggarakan untuk kedua kalinya, sebelumnya pembinaan rois dilaksanakan untuk pengurus Forum Rois tingkat Kapanewon Sleman Barat, dan sebagai penutup, pembinaan akan dilaksanakan selanjutnya untuk pengurus rois kapanewon wilayah Sleman Timur.

Pada kesempatan kali ini, pembinaan rois dihadiri oleh 30 perwakilan pengurus Forum Rois tingkat Kapanewon yang berada di wilayah Sleman Tengah, dan dibuka secara langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Dalam sambutannya, Kustini menyampaikan bahwa pembinaan bagi rois ini merupakan salah satu upaya untuk senantiasa menjaga tali silaturahmi agar para rois di Kabupaten Sleman ini lebih termotivasi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan ini merupakan sarana yang strategis untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan para rois,” katanya.

Ia menyebut selama ini rois di masyarakat terbukti eksistensinya. Menurutnya hal tersebut dapat dilihat dari keterlibatan rois dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Maka dari itu, Ia berharap para rois terus meningkatkan wawasan dan pengetahuannya sehingga dapat membimbing masyarakat untuk mewujudkan kondisi yang harmonis.

Dalam kesempatan tersebut juga Kustini mendorong para rois merangkul masyarakat untuk menanamkan sikap kebersamaan dan juga toleransi antar umat beragama untuk mewujudkan Sleman sebagai rumah bersama yang cerdas, sejahtera, berdaya saing, menghargai perbedaan dan memiliki jiwa gotong rotong.

Sementara itu, kegiatan pembinaan ini menghadirkan narasumber yaitu Kepala Bagian Kesra Setda Sleman Sigit Herutomo, Perwakilan Kemenag Jaenudin, dan Ketua Forum Rois Sleman Salamun Shodry.




Panwaslu Depok Imbau Calon Legislatif Baru Pahami Aturan Pemilihan Umum 2024

Sleman – Komisioner Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Depok Sleman Huda Al-Amna mengimbau kepada para calon anggota legislatif (Caleg) yang baru berkontestasi pemilu, serta para kader partai politik (parpol) baru untuk memahami aturan main Pemilihan Umum Tahun 2024, khususnya mengenai tahapan sosialisasi dan mekanisme kampanye.

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Panwaslu Depok Sleman itu menegaskan hal ini penting agar sosialisasi parpol tidak dimaknai dengan kampanye Pemilu 2024.

Menurut Huda, tahapan sosialisasi ini telah berlangsung sejak parpol peserta Pemilu 2024 ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Desember 2022 lalu, sedangkan masa kampanye baru akan dimulai pada 28 November 2023 mendatang.

“Dulu, setelah penetapan parpol oleh KPU ada ruang sosialisasi, barangkali ‘kan ada caleg baru, kader baru, nah bagaimana agar sosialisasi ini tidak dimaknai sebagai ruang kampanye,” ujar Huda.

“Karena itulah, kita harus bisa membedakan mana yang boleh kampanye, dan mana yang boleh kita melakukan sosialisasi,” ungkap Huda Al-Amna saat mendampingi Jawatan Keamanan dalam Melakukan Operasi Penegakan Perda “Penertiban Sampah Visual di Kapanewon Depok, Senin (25/9/2023)

Huda menilai, kerap kali karena ketidaktahuan aturan ini dimanfaatkan oleh ‘individu’ maupun kelompok untuk mencari celah melakukan pelanggaran. Dia, juga menegaskan aturan main Pemilu 2024 masih sama dengan Pemilu 2019 lalu, karena Undang Undang yang digunakan masih UU Nomor 7 Tahun 2017.

“Undang-Undangnya ‘kan masih sama dengan Pemilu 2019, penanganan kasusnya pun masih sama,” tegas Huda. (Athiful/KIM Depok)




Kemenkes RI Sosialisasikan Program TB

Sleman – Bertempat di Youth Center, Mlati, Sleman DI Yogyakarta, Kementrian Kesehatan RI mengadakan kegiatan Sosialisasi dan Kampanye Program Tuberkulosis (TB) dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Gernas) bersama Anggota Komisi IX DPR RI, Senin (25/9/2023).

Dihadapan 300 undangan yang merupakan tokoh masyarakat, kader Kesehatan dan pemangku wilayah di wilayah Sleman Barat hadir mengikuti kampanye TB, dengan harapan dalam penanggulangan TB, pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri.

Menghadirkan 3 narasumber dari Kementrian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, sosialisasi diharapkan dapat membantu membekali tokoh masyarakat dalam mengambil peran penanggulangan TB sesuai dengan bidang masing-masing.

Arifin, Panewu Mlati dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan berharap acara dapat berjalan lancar. Sebagai pemangku wilayah, Arifin merasa ikut mendukung program zero TB 2030 yang telah dicanangkan meskipun Penyakit TB di Mlati termasuk penyakit baru.

Arifin juga berharap, tamu undangan yang hadir dapat menularkan ilmunya kepada masyarakat di wilayah masing masing dalam penanggulangan TB yang sedang dilaksanakan pemerintah ini.

dr. Sulistyo, SKM, Kepala Biro Penanganan Penyakit Menular, Kementrian Kesehatan RI dalam paparannya menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara dengan kasus TB terbesar kedua setelah India. Untuk itu, Sulistyo mengajak masyarakat untuk peduli dengan penyakit TB.

“Dengan mengenali gejala gejala awal TB merupakan langkah preventif yang baik,” ungkap Sulistyo.

dr. Yuli dari Dinkes Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa perlu dicari terobosan yang sifatnya inovatif dalam pencegahan TB. Sehingga Dinkes Sleman menciptakan semboyan SIKAT dan TOS TB

“SIKAT adalah kepanjangan dari Sleman sigap Kendalikan dan Atasi Tuberkulosis. Sedangkan TOS adalah Temukan, Obati sampai Sembuh Tuberkulosis. Dua gerakan yang standar dalam penemuan kasus TB,” tukas Yuli.

Yuli juga menyinggung tentang pencanangan Zero TB 2030 secara Nasional. Zero TB sendiri merupakan suatu inisiatif penanggulangan TB yang berlandaskan pada 3 elemen yaitu penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang efektif dan pencegahan TB pada kontak serumah.

“Hal ini sejalan dengan kondisi yang ada, dimana Indonesia adalah salah satu negara dengan beban TB yang masih tinggi,” terangnya.

Yuli berpesan kepada hadirin yang datang untuk tidak mengasingkan, menjauhi, dan menjatuhkan stigma pada penderita. Dengan pendekatan pentahelik, Yuli berharap penanggulangan TB lebih komprehensif sebagaimana yang dilakukan oleh FK UGM dengan melakukan case finding, aktif turun ke masyarakat dan kontak erat dengan pasien TB.

dr. Ruli dari Dinkes Kabupaten Sleman kemudian menambahkan bahwa penanggulangan TB Nasional memiliki 2 program yaitu Eliminasi TB  pada tahun 2030 dan Indonesia Bebas TB tahun 2050. Ruli juga menyinggung penderita PTM (Penyakit Tidak Menular) yang resikonya  lebih besar tertular TB. Untuk itu, Ruli mengajak hadirin untuk melakukan CERDIK yang merupakan akronim dari Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola emosi.

Di tengah tamu undangan, Ruli juga mengajak masyarakat memberikan dukungan untuk pasien TB yang bersifat komplementer serta mencegah terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap kadus TB di masyarakat.

“Pencapaian penemuan kadus TB yang masih rendah menjadi pemicu gerakan pencegahan TB yang lebih masif karena kasus yang belum ditemukan berpotensi menjadi sumber penularan baru,” tutur Ruli.

Sebagai acara puncak, anggota Komisi IX DPR RI, Sukamt mengajak kepada tamu undangan tang datang untuk membudayakan hidup sehat, karena menurut hasil seminar kesehatan Nasional, Masyarakat  Indonesia itu banyak yang kekurangan makan sayur, kekurangan buah, terlalu banyak karbohidrat dan terlalu banyak garam. Sebagai anggota DPR RI,  Sukamto akan selalu membawa aspirasi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang paripurna termasuk kepemilikan BPJS yang harus dimiliki oleh masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Songsong Pemilu 2024, LPCR PP PDM Sleman Konsolidasi bersama Cabang dan Ranting Muhammadiyah

Sleman – Dalam rangka menyongsong gelaran Pemilihan Umum Tahun 2024 mendatang, Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting, Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar pemantapan Cabang dan Ranting Muhammadiyah untuk pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Acara tersebut digelar Convention Hall Lantai 4 Gedung Erwin Santosa RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Sabtu (23/9/2023).

Kegiatan yang dimaksudkan untuk mematangkan pimpinan persyarikatan Muhammadiyah se-Sleman dalam Pemilu 14 Februari 2024 itu, mengangkat tema “Optimalisasi Pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam Peran Kebangsaan di Kabupaten Sleman.”

Dalam arahannya, Ketua PDM Sleman H. Harjaka mengatakan bahwa dalam posisi kebangsaan dakwah di Pemilu 2024, Muhammadiyah jangan sampai bingung dan lelah dengan hal-hal yang bersifat sementara.

“Masuk menjadi anggota Muhammadiyah tidak hanya sekadar membuat ‘Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah’ tetapi harus berniat memperjuangkan Islam. Harus sungguh-sungguh dalam mewujudkan Islam yang sebenar-benarnya secara istikamah,” ujar Harjaka.

Ketua LPCR-PM PDM Sleman, Prawoto menyampaikan bahwa jika semuanya bersungguh-sungguh, maka insya Allah target program akan terpenuhi dengan maksimal.

“Selain itu meski di cabang dan ranting sudah punya strategi, kami menghadirkan dari Wilayah dan Daerah serta dari Cabang Minggir, Moyudan, dan Gamping untuk memberikan materi terkait prestasi yang bagus dalam pemilihan DPD RI 5 tahun lalu,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua PDM Sleman H. Nasirun menyampaikan tiga program utama dari LPCRPM. Pertama, di setiap cabang harus memiliki masjid Muhammadiyah Unggulan. Kedua, setiap cabang harus miliki Toko-Mu Unggulan. Ketiga, setiap cabang harus memiliki AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) unggulan.

Kemudian, dalam hal kebangsaan Wakil Ketua PWM DIY Sapardiyono, menyampaikan paparan menarik dengan tema Muhammadiyah dan Politik Kebangsaan. Ia berpandangan peran kebangsaan di bidang politik warga Muhammadiyah dengan menggunakan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Muhammadiyah bersikap netral-aktif terhadap semua kekuatan politik, warga Muhammadiyah harus aktif berpartisipasi politik dan tidak boleh bersikap apolitis.

“Warga Muhammadiyah harus mengedepankan etika dalam melakukan aktivitas politik warga Muhammadiyah dalam melakukan aktivitas politik harus berorientasi pada kepentingan umum, bukan kepentingan diri sendiri dan golongan artikulasi politik warga Muhammadiyah harus menunjukkan sikap politik moderat,” jelasnya.

Bagaimana menghadapi Pemilu 2024? Adalah dengan memberikan penyadaran bahwa pemilu adalah peristiwa rutin lima tahunan. Sapardiyono kemudian menegaskan jika Muhammadiyah memposisikan sikap netral dan menjaga kedekatan yang dengan semua kontestan.

“Warga persyarikatan sudah cerdas, memilih berdasarkan track record dan siapa calon yang darah Muhammadiyah-nya lebih kental,” imbuhnya. (Athiful/KIM Depok)