Kemenkes RI Sosialisasikan Program TB

Sleman – Bertempat di Youth Center, Mlati, Sleman DI Yogyakarta, Kementrian Kesehatan RI mengadakan kegiatan Sosialisasi dan Kampanye Program Tuberkulosis (TB) dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Gernas) bersama Anggota Komisi IX DPR RI, Senin (25/9/2023).
Dihadapan 300 undangan yang merupakan tokoh masyarakat, kader Kesehatan dan pemangku wilayah di wilayah Sleman Barat hadir mengikuti kampanye TB, dengan harapan dalam penanggulangan TB, pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri.
Menghadirkan 3 narasumber dari Kementrian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, sosialisasi diharapkan dapat membantu membekali tokoh masyarakat dalam mengambil peran penanggulangan TB sesuai dengan bidang masing-masing.
Arifin, Panewu Mlati dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan berharap acara dapat berjalan lancar. Sebagai pemangku wilayah, Arifin merasa ikut mendukung program zero TB 2030 yang telah dicanangkan meskipun Penyakit TB di Mlati termasuk penyakit baru.
Arifin juga berharap, tamu undangan yang hadir dapat menularkan ilmunya kepada masyarakat di wilayah masing masing dalam penanggulangan TB yang sedang dilaksanakan pemerintah ini.
dr. Sulistyo, SKM, Kepala Biro Penanganan Penyakit Menular, Kementrian Kesehatan RI dalam paparannya menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara dengan kasus TB terbesar kedua setelah India. Untuk itu, Sulistyo mengajak masyarakat untuk peduli dengan penyakit TB.
“Dengan mengenali gejala gejala awal TB merupakan langkah preventif yang baik,” ungkap Sulistyo.
dr. Yuli dari Dinkes Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa perlu dicari terobosan yang sifatnya inovatif dalam pencegahan TB. Sehingga Dinkes Sleman menciptakan semboyan SIKAT dan TOS TB
“SIKAT adalah kepanjangan dari Sleman sigap Kendalikan dan Atasi Tuberkulosis. Sedangkan TOS adalah Temukan, Obati sampai Sembuh Tuberkulosis. Dua gerakan yang standar dalam penemuan kasus TB,” tukas Yuli.
Yuli juga menyinggung tentang pencanangan Zero TB 2030 secara Nasional. Zero TB sendiri merupakan suatu inisiatif penanggulangan TB yang berlandaskan pada 3 elemen yaitu penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang efektif dan pencegahan TB pada kontak serumah.
“Hal ini sejalan dengan kondisi yang ada, dimana Indonesia adalah salah satu negara dengan beban TB yang masih tinggi,” terangnya.
Yuli berpesan kepada hadirin yang datang untuk tidak mengasingkan, menjauhi, dan menjatuhkan stigma pada penderita. Dengan pendekatan pentahelik, Yuli berharap penanggulangan TB lebih komprehensif sebagaimana yang dilakukan oleh FK UGM dengan melakukan case finding, aktif turun ke masyarakat dan kontak erat dengan pasien TB.
dr. Ruli dari Dinkes Kabupaten Sleman kemudian menambahkan bahwa penanggulangan TB Nasional memiliki 2 program yaitu Eliminasi TB pada tahun 2030 dan Indonesia Bebas TB tahun 2050. Ruli juga menyinggung penderita PTM (Penyakit Tidak Menular) yang resikonya lebih besar tertular TB. Untuk itu, Ruli mengajak hadirin untuk melakukan CERDIK yang merupakan akronim dari Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola emosi.
Di tengah tamu undangan, Ruli juga mengajak masyarakat memberikan dukungan untuk pasien TB yang bersifat komplementer serta mencegah terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap kadus TB di masyarakat.
“Pencapaian penemuan kadus TB yang masih rendah menjadi pemicu gerakan pencegahan TB yang lebih masif karena kasus yang belum ditemukan berpotensi menjadi sumber penularan baru,” tutur Ruli.
Sebagai acara puncak, anggota Komisi IX DPR RI, Sukamt mengajak kepada tamu undangan tang datang untuk membudayakan hidup sehat, karena menurut hasil seminar kesehatan Nasional, Masyarakat Indonesia itu banyak yang kekurangan makan sayur, kekurangan buah, terlalu banyak karbohidrat dan terlalu banyak garam. Sebagai anggota DPR RI, Sukamto akan selalu membawa aspirasi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang paripurna termasuk kepemilikan BPJS yang harus dimiliki oleh masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



