Iduladha 1445 H, Padukuhan Sedogan Kurban 7 ekor Sapi

Sleman – Penyembelihan hewan kurban  di Padukuhan Sedogan Kalurahan Lumbungrejo Kapanewon Tempel, dilaksanakan pada Senin (17/6/2024). Penyembelihan 7 ( tujuh) ekor sapi dan 6 ( enam) ekor kambing ini sebagai bentuk ibadah kurban yang dilaksanakan oleh masyarakat Padukuhan Sedogan pada rangkaian perayaan Iduladha 1445 Hijriah / 2024 Masehi tahun ini. Pelaksanaan Kurban ini secara suka cita diikuti oleh sebagian besar warga Sedogan sebagai bentuk kesyukuran  atas ni’mat yang didapatkan.

Penyembelihan hewan Kurban ini merupakan rutinitas tahunan yang dilakukan setiap perayaan Iduladha.

Proses penyembelihan dilaksanakan pagi pukul WIB dan dilakukan di halaman mantan Dukuh Sedogan Suparjo dilaksanakan oleh panitia Kurban yang terdiri dari pengurus LPMkal Padukuhan Sedogan, perangkat RT RW, PPK, karangtaruna, dibantu oleh warga.

Sementara ini untuk pendistribusian daging-daging Kurban dibagikan kepada seluruh warga masyarakat Padukuhan Sedogan yang tinggal tetap atau pun yang berdomisili di wilayah Sedogan .

Dukuh Sedogan, Aisyah Putri Wulansari mengungkapkan terima kasihnya kepada seluruh keluarga besar warga Sedogan yang telah berpartisipasi aktif dalam melangsungkan tradisi Kurban.

“Alhamdulillah tahun ini kembali kita melakukan penyembelihan hewan Kurban sebanyak 7 ekor sapi dan 6 ekor kambing, yang berarti ada peningkatan jumlah dibandingkan tahun sebelumnya hal ini sudah menjadi tradisi kita dari tahun ketahun dan semoga tetap bisa terjaga hingga diwaktu-waktu yang akan datang,” ungkapnya

Senada dengan Aisyag, Sutardi Ketua LPMkal Padukuhan Sedogan yang sekaligus Ketua BPKAL Kalurahan Lumbungrejo menuturkan bahwa Padukuhan Sedogan mampu mengadakan 7 ekor lembu.

“Namun hakikatnya bukan jumlah dagingnya tetapi  bagaimana kita memberikan pelajaran yang berharga bagi warga kami dalam mengambil hikmah dari histori idul Kurban,” ujar Sutardi.

“Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban, setiap tanggal 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu  11, 12, dan 13 Dzulhijjah,” tambahnya.

Daging Kurban yang sudah ditimbang dan dibungkus, didistribusikan kepada seluruh masyarakat Sedogan sejumlah 215 KK masing masing mendapatkan 3,2 kilogram dan ada yang diperbantukan ke Lumbung Zakat Tempel serta didistribusikan juga ke Panti Asuhan Baitul Qowwam Mororejo,Hingga acara selesai, Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar tanpa kendala apapun. (sbd_kimtempel)




Menjiwai Kurban Mewarisi Pengorbanan Nabi Ibrahim

Sleman – Kalurahan Jogotirto menggelar Salat Iduladha di Halaman Balai Kalurahan Jogotirto pada Senin (17/6/2024). Bertindak sebagai Imam dan khotib, Sugeng ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kalitirto, Berbah.

Disampaikan oleh Ustaz Sugeng bahwa Iduladha juga disebut hari Raya Idul Kurban sebagai pewarisan ibadah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam mengemban amanah menyebar agama tauhid.

Dikisahkan bagaimana kokohnya kepatuhan Nabi Ibrahim beserta keluarga nya atas perintah Allah.

Nabi Ibrahim yang sampai usia senja belum memiliki keturunan. Yang menurut nabi Ibrahim bahwa keturunan bukanlah untuk mewarisi harta atau jabatan namun adanya keturunan sebagai penerus dan pewaris keimanan menyebarkan agama tauhid.

“Sampai akhirnya Allah memberi keturunan lewat istri kedua Siti Hajar,” ungkap Ustaz Sugeng.

Namun ketaqwaan Nabi Ibrahim teruji lagi ketika ada perintah untuk membawa Siti Hajar yang baru hamil ditinggalkan di daerah yang tandus padang pasir ditengah gurun yang saat ini disebut Makkah. Sampai lahirnya Ismail putra nabi Ibrahim dari Siti Hajar. Kisah lahirnya nabi Ismail  disematkan pada rukun haji dan umroh saat Siti Hajar mencari air untuk putranya Ismail, Situ Hajar berlari dari Bukit Sofa dan Marwah disebut Sai. Kisah yang dikaitkan dengan munculnya mata air Zam zam di bekas kakinya Ismail kecil.

“Zam-zam sendiri berarti kumpul, yaitu mengumpulkan air, dan nantinya bermakna mengumpulnya manusia diseluruh dunia menjalankan ibadah haji dan umroh” Jelas Ustaz Sugeng.

Sekian tahun berlalu atas perintah Allah nabi Ibrahim mengunjungi tempat dimana saat itu meninggalkan Siti Hajar yang baru hamil. Bahagia dan haru saat bertemu dengan istri anaknya sehat dan lingkungan menjadi pemukiman yang ramai.

Namun ditengah kebahagiaan bertemu anak ujian datang lagi dengan perintah untuk menyembelih Ismail kecil.

“Namun dengan ketaatan  Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail kecil perintah penyembelihan itupun diterima dengan iklas. Meski akhirnya yang sembelih bukan Ismail kecil namun oleh Allah diganti seekor kambing jantan yang gagah, yang akhirnya menjadi perintah ibadah kurban bagi umat Islam,” pungkas Ustaz Sugeng. (Kusnadi/KIM Berbah)




Membumikan Keteladanan Keluarga Ibrahim Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sumbersari – Shalat Iduladha yang di gelar di Lapangan Sumbersari pada hari Senin (17/6/2024) menghadirkan khatib Anton Rahmat Widodo Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah ( PRM) Sombangan Raya. Shalat Id diikuti oleh ribuan umat Islam dari Wilayah Sumbersari dan sekitarnya.

“Pagi ini, seluruh angkasa raya bergetar, karena umat Islam dan makhluk-makhluk di jagat raya serentak mengumandangkan tasbih, tahmid, tahlil dan Takbir,” ungkap Anton Rahmat Widodo mangawali khotbahnya.

Lebih lanjut Anton menjelaskan bahwa dengan mengucap tasbih maka kita mensucikan segala kesalahan, kekurangan dan ketidak pantasan.  Dengan mengucap tahmid segala yang kita miliki adalah anugerah Allah. Dengan mengucap tahlil maka kita telah menyerahkan segala penghambaan dan kebaktian kita kepada Allah. Dan dengan mengumandangkan Takbir maka manusia menyadari bahwa segala keagungan dan kebesaran hanyalah milik Allah.

“Hari Raya Iduladha juga disebut Hari Raya BerkurbanBerkurban, sebagaimana yang diajarkan oleh Abul Ambiya’, dan juga disebut Hari Raya Idul Haji, karena saudara kita yang diberi kemampuan dan kelapangan dapat menunaikan Ibadah Haji,” tambahnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa Hari Raya Iduladha dapat dipetik pelajaran keteladanan dari Kisah Nabi Ibrahim. Ada 3 hal yang patut kita teladani yaitu Keimanan dan ketaqwaan, Pengorbanan, dan Kebijaksanaan. ” Marilah kita teladani Kehidupan Keluarga Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita sehari-hari,” ajak Anton. (Giek/KIM Moyudan)




Pemerintah Kalurahan Sumbersari Gelar Penyuluhan Penyembelihan Kurban

Sumbersari – Dalam rangka menghadapi Hari Raya Idul Kurban tahun 1445 H Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman menggelar Penyuluhan Penyembelihan hewan Kurban. Acara tersebut dilaksankan pada Jum’at malam (14/6/2024) bertempat di Pendopo Kalurahan setempat.

Dalam penyuluhan tersebut menghadirkan trainer dari Juleha (Juru Sembelih Halal) Yogyakarta. Sedangkan pesertanya adalah perwakilan panitia penyelenggara Kurban seluruh masjid  dan Rois dari wilayah Sumbersari.

Lurah Sumbersari, Sukadi dalam sambutnnya menyampaikan bahwa maksud dan tujuan diselengarakannya kegiatan tersebut adalah untuk memberikan pembinaan kepada penyelenggara Kurban agar bisa melaksanakan sesuai dengan fiqih.

“Silakan kepada penyelenggara Kurban untuk mengikuti dengan seksama, agar kita semua mendapatkan tambahan ilmu yang sesuai dengan syariat Islam dalam penyelenggaraan Kurban nanti,” tutur Sukadi.

Sedangkan Nur Salim Ketua Forum Rois Kapanewon Moyudan menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Kalurahan Sumbersari yang sudah memberikan fasiltas pada acara tersebut. Lebih Lanjut Nur Salim juga berharap kegitan tersebut juga dijadikan sarana thalabul  ‘ilmi atau mencari ilmu.

“Kita sebagai penyelenggara Kurban dari tahun ke tahun, perlu mendalami tata cara pelaksanaan yang baik dan benar,”imbuhnya.

Materi penyuluhan dipaparkan oleh Syarifudin Luqman dari Juleha Yogyakarta. Dalam pemaparannya, Syarifudin mengupas tentang Fiqih Kurban, pengertian dan hukum Kurban. Selain Itu dirinya juga membeberkan tentang 4 hal syariat yang harus dipenuhi yaitu, jenis ternak, umur ternak, kesehatan ternak dan waktu penyembelihan. Ia juga menjelaskan beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam Kurban dan tata cara penyembelihan hewan Kurban. (Giek/KIM Moyudan)




Gapoktan Banyuraden Timba Ilmu Perikanan di Kampung Mina Padi Samberembe

Dalam rangka memberikan wawasan pengetahuan dan keterampilan baru kepada petani untuk mendiversifikasi usaha taninya, sehingga lebih tahan terhadap fluktuasi harga dan kondisi pasar, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menyelenggarakan kegiatan pelatihan budidaya ikan air tawar di area sawah tanaman padi, Jumat (14/6/2024).

Kegiatan diikuti oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan) Banyuraden, kelompok pembudidaya ikan, dan perkumpulan petani pemakai air Kalurahan Banyuraden yang didampingi Lurah Banyuraden, Sudarisman, dan Ulu-Ulu Banyuraden, Sulung Pramono serta Dukuh demi menimba ilmu di Kampung Mina Padi Dusun Samberembe, Kalurahan Candibinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman.

Hadir ikut menemui rombongan dari Pemerintah Kalurahan Banyuraden antara lain Panewu Pakem, Dewanto Tri Nugroho yang menuturkan budidaya sistem mina padi merupakan budidaya pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan air tawar dengan tanaman padi di sawah demi meningkatkan produktivitas lahan secara maksimal sehingga petani bisa mendapatkan dua hasil panen dari satu lahan.

“Kami mengapresiasi upaya Pemerintah Kalurahan Banyuraden atas kegiatan ini. Dengan memadukan budidaya ikan dengan tanaman padi, maka petani dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan dari hasil panen ikan air tawar tanpa mengurangi hasil panen padinya,” tuturnya.

Sistem budidaya inilah yang membuat tertarik Sulung Pramono selaku Ulu-Ulu Banyuraden untuk mengajak pelatihan di Kampung Mina Padi Samberembe dengan harapan para peserta nantinya mendapat tambahan finansial ekonomi keluarga dari hasil panen padi dan panen ikan.

Dalam paparan materinya, Frans Hero Meking selaku Pengurus Kampung Mina Padi Samberembe bidang perikanan mengatakan ada banyak manfaat yang didapat dengan melakukan budidaya ikan dan padi secara bersamaan diantaranya pengelolaan air menjadi lebih baik karena sistem mina padi mengajarkan teknik pengelolaan air yang efisien yang bermanfaat bagi tanaman padi dan ikan, serta faeces atau kotoran ikan yang tertinggal di sawah dapat berfungsi sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.

Melalui sistem budidaya mina padi secara tidak langsung petani telah melakukan pengendalian hama tanaman padi secara alami karena ikan yang dipelihara di sawah dapat membantu mengendalikan populasi hama, seperti wereng dan serangga lainnya sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida yang bersifat kimiawi.

“Selain budidaya ikan air tawar, Kelompok Mina Padi Samberembe juga memiliki beberapa produk ikan olahan yang ditawarkan kepada masyarakat antara lain keripik krispi lele dan keripik krispi nila gurih dan pedas, serta produk minuman gula jawa jahe dan produk cinderamata seperti kaos oblong kampung mina padi yang bertuliskan petani penolong negara,” pungkas Frans mengakhiri presentasinya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)