FPRB Gamping Gotong Royong Jaga Estetika dan Sirkulasi Embung Bendo Tirta

Untuk menjaga estetika penampilan Embung Bendo Tirto agar tetap bersih dan memperlancar sirkulasi airnya, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kapanewon Gamping menginisiasi kegiatan gotong royong membersihkan lumut dan gulma di perairan Embung Bendo Tirto, Kalurahan Balecatur, Gamping, Sleman, Kamis (30/5/2024).
Kegiatan yang bertajuk ‘Rumakete Makhluk Semesta’ diikuti para relawan dari elemen Komunitas Kekandhangan, Komunitas Karbolo, Komunitas TKD Koramil/17 Gamping dan Komunitas Relawan Balecatur dengan sarana dan prasarana kegiatan yang disediakan oleh Perusahaan Thetrekkers berupa perahu aluminium.
Berdasarkan keterangan dari pengelola Embung Bendo Tirto, Purwadi bahwa populasi lumut dan gulma di embung seluas meter persegi sudah sangat banyak yang mengakibatkan sirkulasi air tidak lancar dan penampilannya tidak menarik.
“Embung disini permukaan airnya banyak ditutupi lumut sutera dan gulma sehingga terlihat kotor dan tidak menarik secara visual. Hal ini dapat mengurangi nilai estetika dan daya tarik lingkungan sekitarnya,” jelas Purwadi di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, pertumbuhan lumut yang tebal di permukaan embung dapat menyumbat saluran air masuk dan keluar embung yang akan mengganggu sirkulasi air di dalam embung dan bahkan menyebabkan bahaya banjir apabila saluran keluar embung tersumbat sepenuhnya. Karenanya, perlu adanya pembersihan lumut secara rutin demi mencegah pertumbuhan lumut.
Hal senada dituturkan oleh Owner Thetrekkers, Feri Iskandar bahwa pihaknya selaku produsen perahu aluminium, tenda, dan peralatan petualang sangat mendukung kegiatan sosial bersama para relawan demi mempertahankan estetika dan menghindari tersumbatnya aliran air Embung Bendo Tirto yang pada gilirannya dapat mengganggu ekosistem air di dalamnya.
“Selain itu, pertumbuhan lumut yang tidak terkontrol di embung Bendo Tirto dapat menyebabkan kehilangan volume air karena lumut akan menyerap air untuk pertumbuhannya. Inilah yang menjadi masalah terutama di daerah-daerah yang mengalami musim kemarau, di mana setiap volume air yang hilang dapat berdampak pada ketersediaan air untuk penggunaan warga masyarakat dan ekosistem alami,” imbuhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)



