DPPP Sleman Gelar Bimtek Penangangan Pasca Panen Tanaman Pangan

Sleman – Bertempat di rumah salah satu warga di padukuhan Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Seyegan, Senin-Selasa 29 – 30 April 2024, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman mengadaan Bimbingan Teknis Pasca Panen Tanaman Pangan dengan 25 peserta yang berasal dari 5 Kalurahan di wilayah Seyegan.
Kegiatan yang merupakan kegiatan PUPM (Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat) Kapanewon Seyegan ini rencananya akan dilaksanakan selama dua hari, dimana hari kedua besuk akan dilaksanakan praktek lapangan langsung perhitungan hama pasca panen padi/gudang.
Rini Nurhidayati, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan membuka kegiatan Bimtek dengan memberikan arahan berkaitan dengan Kebijakan Pemerintah Kapanewon mengenai Penanganan Pasca Panen komoditas Tanaman Pangan.
Rini menyampaikan bahwa penanganan hasil panen ini merupakan kegiatan yang penting mengingat hasil panen diharapkan bisa maksimal.
“Artinya penanganan pasca panen yang baik akan berdampak pada minimnya resiko kehilangan volume bulir padi akibat kerontokan,” ujarnya, Senin (29/4/2024).
“Ini berarti perlakuan pasca panen sangat menentukan hasil ubinan yang dilakukan. Adapun potensi terjadinya kehilangan bulir padi bisa terjadi pada saat pemetikan, transportasi, perontokan, penjemuran dan penyimpanan gudang,” imbuh Rini.
Suroso, Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, dalam pemaparannya memberikan materi mengenai Budi daya Padi Sehat. Dalam penjelasannya, Suroso menyampaikan tentang produk pertanian yang tidak sehat karena disebabkan oleh sistim budidaya yang tidak sehat pula.
“Utamanya adalah pemakaian pupuk kimia yang membunuh mikrobia sehingga tanah tidak subur,” tegas Suroso.
Pada kesempatan itu, Suroso mengajak peserta Bimtek untuk kembali ke budidaya yang sifatnya alami. Penggunaan pupuk organik cair (POC) mulai digalakkan lagi yang mempunyai fungsi untuk memulihkan kesehatan tanah, karena POC akan menumbuhkan mikrobia tanah dan akan mengikat unsur hara yang menjadikan tanah subur.
R Bagus dari Gapoktan Sidomulyo Godean menjadi Nara sumber ketiga yang memberikan materi mengenai Pengelolaan dan Kemitraan Usaha Tani. Bagus mengajak petani untuk bekerja sama bukan saja pada saat penjualan hasil panen, namun juga dalam pengelolaan Budi daya. Hal ini terkait dengan pemasaran hasil produk pertanian.
“Selama ini petani masih terkendala dengan harga pasaran pasca panen,” tukasnya.
Untuk itu, Bagus memfasilitasi kemitraan dengan menjadi pembeli padi jenis organik. Adapun dalam pengelolaan budidaya, Bagus dapat membantu dengan fasilitas penyemprotan dengan menggunakan drone.
Pada sesi terakhir, Theresia Larasati dari BP4 Seyegan menyampaikan materi berkaitan dengan Pengendalian Hama Pasca Panen Padi/Gudang. Theresia mengajak Petani untuk mengetahui jenis jenis penyakit atau hama pada padi pasca panen.
Adapun jenis hama atau penyakit yang ada pada padi pasca panen adalah kutu beras, ngengat biji, tikus, jamur dan bakteri. Dengan semangat menuju pertanian organik, Theresia juga mengajak petani untuk menangani hama atau penyakit pasca panen tersebut juga dengan pestisida hayati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



