Sleman – Bertempat di Joglo Jamblangan Margomulyo, hari Rabu (12/6/2024), DPRD DIY menggandeng Kesbangpol DIY mengadakan kegiatan Sinau Bhineka Tunggal Ika dengan mengundang peserta dari 5 Kalurahan yang ada di wilayah Kapanewon Seyegan.
Winarni dari Kesbangpol DIY yang menyampaikan bahwa Sinau Bhineka Tunggal Ika ini merupakan kegiatan rutin sejak tahun 2023. Winarni berharap dengan kegiatan yang dilaksanakan tersebut bisa memupuk rasa persatuan ditengah kebhinekaan di Indonesia yang mempunyai ribuan bahasa daerah dan pulau.
Farkhan Luthfi dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menjadi pembicara pertama dan menyampaikan tentang perbedaan yang dimaknai sebagai anugrah, kekuatan, kemenangan atau bahkan keniscayaan.
“Kita tidak perlu lagi mempermasalahkan tentang perbedaan karena Bhineka Tunggal Ika sudah mengikat kita dari manusia manusia berbeda,” jelas Farkhan
Juga disampaikan hasil survey terbaru setara Institute for Democracy and Peace tahun 2023, yang menyatakan bahwa jumlah pelajar intoleran aktif di SLTA dan sederajat di 5 kota Indonesia meningkat. Lebih dari 56 % setuju penerapan syariat Islam.
“Temuan mengejutkan lainnya adalah 83,3 % menilai Pancasila bukan ideologi negara yang bersifat permanen dan dapat diganti,” ungkap Farkhan.
Farkhan juga menyoroti tentang potensi konflik di Indonesia yaitu konflik antar umat beragama, konflik suku dan intoleransi serta ajaran kebencian.
“Untuk itulah perlu kiranya mempunyai perilaku toleransi utama yaitu perilaku toleransi dalam beragama, keragaman suku dan ras serta keragaman sosial budaya,” tukas Farkhan
Dibagian akhir, Farkhan memberikan gambaran tentang konsep integrasi/persatuan, kunci menjaga toleransi dan peningkatan polarisasi.
Edy Purwaka, dari Yayasan Satunama Yogyakarta memberikan materi berkaitan dengan membangun harmoni dan toleransi. Diawal paparannya, Edy menyampaikan tentang realitas kemajemukan di Indonesia, asal usulnya dan prasangka sebagai tantangan dalam masyarakat majemuk.
Secara rinci, Edy mengupas tentang proses pembentukan prasangka termasuk sumber prasangka, sulitnya mengubah prasangka didalam masyarakat, tantangan menghadapi prasangka dan pro eksistensi dan sikap kritis.
Diakhir paparannya, Edy menyampaikan langkah langkah sikap kritis dalam menyikapi informasi, pentingnya imajinasi tentang orang lain sebagaimana dengan diri sendiri dan manfaat sikap pro eksistensi dan sikap kritis.
Damar Dwi Nugroho, dari Yayasan Satunama Yogyakarta sebagai pembicara terakhir menyampaikan materi berkenaan dengan semangat kebhinekaan.
“Hal tersebut berpijak pada sumber konflik yang bersumber pada orientasi nilai nilai budaya, pranata pranata primordial dan ikatan kekerabatan. Tidak bisa dipisahkan juga timbulnya konflik karena informasi, ekonomi, wawasan dan sumber daya manusia,” ungkap Damar.
Damar menyoroti tentang teknologi informasi dan hoaks, yang selaras dengan perkembangan UU ITE yang disusul dengan perubahan UU ITE tahun 2024.
Diakhir paparannya, Damar mengajak peserta untuk membekali diri dalam rangka kewaspadaan dan kemampuan merespon kritis terhadap sebuah informasi yang merupakan penentu agar tidak terjebak dalam rantai lingkaran perilaku hoaks.
Diakhir kegiatan, anggota DPRD Propinsi DIY, Sukron Arif Mutaqin, menyampaikan terima kasihnya kepada peserta dan titip pesan untuk lebih bijak dalam berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi baik melalui internet, HP, koran, majalah dan lain sebagainya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)