Pantarlih Lumbungrejo Rampungkan Tugas Untuk Pilkada 2024

Sleman – Panitia Pemungutan Suara(PPS) Kalurahan Lumbungrejo Kapanewon Tempel melakukan monitoring dan evaluasi kerja Pantarlih se Kalurahan Lumbungrejo pada hari Rabu (17/7/2024) Bertempat di Aula Lantai 2 Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel. Kegiatan tersebut dihadiri oleh PPK, PPS,Sekretariat PPS dan 21 petugas Pantarlih dari 11 TPS, serta Pengawas Kalurahan/Desa.

Sih Budi Daryanto, selaku Ketua PPS Lumbungrejo dalam sambutannya menyampaikan bahwa pencocokan dan penelitian sudah memasuki minggu ke-3,untuk itu perlu dimonitor dan dievaluasi capaian kinerja Pantarlih.

“SIlakan dilaporkan hasil coklit dan e-coklitnya ,bila ada kesullitan kita pecahkan solusi terbaiknya apalagi malam ini dihadiri langsung oleh PPK Divisi Data dan Informasi,” kata Sih Budi.

“Dari hasil monitoring dan evaluasi terhadap 21 petugas pantarlih dalam melakukan pencocokan dan penelitian  rata-rata sudah mencapai target 100% dari A daftar pemilih. Tetapi masih di temukan permasalahan dan kendala dilapangan, rata-rata hampir sama yakni warga yang secara resmi pindah domisili tapi belum pindah alamat dalam identitas penduduk atau sedang merantau sehingga sulit ditemui,” tambah Sih Budi.

Berdasarkan hasil monitoring oleh KPU Kabupaten Sleman menurut Heru Krisdiantara, Anggota PPK divisi data dan informasi Kapanewon Tempel, pada Minggu pertama dan kedua selama proses kegiatan coklit, memang ditemukan beberapa kendala.

“Pantarlih melaporkan berbagai hambatan, termasuk kesulitan dalam menemui warga yang tidak berada di rumah pada saat kunjungan coklit, dan perbedaan data antara dokumen resmi dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan hasil monitoring KPU melalui PPK, kami menemukan ada sebuah keluarga yang memiliki anak, telah terdaftar dalam daftar penduduk potensial pemilih pemilihan (DP4). Namun, anak tersebut yang berusia sekitar 17-19 tahun belum diarahkan untuk melakukan perekaman e-KTP karena adanya sesuatu hal,”  ujar Heru.

Namun Heru tetap optimis pantarlih dapat merampungkan proses coklit untuk memaksimalkan waktu yang masih tersisa. Hal ini sesuai dengan petunjuk dari KPU pusat dan KPU Provinsi DIY, yang menetapkan target penyelesaian Coklit pada minggu ketiga Juli 2024.

”Sesuai dari arahan KPU, proses coklit harus mencapai 100 % dengan target 24 Juli 2024 kedepan kami harus mencapai angka tersebut,” tutupnya.

Untuk sekedar diketahui, berdasarkan data yang dihimpun dari hasil proses e-coklit oleh pantarlih yang telah masuk di PPS Lumbungrejo pada 17 Juli 2024, telah mencapai 98,48%  atau dari 5936 yang sudah di coklit 5846. (sbd_kimtempel)




Satpol PP Sleman Latih Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran di Condongcatur

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (SatpolPP) Kabupaten Sleman melaksanakan kegiataan Penyuluhan, Pelatihan, Pencegahan Dan Penanganan Bahaya Kebakaran di Kalurahan Condongcatur, Rabu (17/7/2024).

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, dalam sambutanya mengatakan bahwa padatnya pemukimam penduduk dan mobilitas tinggi di wilayah Condongcatur perlu diwaspadai adanya potensi terjadinya Kebakaran yang disebabkan oleh berbagai hal

“Kami mengucapkan terimakasih kepada Salpol PP Kabupaten Sleman melalui Unit Damkar yang melaksanakan  pembinaan dan pelatihan kepada Satlinmas, Destana, KSB, Pamong dan Relawan di Condongcatur agar dapat terlatih dalam upaya pencegahan dan penanganan ketika terjadi kebakaran, dan semoga materi dan praktek langsung pemadaman nanti dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dengan baik bagaimana cara mengatasi ketika terjadi kebakaran dalam skala kecil di masyarakat,” ucapnya.

Kepala Seksi Pencegahan Kebakaran SatolPP Kabupaten Sleman, Suwandi, dalam sambutanya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pemberdayaan kepada masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan penanggulangan serta pencegahan bahaya kebakaran lewat PUPM  Kalurahan

“Bencana kebakaran  itu tidak hanyan merupakan  tanggung jawab Pemerintah daerah saja, tetapi peran serta seluruh masyarakat sangatlah dibutuhkan dalam penanganan bahaya kebakaran,” jelasnya

Ditambahkan Suwandi bahwa bencana kebakaran tidak dapat diprediksi kapan dan dimana akan terjadi, maka dengan diadakan penyuluhan dan pelatihan penanggulangan dan pencegahan bahaya kebakaran ini diharapkan peserta paham dan menambah ilmu bagaimana jika terjadi darurat kebakaran di tengah tengah masyarakat

Materi penyuluhan disampaikan oleh Sumarjono, SAP selaku Penyuluh Damkar SatpolPP Kabupaten Sleman yang menyampaikan mateti tentang Teori Dasar Penanggulangan Kebakaran yang terbagi 3 yaitu Fire Prevention (Pencegahan), Fire Depression (Pemadaman) dan Fire Evakuation (Evaluasi)

“Adapun Penyebab Kebakaran yang pertama adalah Faktor Manusia yaitu karena Kesengajaan, kedua karena Faktor Hewani dan ketiga karena faktor alam seperti petir, gempa, erupsi, tumpukan kompos dan lainnya,” jelas Sumarjono.

Ia juga menjelaskan tentang alat pemadam untuk alat pemadam api yang terbagi 2 jenis yaitu Tradisional dan Modern.

“Yang termasuk alat pemadam api tradisional adalah air, pasir, tanah, karung goni basah, handuk basah, selimut basah, ranting daun dan lainya, sedangkan yang termasuk alat pemadam api modern dibagi 2 manual (APAR, APAB/Trolly, Armada pemadam kebakaran, pompa portabel) dan Otomatis (Hydrant, Sprinkler, Thermatic),” jelasnya. (Wasana/KIM Depok)




Satgas Pengelolaan Sampah Kapanewon Moyudan Lakukan Koordinasi Dengan Pemkal dan JPSM

Moyudan – Sampah merupakan permasalahan lingkungan hidup yang cukup serius, sehingga perlu penanganan yang optimal. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut Sekda Sleman mengeluarkan Surat Edaran Nomor 660/170 tertanggal 3 Juni 2024 tentang Pembentukan Satgas Pengelolaan Sampah tingkat Kapanewon.

Menindak lanjuti hal tersebut Kapanewon Moyudan telah membentuk Satgas Penanganan Sampah tingkat Kapanewon dan sudah di tetapkan SK Panewu Moyudan Nomor : 15/ Kep. Panewu / 2024.

Setelah diterbitkannya SK tersebut Satgas Pengelolaan Sampah Kapanewon Moyudan gerak cepat melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kalurahan (Pem. Kal) dan Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Moyudan. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Rabu (17/7/2024) bertempat di ruang rapat Abhinaya Kapanewon Moyudan, Sleman.

Panewu Anom Moyudan Parjono dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sesuai Surat Edaran dari Sekda nomor 660/170 bahwa setiap Kapanewon harus membentuk Satgas Pengelolaan Sampah, sehingga Kapanewon Moyudan segera menindak lanjuti.

Lebih lanjut ia menuturkan setelah terbentuk maka segera dilakukan koordinasi dengan Pemkal dan JPSM.

“Dari koordinasi ini kami harapkan akan terwujud sinergitas antara Pemerintah Kalurahan dan JPSM untuk kontribusi penanganan sampah di Moyudan,” jelasnya. 

Lebih lanjut Parjono juga berharap pembentukan Satgas juga segera ditindak lanjuti di tingkat Kalurahan.

Selanjutnya dilakukan diskusi dan masukan tentang penangansn sampah antara Satgas Moyudan dan peserta yang hadir. Kesimpulan dalam koordinasi tersebut Pemerintah Kalurahan akan menindak lanjuti pembentukan Satgas Pengelolaan sampah di tingkat Kalurahan. Sedangkan JPSM melakukan pengembangan terbentuknya pengelolaan sampah mandiri, dan melakukan pengawasan apabila terjadi pelanggaran dalam pembuangan sampah untuk melaporkan ke Satgas. Pada intinya JPSM menjalankan pengelolaan Sampah sedangkan Satgas berkaitan dengan pelanggaran dan hukum.

Adapun Susunan Pengurus Satgas Penanganan Sampah Kapanewon Moyudan adalah sebagai berikut, ketua 1 s.d 3 Panewu Moyudan, Kapolsek dan Danramil. Panewu Anom sebagai koordinator sekretariat. (Giek/ KIM Moyudan)




Unjuk Bakat Remaja Sukoharjo di Selasa Wagen Taman Budaya Yogyakarta

Sukoharjo – Dengan disahkannya Kalurahan Sukoharjo sebagai Kalurahan Budaya dengan grade Berkembang,maka kalurahan Sukoharjo  diberikan kesempatan untuk menunjukan bakat seninya,di acara Selasa Wagen Taman Budaya Yogyakarta pada, Selasa (16/7/2024).

Tahun ini Pentas Kalurahan Budaya sendiro diikuti 14 Kalurahan budaya se DIY, dan dari Sleman ada 4 kalurahan yang pentas di bulan Juli ini yaitu Kalurahan Sukoharjo, Kalurahan Wedhomartani, Kalurahan Sendangrejo, dan Kalurahan Triharjo.

Sukoharjo sendiri menerjunkan 30 pelaku seni yang terdiri dari penari dan pengrawit. Konsep yang diambil dalam pementasan kali ini adalah upacara adat “wiwit” yang ada di Kalurahan Sukoharjo, kemudian dikemas dalam bentuk drama tarian. Selain itu, kegiatan juga akan didukung dengan adanya pameran potensi UMKM  meliputi kerajinan dan kuliner dari daerah Sukoharjo,seperti  Peyek nyih renyih, kripik gadung rasa ORI, bawang, pedas, jajanan pasar (putu ayu, jadah tempe, risoles) singkong Frozen, keju mozzarella.

“Ini adalah tahun pertama bagi kalurahan Sukoharjo sebagai kalurahan Budaya yang harus mengirimkan kontingen untuk setiap kegiatan Sukoharjo menunjuk beberapa pelaku kesenian untuk mewujudkannya,dan melakukan pementasan diacara Selasa Wagen .Kegiatan ini dapat terlaksana karena adanya kerjasama antara Pendamping Budaya dari dinas kebudayaan,kalurahan Sukoharjo dan sanggar kesenian yang ada di Sukoharjo,” jelas Hadi subronto, Lurah Sukoharjo.

“Dukungan dari kalurahan Sukoharjo meliputi dukungan secara materi untuk operasional latihan dan motivasi dengan hadirnya perangkat kalurahan diantaranya Lurah kalurahan Sukoharjo,pamong,BPKal dan warga masyarakat Sukoharjo yang dengan antusias ikut menyaksikan pementasan tersebut,” tambah Hadi. (eswe-KIM Sukoharjo,Ngaglik)




SD Donoharjo Isi Pengenalan Sekolah dengan Pendidikan Mitigasi Bencana

Sleman – Mengawali tahun ajaran baru, Sekolah Dasar Negeri Donoharjo  menggelar MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) dengan menggandeng Destana donoharjo untuk melakukan   pendidikan Mitigasi bencana. Acara berlangsung di halaman SD Donoharjo pada Rabu (17/07/2024).

“Berada di daerah rawan bencana, Pendidikan mitigasi  harus diajarkan kepada anak anak sejak dini sebagai bekal pengetahuan agar mereka paham langkah yang harus dilakukan, tahu peralatan yang digunakan untuk penyelamatan saat terjadi bencana sehingga anak-anak paham cara menyelamatkan diri dan juga paham alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya resiko bencana .” kata Sukardi kepala Sekolah SD Donoharjo saat ditemui di sela-sela acara.

Sementara itu Agus Hardiyo Pancoro ketua Destana Donoharjo dalam paparannya menyampaikan bahwa berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dan Destana  telah memetakan wilayah rawan bencana di Donoharjo.

“Bagian barat ke selatan sebagai kawasan rawan bencana angin kencang, Donoharjo bagian selatan sebagai daerah yang paling terdampak jika  terjadi gempa bumi, sedangkan Donoharjo bagian Utara sangat rawan jika terjadi erupsi gunung Merapi dan sisi timur berpotensi terkena dampak banjir di sepanjang wilayahnya yang dilewati sungai Boyong,” kata Agus.

Oleh karena itu , lanjutnya, sebagai warga yang tinggal di daerah rawan bencana harus mengetahui dan paham pentingnya pengetahuan pertolongan dan penyelamatan pada saat terjadi gawat darurat.

“Kewaspadaan menghadapi bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak tahu kapan bencana akan terjadi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut tim Destana  mengenalkan berbagai alat yang digunakan dalam upaya penyelamatan dan juga  alat untuk mengurangi  dampak terjadinya bencana, misal alat mitigasi bencana angin kencang yang meliputi tali tambang besar ,gergaji mesin sepatu boot, pelindung kepala, serta kacamata.

“Alat ini diperlukan untuk mengantisipasi saat terjadi angin kencang terutama gergaji mesin untuk memotong batang pohon yang tumbang  mengenai rumah warga dan menutup akses jalan ,” terang Agus.

Dikenalkan juga alat untuk penyelamatan bencana air meliputi  rompi pelampung dan tali tambang  besar yang digunakan untuk menolong korban laka air.

Ada juga vertikal rescue berupa dragbar dan tali tambang yang digunakan untuk penyelamatan korban dari titik yang rendah ke titik yang lebih tinggi maupun sebaliknya, misalnya  korban yang jatuh ke jurang atau tebing.

“Alat ini juga digunakan untuk pengiriman logistik di kawasan  bencana yang tidak dijangkau oleh kendaraan melewati jalan darat,” terang Agus.

Pada kesempatan tersebut diperkenalkan mobil Ambulans Donoharjo  hasil swadaya masyarakat berikut perlengkapan yang ada di dalamnya. Ambulans tersebut disiapsiagakan  untuk warga yang membutuhkan pertolongan saat terjadi kegawatdaruratan, seperti untuk antar jemput warga yang sakit ke rumah sakit maupun saat prosesi pemakaman.  (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)