Paguyuban Dukuh Cokro Pamungkas Korkap Tempel Sosialisasikan Pindah Memilih Pada Pemilu 2024

Sleman – Paguyuban Dukuh Cokro Pamungkas Koordinator Kapanewon (Korkap) Tempel menggelar Pertemuan Rutin di kediaman Kepala Dukuh Watu Pecah, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Sabtu (2/9/2023). Pertemuan dihadiri oleh pengurus Korkap Tempel dan 38 anggota Paguyuban Dukuh yang terdiri dari perwakilan Koordinator Kaliurahan.

Koordinator Kapanewon Paguyuban Dukuh Cokro Pamungkas, Basyori dalam sambutannya menyampaikan tentang  tugas dari seorang kepala Dukuh yang menjadi evaluasi bersama dalam menjalankan kewajibannya melayani masyarakat di wilayahnya masing-masing. Selain itu juga diingatkan tentang kewajiban para Dukuh dalam melunasi pajak bumi dan bangunan ( PBB ) di padukuhannya masing-masing.

Sementara Koordinator Kabupaten Paguyuban Dukuh Cokro Pamungkas, Hartono dalam sambutannya menjelaskan tentang pengelolaan tanah kas desa berkaitan dengan kebijakan keistimewaan Yogyakarta.

Hartono yang sekaligus sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pemilu 2024 dalam kesempatan ini didampingi oleh 4 anggota PPK yang lain menyampaikan sosialisasi mengenai tahapan pemilu yang saat ini tentang apa itu Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), apa saja yang masuk kriteria untuk mengurus surat pindah memilih.

“Yang termasuk di dalam 9 kriteria pemilih, contohnya yang pindah domisili, silakan untuk segera mengurus DPTb,” pungkasnya. (Sbd/KIM Tempel)




Musyda ke-17, PDPM Sleman Perteguh Visi Pemuda Negarawan

Sleman – Bertempat di SD Muhammadiyah Sleman, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Sleman sukses menggelar Musyawarah Daerah ke-17, Minggu (3/9/2023).

Forum permusyawaratan tertinggi tingkat daerah yang mengusung tema “Pemuda Negarawan Harmoni Memajukan Sleman” ini dihadiri ratusan kader Pemuda Muhammadiyah dari tingkat wilayah, daerah, cabang, dan juga ranting.

Dalam sambutannya, Ketua PDPM Sleman Eko Sumardiyanto menyatakan melalui Musyda ke-17 ini, akan tersusun kepengurusan baru serta berbagai program kegiatan dakwah amar makruf nahi munkar dan juga tadjid.

“Agenda utama Musyda antara lain penyampaian laporan pertanggungjawaban, pembahasan Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) serta program kerja pimpinan ke depan hingga pemilihan formatur,” ujar Eko.

Eko juga berpesan kepada kader Pemuda Muhammadiyah Sleman khususnya, untuk senantiasa menghidupkan spirit literasi, dengan menelaah pedoman utama persyarikatan, seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM), serta Risalah Islam Berkemajuan.

Senada dengan Eko, Ketua PWPM Daerah Istimewa Yogyakarta Muhammad Arif Darmawan berharap hasil Musyda memberikan dampak signifikan bagi persyarikatan, terlebih Pemuda Muhammadiyah adalah ortom yang diamanahkan untuk dakwah di kalangan pemuda.

“Musyda menjadi bagian dari kesuksesan PDPM Sleman untuk melancarkan dakwah Persyarikatan,” tuturnya.

Lebih lanjut Arif menekan pentingnya memperkuat keimanan dan akidah sebagai landasan Pemuda Muhammadiyah. Sebagaimana kisah heroik pemuda yang diceritakan Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat ke-13, yang mana mereka adalah pemuda yang beriman kepada Allah, dan karena itulah mereka diberi petunjuk.

Menurut Arif syarat utama menjadi kader adalah harus memperkuat keimanan. Sebab, ungkapan fastabiqul khairat tanpa iman tidak ada faedahnya, karena iman adalah pokok dasar seluruh kegiatan.

Penasihat PDM Sleman yang juga Bupati Sleman periode 2010-2021, Sri Purnomo mengatakan bahwa organisasi yang sehat mampu mempertanggungjawabkan apapun programnya selama satu periode dan mengevaluasinya untuk menyempurnakan program pada periode berikutnya.

“Saat musyawarah inilah, kita mengevaluasi untuk menyempurnakan program periode berikutnya. Tentu, program kerja yang membumi, sesuai dengan konteks zaman sekarang ini,” ujarnya.

Karena itu, Sri Purnomo yakin dengan kemampuan kader Pemuda Muhammadiyah Sleman yang menurutnya sangat brilian dan punya potensi, terutama mempersiapkan generasi emas 2045.

“Selamat dan sukses untuk Musyda ke-17 PDPM Sleman, kiprah anda ditunggu masyarakat untuk dharmabakti bangsa,” pungkasnya.

Dalam Musyawarah Daerah ke-17 PDPM Sleman ini berhasil menetapkan Prakasa Radya Sulendra dan Arif Nurman Hakim sebagai Ketua dan Sekretaris PDPM Sleman periode 2023-2027 mendatang. (Athiful/KIM Depok)




Ogoh-Ogoh Iringi Temanten Bekakak Menuju Petilasan Gunung Gamping

Sleman – Puncak kegiatan Upacara Adat Saparan Bekakak dimeriahkan dengan kirab budaya Bregada dan Ogoh-Ogoh guna mengiringi dua pasang temanten bekakak dan sesaji yang diberangkatkan dari lapangan Kalurahan Ambarketawang menuju tempat penyembelihan bekakak di Petilasan Gunung Gamping Tlogo dan Petilasan Gunung Kliling bekas Keraton Ambarketawang tempat tinggal Pangeran Mangkubumi pada jaman dulu, Jumat (1/9/2023) sore.

Sebelum peserta kirab memulai langkahnya, dilakukan acara seremonial yang diawali dengan pelaporan Wiramanggala kepada Lurah Ambarketawang, Sumaryanto selaku Ki Demang dilanjutkan pemecahan Kendi Tirto Dono Jati, dan pelepasan sepasang burung merpati putih yang dilakukan oleh Panewu Gamping, Yakti Yudanto disaksikan Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, dan Kepala Dinas Kebudayaan  (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili Kepala Seksi Adat dan Tradisi, Isna Elvianti.

Ribuan warga masyarakat Kapanewon Gamping dan sekitarnya yang melimpah ruah saling berjubel menyaksikan kirab budaya terdiri dari sepasang Pengantin Bekakak bergaya Solo, sepasang Pengantin Bekakak bergaya Yogyakarta, Bregada Ambarketawang, Bregada Mangkubumi, Bregada Songsong Wirosuto, Ogoh-Ogoh Sang Prabu Reksa Sorogenen, Gendruwo, dan Wewe Gombel yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.

Dukuh Gamping Kidul, Bambang Cahyono selaku Lurah Magersari menuturkan bahwa pengantin bekakak pria bergaya Solo mengenakan ikat kepala ahestar dengan hiasan bulu-bulu, selendang merah di leher, kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk berwarna biru, memakai slepe dan keris dengan untaian bunga melati, serta kelat bahu. Sedangkan pengantin bekakak wanita wajahnya dipaes, rambut digelung diberi bunga-bunga dan mentul, bahunya menggunakan kelat bahu, telinga memakai subang, serta mengenakan kemben berwarna biru yang dikalungi selendang merah dan kalung sungsun,

Sedangkan pengantin bekakak pria bergaya Yogyakarta dihiasi menggunakan kuluk berwarna merah sebagai penutup kepala, lehernya berkalung selendang biru dan kalung sungsun, mengenakan ikat pinggang berwarna biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, serta kemben warna hijau.

“Hal penting yang tidak boleh dilanggar hingga sekarang adalah bahan dasar pembuatan pengantin bekakak harus disiapkan oleh para wanita, sedangkan yang membuat pengantin bekakak berbahan tepung beras ketan adalah para pria,” tutur Bambang.

Ia menambahkan, proses pembuatan pengantin bekakak dari tepung ketan termasuk pembuatan juruhnya tersebut membutuhkan waktu selama 8 jam. Uniknya, pada saat penumbukan beras ketan menjadi tepung menggunakan lumpang oleh lima orang wanita berpakaian seragam diiringi kesenian gejog lesung atau kothekan yang memiliki irama beragam diantaranya kebo giro, kutut manggung, thong-thongsot, dhengthek, dan lain sebagainya.

“Adapun pembuatan ogoh-ogoh Gendruwo dan Wewe Gombel dimaksudkan sebagai pengawal pasangan pengantin bekakak yang merupakan simbol dari dhanyang atau lelembut yang menunggu Gunung Gamping,” imbuh bambang menutup keterangannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Hospital Ready Stroke, Langkah Preventif RSUD Sleman Tangaki Stroke

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mendukung langkah cepat penanganan serta pencegahan stroke melalui sosialiasi program Hospital Ready Stroke dengan tema “Time is Brain, Every Minute Counts” yang diselenggarakan RSUD Sleman di Kapanewon Mlati, Kamis (31/8).

Sosialisasi Program Hospital Ready RSUD Sleman ini dihadiri oleh perwakilan kader-kader kesehatan dari seluruh Kalurahan di Kapanewon Mlati. Kemudian menghadirkan tim dokter penanganan Stroke RSUD Sleman yakni dr. Dian Prasteyo dan dr. Eni Nurhidayati

Dalam arahannya, Kustini mengapresiasi sekaligus mendukung program yang diinisiasi RSUD Sleman dalam upaya menangani stroke dengan terapi trombolitik atau trombolisis. Ia menekankan pada upaya preventif atau pencegahan melalui berbagai cara, salah satunya pola makan dan pola hidup sehat.

“Saya mendukung program ini sebagai upaya mengedukasi masyarakat terkait penyakit Stroke dan langkah penanganan cepatnya apabila terjadi kepada orang di sekitar kita. Saya sekaligus berpesan kepada masyarakat khususnya Mlati agar terus melakukan langkah preventif stroke melalui pola hidup dan makan yang sehat,” ujarnya

Lebih lanjut, Kustini berharap agar seluruh stakeholder kesehatan dan masyarakat dapat bersinergi bersama dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat lainnya dalam upaya preventif penyakit stroke.

Wakil Direktur RSUD Sleman, Cholis Noor Mutaslimah mengatakan bahwa stroke merupakan penyakit degeneratif dan saat ini banyak diderita oleh masyarakat baik lansia hingga usia produktif. Dampaknya tidak hanya kepada penderita saja namun juga bagi keluarga hingga ekonomi.

“RSUD Sleman berupaya melakukan sosialisasi kepada kader kesehatan mengenai bagaimana cara mencegah hingga penanganan stroke karena penyakit ini tidak hanya berdampak kepada penderita namun bagi keluarga hingga Ekonomi. Karena mencegah lebih penting dari pada mangobati,” tegas Cholis

Program sosialisasi ini dilakukan di 4 lokasi diantaranya Kapanewon Sleman, Kapanewon Mlati, Kapanewon Turi dan Kapanewon Tempel. Tidak hanya mengenai stroke, namun nantinya juga membahas cara pencegahan dan penanganan berbagai penyakit lainnya seperti kanker, jantung hingga gagal ginjal.




Midodareni Awali Prosesi Upacara Adat Saparan Bekakak

Prosesi upacara adat saparan bekakak tahun 2023 yang ditujukan untuk mengenang kesetiaan Kyai Wirasuta dan Nyai Wirasuta sebagai salah satu abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I telah diawali dengan upacara midodareni yang berlangsung di Aula Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (31/8/2023) malam.

Ritual saparan bekakak yang mengandung makna turunnya para bidadari dari surga pada malam midodareni untuk merestui pasangan pengantin bekakak tersebut dipimpin oleh Lurah Ambarketawang, Sumaryanto didampingi para pamong. Tampak hadir dalam kegiatan diantaranya Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Rasyid Ratnadi Sosiawan, dan Wakil Komandan Koramil 17/GP, Kapten Wahyani.

Berdasarkan keterangan dari Lurah Ambarketawang, Sumaryanto bahwa upacara adat saparan bekakak yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nomor 60 Tahun 2015 selalu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sapar untuk menghormati arwah Kyai Wirosuto dan Nyai Wirosuto selaku abdi dalem penangsong Sri Sultan Hamengku Buwono I yang membawa payung kebesaran setiap Ngarsa Dalem berada dan tidak ikut pindah sewaktu terjadi perpindahan Keraton Ambarketawang ke keraton yang baru. Namun, tetap memilih tinggal di Gamping bersama keluarganya sehingga dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.

“Walaupun bekakak ini berupa boneka pengantin jawa yang terbuat dari tepung ketan yang diisi gula merah, namun sesuai adat perlu melewati ritual upacara mododareni. Prosesi dilakukan pada hari kamis malam Jumat Kliwon dengan membawa dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai ogoh-ogoh berbentuk sepasang suami istri gendruwo dan wewe,” tutur Sumaryanto.

Setelah seluruh Jali dan Jodhang, Tirto Dono Jati serta Ogoh-Ogoh yang dikawal Bregodo Songsong Wirosuto diserahkan oleh Dukuh Gamping Kidul, Bambang Cahyono selaku Lurah Magersari kepada Lurah Ambarketawang selaku Ki Demang pada malam midodareni, kemudian dilanjutkan Kenduri Wilujengan dan malam tirakatan seperti halnya pengantin benaran dengan hiburan macapat di pendhapa, dan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang digelar di lapangan Ambarketawang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)