Sleman – Untuk menambah perbendaharaan keterampilan serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, SD Negri Jogomangsan 3 mengadakan Pelatihan Ecoprint dan Pengelolaan Sampah dengan menggandeng Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Berbah. Kegiatan berlangsung dua kali pertemuan tanggal 24 Oktober dan 1 November 2023 di Kompleks SD Negeri Jogomangsan 3 Krasaan, Jogotirto, Berbah, Sleman, DIY.
Kepala sekolah SD Jogomangsan 3 Suhartati, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ecoprint dan pengelolaan sampah mendapatkan dukungan pembiayaan dari dana BOS Kinerja.
“Pembiayaan BOS kinerja itu diperoleh dari Assessment Nasional Berbasis Komputer (ANBK),” jelasnya, Rabu (1/11/2023).
Menurut Pengawas SD Koordinator Wilayah (korwil) Kapanewon Berbah, Supriyati Basuki Rahayu, ANBK ini menjad indikator kualitas pembelajaran satuan Pendidikan, dilakukan setiap tahun untuk siswa kelas 5 diambil secara acak oleh kemendikbudristek.
“Sekolah yang memiliki kemajuan terbaik ANBK akan mendapatkan BOS kinerja, untuk tahun ini Berbah ada 5 Sekolah, SD Negeri Berbah 1, SD Negeri Pendemsari, SD Negeri Jogomangsan 3, SD Negeri Kranggan, SD Muhammadiyah Noyokerten,” jelasnya.
Supriyati menuturkan, Dana Bos Kinerja diperuntukkan untuk menggali bakat, mengembangkan potensi, minat dan talenta peserta didik.
“Sesuai rasanya bila SD Negeri Jogomangsan 3 menggunakan Bos kinerja untuk pelatihan Ecoprint dan pengelolaan sampah,” tambah Supriyati.
Ketua FLH Berbah Kusnadi mengatakan bahwa pelatihan pengelolaan sampah dan Ecoprint dibagi menjadi dua pertemuan.
Pertama Selasa 24 Oktober pengelolaan sampah diikuti semua siswa dengan beberapa materi. Kelas 1 dan 2 materi pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan. Kelas 3 dan 4 pembuatan eco enzyme. Kelas 5 dan 6 pembuatan kompos.
Pada pertemuan kedua pelatihan membuat Ecoprint diikuti oleh siswa kelas 5 dan 6 beserta bapak ibu guru.
“Dari FLH Berbah selalu terbuka apabila ada yang berminat untuk pelatihan atau sosialisasi tentang lingkungan terutama pengelolaan sampah,” ungkap Kusnadi.
Instruktur pembuatan Ecoprint Ari Catur Kundarwati menyampaikan bahwa Ecoprint adalah teknik menempelkan warna dari daun bunga tanaman yang bergetah/tanin.
“Dehingga Ecoprint lebih ramah lingkungan dari pada teknik pewarnaan yang lain,” kata Ari Catur.
Dijelaskan Ari bahwa untuk proses pembuatan Ecoprint ada dua cara kukus dan pounding/dipukul.
“Untuk kali ini memakai teknik pounding sebagai media totebag bahan kain blacu. Totebag sehari sebelumnya dimordan dan dikeringkan,” jelasnya.
Totebag disisipi bahan yang ditempel sesuai selera dan imajinasi diletakkan pada lantai yang rata di atas totebag diberi lapisan plastik baru dilakukan pemukulan menggunakan pukul dari kayu. Setelah semua warna menempel totebag di balik dibersihkan sisa daun yang menempel, ketika sudah bersih dijemur beberapa saat.
Setelah itu dilakukan fiksasi/pengunci warna dengan menggunakan cairan tawas, atau bisa juga dengan cairan tunjung.
“Tujuan fiksasi untuk mengunci warna supaya lebih lekat menempel juga warna lebih awet, bila memakai tunjung bisa memberi warna kain dasar agak tua dan daun lebih mecolok. Setelah fiksasi tinggal dijemur sampai kering, Ecoprint siap digunakan,” tambah Ari mengakhiri penjelasan dan pelatihan ecoprint. (Kusnadi/KIM Berbah)