Dinas P3AP2KB Sleman Sosialisasikan Sadar Gender untuk Kesetaraan di Berbah

Sleman – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman melalui pokok pikiran (pikir) Anggota DPRD Sleman, Ardi Sehami, melakukan Sosialisasi Tentang Kesetaraan Gender dengan Tema Implementasi Keluarga Sadar Gender Untuk Mewujudkan Suara Aksi Perempuan Pelopor pada hari Selasa (12/9/2023) di Pawon Pitoe Resto Jetak, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY.

Anggota dewan perwakilan Rakyat Kabupaten Sleman Ardi Sehami menyampaikan  bahwa kegiatan sosialisasi sadar gener merupakan usulan dewan ditujukan masyarakat berbah.

Ardi menuturkan, Sebenarnya pemda Sleman telah menjawab isu gender melalui Perda  Sleman nomor 1 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengarusutamaan Gender.  “Perda ini sebagai petunjuk langkah untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender,” kata Ardi.

Menurut Ardi  bila Perda kurang sesuai bisa dirubah atau diperbaiki setelah berlaku selama 3 tahun.

“Masukan dari masyarakat dipakai untuk melakukan perubahan Perda, bila memang itu memang diperlukan,” tambahnya.

Sementara menurut Kepala KUA Berbah, Handoyo, menjelaskan bahwa dalam Islam kesetaraan gender sudah diperkenalkan mulai Islam ada.

“Dalam lafal Assalamu’alaikum sebenarnya kum dalam bahasa arab hanya untuk laki-laki namun secara maksud intinya diperuntukkan untuk laki-laki dan perempuan,” ungkap Handoyo.

Dalam kehidupan rumahrumah tangga muslim Handoyo menjelaskan bahwa kesetaraan gender yang dimaksud adalah kesetaraan peran suami istri saling melengkapi.

“Ada lima pilar sebagai cara untuk membangun keutuhan rumah tangga. Relasi berpasangan, kesatuan cara pandang, sikap dan perilaku saling berbuat baik, musyawarah bila jika menghadapi permasalahan dan saling Ridho.  Dengan berpegangan lima pilar tersebut akan terjalani kehidupan rumah tangga harmonis,” jelasnya.

Sedangkan Evitasari dari lembaga Mahoni Cakra Saujana yang peduli dengan pemberdayaan perempuan menyampaikan  bahwa gender itu tidak sama dg jenis kelamin. Kata adil bukan berarti mendapatkan sesuatu yang sama. “Adil adalah meletakkan sesuatu berdasarkan kesesuaian proporsi,” kata Evi. (Kusnadi/KIM Berbah)




Diskominfo DIY Adakan Pelatihan E-Business Bagi Pelaku UMKM dan Pegiat Kim

Sleman – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi DIY mengadakan pelatihan E-Business bagi Pelaku UMKM dan Pegiat KIM dari 5 Kabupaten/kota pada hari Senin (11/9/2023) yang dilangsungkan di Aula Dinas Kominfo DIY.

Pelatihan dengan tema “Pelatihan Digital Marketing bagi Pelaku UMKM menuju Bisnis Online” ini didanai dari Dana Keistimewaan melalui Pokir Dewan. Pelatihan sendiri menghadirkannya 3 narasumber yang merupakan pakar di bidangnya.

Dibuka dengan sambutan dari Ketua Forkom KIM DIY, Suripto yang mengucapkan terima kasih kepada Diskominfo DIY yang telah memberi kesempatan penggiat KIM yang ada di Kabupaten/Kota untuk menjadi peserta pelatihan. Suripto juga menceritakan bahwa ada KIM di Sleman  yang sudah mengembangkan dirinya menjadi pelaku bisnis UMKM sehingga pelatihan ini sangat berguna.

Wiwik Lestariningrum, Pranata Humas Muda Diskominfo DIY, yang mewakili Kepala Dinas Kominfo menyampaikan pelatihan ini diselenggarakan untuk menjawab tuntutan jaman yang sekarang ada di era digital.

“Pelaku UMKM merasa tertantang dengan era yang berkembang tersebut. Artinya perkembangan Teknologi yang nggak bisa ditawar tersebut bisa menjadi berkah ataupun sebaliknya malah menjadi musibah,” ungkap Wiwik.

“Kata kuncinya adalah adanya persaingan bisnis sebagai dampak kemajuan tersebut. Sehingga pelaku UMKM banyak yang terpinggirkan karena tidak bisa beradaptasi atau tidak mempersiapkan diri menghadapi kemajuan teknologi,” imbuhnya.

Menurut Wiwik, pelatihan ini akan menjawab persoalan sekaligus menjadi bekal bagi UMKM yang masih gagap teknologi.

Akhmad Nasir, Direktur DOT Studios sebagai pembicara pertama menyampaikan materi dengan judul Optimalisasi Digital Marketing. Dalam materinya, Nasir menerangkan prinsip prinsip dasar digital marketing, Tips dan Trik menjalankannya.

“Sedangkan strategi yang digunakan ada beberapa yaitu kenalkan keberadaan kita, buat konten yang relevan dan berguna, berikan kemudahan dan rasa aman, berikan stimulus agar membeli lagi dan berikan stimulus agar merekomendasikan ke orang lain,” terang Nasir.

Ihwani Joko Prasetyo yang seorang Content Creative Infotekno, sebagai narasumber kedua mengajak kepada pelaku UMKM untuk membuat whatsapp business. Ini berarti mengoptimalkan smartphone untuk bisnis karena whatsapp adalah salah satu pintu untuk memperkenalkan produk sehingga bertemu antara penjual dan pembeli. Secara step by step, Ihwani memandu peserta untuk membuat profil bisnis di smartphone masing-masing.

Wisnu Nugroho, , Direktur CV. Sajiwa Mitra Sembada, menjadi narasumber ketiga dengan materi Teknik Fotografi Produk menggunakan HP. Wisnu juga mengajak untuk menggunakan smartphone seoptimal mungkin untuk kegiatan bisnis. Untuk itu Wisnu menyarankan peserta untuk mengenali perangkat dan menggunakan smartphone semaksimal mungkin. Terkait dengan fotografi, peserta diminta untuk mempelajari cara kerja kamera ponsel.

“Selain itu, sebagai pelaku bisnis yang akan memperkenalkan produk dengan foto, pelaku juga harus memahami semua mode exposure yang ada di kamera, apakah itu potrait, landscape, macro, sports, night potrait, sunset, fireworks, beach/snow ataupun note. Ini semua adalah cara memahami cahaya, mengenal dan memperhatikan exposurenya,” jelas Wisnu.

Tentang komposisi, Wisnu menjelaskan mengenai the rule of third yang mana hasil yang didapatkan lebih dinamis dan tidak kaku.

Sebagai kesimpulan, Wisnu menyampaikan kunci dalam persiapan memotret yaitu referensi/melihat contoh, arah cahaya, white balance/suhu cahaya dan men non-aktifkan flash.

Setelah ketiga narasumber memberikan materinya, dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab. Secara keseluruhan pelatihan berjalan dengan lancar dan bagi peserta merupakan tambahan ilmu yang sangat menunjang dalam menjalankan bisnisnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Foto dan Video yang Bagus untuk Mendukung Berita Jurnalistik

Sleman – Menyajikan  foto atau video berita memerlukan kiat-kiat yang khusus agar foto atau video tersebut bisa nyaman untuk dinikmati dan memperkuat isi berita yang diliput.

Wartawan dari RBTV, Widi Setiono, ketika memberikan pembekalan kepada para peserta Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Dinas Kominfo Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Kapanewon Turi di Pendopo Balaiwarga Wonosari Bangunkerto Turi mengatakan bahwa untuk mengambil foto maupun video bisa menggunakan komposisi Rule of 3.

“Rule of 3 adalah komposisi dari bingkai foto yang dibagi 9 kotak dan empat titik di tengah menjadi tempat penempatan objek foto,” ujar Widi.

Widi menuturkan, dalam bingkai foto harus menyediakan ruang baik di atas, di bawah, kiri dan kanan objek yang diambil.  Bila latar belakang mengandung garis-garis panjang, bisa dimanfaatkan untuk memperkuat objek foto.

“Penguatan ini juga bisa dilakukan dengan memperlebar bukaan diaphragma,  sehingga latar belakang menjadi kabur, namun obyek tetap tajam,” tukasnya.

Widi menambahkan bahwa foto sebuah event biasanya seimbang antara kiri dan kanan, namun ada juga momen di mana objek berada di salah satu sisi, sedang sisi yang lain menggambarkan suasana sebuah peristiwa. Widi memberi contoh gambar seorang yang berpidato di sebelah kanan dan audience sebelah kiri.

“Pengambilan foto harus selalu memperhatikan cahaya, bila tidak hasil fotonya akan menghasilkan warna hitam pada wajah obyek yang diambil gambarnya,” tegas Widi.

Selain itu, lanjut Widi, wartawan yang ingin mengambil photo melalui video, harus menghentikan gerakan videonya sekitar 5 – 6 detik pada objek yang nanti akan diambil fotonya.

“Dengan demikian akan didapat hasil foto yang tajam, tidak kabur,” ungkapnya.

“Setiap adegan dalam pengambilan video, setidaknya diperlukan 8 – 10 detik mengabadikan adegan itu. Jadi kelak saat menyunting kembali potongan-potongan adegan akan tersusun seri adegan dari 8-10 detik yang cukup untuk menuliskan teks yang menyertai video tersebut,” imbuh WIdi.

Akhirnya Widi menyarankan untuk selalu melatih naluri dengan memotret apapun yang dijumpainya dan setiap foto yang bisa saja memiliki nilai berita. (Sadhono Hadi/KIM Sleman)




Diskominfo Sleman Gelar Pelatihan Jurnalistik untuk Masyarakat

Sleman – Di era informasi ini mendapatkan berita dapat dikategorikan cukup mudah. Banyak media yang memfasilitasi dalam pengelolaan berita khususnya media internet. Namun, kebenaran berita yang tersebar juga patut dipertanyakan keabsahannya. Pembaca harus memiliki pemahaman yang tinggi untuk membedakan antara berita dengan opini menggiring atau berita dengan keakuratan terkendali.

Mengenai hal tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman  menggelar Pelatihan Jurnalistik di Balai Warga Wonosari, Bangunkerto, Turi, Sleman, Selasa (12/9/2023). Acara tersebut digelar dengan tujuan memberikan pelatihan dasar jurnalistik sebagai wadah bagi masyarakat yang memiliki minat dalam bidang penulisan berita.

Pelatihan jurnalistik menghadirkan Hamid Razak, seorang wartawan berita yang tergabung dalam media Harian Jogja. Hamid menyampaikan bahwa terdapat beberapa masalah yang ditimbulkan saat menulis berita, seperti kekurang akuratan seorang wartawan, serta kualitas penulisan dalam menyusun berita.

Menurut Hamid, setidaknya terdapat lima masalah yang timbul dari penulisan jurnalistik. “Yaitu akurasi, keberimbangan, etika jurnalistik, pelanggaran hak cipta, serta bercampurnya opini dan berita,” ungkapnya.

Terkait soal Akurasi pemberitaan, Hamid menjelaskan, bahwa akurasi berita merupakan realita di lapangan yang akan terlihat berbeda dari berita yang dipublikasikan oleh wartawan-wartawan yang kurang memiliki etika.

“Jadi kehadiran langsung seorang peliput berita di lapangan menjadi hal yang mutlak untuk sumber keakuratannya,” ujar Hamid.

Mengenai Etika Jurnalistik Hamid mengatakan bahwa saat ini banyak dijumpai etika jurnalis yang masih berada di luar batas. “Kode jurnalistik ini seakan hanya dijadikan sebuah formalitas,” tukasnya.

Hamid pun menyebutkan, masih banyak jurnalis yang membuat berita tanpa mengedepankan etika yang ada. “Contohnya, memasukkan opini dalam sebuah berita atau maraknya persebaran berita yang tidak benar di kalangan wartawan,” jelas Hamid.

Di bagian Pelanggaran Hak Cipta pun Hamid menjelaskan bahwa saat ini terlampau banyak wartawan yang bisa dikatakan malas, namun berita yang dihasilkan cukup banyak dan memuaskan. Hal tersebut disoroti Hamid bahwa terdapat beberapa jurnalis yang hanya melakukan copy paste terhadap karya tulisan orang lain. “Hal ini jelas-jelas merupakan pelanggaran hak cipta yang harus dihindari,” tegas Hamid.

Kemudian soal bercampurnya opini dan berita menurut Hamid, saat ini banyak pembaca bahkan penulis memiliki kemampuan yang rendah terhadap pembeda antara opini dan berita. Hamid menegaskan, sebuah opini tidak diperbolehkan masuk dalam sumber berita langsung.  

“Apabila berita yang diangkat berupa berita baku, sangat diharamkan untuk memasukan opini wartawan di dalamnya,” ujarnya.

Di akhir pembahasan, Hamid menekankan bahwa seorang peliput yang berkualitas bisa didapat dari lingkungan yang berkesinambungan dengan lembaga-lembaga independen serta organisasi pers yang selalu mengasah Ilmu jurnalistiknya

“Jadi, apabila lingkungan mereka cukup baik untuk membentuk pers sesuai kode etik jurnalistik, secara tidak langsung pribadi pers yang awalnya enggan menulis fakta akan mulai terbiasa dengan lingkungan baik yang mereka pijaki,” ungkapnya. (SBD/KIM Tempel)




Turi Kenalkan Potensi Daerah Lewat Media Sosial

Sleman – Kapanewon Turi berhasil memperkenalkan potensi wilayahnya melalui media Instagram dengan melibatkan para pelaku UMKM. Kini Instagram Turi masuk dalam ranking lima teratas Instagram resmi Kapanewon teraktif di Kabupaten Sleman.

Hal tersebut disampaikan oleh Riesta Wijayanti, Analis Pembangunan Jawatan Kemakmuran Kapanewon Turi saat membuka Pelatihan Jurnalistik di Pendopo Balai Warga Wonosari, Bangunkerto, Turi, Sleman, Selasa (12/9/2023).

Riesta menuturkan, kiat untuk mengenalkan potensi Kapanewon Turi adalah dengan menggunakan media sosial Instagram yang praktis dan gratis.

Dirinya mengakui awalnya mengalami kesulitan untuk mencari jalan bagaimana mengenalkan potensi di Turi.

“Kemudian kedatangan sosok pamong yang baru, Ibu Putri Dewi Kustanti, yang kemudian mengangkat semua pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan melalui Instagram resmi Kapanewon Turi,” terangnya.

Riesta pun menegaskan, dengan banyaknya produk UMKM, Turi tidak akan kekurangan berita karena banyaknya bahan berita yang bisa diangkat. “Bahkan agenda satu tahun pun bisa terpenuhi,” tukasnya.

Sehingga ia mendukung agar KIM Turi dapat menyebarluaskan informasi mengenai potensi di Turi ke daerah lain.

Untuk diketahui, dengan postingan 342 dan pengikut 1618, Turi menempati posisi kedua (per tanggal 12 September 2023) di bawah Kapanewon Gamping dari peringkatn akun Instagram antar kapanewon di Sleman untuk jumlah postingan dan pengikutnya. (Sadhono Hadi/KIM Sleman)