Gardu Bestari, Cara Bersih Lingkungan Kalurahan Jogotirto

Sleman – Dalam rangka mempersiapkan evaluasi proklim padukuhan Kranggan 2. Pemerintah Kalurahan Jogotirto melaksanakan kegiatan bersih lingkungan dengan program Gardu Bestari (Gerakan terpadu pemberantasan sarang nyamuk tampungan air dan saluran irigasi). Salah satunya yang dilakukan pada hari Jumat (7/6/2024) bertempat di kampung Pucung , Kranggan 2 , Jogotirto, Berbah, Sleman.

Menurut Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari bahwa gerakan bersih lingkungan Gardubestari merupakan kegiatan bersama melibatkan berbagai unsur pemerintah kapanewon Berbah, polsek berbah, koramil Berbah, puskesmas Berbah, FLH Berbah, pemerintah Kalurahan, pamong, linmas, kader kesehatan, dukuh Jogotirto, KWT, PKK , kelompok  pengelola sampah Setia pura, serta warga masyarakat padukuhan Kranggan 2.

“Program Gardubestari dilaksanakan dua bulan sekali dengan lokasi bergiliran. Program ini sudah dimulai sejak tahun 2019 namun terhenti ketika wabah pandemi COVID-19,” jelas Mitha

Untuk kegiatan Gardubestari kali ini berkaitan dengan persiapan evaluasi lomba proklim yang akan berlangsung tanggal 13 Juni 2024.

“Harapannya dengan kegiatan Gardubestari dan lomba evaluasi proklim memberi semangat kepada masyarakat untuk menjadikan lingkungan yg bersih dan sehat,” tambah Mitha.

Panewu Berbah Tri Akmeriyadi mengatakan bahwa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan itu harus dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan lomba evaluasi hanya sebagai pematik kepada masyarakat yang tujuannya kebersihan dan menjaga lingkungan menjadi budaya masyarakat.

“Menjaga lingkungan terutama mengelola sampah harus menjadi budaya masyarakat untuk menjadikan lingkungan yang bersih sehat nyaman ditempati,” pesan Tri.

Ketua Proklim Kranggan 2 Subagyo menyatakan kesiapan warga dalam menghadapi evaluasi proklim, karena menjaga kebersihan lingkungan pengelolaan sampah dan mitigasi bencana sudah menjadi keseharian warga.

“Dengan adanya evaluasi akan menambah warga melaksanakan proklim bagi lingkungan sendiri,” kata Bagyo. (Kusnadi/KIM Berbah)




BNN DIY Sosialisasikan P4GN untuk Warga Tempel

Sleman – Badan Narkotika Nasional Provinsi DIY melaksanakan Sosialisasi dan Rapat Koordinasi Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN dan PN) di Aula Rapat Kalurahan Sumberrejo Kapanewon Tempel, Jum’at (7/6/24).

Rapat Koordinasi ini ditujukan sebagai upaya Pemerintah Kapanewon Tempel dalam membangun sinergi antara Perangkat Pemerintah Kapanewon bersama unsur perwakilan lembaga keamanan yang ada di wilayah Tempel  untuk melaksanakan optimalisasi Inpres Nomor 2 Tahun 2020 Tentang RAN P4GN Tahun 2020-2024 dan Permendagri Nomor 12 Tahun 2019 Tentang P4GN.

Rapat tersebut dipimpin oleh Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel, Supardi, didampingi Lurah Sumberrejo, Anjar Purwanto, dan sebagai peserta rapat yakni perwakilan dari seluruh lembaga Jaga Warga yang terdiri dari 8 Kalurahan.

Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan ini adalah Penyidik dari BNNP DIY dan sebagai pemateri kedua adalah dari Polda DIY.

Dalam sambutannya, Kepala Jawatan Keamanan Tempel, Supardi menyampaikan untuk selalu membangun kesolidan Jaga Warga sebagai sebuah tim terpadu P4GN dan menjaga sinergisitas yang baik demi upaya bersama dalam memberantas dan menanggulangi permasalahan narkoba di Indonesia khususnya di Wilayah Kapanewon Tempel.

Sementara itu dalam paparannya, Penyidik BNNP DIY, Eko Didik Setyawan, menyampaikan penerapan upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dan Prekursor Narkotika (PN), adalah melalui sejumlah penelitian, dalam rangka penanggulangan tindak pidana narkoba.

Jenis penelitian dalam hal ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif (descriptive research) dan eksplanatoris (explanatory research) yang berfokus menerangkan dan memperkuat peran SatNarkoba Kepolisian setempat dalam pencegahan peredaran gelap Narkotika.

“Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Indonesia beberapa tahun ini menjadi masalah serius dan telah mencapai masalah keadaan yang memprihatinkan sehingga menjadi masalah nasional,” ujarnya.

Menurut Eko, korban penyalahgunaan narkoba telah meluas sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, jenis kelamin. Merambah tidak hanya perkotaan tetapi merambah sampai pedesaan dan melampaui batas negara yang akibatnya sangat merugikan perorangan, masyarakat, Negara, khususnya generasi muda. Bahkan dapat menimbulkan bahaya lebih besar lagi bagi kehidupan dan nilai nilai budaya bangsa yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional.

“Kondisi saat ini masih perlu dilakukan optimalisasi terkait edukasi dan informasi terhadap pemerintahan setempat sampai ke pemerintahan desa serta perlu pengoptimalan sistem pelaporan tentang penyalahgunaan narkoba di masyarakat dan perlindungan terhadap pelapor/masyarakat yang melaporkan penyalahgunaan narkoba serta perlu adanya pembinaan, pengawasan, serta fasilitasi terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba kepada masyarakat,” tuturnya.

Eko Didik juga menekankan bahwa kata kunci dalam kegiatan ini adalah optimalisasi kemampuan penyuluh di lapangan yang mana peran ini bisa dilakukan oleh lembaga Jaga Warga.

“Artinya, teman-teman Jaga Warga harus dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam rangka melakukan tugasnya yang sangat mulia, yaitu menyelamatkan generasi bangsa dengan berperan sebagai penyuluh narkoba di tengah masyarakat,” kata Eko Didik.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menyatukan pandangan bersama terkait pelaksanaan kebijakan pencegahan untuk mewujudkan Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar) serta mengembangkan program P4GN secara lebih efektif,” tutup Penyidik BNNP dari DIY ini.

Sebagai pemateri kedua, Kompol Ana Rochayati N.F, Ditbinmas Polda DIY, menyampaikan terkait tentang Analisa Permasalahan Dan Problem Solving.

Dalam pembahasan materi untuk jaga warga salah satu fokus utamanya adalah analisa permasalahan dan problem solving. Para peserta, yang terdiri dari kelompok jaga warga dari berbagai Kalurahan dan stakeholder Kalurahan terlibat dalam diskusi dan berbagi pengalaman serta pengetahuan terkait dengan analisa permasalahan di lingkungan mereka.

Dengan pendekatan problem solving, mereka mencoba mencari solusi yang tepat dan efektif untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat di lingkup Kapanewon Tempel secara umum dan Kalurahan masing-masing khususnya.(sbd_kimtempel)




Padukuhan Sedogan di Lumbungrejo Jalani Evaluasi Kampung Hijau

Sleman – Padukuhan Sedogan Kalurahan Lumbungrejo terpilih mewakili Kapanewon Tempel dalam Lomba Evaluasi Kampung Hijau tingkat Kabupaten Sleman tahun 2024. Proses lomba sendiri adalah dengan melakukan penilaian administrasi dan fisik di lapangan oleh tim evaluasi kabupaten yang terdiri dari personil-personil berbagai instansi dan Lembaga terdiri dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Bappeda, DLH Kabupaten Sleman pada Kamis (6/6/2024).

Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim menuturkan bahwa Evaluasi Kampung Hijau sebagai langkah awal untuk komitmen semua elemen masyarakat untuk menjaga dan peduli lingkungan sehingga keberlanjutan kegiatan dapat terus dilakukan.

“Manfaatkan lahan pekarangan rumah yang ada untuk kegiatan masyarakat dan mengelola sampah rumah tangga dengan prinsip 3 R sehingga Padukuhan Sedogan dapat menjadi contoh bagi padukuhan lainnya dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

Sebelumnya di bulan Februari, Padukuhan Sedogan pernah kedatangan tim juri untuk melakukan pembinaan sekaligus memberi arahan arahan sehubungan dengan lomba kampung hijau yang akan diikuti.

“Kriteria penilaian dan apa saja yang harus dipersiapkan untuk lomba kampung hijau,” tutur Misbah Al Hakim.

Eni Yuliani, Ketua Tim Evaluasi, yang juga merupakan Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman menyampaikan aspek atau indikator penilaian kampung hijau yaitu pengelolaan sampah, penghijauan dan pemanfaatan ruang publik (RTH), partisipasi masyarakat,  sanitasi dan kebersihan lingkungan, upaya konservasi sumber daya air.

“Penilaiannya sendiri meliputi Administrasi dan verifikasi Fisik (Lapangan),” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Kampung Hijau oleh Dukuh Sedogan, Aisyah Putri Wulansari, yang  memaparkan kegiatan kegiatan pendukung, baik mengenai visi misi padukuhan, sarana fisik yang sudah terbangun, kelembagaan, kondisi ekonomi, pemanfaatan lahan sampai dengan kawasan tanaman pangan.

Setelah mendengar paparan, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi yang dibagi menjadi 2 tim yaitu tim evaluasi administrasi dan tim verifikasi Lapangan.

Kurang lebih 1 jam tim verifikasi lapangan melihat aspek penilaian fisik di lapangan, dari pemanfaatan ruang terbuka hijau, lahan rumah warga yang penuh dengan tanaman sayur, toga dan tanaman hias. Tim juri juga melihat pemanfaatan lahan untuk budidaya tanaman per RT, gerakan hemat air, pengelolaan sampah organik dengan komposter skala rumah tangga.

“Kami dari tim penilai Kabupaten Sleman salut dengan kekompakan dan kegotongroyongan warga Padukuhan Sedogan dalam menata lingkungan dan administrasinya, guyup rukun warganya tetap terjaga dengan sangat baik dan antusias setiap kegiatan yang ada,” ungkap Mustika Dewi, yang mewakili tim evaluasi.

Diakhir acara Plh Penewu Tempel, Bara Hernowo berharap semoga Padukuhan Sedogan dapat meraih hasil terbaik dalam evaluasi Kampung Hijau ini,

“Warga Padukuhan Sedogan rata rata sudah sadar pentingnya penanaman tanaman hias, tanaman perindang, tanaman sayur maupun tanaman obat yang dapat membantu dan melindungi ekosistem lingkungan. Sebagian besar warga Padukuhan Sedogan sudah sadar bahwa adanya Ruang Publik yang bersih dan nyaman akan mencapai kehidupan yang sehat besok jasmani maupun rohani,” tutur Bara.

Diakhir sambutannya, Bara Hernowo menekankan keberlanjutan program kampung hijau yang  tidak sebatas pada lomba, tapi pengelolaan lingkungan dengan banyak aspek tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga mempunyai nilai lebih bagi masyarakat. (sbd_kimtempel)