Sambut HKN, Puskesmas Berbah Adakan Jambore Kader Posyandu

Sleman – Memperingati hari Kesehatan Nasional ke-59, Puskesmas Berbah mengadakan Jambore Kader Posyandu se-Kapanewon Berbah, Rabu (15/11/2023). Bertempat di Pendopo Wisata Lava Bantal, Kapanewon Berbah, kegiatan ini mengambil  tema Posyandu Berdaya Bangsa Berjaya.

Kepala UPT Kesehatan Berbah, dr. Hari Pratono, mengatakan bahwa  kegiatan Jambore Posyandu serta Gebyar Posbindu ini diikuti oleh 330 kader Posyandu se-Kapanewon Berbah.

“Jambore Posyandu selain untuk memperingati hari Kesehatan Nasional ke 59 juga dipergunakan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya , serta untuk memberi  apresiasi kegembiraan bagi kader Posyandu Kapanewon Berbah,” ungkapnya.

“Karena Kader Posyandu adalah pekerja sosial namun keberadaannya menjadi sangat penting dalam membantu pemerintah menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Dari pemerintah hanya bisa mengucapkan terimakasih atas keberadaan kader Posyandu,” kata Hari.

Dikatakan oleh dr. Hari bahwa di Kapanewon Berbah memiliki 64 Posyandu yang sudah mendapatkan sertifikasi dari Kemenkes.

“Meskipun pekerjaan kader merupakan kerja sosial namun perlu meningkatkan keterampilan untuk mendukung kinerja sosialnya,” tukas Hari.

Hari juga mengapresiasi mumculnya para kader muda di Posyandu yang ada di Berbah. “Dengan adanya ketertarikan ibu ibu muda menjadi kader Posyandu lebih memberi semangat dan ada regenerasi kader Posyandu,” tambah Hari.

Panewu Berbah Tri Akhmeriyadi, memberikan apresiasi kepada kader Posyandu yang telah membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Banyak tantangan pemerintah dalam upaya menjaga dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat tanpa bantuan dan dukungan dari kader Posyandu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Tri.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman dr. Esti Kurniasih, mengapresiasi kegiatan Jambore Posyandu dan Gebyar Posbindu dalam rangka memperingati hari kesehatan Nasional 59 sebagai wujud komitmen terhadap pembangunan kesehatan, sekaligus menjadi semangat pembangunan di bidang kesehatan masyarakat.

Menurut Esti, kondisi kesehatan kabupaten Sleman mengalami progres positif, terbukti pada tahun 2021 umur harapan hidup kabupaten Sleman  74,9 tahun dan mengalami peningkatan pada tahun 2022 menjadi 75 tahun.

Namun masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pencapaian indikator kesehatan  seperti masih tinggi nya angka kematian ibu dan anak, penyakit yang masuk KLB, leptospirosis dan juga tingginya TB.

“Tingginya angka TB akibat dari peran aktif petugas dalam mencari data langsung ke masyarakat. Sehingga angka temuan TB meningkat drastic,” kata Esti.

Baru baru ini kemenkes mencanangkan tranformasi kesehatan sebagai pilar pertamanya Intregitas Layanan Primer baik di puskesmas ataupun di Posyandu menjadikan titik point penting dalam penguatan pelayanan.

Juga disampaikan bahwa di kabupaten Sleman ada 1535 Posyandu, di mana sebaian besarnya adalah Posyandu Mandiri yaitu 80,33 persen, dan Posyandu aktif sebesar 94,01 persen.

“Posyandu adalah milik masyarakat hidup matinya tergantung masyarakat,” tutup Esti. (Kusnadi/KIM Berbah)




Bupati Sleman Launching Pasar Murah dan Sosialisasi Senam Lansia Sembada di Seyegan

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam, Sekretariat TPID (Tim Penanggulangan Inflasi Daerah) Kabupaten Sleman mengadakan Launching Pasar Murah dan Sosialisasi Senam Lansia Sembada serta Bazar UMKM di pendopo dan halaman Kapanewon Seyegan, Kamis (16/11/2023).

 Dihadiri hampir semua OPD Kabupaten Sleman, Kegiatan yang diadakan bekerja sama dengan Bulog tersebut merupakan perwujudan dari semangat “SEMBADA SETIAJI” (Sesarengan Nyembadani Semangat Njagi Inflasi). Di tengah harga sembako yang tidak menentu dan memberatkan masyarakat, pemerintah memberikan alternatif dengan kegiatan pasar murah untuk bahan pokok beras, minyak goreng,  telur, gula dan tepung terigu dengan harga distributor.

Diawali dengan senam Sleman Bangkit dan Senam Lansia Sembada secara massal yang diikuti oleh masyarakat dari 5 Kalurahan di wilayah Seyegan dan pembagian doorprize untuk menyemarakkan suasana. Kegiatan ini juga digunakan untuk menampilkan Bazar UMKM meskipun hanya 1 stand untuk masing masing Kalurahan.

Ketua Penyelenggara, kepala Disperindag Kabupaten Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, dalam laporannya menyampaikan bahwa pasar murah akan diadakan di 17 Kapanewon secara bergilir. Adapun pendanaan untuk subsidi bahan pokok dengan menggunakan dana dari Fiskal Kesejahteraan masyarakat dari Mendagri sebesar 10 milyar.

“Dana tersebut diperoleh karena prestasi Sleman dalam mengendalikan inflasi harga bahan pokok,” ujar Mae.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, dalam sambutan dan pengarahannya menyampaikan bahwa dengan jargon sembada setiaji diharapkan harga pasar bahan pokok tidak terlalu mahal dan terjangkau artinya pengendalian inflasi bisa dilakukan karena harga stabil.

Akhirnya Bupati secara resmi me-Launching Pasar murah dan sosialisasi Senam Lansia Sembada dengan secara simbolis memberikan paket sembako kepada masyarakat. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan stan bazar UMKM dan dilanjukan dengan acara serupa di Kapanewon Mlati.

Panewu Seyegan, Samino menyampaikan terima kasih karena Seyegan ditunjuk sebagai tempat Launching Pasar Murah dan sosialisasi Senam Lansia Sembada untuk wilayah Sleman Barat. 

“Dengan pasar murah harapannya, komoditas bahan pokok harganya bisa terjangkau dan terkendali sedangkan senam sehat lansia mengajak lansia untuk tetap gembira,” tutup Samino. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kalurahan Sardonoharjo Berdayakan Masyarakat dengan Budidaya Itik Petelur

Ngaglik – Pemerintah Kalurahan Sardoharjo, Kapanewon Ngaglik , Kabupaten Sleman  sudah menganggarkan dari Dana Kalurahan untuk pemberdayaan masyarakatnya melalui budidaya itik petelur.

Ulu – ulu Sardonoharjo, Anang Setiawan menjelaskan, pihaknya memilih budidaya itik petelur lantaran masih kurangnya pasokan telur itik dari sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman.

“Kami melihat prospeknya. Telur menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, dan di Kaluruhan Sardonoharjo bahkan Kabupaten Sleman  juga sering membeli telur itik dari luar daerah,” jelasnya Rabu, (15/11/2023) di Kalurahan Sardonoharjo, Sleman.

Anang berharap, dengan membudidayakan itik petelur ini bisa mencukupi kebutuhan telur di Kalurahan Sardonoharjo dan juga bisa menjual hasil budidayanya ke daerah lain.

“Jadi selain sebagai ketahanan pangan masyarakat, telur yang dihasilkan bisa pencegahan Stunting serta menambah penghasilan keluarga,” terangnya.

“Selain itu budidaya itik petelur ini tujuannya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, sehingga diharapkan ke depannya banyak yang budidaya bebek petelur di Sardonoharjo di berbagai titik di pedukuhan di Kalurahan Sardonoharjo ,” imbuh Anang Setiawan.

Pihaknya menggelar pelatihan budidaya itik petelur yang bekerja sama dengan peternak bebek petelur Madyo Bebek, Sangiran, Kabupaten Bantul.

Tujuannya agar masyarakat Kalurahan Sardoharjo nantinya menjadi paham bagaimana cara pemeliharaan itik petelur dan lainnya sehingga budidaya itik petelur ini bisa berhasil.

“Setelah dilaksanakan pelatihan, akan diberikan bantuan bibit kepada kelompok budidaya itik petelur yang dibuat kelompok,” jelas Anang lagi.

Untuk ke depannya pihaknya bersama dengan PPL Kapanewon Ngaglik Dinas Pertanian Kabupaten Sleman akan memantau kesehatan dan perkembangan dari bibit yang telah diberikan kepada masyarakat tersebut. (ESK-KIM Sardonoharjo)




Tangani Tengkes, Sleman Pastikan Ketepatan Alat Ukur Tinggi dan Berat Badan di Posyandu

Sleman – Dalam rangka penanganan tengkes (stunting), Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) melakukan inovasi dengan meluncurkan Alat Ukur dan Timbang Penting untuk Penanganan Stunting Bersama Metrologi Sleman (Anting-Anting Emas).

Dengan inovasi tersebut, UPTD Pelayanan Metrologi Legal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman melakukan pengecekan ketepatan pada timbangan dan alat ukur tinggi badan anak di posyandu tingkat dusun.

Menurut Kepala Disperindag Sleman, Mae Rusmi, langkah tersebut dilakukan karena alat ukur berat dan tinggi badan merupakan tolok ukur adanya stunting pada anak.

“Hal ini ditujukan agar mudahnya penanganan terhadap masalah stunting pada anak, yang harapanya akan menekan masalah stunting di Kabupaten Sleman,” ujar Mae Rusmi saat Peluncuran Inovasi Anting-Anting Emas di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman, Selasa (14/11/2023).

Di depan 50 UTTP Posyandu se-Kalurahan Pandowoharjo, Mae menuturkan bahwa anak yang tergolong stunting ditolok ukur melalui tinggi dan berat badan. Dikarenakan perkembangan tubuh pada anak memiliki traffic yang signifikan, maka perlu alat ukur yang akurat. Maka dari itu, adanya alat ukur yang tidak akurat dapat menyebabkan kesalahan dalam mendeteksi stunting.

“Bayi stunting itu salah satu tolok ukurnya adalah tinggi dan berat badan, bayi itu ketika ditimbang itu kan nggak kaya kita, naik turunnya perkilo tapi ons, sehingga ketika timbangan ini tidak akurat, selisih misalnya selisih setengah kilo ini bisa saja bayi yang harusnya stunting tidak terdeteksi atau yang harusnya tidak stunting itu menjadi stunting karena tidak akuratnya alat ukur tinggi dan berat badan bayi,” kata Mae Rusmi.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang juga merupakan Ketua TPPS Sleman berharap, dengan adanya tera ulang alat ukur berat dan tinggi badan ini akan lebih memudahkan melakukan pendataan yang akurat dan mendeteksi stunting di Kabupaten Sleman, yang mana hal tersebut akan mempermudah dalam penekanan jumlah stunting.

“Setelah diadakannya ukur ulang atau KIR, harapan kami nanti setiap alat ukur yang kita gunakan untuk mengukur balita di Posyandu akan valid ukurannya, sehingga ini akan mempengaruhi data dari progres kesehatan pada anak dan juga pasti data terkait dengan stunting yang ada di Kabupaten Sleman,” tutupnya. (Rep Andika)