DWP Sleman Diharapkan Terus Dukung Program Pemerintah Daerah

Sleman – Ketua dan pengurus antar waktu Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sleman masa jabatan 2019-2024 dikukuhkan di Aula Bappeda Kabupaten Sleman, Jumat (12/07/2024). Pengukuhan dilakukan oleh Ketua DWP DIY, Sri Rahayu Widiastuti Dewo Isnu Broto.

Hadir pada kesempatan itu, Sekda Kabupaten Sleman, Susmiarto, selaku Dewan Penasehat DWP Kabupaten Sleman, yang dalam sambutannya berharap seluruh anggota DWP Kabupaten Sleman dapat berperan aktif, serta memberikan sumbangsih dalam melaksanakan program-programnya.

“Tadi kan ada panca Dharma Wanita. Satu, wanita sebagai istri pendamping suami. Dua, wanita sebagai ibu rumah tangga. Tiga, wanita sebagai penerus keturunan dan pendidik anak. Empat, wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Lima, wanita sebagai warga negara dan anggota masyarakat,” kata Susmiarto.

“Paling gak menjadi warga negara dan anggota masyarakat. Jadi satu contoh di rumahnya, di keluarganya, mendukung program-program pemerintah. Sehingga nanti mungkin banyak bersinergi dengan program pemerintah,” sambungnya.

Dharma Wanita Persatuan, lanjut Susmiarto, juga diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi antar istri ASN untuk mempererat persaudaraan.

Sementara, Ketua DWP Kabupaten Sleman periode 2019-2024, Maya Mariana Susmiarto, mengatakan menjadi organisasi istri ASN Kabupaten Sleman, Dharma Wanita Persatuan memiliki misi yang tidak hanya fokus pada internal organisasi, tapi juga eksternal.

“Misi Dharma Wanita, mengembangkan sumber daya manusia yang berkompeten. Mensejahterakan anggota keluarga dan masyarakat melalui bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya secara demokratis, serta meningkatkan kerjasama berbagai pihak dalam pelaksanaan program Dharma Wanita,” tuturnya.

Selain itu, Dharma Wanita sebagai mitra strategis pemerintah  juga akan selalu memberikan pandangan-pandangannya terhadap pembangunan Kabupaten Sleman. Untuk itu, Maya menuturkan bahwa pihaknya mendorong pengurus DWP untuk bisa bersaing secara terbuka sehingga mampu berkiprah secara aktif.

“Dengan demikian tujuan kita mengembangkan DWP menjadi organisasi istri ASN yang profesional dan untuk mempererat peran serta perempuan dalam pembangunan bangsa akan lebih terwujud,” imbuhnya.




Ogoh-Ogoh Macan Kademangan Meriahkan Suran Mbah Demang

Keikutsertaan Ogoh-Ogoh Macan Kademangan dari dusun Dukuh dalam memeriahkan Kirab Suran Mbah Demang Cokrodikromo yang berlangsung di depan Rumah Tabon Ki Demang Cokrodikromo di dusun Modinan, Gamping, Sleman, Sabtu malam (13/7/2024) memiliki filosofi yang dalam dan bermakna. Ogoh-Ogoh yang merupakan simbol dari roh jahat atau energi negatif yang ada dalam masyarakat, melalui prosesi Kirab Suran tersebut diarak dan kemudian dibakar sebagai simbol pembersihan dari hal-hal negatif dan upaya untuk mengusir roh jahat dari lingkungan sekitar.

Macan Kademangan dalam budaya Jawa sering kali melambangkan kekuatan, keberanian, dan perlindungan. Dalam konteks Kirab Suran yang diselenggarakan setiap bulan Sura, kehadiran Ogoh-Ogoh Macan Kademangan mengandung makna bahwa masyarakat berusaha untuk mengendalikan dan mengusir energi negatif dengan keberanian dan kekuatan, serta melindungi wilayah Banyuraden dari hal-hal yang tidak diinginkan demi mendapatkan berkah dan keselamatan di tahun mendatang. Hal ini dituturkan oleh Titus Wijanarko selaku perwakilan dari Trah Ki Demang Cokrodikromo di sela-sela prosesi serah terima benda-benda pusaka peninggalan dari Mbah Demang.

Lebih lanjut, Ia berharap agar tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena dengan melestarikan tradisi Suran Mbah Demang maka nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan kepada generasi muda, sehingga mereka memahami dan menghargai warisan leluhur.

“Yang tidak kalah penting, kegiatan kirab Suran Mbah Demang dapat menjadi sarana tontonan yang menarik untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di antara warga Kalurahan Banyuraden,” imbuh Titus.

Dari sisi pariwisata, pelaksanaan Kirab Suran Mbah Demang diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan dari lokal maupun mancanegara. Sehingga, kegiatan ini tidak hanya menjadi acara budaya, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah dari masyarakat setempat. Adanya peningkatan kunjungan wisatawan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan warga, dan mempromosikan Kalurahan Banyuraden sebagai destinasi wisata budaya yang menarik.

Usai menunjukkan atraksinya di depan pengunjung, Ogoh-Ogoh Macan Kademangan diberi minum air sumur tiban peninggalan Mbah Demang yang dianggap suci dan mengandung berkah dari leluhur. Tindakan meminum air dari sumur tersebut oleh Ogoh-Ogoh Macan Kademangan melambangkan upaya untuk menyucikan diri dan membuang energi negatif, mengundang keberkahan dan perlindungan bagi masyarakat, serta penghormatan kepada leluhur dan terhubung dengan kekuatan spiritual memperoleh kekuatan demi melindungi wilayah kalurahan Banyuraden dari segala mara bahaya.

“Semoga prosesi Kirab Suran Mbah Demang tidak hanya menjadi tradisi adat yang rutin saja, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi dan pembaruan diri bagi seluruh Masyarakat,” tutup Titus. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Tiga Minggu Bertugas, Pantarlih Sumberarum Berhasil Data 5.635 Pemilih

Moyudan – Petugas Pemutakhiran Data Pemilih ( Pantarlih) telah memasuki minggu ke tiga dalam menjalankan tugasnya. Sesuai dengan ketentuanya, bahwa Pantarlih harus melaporkan hasil Pencocokan dan Penelitian (Coklit) baik manual maupun e-coklit kepada Panitia Pemungutan Suara (PPS) sepekan sekali.

Oleh karena itu, PPS Sumberarum, Kapanewon Moyudan Kabupaten Sleman mengundang Pantarlih untuk melaporkan hasil kerjanya. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Minggu (14/7/2024) mulai pukul WIB di Aula Kalurahan setempat.

Triyantomo Purnomo Ketua PPS Sumberarum mengungkapkan bahwa di Kalurahannya, berdasarkan A-DP jumlah pemilihnya ada pemilih, yang nantinya terbagi menjadi 15 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menerjunkan 20 Pantarlih.

Lebih lanjut Triyantomo menuturkan bahwa berdasarkan hasil laporan sampai pekan ke 3 mencapai 80℅, walau sebenarnya sebagian besar Pantarlih sudah menyelesaikan coklit , tetapi belum disinkronkan ke e-coklit.

“Memang banyak kendala dalam e coklit selain masalah perangkat elektronik yang dimiliki Pantarlih, juga masalah jaringan internet yang kadang baru bisa digunakan tengah malam,” tuturnya.

Sedangkan Sriyono dari Divisi Hukum PPK Moyudan yang turut hadir untuk melakukan monitoring memohon kepada Pantarlih untuk psndai-pandai memanfaatkan waktunya, sehingga nanti bisa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.

“Kami mohon kepada Pantarlih jangan menunggu akhir waktu paling tidak di pekan ke 3 sudah selesai, sehingga pekan terakhir untuk perbaikan dan cadangan waktu kalau mungkin ada pemilih baru,” kata Sriyono. (Giek/KIM Moyudan)




Tingkatkan Indeks Kebugaran Masyarakat, Kormi Gelar Lomba Senam

Sleman – KORMI adalah mitra Pemerintah dalam upaya meningkatkan indeks kebugaran masyarakat dengan membudayakan olahraga.

Dalam upaya  mengimplementasikan perannya, KORMI Kabupaten Sleman menyelenggarakan Senam massal KORMI Kabupaten Sleman Tahun 2024 serta lomba senam kreasi yang diiringi lagu Jawa.

“Kegiatan diikuti oleh Komunitas atau sanggar Senam dari 17 Korwil KORMI Kapanewon, Perwakilan 11 Anggota Penuh KORMI Kabupaten Sleman, Forum Komunikasi UMKM Kabupaten Sleman serta Warga Masyarakat Kabupaten Sleman,” ujar Frans Hero Making, Ketua Pelaksana kegiatan di Lapangan Palagan, Rejodani, Ngetiran, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.

Frans juga menyampaikan bahwa kegiatan dibiayai dari KORMI Kabupaten Sleman yang berasal dari Dana Hibah APBD Sleman Tahun 2024.

Sementara itu Ketua KORMI Suparman APP menyampaikan bahwa mewujudkan sebuah Masyarakat yang sehat dan memiliki Tingkat kebugaran yang maksimal tentunya melalui proses yang panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan. Perlu adanya kolaborasi antar lembaga, baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta serta seluruh elemen masyarakat Kabupaten Sleman.

“Oleh karena itu Mohon dukungan, petunjuk, dan arahan dari bupati sleman juga stakeholder terkait lainnya, agar KORMI Kabupaten dan juga KORMI Kapanewon Sleman dapat berjalan sesuai dengan harapan dan tujuan kita semua, agar supaya Indeks kebugaran Masyarakat kabupaten sleman dapat meningkat,” ujarnya.

Lomba dengan tema bersama KORMI kita wujudkan masyarakat Sleman yang sehat itu juga dihadiri oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dan Wakil Bupati Bapak Danang Maharsa.

Pada kesempatan tersebut, Kustini menyampaikan terima kasih kepada KORMI Sleman yang telah meningkatkan kebugaran sekaligus  mengangkat UMKM.

Ia berharap KORMI bukan hanya mengembangkan senam kreasi tapi juga mengembangkan semua jenis olah raga di kabupaten Sleman.

“Mari kita bersama dengan seluruh masyarakat berusaha untuk mengcover potensi seni budaya dan olahraga di masyarakat. Sebagai Bupati saya akan mendukung semua kegiatan KORMI,” ujar Kustini.

“Mari sesarengan mbangun Sleman. Kita tidak bisa berdiri sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Bersama kita bisa untuk membangun kesehatan dan ekonomi masyarakat Kabupaten Sleman,” tandasnya.

Sementara itu, Danang Maharsa menyampaikan terimakasih kepada semua pihak atas dukungannya, juga menyampaikan bahwa tingginya partisipasi masyarakat membuktikan bahwa senam merupakan olah raga favorit masyarakat.

“Senam adalah ruang sarana berekspresi dan menyehatkan jiwa dan raga. Semoga kegiatan ini  bisa meningkatkan kesehatan dan perekonomian,” tandasnya. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Upacara Suran Mbah Demang Peringati Perjuangan Kesejahteraan Masyarakat Modinan

Sleman – Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada leluhurnya, khususnya Mbah Demang Cokrodikromo yang dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah dan budaya Banyuraden karena telah melakukan perjuangan dalam usaha mensejahterakan masyarakat dusun Modinan, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menggelar Upacara Adat Suran Mbah Demang.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu malam (13/7/2024) di Rumah Tabon Demang Cokrodikromo, dusun Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping tersebut dikategorikan upacara adat dan tradisi telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada tahun 2016 sering kali disertai dengan berbagai hiburan dan kegiatan seni untuk memperkaya budaya lokal dan memberikan hiburan bagi masyarakat.

Prosesi upacara adat diawali dengan pembagian Kendhi Ijo yang merupakan hidangan nasi beserta lauk pauk berupa aneka sayur mayur dan gudhangan bumbu tumbuk dibungkus dengan daun pisang yang berwarna hijau, dilanjutkan pembacaan tahlil di makam Mbah Demang. Kemudian di malam harinya dilakukan kirab pusaka, kitab, serta Gunungan Hasil Bumi dan Sayuran yang dikawal oleh Bregada Ranu Wira Patuk, Bregada Pesanggrahan, Bregada Wira Ndaga Kaliabu, Bregada Pamong Kalurahan Banyuraden, Bregada Trah Pati, Bregada Rukun Krida Muda Guyangan, Bregada Banyu Sembada Banyumeneng, Bregada Turangga Sumber Arum, Bregada Wira Reja Biru, serta dimeriahkan dengan penampilan berbagai ragam kesenian seperti Ogoh-Ogoh dan Hadroh.

“Keteladanan Ki Demang Cokrodikromo menjadi suri teladan dalam hidup bermasyarakat karena banyak perbuatan baik yang dilakukan bagi masyarakat, serta memiliki sifat belas kasih kepada siapa saja. Melalui upacara adat ini saya berharap seluruh warga masyarakat dan pamong dapat menyatu demi mendukung pembangunan di Banyuraden,” tutur Hj. Kustini dihadapan peserta kirab.

Pemberangkatan peserta kirab dilakukan oleh Bupati Sleman, Hj. Kustini Sri Purnomo bersama Lurah Banyuraden, Sudarisman usai melepas sepasang burung merpati putih dan menyebarkan ‘Udik-Udik’ berupa beras kuning dan uang logam yang dapat diperebutkan masyarakat sebagai tanda bahwa Demang Cokrodikromo suka memberi sedekah kepada orang lain dan setiap pemberiannya dipercaya dapat menjadi berkah bagi yang menerima bahkan dipercaya sebagai jimat tolak balak.

Turut hadir dalam kirab antara lain Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid, Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, Wadanramil 17 Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, Perwakilan Kepolisian Sektor Gamping, serta Lurah Banyuraden, Sudarisman yang didampingi seluruh Pamong Kalurahan Banyuraden.

Lebih lanjut, Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping menyatakan pihaknya mengapresiasi terhadap pelaksanaan upacara adat tahunan ini guna melestarikan tradisi dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, serta mengajarkan kepada generasi muda mengenai nilai-nilai budaya, sejarah, dan tradisi lokal yang sangat berharga.

“Suran Mbah Demang ini juga menjadi sarana untuk menjaga identitas budaya lokal menjadi semakin kuat karena melibatkan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kebersamaan dan rasa memiliki di tengah arus modernisasi yang semakin kuat,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)