PPS Sumbersari Gelar Rakor Bersama Pantarlih

Moyudan – Guna memastikan tahapan Pencocokan dan Penelitian (Coklit) data pemilih, dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman tahun 2024 akurat, Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kalurahan Sumbersari melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih). Kegiatan tersebut berlangsung pada Jum’at (19/7/2024) mulai pukul WIB bertempat di Ruang rapat Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman.

Rakor tersebut dihadiri Anggota PPS Sumbersari, Sekretariat PPS Sumbersari, Devisi Sosialisasi, SDM dan Parmas PPK Moyudan dan seluruh Pantarlih.

Ketua PPS Sumbersari Sugiyanto dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh Pantarlih yang sudah melaksanakan tugas dengan baik dan penuh integritas sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu,

“PPS Sumbersari menyampaikan terima kasih atas kerja kalian semua, sehingga pada tanggal 17 Juli 2024, seluruh Pantarlih sudah dapat menyelesaikan coklit maupun e-coklitnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Sugiyanto menuturkan maksud diadakannya Rakor adalah untuk melakukan crosscheck, terutama pemindahan pemilih dan untuk memastikan semua pemilih terdaftar sebagai pemilih.

Sugiyanto juga menambahkan setelah tugas coklit selesai kepada Pantarlih untuk membuat Laporan Kinerjanya.

“Silakan buat laporan kinerjanya, setelah itu insya allah besok Kamis 25 Juli 2024, hak Panjenengan berupa honor akan kami serahkan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga diberikan apresiasi kepada 6 Pantarlih yang dapat menyelesaikan tugasnya dalam minggu ke 2 dengan baik dan benar. Bentuk apresiasinya kepada mereka diberikan masing-masing 1 buku Antologi Cerkak dan kaos.

Sedangkan Wijang Wahyu Wiwoho Devisi Sosislisasi, SDM dan Parmas PPK Moyudan berharap sinergisitas antara PPS dan Pemerintah Kalurahan Sumbesari dan seluruh stake holder untuk tetap dijaga, agar semua tahapan dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman berjalan lancar, tanpa kendala.(Giek/KIM Moyudan)




Peran Penting Masyarakat dan Kelompok Masyarakat dalam Menyukseskan Pilkada

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) merupakan momen penting bagi kemajuan daerah yang kesuksesannya bergantung pada partisipasi masyarakat. Hal tersebut diutarakan oleh Vici Herawati dari Perkumpulan CATHA Kabupaten Sleman selaku narasumber pada kegiatan sosialisasi sinergi masyarakat dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sleman dalam Pengawasan Pilkada Tahun 2024 yang berlangsung di Ramada by Wyndham Yogyakarta, Kamis sore (18/7/2024) yang dibuka secara langsung oleh Ahmad Sidiq Wiratama selaku Koordinator Divisi Sumberdaya Manusia,Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu Kabupaten Sleman.

Menurutnya kesuksesan Pilkada di Kabupaten Sleman sangat tergantung dari partisipasi masyarakat karena partisipasi yang tinggi mencerminkan kepercayaan dan legitimasi publik terhadap proses demokrasi. Saat masyarakat aktif berpartisipasi, baik dalam memilih maupun dalam mengawasi jalannya pemilihan maka hasil yang diperoleh lebih mencerminkan kehendak kolektif rakyat.

“Partisipasi yang luas juga mengurangi risiko kecurangan dan manipulasi lantaran adanya banyak mata yang mengawasi dan berkontribusi dalam proses. Dengan demikian, pilkada yang melibatkan banyak masyarakat akan menghasilkan pemimpin yang lebih akuntabel dan sesuai dengan harapan warga sehingga mampu mendorong kemajuan daerah secara efektif,” tuturnya.

Lebih lanjut, Vici menguraikan pentingnya partsipasi masyarakat dalam pilkada karena partisipasi masyarakat dalam Pilkada berarti memberi mandat kuat dalam pemerintahan lokal, meningkatkan legitimasi dan mendukung kebijakan yang diambil. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam Pilkada memastikan terdapat keterwakilan yang adil dan beragam, serta semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat membuat peluang kecurangan dapat ditekan sehingga terwujud Pilkada yang berintegritas.

Ia pun menyebutkan ada tiga tipe pemilih dalam pemilihan umum yakni pemilih apatis yang memiliki hak pilih tetapi secara sadar tidak menggunakannya alias Golput, pemilih pasif bagi orang yang hanya datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menyoblos dan tidak lebih, serta pemilih aktif untuk orang yang tidak hanya datang ke TPS tetapi juga terlibat aktif dalam pengawasan atau pemantauan.

Adapun peran kelompok masyarakat dalam Pilkada dapat berupa kegiatan edukasi dan sosialisasi  dengan memberikan pemahaman yang diperlukan kepada warga mengenai calon kepala daerah, program kerjanya, dan proses pemilihan. Kemudian melakukan Pemantauan dan Pengawasan untuk memastikan transparansi dan kepatuhan dalam pelaksanaan pemilihan serta menindaklanjuti potensi pelanggaran. Yang terakhir mendorong partisipasi dengan cara memberikan informasi yang jelas dan memotivasi warga untuk turut serta dalam pemilihan guna meningkatkan tingkat partisipasinya.

“Yang tidak kalah penting adalah kelompok masyarakat diharapkan turut menciptakan suasana Pilkada yang sehat dan damai, menghindari provokasi, menghormati perbedaan, serta bersatu demi membangun daerah yang lebih baik terlepas dari siapapun pemimpin yang terpilih,” imbuhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Panwaslu Tempel Sosialisasikan Pengawasan Pemilu Partisipatif Bersama Kelompok Perempuan

Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Kapanewon Tempel  menggelar Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Bersama Kelompok Perempuan, pada Kamis  (18/7/2024) di Pondok Makan Mangut Lele Mbah Jalal, Margorejo, Tempel

Kegiatan dibuka Ketua Panwascam Tempel, Prasetyo Wibowo yang didampingi juga oleh Anggota Panwascam Tempel, Ninda Eka Nur Vitasari dan Moh Noor Wachid, yang sekaligus menjadi narasumber dalam acara ini.

Tema yang diusung dalam sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif kali ini adalah “Perempuan Tangguh Awasi Pemilu”.

Ketua Panwascam Tempel, Prasetyo Wibowo mengatakan, kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif sebagai upaya Bawaslu dalam hal ini melalui Panwascam Tempel dalam menggandeng berbagai stakeholder atau elemen masyarakat agar menjadi bagian yang akan turut terlibat aktif dalam pengawasan pemilu.

“Kali ini sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif kita laksanakan bersama kelompok perempuan,” katanya.

Menurutnya, telah menjadi tugas Panwascam di Kapanewon Tempel untuk meningkatkan partisipatif masyarakat dalam pengawasan pemilihan. Pada tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman tahun 2024 yang sedang berjalan, keterlibatan masyarakat khususnya kelompok perempuan menjadi penting. Karena perempuan juga memiliki hak yang sama dan setara dengan kaum laki-laki.

“Negara sudah menjamin bahwa perempuan juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam penyelenggaraan negara. Termasuk menjadi penyelenggara negara, penyelenggara pemilu dan menjadi pemimpin bangsa ini,” tegas pria yang biasa dipanggil Bowo ini yang juga Koordinator Divisi SDM, Organisasi, Pendidikan, Pelatihan, Data dan Informasi.

Sementara Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hukum, Ninda Eka Nur Vitasari menjelaskan bahwa sosialisasi pengawasan partisipatif bersama kelompok perempuan, untuk memastikan kaum hawa terlibat langsung dan aktif dalam mengawasi seluruh tahapan penyelenggaraan pemilihan.

Sosialisasi seperti ini kata dia akan dilakukan beberapa kali bersama dengan kelompok-kelompok masyarakat. Sejumlah komunitas dan kelompok masyarakat yang dilibatkan dalam sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif diantaranya Kelompok senam, kelompok wanita tani, kelompok pelaku usaha, penggiat kalurahan dan kelompok lainnya.

“Ini kita harapkan agar semua kelompok masyarakat termasuk kelompok perempuan agar ikut terlibat aktif dalam pengawasan pemilihan, karena Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Sleman tahun 2024 ini menjadi milik seluruh warga negara dan bukan milik penyelenggara pemilu atau kelompok-kelompok tertentu. Sehingga seluruh warga negara baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama di dalam penyelenggaraan pemilu,” demikian ungkap Ninda.

Sementara itu , Koordinator Divisi  Penanganan, Pelanggaran, dan Penyelesaian Sengketa ( PP dan PS) Panwascam Tempel Moch Noor Wachid, menegaskan sebagaimana motto Bawaslu “Bersama Rakyat Awasi Pemilu” mengandung makna bahwa Bawaslu sebagai lembaga yang ditugaskan untuk mengawasi pemilu memiliki keterbatasan terutama dalam hal jumlah pengawas pemilu.

“Sehingga Bawaslu melalui Panwascam di masing-masing Kapanewon mengajak seluruh rakyat dari berbagai komunitas dan kelompok masyarakat ikut terlibat secara aktif dalam mengawasi pemilu ataupun pemilihan,” ujarnya.

“Motto “Bersama Bawaslu tegakkan keadilan pemilu”, mengandung makna bahwa dalam pengawasan, penanganan pelanggaran dan sengketa proses pemilu, adalah dalam rangka menegakkan keadilan pemilu. Kita berharap para perempuan tangguh Kapanewon Tempel ini agar menjadi bagian yang akan mengambil peran penting dalam pengawasan pemilu,” harap Moh Noor Wachid.

Sosialisasi Pengawasan pemilu partisipatif yang digelar Panwascam Tempel ini melibatkan sejumlah kelompok dan komunitas perempuan. Diantaranya Kelompok Wanita Tani (KWT), dan  Kelompok Senam  di Kalurahan Lumbungrejo, serta dihadiri juga oleh Pengawas Kelurahan/Desa dan Staf Panwaslu Kecamatan Tempel. (sbd_kimtempel)




Mengenal Sumur Panguripan, Sumur yang Dipercaya Telah Berumur 500 Tahun

Sleman – Sumur Panguripan adalah salah satu saksi bisu terbentuknya Padukuhan Plosokuning Bangunkerto Turi Sleman.  Kawasan tersebut pada awalnya adalah hamparan pasir dan batu dari lahar erupsi Merapi tahun 1525, yang menyebabkan wilayahnya rata dan tak ditumbuhi apa-apa.

Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut kemudian ditumbuhi lumut dan semak-semak. Ada seseorang pengembara bernama Mbah Pethek dari jauh menuju ke tempat tersebut.   Melihat tumbuhnya lumut dan semak tersebut, Mbah Pethek memastikan bahwa tanah di daerah tersebut subur. Dirinya pun berniat membuka pertanian di daerah tersebut. 

“Karena daerah ini subur, Mbah Pethek betah di sini, beliau ingin membuka lahan pertanian, tetapi kendalanya tak ada air,” papar Kasiyana, juru kunci Sumur Panguripan Kamis (18/7/2024).

Mbah Pethek berupaya lahir batin untuk mendapatkan air.  Secara batin, Mbah Pethek memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan air. 

“Banyak rintangan dan godaan, termasuh dari makhluk halus yang mengganggu semedinya.   Berkat kesungguhan, keteguhan serta kegigihannya upaya mendapat air berhasil,” lanjutnya. 

Konon ceritanya, di dekat tempat Mbah Pethek bersemedi, dibuatlah legokan atau semacam kubangan untuk mendapatkan air.  Pada legokan tersebut keluar air yang kemudian banyak dimanfaatkan untuk pertanian hingga kebutuhan sehari-hari.  Legokan tersebut oleh penerus Mbah Pethek kemudian dibuatlah menjadi sumur kecil yang tidak terlalu dalam namun airnya selalu ada sepanjang tahun, tak pernah kering meski saat kemarau. 

Air yang keluar dari legokan yang sudah dibuat sumur kecil itu banyak memberi manfaat bagi warga baik untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari.  Sumber air tersebut kemudian diberi nama Sumur Panguripan, atau Sumur Kehidupan, karena memberi banyak manfaat bagi warga masyarakat.  Sumur tersebut oleh Masyarakat diberi atap kecil, sehingga sumur tetap terlindung dari jatuhnya dedaun atau kotoran, tetap terjaga kebersihannya. 

“Air cukup jernih dan dingin. Enak untuk membasuh muka,” ujar salah satu pengunjung yang tak mau disebut namanya.

Di samping kanan Sumur Panguripan, juga ada sumber air lain yakni Belik Adem Panas.  Menurut Kasiyana, air dari Belik Adem panas banyak manfaatnya seperti menyembuhkan beberapa penyakit.  Tentu ini bagi orang yang percaya. 

Kasiyana menegaskan air di belik Adem Panas tersebut hanya lantaran atau perantara, kesembuhan semua dari Allah Tuhan yang Maha Esa.  

Pengunjung bisa mengambil air dengan siwur (gayung terbuat dari cangkang kelapa), yang sudah disiapkan oleh Kasiyana sang juru kunci.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Bupati Sleman Resmikan Musala Kalurahan Pakembinangun

Sleman – Musala Binangun yang baru saja selesai dibangun di kawasan Kantor Kalurahan Pakembinangun akhirnya diresmikan oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, Rabu (17/7/2024).

Aipda Muhammad Zidni Adnan Asngari, Bhabinkamtibmas Pakembinangun sekaligus merangkap sebagai Ketua Panitia Pembangunan Musala menuturkan bahwa Musala Binangun dibangun dengan dana swadaya, tidak menggunakan APBKal.

“Jadi semua modal swadaya dan keikhlasan para donatur,” ujar Zidni.

Zidni mengatakan, nama Binangun dipilih agar nantinya dengan terbangunnya musala ini, warga Pakembinangun bisa terbina dan membangun lebih baik. Dalam bahasa hadits dan dalam ayat Al Qur’an, kata Binangun adalah transformasi dari kata Bina’un yang artinya juga membina dan membangun.

“Adapun pembangunan mushala ini menelan biaya sebesar -, dan saat ini masih ada saldo Rp. ,-” papar Adnan Zidni.

Aksi swadaya masyarakat dalam membangun musala tersebut juga mendapat apresiasi dari Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

“Seratus delapan puluh lima juta rupiah lebih sedikit itu untuk swadaya adalah sangat sulit dengan terkumpulnya dana itu secara swadaya, itu sangat luar biasa. Untuk itu, saya pun secara spontan akan berdonasi sebesar 5 juta rupiah,” papar Kustini.

Acara dilanjutkan dengan potong tumpeng peresmian Musala Binangun oleh Bupati Sleman. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)