Bangunkerto Wakili Turi dalam Lomba Kalurahan Inovatif

Turi – Kalurahan Bangunkerto yang mewakili Kapanewon Turi dalam Lomba Kalurahan Inovatif menjalani penilain kalurahan inovatif yang berpusat di Balai Desa Bangunkerto, Turi, Sleman, Selasa (23/4/2024). Proses penilaian dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Lomba Kalurahan Inovativ sendiri merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai salah satu upaya pemantauan terhadap kinerja Pemerintah Kalurahan dan lembaga lembaga kemasyarakatan tingkat kalurahan.

 “Pembangunan di era Teknologi informatika seperti saat ini, kreativitas dan inovasi sangat diperlukan dan kami telah berupaya untuk mengoptimalkan peran tersebut untuk pelayanan masyarakat,” ujar Anas Makruf, Lurah Bangunkerto.

Ia menjelaskan, salah satu inovasi dari KalurahanBangunkerto adalah inovasi dalam penanganan stunting denga Aplikasi Si Untung(  Siaga Monitoring Stunting) yang melibatkan lembaga kalurahan,PKK. Karang Taruna, Posyandu, Poskesdes, Kader Desa, Puskesmas, PLKB, Bhabhinsa, Bhabhinkamtibmas dan masyarakat yang terbukti sangat siknifikan dalam penurunan Stunting dalam setahun dari 51 kasus menjadi 27 kasus.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dalam sambutannya berharap evaluasi kalurahan inovatif diharapkan menjadi pemacu semangat seluruh pamong kalurahan dalam melayani masyarakat.

“Harapannya kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman dapat semakin meningkat melalui pelayanan yang prima dan memacu kemandirian masyarakat dengan memahami kondisi lingkungannya,” ujar Kustini.

Sementara Kepala Dinas PMK, Samsul Bakri menerangkan, kegiatan evaluasi kalurahan inovatif dimaksudkan untuk lebih mendorong semua kalurahan dalam melaksanakan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan untuk kemasyarakatan, juga pelayanan publik, yang banyak dikembangkan melalui berbagai inovasi.

“Ketika Kalurahan memberikan banyak inovasi, maka yang diuntungkan adalah masyarakat akan sangat terbantu dengan bermacam-macam kemudahan yang berimbas pada berbagai kemajuan dalam berbagai macam sektor,” pungkasnya. (Arief Hartanto)




Pokja PAUD Kapanewon se-Kabupaten Sleman Ikuti Sosialisasi Nilai Santun dan Pencegahan Stunting

Sleman – Sebanyak 101  pengurus Pokja Ibu PAUD Kapanewon se-Kabupaten Sleman mengikuti Sosialisasi Nilai Nilai Santun Rukun, B2SA dan Pencegahan Stunting di Ruang Rapat Lantai III Setda Kabupaten Sleman pada Senin (22/4/2024).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pokja Ibu PAUD Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Pokja Ibu PAUD  Provinsi DIY dan  Dikpora DIY ini bertujuan memasyarakatkan pendidikan karakter kekhasan Yogyakarta kepada pendidik dan pengelola lembaga PAUD.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ibu PAUD Kabupaten Sleman Kustini Sri Purnomo sekaligus Bupati Sleman. Dalam sambutannya Kustini menyampaikan bahwa nilai-nilai santun rukun ini sangat perlu dikembangkan di PAUD agar anak-anak memiliki fondasi karakter khas Yogjakarta.

“Budaya santun rukun merupakan program Pokja Ibu PAUD yang diturunkan ke Kabupaten dan saat  ini disampaikan kepada Pokja ibu Kapanewon agar nantinya bisa dikembangkan di Kapanewon” ungkap Kustini.

Selain itu Kustini juga berharap lembaga PAUD ikut memperhatikan linkungan sekolah dalam rangka bersama-sama mencegah dan mengatasi Stunting.

“Meski angka Stunting di Sleman sudah turun, namun harus tetap ditingkatkan upaya kita agar di Sleman ini tidak ada lagi anak-anak yang Stunting,” pungkasnya.

Hely Angkasa Sujatmiko mewakili kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga provinsi DIY menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan dan antusiasme peserta dari Kabupaten Sleman dalam mengikuti kegiatan tersebut.

“Hal ini sangat positif. Peserta nampak ingin tahu tentang nilai-nilai budaya santun rukun ini. Semoga kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi di tahun depan,” ungkapnya.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah dari Pokja Ibu PAUD Provinsi DIY seperti Ki Sutikno, Basri Ananta dan Yetti.(Resmi Widayati/Kontributor KIM Depok)




Pemkab Sleman Canangkan Program Kampung Hijau di 17 Kapanewon

Sleman – Bertempat di Gedung IPHI Jangkang Widodomartani Ngemplak Sleman, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman mengadakan acara sosialisasi Program Kampung Hijau, Selasa (23/04/2024). Kegiatan dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Acara dimulai dengan pemaparan dari Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Sleman, Eni Yuliani tentang permasalahan yang dihadapi, yaitu sampah lingkungan.

“Setiap hari, tidak kurang dari satu juta orang di Sleman memproduksi sampah hingga sekian ton per hari. Padahal TPST Piyungan akan segera ditutup total pada tanggal 1 Mei besok. Maka persoalan sampah ini bukan hanya kewajiban dari DLH Sleman.  Tapi juga menjadi tanggung jawab kita semua. Karena kita juga produsen sampah tersebut,” papar Eni.

Lebih lanjut,  ia menegaskan bahwa ada alternatif bagaimana untuk mengurangi sampah tersebut.

“Kita akan mencanangkan pembuatan biopori di setiap rumah tangga dan tiap2 kepala keluarga. Jadi di rumah kita pun ada tempat pengelolaan sampah. Sehingga sampah tidak perlu ditumpuk di tempat lain yang akhirnya menimbulkan bau tidak sedap,” tambahnya.

“Begitu pula tiap-tiap rumah atau paling tidak satu dusun, disarankan untuk menanam tanaman perindang untuk menjaga stabilitas oksigen di lingkungan kita,” pungkasnya.

Pemaparan materi kedua disajikan oleh Mustika Dewi, selaku Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas dan Peran Serta Masyarakat DLH Sleman.

Mustika menekankan tentang pentingnya gerakan 3R yaitu Reduce (Mengurangi sampah), Reuse (Memanfaatkan sampah), dan Recycle (Mendaur Ulang Sampah).

“Sampah adalah problematika kita semua. Maka dari sini, kami akan mencanangkan program penilaian kepada lembaga-lembaga pengelola sampah di dusun dan Kalurahan yang nantinya akan kami tunjuk. Semakin baik pengelolaan sampahnya,  semakin tinggi nilainya. Semakin banyak peran serta masyarakat,  semakin tinggi pula nilainya,” papar Mustika Dewi.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan bahwa program kampung hijau dapat membantu penyediaan air bersih di Sleman.

“Saya mendapat laporan dari PDAM bahwa kondisi air bersih di Sleman sudah berkurang cukup jauh debitnya. Maka kami mencanangkan optimalisasi wilayah resapan air yang ada di Sleman ini, salah satunya dengan program Kampung Hijau. Ini adalah program dari DLH,” tuturnya.

“Dengan Program Kampung Hijau, nafas kita menjadi sehat. Lingkungan kita juga sehat. Air yang kita minum juga sehat. Jangan sampai anak cucu kita nanti kekurangan air bersih. Karena sungai dan segala tempat yang serupa irigasi tersebut sudah tercemar sampah. Jika anak cucu kita meminum air yang tercemar sampah, sedikit banyak dari mereka akan terkena stunting,” tukas Kustini.

Oleh karena itu, Kustini mengajak seluruh warga Sleman untuk mendukung Program Kampung Hijau yang akan dicanangkan di 17 Kapanewon ini.

“Marilah kita dukung Program Kampung Hijau ini untuk menghargai lingkungan kita. Mari kita jadikan lingkungan di Kabupaten Sleman adalah lingkungan yang sehat. Infrastruktur jalan-jalan pun juga kita tingkatkan. Karena jalan yang baik akan menopang perekonomian yang baik pula. Janganlah kita menanam besi di lingkungan kita.  Tapi tanamlah tanaman perindang, tanaman penahan air, dan tanaman obat di lingkungan kita. Lalu mari kita kelola sampah dengan baik.  Sampah jika diolah dengan baik akan juga menjadi lahan perekonomian,” pungkas Kustini. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)




PRM Margomulyo Gelar Pengajian Malam Selasa Kliwon di Masjid Al Ikhlas Jamblangan

Sleman – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Margomulyo menggelar pengajian rutin malam Selasa Kliwon di Masjid Al Ikhlas Padukuhan Jamblangan pada hari Senin (22/4/2024).

Pengajian ke 4 di tahun 2024 yang diselenggarakan secara mobile ini dihadiri oleh pengurus PRM Margomulyo, Takmir masjid Al-Ikhlas, perwakilan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Seyegan dan tokoh masyarakat setempat dan menghadirkan Ustad Haedar Muhammad T dari Masjid Jogokaryan Yogyakarta.

Dibuka dengan bacaan tilawah Al Qur’an yang dilanjutkan dengan ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Muhajir selaku ketua Takmir Masjid Al Ikhlas dan sekaligus sebagai tuan rumah.

Dr. Yulkarnaen, selaku Ketua PRM Margomulyo menyampaikan bahwa selain silaturahmi, kegiatan ini dimaksudkan untuk tholabul ilmi.

Haedar Muhammad dalam tausiahnya menyampaikan materi berkaitan dengan peran generasi muda sebagai pemakmur masjid dengan mengambil contoh strategi Masjid Jogokaryan dalam membina generasi muda lingkungan setempat.

Dalam pembukaannya, Haedar mengajak jamaah yang hadir untuk mensyukuri nikmat dapat duduk di majelis ilmu yang mempunyai 4 keutamaan yaitu ketenangan hati, curahan Rahmat dari Alloh SWT,  berkumpul dengan malaikat dan Allah SWT akan menyebut hambanya dihadapan malaikat.

Berkaitan dengan tema, Haedar mendasarkan pada Al Qur’an yaitu Surat At Taubah ayat 18 yang intinya adalah memakmurkan Masjid. Adapun pendekatan yang dilakukan adalah bagaimana peradaban digunakan sebagai cara untuk memakmurkan masjid dan bukan masjid sebagai bangunan fisik semata.

“Ini berarti masjid mempunyai fungsi yang begitu banyak sebagai pembinaan kepada jamaah, Masjid sebagai pusat peradaban, Masjid sebagai rantai kaderisasi dan masjid sebagai tempat pendidikan,” ujar Haedar.

Adapun misi masjid sebagaimana yang terdapat dalam Surat At Taubah 18 dijelaskan oleh Haedar adalah menjadikan masyarakat beriman kepada Alloh SWT dan hari akhir, menjadikan masyarakat senantiasa sholat dan tunduk pada Allah SWT, mensejahterakan masyarakat dan menjadikan masyarakat merdeka, hanya takut kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, Haedar memberikan kiat kiat bagaimana cara menghadirkan orang ke masjid. Ada 2 hal yang mempengaruhi orang ke masjid yaitu kepentingan/kebutuhan dan apresiasi eksistensi, potensi, fungsi dan peran. Dua hal ini perlu dikelola dalam rangka  mendekatkan dan menghadirkan orang ke masjid.

“Selain itu, dua hal tersebut perlu dikelola dengan pelayanan dan pemberdayaan,” demikian disampaikan oleh Haedar dalam menutup tauziahnya.

Tauziah diakhiri dengan tanya jawab dengan Jamaah yang hadir. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Mahasiswa PPL PPG IPA Tamansiswa Gelar Pelatihan Pembuatah Eco Enzym di Pendem Berbah

Sleman – Mahasiswa PPL Pendidikan profesi Guru (PPG) Program Studi IPA  Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta mengadakan kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah serta pembuatan eco enzym untuk ibu-ibu warga Pendem, pada hari Minggu (21/4/2024) bertempat di bangsal warga Pendem, Tegaltirto, Berbah, Sleman.

Dosen Pendamping Lapangan Shanta Rezkita, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian ini mengambil isu permasalahan sampah di masyarakat.

Ia mengatakan, kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah serta pembutan eco enzyme dari Forum Lingkungan Hidup Berbah dalam rangka pemanfaatan sampah rumah tangga berbentuk organik menjadi produk Eco enzyme untuk mewujudkan Ecoprenership bagi masyarakat Pendem, Tegaltirto, Berbah.

“Harapanya dengan pelatihan ini warga semakin peduli dengan pengelolaan lingkungan terutama sampah organik. Selain mengelola sampah mendapatkan eco enzyme juga harapan mendapatkan nilai ekonomi dari pembuatan eco enzyme di tahap berikutnya,” ucap Shanta .

Dukuh Pendem Dimas Hermawan prasetya menyambut baik program kegiatan dari mahasiswa PPL PPG IPA dari UST Yogyakarta mengadakan kegiatan Sosialisasi pengelolaan sampah serta pembuatan eco enzyme sangat bermanfaat karena mulai pertengahan April TPA Piyungan resmi di tutup.

“Dengan sosialisasi dan pelatihan ini masyarakat bisa mengerti cara mengelola sampah dari rumah sehingga tidak harus membuang sampah ke tempat lain,” ujarnya.

Sekretaris FLH Berbah, Awang Kurniawan menyampaikan bahwa sangat diperlukan kesadaran pribadi untuk mengelola sampah dari sumbernya.

“Ketika warga sudah tertib mengelola sampah dari sumbernya dengan melakukan pemilihan dengan baik akan meminimalisir sampah residu dan memberikan tambahan ekonomi dengan menjual sampah an organik atau sampah kering,” jelas Awang, yang juga bertindak sebagai instruktur pembuat eco enzim.

Adapun pembuatan eco enzyme bertujuan memanfaatkan bahan organik sisa buah dan sayuran yang masih segar tidak busuk.

Cara pembuatan eco enzyme hanya dengan mencampur  bahan  organik dengan air serta penambahan molase atau tetes tebu. Dengan perbandingan 1 bagian molase, 3 bagian bahan organik serta 10 bagian air.

“Campuran tiga bahan tersebut dimasukkan dalam wadah yang kedap air dan udara difermentasi selama 3 bulan,” jelas Awang..

“Cairan eco enzyme disebut cairan sejuta manfaat bisa untuk cuci luka, menjernihkan perairan serta membantu pemupukan dan pengurangan hama penyakit pada tanaman,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)