Peran Penting Babinsa Banyuraden Jaga Stabilitas dan Kemajuan Kalurahan

Sleman – Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang merupakan bagian dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah dalam mendukung pembangunan di tingkat kalurahan, memberikan bantuan logistik dalam kegiatan kemanusiaan, serta memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam berbagai hal seperti pertanian, kebersihan lingkungan, dan kewaspadaan akan bencana, sehingga Babinsa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan kemajuan di tingkat desa atau kelurahan.

Hal tersebut diutarakan oleh Babinsa Kalurahan Banyuraden, Serka Supriyadi saat melakukan patroli mengelilingi wilayah kerjanya di Dusun Somodaran, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Selasa pagi (4/6/2024). Dirinya menjumpai Muryono salah satu petani warga Dusun Somodaran yang sedang memanen padi di sawahnya yang mengeluhkan hasil panennya lantaran permasalahan matinya aliran air Selokan Mataram.

Muryono mengungkapkan bahwa hasil panen padinya tidak maksimal diakibatkan karena aliran air dari Selokan Mataram dimatikan sehingga tanaman padinya kurang mendapat pasokan air untuk menunjang pertumbuhan tanamannya.

Menanggapi keluhan petani tersebut, Serka Supriyadi mengatakan untuk mengatasi masalah kurangnya air bagi tanaman padi, ada beberapa cara yang dapat diambil antara lain meningkatkan manajemen air pertanian dengan menggunakan teknik irigasi yang efisien, meningkatkan ketersediaan air melalui pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur irigasi yang baik, serta memilih varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan.

“Selain itu, perencanaan yang baik dalam hal pola tanam padi, pengaturan jadwal tanam, dan pemilihan lahan yang sesuai juga dapat membantu mengurangi dampak kurangnya air pada tanaman padi,” tambah Serka Supriyadi.

Sudah menjadi tugasnya Babinsa menyambangi warga masyarakat untuk menjalin hubungan yang baik antara TNI dengan masyarakat dan bertindak sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah setempat serta aparat keamanan. Dengan demikian, Babinsa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan kemajuan di tingkat desa atau kelurahan.

Menurut Serka Supriyadi, kurangnya pasokan air untuk tanaman padi memiliki berbagai akibat negatif diantaranya tanaman padi yang tidak mendapatkan air yang cukup dapat menjadi lebih rentan terhadap penyakit seperti jamur dan serangan hama wereng maupun tikus, tanaman mengalami stres akibat kekurangan air sehingga lebih rentan terhadap serangan penyakit dan hama, serta mengakibatkan penyimpangan pertumbuhan tanaman dan bahkan penurunan hasil panen secara signifikan karena tanaman padi yang kekurangan air akan menghasilkan bulir yang lebih sedikit, lebih kecil, dan mengurangi produksi padi.

“Kekurangan air juga dapat mempengaruhi kualitas beras yang dihasilkan. Karenanya, tanaman padi yang kekurangan air cenderung menghasilkan beras yang kurang berkualitas, dengan tekstur yang tidak sebagus yang dihasilkan oleh tanaman yang mendapatkan air yang cukup,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Satu Tahun Paguyuban Sekar Budaya, Upaya Melestarikan Budaya Jawa di Condongcatur

Sleman – Paguyuban Karawitan Sekar Budaya Condongcatur memperingati ulang tahunnya yang pertama bertempat di Pendopo Kromoredjan Kalurahan Condongcatur, Selasa (4/6/2024). Dalam kesempatan ini juga ada spesial performance dari Ari Tejo Sitter yang secara konsisten melestarikan musik siter yang sebelumnya sempat banyak ditinggalkan banyak orang

Ketua Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur, Ganep Sri Lestari dalam sambutanya, menyampaikan paguyuban Sekar Budaya Condongcatur telah genap berusia 1 (satu) tahun sesuai dengan SK Lurah Condongcatur nomor 139  / Kep. Lurah/ 2023 tentang  Pengukuhan Paguyuban Seni Karawitan “Sekar Budaya Condongcatur” Kalurahan Condongcatur Kapanewon Depok Kabupaten Sleman

“Tujuan diadakanya acara peringatan ulang tahun Sekar Budaya Condongcatur ini agar budaya jawa karawitan yang adiluhung dapat terus lestari dan berkembang di Kalurahan Condongcatur disamping itu untuk nguri nguri budaya jawa sejalan dengan bangunan Pendopo Kromoredjan  yang mengambarkan Condongcatur selalu menjaga tradisi ciri khas kebudayaan jawa, harapanya agar para generasi Muda semangat belajar budaya jawa sesuai yang tertuang dalam peraturan Gubernur DIY nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewwan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjaga dan mengembangkan budaya jawa,” ucapnya

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menuturkan bahwa Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur telah membantu melestarikan budaya Jawa.

“ Salah satu bentuk melestarikan budaya jawa adalah dengan kegiatan Karawitan ini, Latihan karawitan yang rutin digelar sebagai bentuk dukungan kongkrit Condongcatur sebagai rintisan Desa Mandiri budaya dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur akan mensuport kegiatan-kegiatan budaya,” jelasnya.

Dirinya berharap, Paguyuban Sekar Budaya terus berkembang dan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk ikut bergabung didalamnya.

Sementara Penasehat Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur, Tri Wusono menuturkan, Paguyuban Seni Karawitan Sekar Budaya Condongcatur berdiri karena terpacu  menjelang Hari Jadi Kabupaten Sleman dimana setiap tahunnya diadakan Lomba karawitan Ibu-ibu antar Kapanewon dan Kalurahan

Dirinya mengatakan, Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur adalah perkembangan dari Paguyuban Sekar Rinonce yang berpusat kegiatan di Sengkan Joho yang sejak  tahun 2018 dipercaya sebagai duta dari Kapanewon Depok, selanjutnya terbesit untuk membentuk paguyuban yang berada di tingkat Kalurahan Condongcatur.

“Maka sejak Bulan Juni 2023 kami berinisiatif membentuk Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur dan telah dikukuhkan oleh Lurah Condongcatur dengan Surat Keputusan Lurah Condongcatur,” katanya.

“Paguyuban Sekar Budaya Condongcatur disiapkan untuk  tugas sebagai Duta Kapanewon Depok juga mendukung Semboyan Kalurahan Condongcatur Berbudaya dan sampai saat ini telah merekrut sebanyak 20 orang penabuh dan Sinden,” tambah Tri. (Wasana/KIM Depok)




Kalurahan Sidomulyo Godean Ikuti Evaluasi Kalurahan Inovatif 2024

Sleman – Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean mengikuti Evaluasi Kalurahan Inovatif 2024  yang dilaksanakan pada hari Selasa (4/6/2024). Sidomulyo menjadi Kalurahan ke 14 yang menerima juri lomba dari OPD Kabupaten Sleman, termasuk salah satunya Bupati Sleman yang turut hadir dalam evaluasi tersebut

Rustho Busono, Lurah Sidomulyo dalam sambutannya menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati dan rombongan yang telah menghadiri evaluasi Kalurahan Inovatif di Sidomulyo. Rustho juga minta maaf bila sambutan yang diberikan jauh dari yang diharapkan. Kepada dewan juri, Rustho mempersilahkan untuk menilai inovasi yang telah dilaksanakan selama ini.

Acara kemudian dilanjutkan dengan paparan profil Kalurahan Sidomulyo yang disampaikan oleh Wisnu Kuncorojati, Carik Sidomulyo. Dalam paparannya, Wisnu menampilkan kondisi Kalurahan Sidomulyo dengan kegiatan kegiatan unggulan yang inovatif. Gapoktan Sidomulyo termasuk yang diunggulkan karena merupakan Gapoktan terbesar di Kabupaten Sleman dan DIY. Hal ini dibuktikan dengan dipercayakannya Gapoktan Sidomulyo sebagai pemasok beras untuk ASN di Kabupaten bahkan DIY.

“Produksi berasnya hingga mencapai 200-300 ton/bulan yang dihasilkan dari 143 Ha sawah dengan jumlah petani 380 orang,” ungkap Wisnu.

Hal lain yang diunggulkan adalah pengelolaan sampah mandiri Zero waste yang diprakarsai oleh warga Gancahan VI yaitu PSM Rukun Makmur dengan pengelolaan berupa wisata edukasi sampah,  industri recycle sampah plastik, pengelolaan anggur import, budidaya lobster dan pengelolazn daun Stevia dengan produk akhir berupa gula Stevia.

“Sidomulyo juga merupakan satu satunya Kampung Siaga Bencana (KSB) di Kapanewon Godean yang dilengkapi dengan lumbung sosial dan gardu sosial. Lumbung sosial berisi peralatan evakuasi, buffer stok logistic makanan,” jelas Wisnu lagi.

Dibagian akhir, Wisnu juga memaparkan tentang Gerakan atasi stunting bersama tabungan warga (GAS Tamago) yang dikoordinir oleh PKK Kalurahan dengan cara mengumpulkan tabungan dari dasa wisma. Disusul kemudian dengan penjelasan tentang Pamsimas Umbul Mulyo dengan inovasi pembayaran maupun pendaftaran calon konsumen Pamsimas dengan aplikasi KP SPAM. Mengenai media sosial Kalurahan Sidomulyo meliputi Instagram, YouTube, facebook dan web kalurahan.

Kustini Sri Purnomo, Bupati Sleman dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada Kalurahan Sidomulyo, yang telah mempersiapkan diri dengan menyuguhkan kegiatan inovasinya untuk dievaluasi oleh dewan juri. Sambutan yang meriah dan sajian alat musik angklung oleh anak anak TK sangat membanggakan Kustini.

“Harapannya sesuai dengan paparan yang telah disampaikan, inovasi yang telah dilaksanakan berimbas kepada Kesejahteraan masyarakat secara lahir dan bathin,” ujar Kustini.

“Produk-produk inovasi yang dihasilkan akan dapat menunjang perekonomian masyarakat yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan derajat masyarakat itu sendiri,” imbuhnya.

Acara inti evaluasi Kalurahan Inovatif dibagi di 3 tempat yaitu di Kalurahan Sidomulyo, PHBS – ,LBS dan aku hatinya PKK di Sembuh kidul, PSM Rukun Makmur  di Gancahan  VI RW 012. Kustini sendiri keliling melihat aktivitas kegiatan lembaga, termasuk UMKM dan Dekranasda dengan produk produknya. Adapun acara pelepasan Bupati beserta rombongan dilakukan oleh Panewu Godean, Rohmiyanto, AP. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Mewaspadai Konflik Sosial Jelang Pilkada Sleman 2024

Sleman – Pemerintah Kapanewon Tempel menggelar Sosialisasi Cegah Dini dan Deteksi Dini Konflik Sosial Menjelang Pilkada Sleman Tahun 2024 di Griya Dhahar Taman Merdiko Sono Kulon Merdikorejo, Tempel pada Selasa (4/6/2024). Sosialisasi ini dibuka langsung oleh Panewu Anom Tempel, Dyah Purwanti.

Menurut Dyah Purwanti, pasca ditetapkannya hasil Pemilu 2024 dan dilanjutkan dengan Pilkada tentunya memberikan dampak meningkatnya suhu politik di berbagai daerah, terlebih dalam tahapannya sangat rawan sekali terjadi gesekan di masyarakat, baik gesekan yang langsung terjadi di dunia nyata maupun di dunia maya.

“Isu ini menjadi problem klasik pada setiap gelaran Pemilihan. Oleh karena itu, Pemerintah Kapanewon Tempel perlu memfasilitasi Sosialisasi Cegah Dini dan Deteksi Dini Konflik Sosial Menjelang Pilkada Sleman 2024 nanti bagi FKDM dan FPK yang ada di lingkungan Pemerintah Kapanewon Tempel,” tegasnya.

Pada momen tersebut,  Dyah juga menegaskan bahwa demokrasi di Kabupaten Sleman khususnya di wilayah Tempel sudah sangat baik karena masyarakat memiliki ruang untuk berserikat,  berkumpul, menyampaikan aspirasi melalui organisasi.

“Untuk itu, saya mengajak kepada seluruh forum-forum yang ada dalam hal ini FKDM dan FPK tingkat Kapanewon untuk berkolaborasi guna deteksi dini dan cegah dini potensi konflik sosial di masa pilkada. Saya yakin, masyarakat Kapanewon Tempel sudah pintar, mampu dengan bijak memilih, memilah, dan menilai calon terbaik pada Pilkada nanti. Mari kita jaga Tempel tetap kondusif seperti saat ini, jangan ada gontok-gontokan antar ormas, jadilah teladan bagi masyarakat dalam menjaga persatuan dan kesatuan untuk keutuhan NKRI,” pungkasnya.

Selanjutnya, Saridjan, Ketua FKDM Kabupaten Sleman, menyampaikan dalam materinya apa tugas, fungsi dan peranan FKDM dalam upaya pencegahan dini dan deteksi dini terhadap konflik yang bisa saja terjadi jelang perhelatan pilkada Sleman tahun ini.

Narasumber selanjutnya, Muhammad Nur Kholis, Ketua FPK Kabupaten Sleman dalam materinya menyampaikan tentang Kedudukan Kalurahan dalam sejarah Indonesia serta basisnya dalam ketahanan ideologi.

“Sebagai lembaga yang dekat dengan masyarakat, Kalurahan harus memiliki norma dan tata nilai yang menjadi dasar negara dan menjadi ujung tombak pembangunan serta salah satu pilar keberlangsungan negara,” ungkap Muh Nur Kholis

Selain itu sebagai forum pembauran kebangsaan, harus menjaga kerukunan hubungan di masyarakat, FPK harus jadi forum pengenalan nilai nilai budaya dan tradisi, serta harus menciptakan harmonisasi untuk menjaga kebhinekaan.

“FPK sebagai lembaga yang didalamnya beranggotakan tokoh dari berbagai etnis, suku, agama dan bangsa harus menciptakan sebagai FPK yang berkarakter Pancasila, baik di tingkat Kapanewon maupun di Kalurahan nya masing-masing,” demikian jelas Muh Nur Kholis.(sbd_kimtempel)




Padukuhan Saren Sumberahayu Ikuti Evaluasi Kampung Hijau

Sleman – Dalam rangka mewujudkan kampung yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Evaluasi Kampung Hijau. Kegiatan tersebut dilakukan di seluruh Kapanewon di Kabupaten Sleman. Salah satunya di Padukuhan Saren, Sumberahayu, Moyudan, Sleman yang dilakukan pada hari Selasa (4/6/2024). 

Pada kegiatan evaluasi tersebut kedatangan tim juri disambut dengan penampilan drum band anak-anak dari TK ABA Saren. Selain itu juga disambut langsung oleh Panewu Moyudan, Kepala Jawatan Ekonomi Kapanewon Moyudan, Lurah Sumberahayu serta masyarakat setempat pemerhati lingkungan hidup.

Panewu Moyudan, Harsowasono dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan terima kasihnya kepada Tim Evaluasi Kampung hijau. Selanjutnya ia menambahkan bahwa dengan evaluasi Kampung hijau semoga bisa dijadikan motivasi bagi masyarakat untuk mengelola lingkungan dengan lebih optimal.

“Monggo kepada tim juri kami persilahkan untuk mengevaluasi, kami tidak mengada-ada tapi apa adanya, harapan kami evaluasi ini bisa menjadikan motivasi bagi masyarakat Moyudan pada umumnya dan khususnya Padukuhan Saren untuk bisa mengelola lingkungan dengan baik,” tambah Harsowasono.

Eni Yuliyani yang juga Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sleman sebagai tim evaluasi mengungkapkan bahwa maksud kedatangannya selain silaturahmi juga meninjau secara langsung kegiatan masyarakat di Padukuhan Saren. 

Lebih lanjut Eni menuturkan bahwa dalam evaluasi ada 5 aspek yang dinilai yaitu pengelolaan sampah, pemanfaatan ruang terbuka hijau, peran serta masyarakat, sanitasi, dan konversi perlindungan sumber mata air. Dirinya juga menambahkan bahwa evaluasi ini dilakukan oleh beberapa unsur di antaranya, DLH, BAPPEDA, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, dan LSM.

“Kami melakukan evaluasi secara obyektif bukan rekayasa dan pesanan, walau kami cukup sulit untuk menentukannya, karena semua hampir sama,” tutur Eni. Selanjutnya ia pun berharap kepada masyarakat bukan hanya kejuaraan yang diharapkan tetapi keberlanjutan untuk mengelola lingkungan.(Giek/KIM Moyudan)