Wujudkan Pilkada Damai dan Kondusif, Bawaslu Sleman Gandeng Stakeholder

Sleman – Sebagai upaya memperluas jaringan pengawasan partisipatif dan memberikan dukungan untuk mengawal pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sleman 2024 mendatang, supaya berjalan aman, damai, dan kondusif, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sleman menggandeng stakeholder dari TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten hingga organisasi masyarakat Sleman Sembada.

Ketua Bawaslu Sleman Arjuna Al Ichsan Siregar mengungkapkan, berkaca dari potensi kerawanan pemilu 2024, dan disandingkan dengan dinamika yang terjadi saat pemilu maka ada beberapa catatan potensi kerawanan di Pilkada Kabupaten Sleman mendatang.

Apalagi, menurut Arjuna, saat ini ada beberapa bakal calon yang sudah muncul deklarasi ke publik.

“Semuanya adalah tokoh terbaik yang memiliki relawan dan memiliki basis (massa) kuat. Karena itu dinamika politiknya harus dikelola dengan baik, bagaimana tetap mengedepankan keadilan pemilu bagi seluruh kontestan yang akan bertarung,” kata Arjuna, Kamis (25/7/2024).

Rakor stakeholder ini, kata Arjuna, diharapkan dapat berjalan rutin sesuai tahapan Pilkada. Hal ini dilatarbelakangi dengan dinamika politik di Bumi Sembada yang berkembang sangat dinamis.

Bawaslu menilai dukungan dari pelbagai pihak ini sangat penting untuk bersama-sama turut serta mengawal pelaksanaan tahapan pesta demokrasi di Bumi Sembada.

“Ke depan kami harapkan Pilkada Sleman berjalan lancar, aman kondusif luber dan jurdil,” kata Arjuna.

Arjuna menjelaskan, bahwa saat ini, tahapan Pilkada Sleman terus berjalan. Setelah tahapan pencocokan dan penelitian (coklit) daftar pemilih menjadi daftar pemilih sementara, bulan berikutnya akan memasuki tahapan yang paling dinantikan. Yaitu, pendaftaran pasangan bakal calon dari gabungan partai politik (parpol).

Lebih lanjut, Arjuna mengatakan bahwa pendaftaran ini mulai dibuka tanggal 27 Agustus 2024.

“Kita akan melihat bagaimana dinamika yang terjadi di tahapan pencalonan di 27 Agustus. Mudah-mudahan seluruh calon yang nanti didaftarkan parpol adalah calon yang benar-benar memiliki visi dan misi untuk pembangunan Sleman yang lebih baik,” ujarnya, menjelaskan. (Athiful/KIM Depok)




Minimalisir Risiko Bencana, Bupati Sleman Kukuhkan Pengurus KSB

Sleman – Bertempat di Lapangan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, sebanyak 50 pengurus Kampung Siaga Bencana (KSB) Amarta Siaga dikukuhkan Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, Kamis (25/7).

Pengukuhan pengurus KSB ini, menurut Kustini, dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk penyebaran edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat dan meminimalkan risiko bencana di Sleman.

Kustini juga mengungkapkan, bahwa pengukuhan pengurus KSB ini menjadi langkah penting untuk meminimalisir risiko bencana.

Menurutnya, tindakan ini menjadi aksi strategis dalam memantapkan kesadaran masyarakat untuk saling peduli terhadap sesama.

“Kami sudah lihat dari pelaksanaan simulasi mitigasi bencana tadi sudah bagus, sudah begitu siap, apabila nanti ada bencana di kalurahan ini. Terlihat bagaimana masyarakat dapat siap siaga untuk penanggulangan bencananya,” katanya, dalam sambutan.

Tak hanya itu, Kustini berpandangan jika edukasi masyarakat perihal mitigasi bencana sangat diperlukan. Apalagi mengingat Kabupaten Sleman yang disebut Kustini sebagai area dengan berbagai potensi bencana, seperti longsor, Gunung Merapi, gempa, angin puting beliung, dan banjir.

“Masyarakat harus lebih siap dalam mitigasi bencana untuk mengurangi risiko lebih besar yang bisa terjadi kapan saja,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial, Mustadi menjelaskan pengukuhan pengurus KSB dilaksanakan sebagai upaya perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. Rangkaian pengukuhan pengurus KSB mulai dari pemberian materi, praktek pada setiap devisi, dan simulasi.

“Kampung Siaga Bencana Wedomartani ini merupakan KSB ke-26. Untuk pelatihan dilakukan pada 23 sampai 25 Juli. Dan masa kepengurusan selama 3 tahun, dari 2024 hingga 2027,” terangnya, menjelaskan.

Dengan pengukuhan pengurus KSB, Mustadi berharap dapat terselenggara pencegahan dan penanggulangan bencana dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia pada lingkungan sekitarnya. (Athiful/KIM Depok)




Tingkatkan Kemampuan Anggota, Basarnas Gelar Latihan Gabungan

Sleman – Badan SAR Nasional (Basarnas) menggelar latihan gabungan demi meningkatkan kemampuan anggota dalam penanganan bencana di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta.

Basarnas menekankan bahwa bencana bisa terjadi di mana pun. Termasuk di gunung dan hutan. Menurut pantauan Basarnas, dua medan tersebut kerap membuat pendaki atau wisatawan tersesat bahkan terluka.

“Cuaca yang tak menentu juga jadi faktor yang mengharuskan kami selalu waspada,” tutur Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas R Eko Suyatno, Kamis (25/7/2024).

Pelatihan yang berlangsung sejak Selasa (23/7) ini diikuti oleh 15 penyelamat dari Kantor Basarnas Yogyakarta, ditambah dengan 37 potensi tim pencari dan penyelamat yang terdiri dari Kodim Sleman, Korem 072 Pamungkas, Dit Samapta Polda DIY, BPPD Sleman, BPPD DIY, Sarsatlinmas wilayah 7 Kaliurang, dan SAR DIY.

Eko mengatakan, bahwa pelatihan ini berfungsi untuk meningkatkan kesiapsiagaan para tim penyelamat. Ini dilakukan dengan menyamakan pemahamaan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Lebih lanjut, Eko menilai latihan ini semakin krusial lantaran kondisi Merapi yang masih terus aktif hingga hari ini.

“Alam kita jaga dan alam juga akan menjaga kita,” tegasnya.

Sementara Pengawas dan Pengendali Lapangan Dwi Afandi Saputro menuturkan, selama tiga hari dua malam, para peserta mempelajari sekaligus mempraktikkan ilmu mengenai navigasi darat, peta elektronik, hingga Explore Search and Rescue (ESAR). Dipelajari ESAR tipe satu untuk jalur yang kelihatan dan ESAR tipe dua untuk jarak dua sampai tiga meter.

Dalam kegiatan itu, peserta diminta mencari pemburu burung yang hilang di lereng Gunung Merapi.

Menurut Dwi, korban pertama sudah bisa ditemukan pada hari pertama. Sementara korban kedua, baru ditemukan pada hari ketiga.

“Kami praktik teknik vertikal juga. Jadi turun ke lereng,” tuturnya, menambahkan. (Athiful/KIM Depok)




DPUPKP Sleman akan Rehab 778 Unit Rumah Tidak Layak Huni

Sleman – Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Perumahan (DPUPKP) Kabupaten Sleman Tahun 2024 akan merehab 778 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Total biaya untuk melaksanakan program tersebut mencapai Rp 10 miliar lebih, bersumber dari dana APBD.

“Saat ini sudah ditetapkan SK Bupati dan sudah buka rekening dalam proses pencairan. Pada bulan Oktober sudah diharapkan selesai semua rehap RTLH tersebut,” jelas Kepala Bidang Perumahan DPUPKP Sleman Suwarsono SST MT, di ruang kerjanya, Rabu (24/7/2024).

Suwarsono mengungkapkan, proyek tersebut yang menangani semuanya dilakukan oleh DPUPKP Sleman. Besarnya bantuan seperti tahun lalu KKM untuk keluarga miskin sesuai SK Bupati rusak berat mendapatkan Rp 20 juta, rusak sedang Rp 15 juta dan rusak ringan Rp 10 juta. Sedangkan KKM yang rentang sama tidak mampu mendapatkan 8 persennya.

Seperti halnya rusak berat tidak memiliki KKM mendapat Rp 16 juta, rusak sedang tidak KKK mendapat Rp 12 juta dan rusak ringan yang tidak mempunyai KKM Rp 8 juta. Bantuan itu merupakan stimulan yang artinya uang tidak bisa mencukupi pemeliharaan untuk grafitasi rumah layak huni, sehingga diperlukan swadaya. Mereka siap dan siap pula untuk merehab rumahnya.

“Dengan diberikan bantuan stimulan hanya merupakan pancingan dengan sejumlah uang itu digunakan untuk rehab tidak selesai. Disini perlunya swadaya dari masyarakat tergantung dari kebutuhan untuk rehab rumahnya,” ungkap Suwarsono.

Dengan kata lain kebutuhan masyarakat langsung tergantung masyarakatnya sendiri. Kalau mereka siap tenaganya siap swadaya, maka akan cepat selesai. (sbd_kimtempel)




Melihat Dolanan Jadul di Dalem Singodikaran Kadisono Margorejo Tempel

Sleman – Bertempat di bangunan bersejarah yang sudah berusia lebih dari 200 tahun, Dalem Singodikaran, pada Kamis, (25/7/2024)  kembali diadakan acara dolanan (permainan) zaman dahulu. Kali ini dolanan diikuti oleh sekitar 30 anak-anak kelas 2 dan kelas 3 SD Kadisono 1, dengan berpakaian tradisional.

Acara dipimpin langsung oleh pemangku Dalem Singodikaran, Wardana, sebagai tuan rumah yang membuka lebar pendopo dan halamannya yang luas untuk kegiatan pelestarian budaya lokal. Pendopo Cagar Budaya yang telah ditetapkan sebagai Situs Pesanggrahan Keluarga Suryaningalogo pagi itu riuh oleh jerit dan sorak anak-anak yang bermain Lurah-lurahan.

Menurut penjelasan yang keturunan almarhum Demang RM Sentani Singodikoro, pendiri bangunan ini, bahwa acara dolanan jadul ini dilakukan setiap hari Kamis Pon, dengan berbagai permainan lain seperti macanan, bentik, egrang dan lainnya.

“Tempat yang sejuk dan asri ini didirikan dalam dua tahapan, bagian belakang pada tahun 1790 dan bagian depan pada tahun 1800 oleh Demang RM Sentani Singodikoro yang masih memiliki garis keturunan Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II. Di kediamannya ini, beliau pernah menerima pelarian dari Keraton, GKR Sekar Kedaton, Garwa dari Hamengku Buwono V dan putranya RM Timur Muhammad atau Pangeran Suryaningalaga,” jelas Chaerul.

Saat ini Dalem Singodikaran di Kadisono ini, menjadi salah satu pusat kegiatan seni dan pelestarian budaya di Kalurahan Margorejo Tempel. (SH/KIM Tempel).