Bimtek BPKal se-Depok, Panitikismo Kraton Sosialisasikan Pergub Terkait TKD

Sleman – Bertempat di Rich Hotel Yogyakarta, Jalan Magelang, Sinduadi, Mlati, Sleman, Anggota Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) se-Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman mendapatkan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Rabu (3/7).

Penghageng Kawedanan Panitikismo Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryo Satriyanto menyampaikan materi terkait sosialisasi pemanfataan tanah Kalurahan yang tertuang dalam peraturan Gubernur (pergub) DIY nomor 24 tahun 2024.

Kanjeng Suryo menegaskan bahwa tanah Kalurahan adalah tanah bukan keprabon atau dede keprabon yang asal-usulnya dari Kasultanan atau Kadipaten yang dikelola oleh Pemerintah Kalurahan berdasarkan hak anggaduh, yang jenisnya terdiri dari tanah kas kalurahan, pelungguh, pengarem-arem, dan tanah untuk kepentingan umum.

“Nah, pemanfaatannya dapat digunakan untuk pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Kanjeng Suryo.

Ditambahkan Kanjeng Suryo, bahwa tanah kas Kalurahan adalah bagian dari tanah Kalurahan yang digunakan untuk penyelenggaraan Pemerintahan Kalurahan.

“Di sini, Pemerintahan Kalurahan adalah Pak Lurah dan Badan Permusyawaratan Kalurahan yang memiliki tugas dalam penyelenggaraan Pemerintahan Kalurahan di masing-masing tempatnya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Kanjeng Suryo mewanti-wanti agar pemerintah Kalurahan, termasuk juga anggota BPKal, untuk mengalokasikan peruntukan tanah Kalurahan yang dimilikinya secara lengkap dan proporsional.

“Hal ini untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan bersama,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok)




Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia Sleman, Danang Resmikan Panti Wreda

Sleman – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa meresmikan Panti Wreda Kalyanamitra Warga Usia Lanjut (Wulan) Bahagia di Padukuhan Mulungan Kulon, Sendangadi, Mlati, Sleman, Rabu (3/7).

Danang menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas berdirinya Panti Wreda Kalyanamitra Wulan Bahagia sebagai tempat untuk warga lanjut usia (Lansia) di Kabupaten Sleman.

Keberadaan Panti Wreda ini, ungkap Danang, menjadi jawaban bagi kebutuhan lansia untuk tetap sehat, baik fisik maupun emosional. Terlebih, Panti Wreda Kalyanamitra ini memiliki program prioritas bagi lansia yang semasa hidupnya belum pernah berumah tangga, atau tidak memiliki sanak saudara.

Selain diresmikannya Panti Wreda ini, Danang mengatakan, dapat menjadi dukungan bagi komitmen dan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kualitas hidup lansia, serta turut mendukung terwujudnya Sleman sebagai Kabupaten ramah lansia.

“Lansia di Kabupaten Sleman mencapai jiwa atau 15 persen dari total jumlah penduduk Sleman. Dan berita baiknya, angka harapan hidup di Kabupaten Sleman mencapai usia 75 tahun tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. Artinya, kualitas hidup lansia di Sleman ini sangat baik, bahkan, bisa diartikan Sleman layak dan ramah untuk lansia,” ungkap alumnus STIE YKPN Yogyakarta ini.

Ketua Yayasan Panti Wreda Kalyanamitra Wulan Bahagia Wisnu Raharjo menjelaskan, bahwa Panti Wreda ini dibangun di atas tanah seluas persegi yang merupakan tanah milik pribadi dari founder Yayasan Panti Wreda Kalyanamitra Wulan Bahagia Renny Siswati.

Wisnu menjelaskan, bahwa Panti Wreda ini memiliki berbagai fasilitas, diantaranya terdapat 25 kamar yang mampu menampung 50 orang lansia. Kemudian, terdapat fasilitas ibadah, joglo serbaguna, joglo meditasi, dan halaman yang cukup luas untuk berbagai aktivitas lansia.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama pemilik dan Ketua Yayasan Panti Wreda Kalyanamitra Wulan Bahagia meninjau secara langsung berbagai fasilitas yang terdapat di panti tersebut, setelah sebelumnya telah membubuhkan paraf sebagai tanda peresmian dan pemotongan tumpeng. (Athiful/KIM Depok)




Pesankan Ketahanan Keluarga, Bupati Sleman Hadiri Nikah Bareng Sakinah 2024

Sleman – Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo turut menghadiri prosesi nikah massal sepuluh pasangan yang diselenggarakan Majelis Taklim Al-Fatimah Yogyakarta, Kamis (4/7).

Prosesi akad nikah massal yang berlangsung di Masjid Suciati Sleman, dan resepsi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman itu dipimpin langsung oleh Kepala KUA Sleman Muhammad Aris.

Dalam kesempatan itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo berkesempatan mengantarkan 10 pengantin mengendarai andong menuju Pendopo Rumah Dinas Bupati untuk melaksanakan resepsi.

Kustini turut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan nikah massal bagi warga Sleman. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pasangan yang kurang mampu untuk melangsungkan pernikahan yang sah dan legal, baik secara adat, hukum, dan agama.

“Penyelenggaraan kegiatan Nikah Bareng Sakinah ini merupakan salah satu upaya yang perlu kita dukung, mengingat kegiatan ini sangat membantu masyarakat yang karena keterbatasannya belum bisa melaksanakan pernikahan sesuai peraturan pemerintahan yang berlaku,” katanya.

Dalam sambutannya, Kustini juga berpesan kepada sepuluh pengantin agar betul-betul memahami tujuan dari pernikahan, yaitu membentuk keluarga sakinah.

“Untuk selanjutnya, harus memahami fungsi dari keluarga. Ada delapan fungsi keluarga yang harus dipahami yaitu fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta dan kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan,” ujar Kustini.

Kustini juga berharap kesepuluh pasangan nikah massal ini dapat membantu Pemkab Sleman dalam mewujudkan ketahanan keluarga, baik secara ekonomi, kesehatan, dan kebahagiaan keluarga.

Sementara Ketua Majelis Taklim Al-Fatimah Yogyakarta Inung Marwoso menuturkan bahwa penyelenggaraan nikah massal ini merupakan rangkaian Milad ke-7 Majelis Taklim Al Fatimah Yogyakarta.

“Nikah massal yang bertajuk Nikah Bareng Sakinah ini bertujuan untuk membantu pasangan yang kurang mampu agar dapat melaksanakan pernikahan secara sah yang diakui oleh agama dan negara,” jelasnya.

Lebih lanjut, Inung menyampaikan bahwa dalam pelaksanaannya, pihaknya bekerjasama dengan Pemkab Sleman dan Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia DPC Kabupaten Sleman, serta didukung oleh Fortais Indonesia Yogyakarta, Kementerian Agama Kabupaten Sleman, masjid Suciati dan DPC Harpi Sleman.

Sedangkan fasilitas yang diterima oleh pasangan nikah massal ini terdiri dari biaya nikah, mahar, cincin kawin, hadiah, rias dan busana tradisi serta muslim modern.

Inung menambahkan, bahwa selain dalam prosesi resepsi nikah, seluruh pasangan nikah massal ini menerima tali asih dan cinderamata yang diserahkan secara langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo. (Athiful/KIM Depok)




Membangkitkan Semangat Kewirausahaan UMKM Sukoharjo Ngaglik Sleman

Sleman – Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis AMT dan Brainstorming Kewirausahaan untuk para pelaku usaha Mikro.

Eko Andrianto, Ketua Pokja Pengembangan UMKM Sleman dalam sambutan pembukaan kegiatan menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya menumbuhkan semangat kewirausahaan dengan berbagai kegiatan nyata seperti pelatihan UMKM.

“Terlebih lagi bukti kepedulian dari Bupati Sleman Hj. Kustini SP dengan diterbitkannya Perbup Tahun 2022 tentang Pedoman Pembentukan Forum Komunikasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, sebuah program yang layak untuk dilanjutkan untuk kemajuan UMKM Sleman ditangan pemimpin yang mendorong UMKM dan kesejahteraan warga Sembada,” ujarnya, Selasa (2/7/2024).

Eko juga menyampaikan mengenai pentingnya peran Forkom UMKM untuk menjadi jembatan informasi dari Dinas Kopreasi UMKM bagi anggota yang terdaftar tentang berbagai layanan seperti PLUT ( Pusat Kayanan Usaha Terpadu ) untuk daftar NIB, kemudian info pelatihan, pameran dll untuk UMKM Sleman yang lebih berkembang.

Abdul Kadir selaku Dewan yang mengusulkan pokir kali ini menyampaikan motivasi bahwa  kewirausahaan hadir karena adanya usaha dan kerja keras, dimulai dari yang mampu dilakukan, terus belajar, membangun jaringan, diperjuangkan dan dimuliakan bisnisya. 

“Jangan pernah berandai-andai tapi lakukan, kerja keras, buat system kerja, pantang menyerah, inovatif, open mind, professional dan tentunya berdoa agar dimudahkan oleh Allah, tambah Abdul Kadir anggota Dewan yang juga berlatar belakang bisnis ini,” ungkapnya.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dengan diikuti oleh 30 calon dan pelaku UMKM setempat dalam Bimtek AMT & Brainstorming Kewirausahaan bagi Forkom UMKM Kalurahan Sukoharjo, Ngaglik yang dilaksanakan pada Selasa – Kamis, 2 – 4 Juli  2024 bertempat Prima SR Hotel & Convention Sleman.

“Harapannya dari kegiatan ini akan lahir wirausaha baru dan wirausaha yang telah ada di Sukoharjo Ngaglik akan semakin kuat dengan tambahan ilmu, motivasi serta jaringan untuk menjadi UMKM Naik Kelas dan masyarakat Sleman yang semakin kuat,” tutup Abdul. (Arief Hartanto)




Pertunjukan Wayang Tutur Gugah Semangat Pelestarian Embung Bendo Tirto

Sleman – Demi menjaga keberlanjutan sumberdaya alam untuk generasi mendatang , khususnya di Embung Bendo Tirto, maka Komunitas Kekandhangan menggelar kegiatan sosial berupa pembersihan perairan embung dan pertunjukan wayang tutur guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelestarian lingkungan embung dan pelestarian budaya.

Kegiatan edukasi bagi masyarakat melalui pertunjukan wayang tutur dengan dalang Ki Damar Asmara Sejati dari Sanggar Widya Pramana yang berlangsung di halaman Embung Bendo Tirto, Padukuhan Temuwuh Kidul, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping,kabupaten Sleman, Rabu (3/7/2024) menghadirkan Prof. Dr. Yaser Arafat selaku Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menceritakan Sejarah asal mula terbentuknya Embung Bendo Tirto.

Merawat air di perairan embung sangat penting dilakukan demi menjaga kualitas air tetap bersih dan jernih karena merupakan sumber kehidupan bagi banyak makhluk hidup di sekitarnya, termasuk manusia, hewan dan tumbuhan. Dengan menjaga kebersihan air maka masyarakat dapat mencegah beragam penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar, serta mendukung ekosistem yang sehat sehingga berbagai spesies dapat berkembangbiak secara baik.

“Selain aspek kesehatan, merawat air di Embung Bendo Tirto juga penting bagi keberlanjutan sumberdaya alam. Dengan menjaga kebersihan air dapat menghindari kerusakan lingkungan dan ekosistem air, serta menjadi investasi bagi masyarakat dalam hal kesehatan dan kesejahteraan lingkungannya,” ucap Prof. Yaser di sela pertunjukan wayang.

Embung Bendo Tirto di Balecatur dibangun sebagai upaya untuk mengatasi masalah kekurangan air yang sering terjadi di wilayah tersebut, terutama selama musim kemarau. Pembangunan embung ini diprakarsai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman dan berbagai pihak terkait yang menyadari pentingnya memiliki sumber air cadangan untuk mendukung kegiatan pertanian dan kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan menggunakan teknologi konstruksi modern, embung ini dibangun untuk menampung air hujan dan aliran sungai kecil yang mengalir di sekitar area tersebut sehingga bisa bermanfaat saat musim kemarau tiba.

Lebih lanjut, Prof. Yaser menjelaskan sejarah awal munculnya Embung Bendo Tirto yang berkaitan erat dengan pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada masa awal berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di abad ke-18, Sri Sultan Hamengku Buwono I menyadari pentingnya pengelolaan sumber daya air untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan pertanian di sekitar keraton karenanya embung atau kolam penampungan air mulai dibangun di berbagai tempat strategis, termasuk di wilayah Bendo Tirto.

“Embung ini menjadi salah satu bagian dari sistem irigasi tradisional yang dirancang oleh kerajaan untuk memastikan ketersediaan air bagi persawahan dan kebutuhan sehari-hari warga keraton. Selain itu, embung ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air untuk kegiatan ritual dan upacara adat yang sering dilakukan di lingkungan keraton, sehingga peran embung ini sangat vital dalam menjaga kesejahteraan dan keberlanjutan hidup masyarakat pada masa itu,” terangnya.

Mengakhiri paparannya, Prof. Yaser berpesan kepada masyarakat agar melestarikan Embung Bendo Tirto dengan meningkatkan fungsi embung menjadi pusat kegiatan ekonomi kreatif demi kesejahteraan masyarakat sekitarnya yang ditandai dengan penanaman bibit pohon bunga Tabebuya atau pohon terompet (Handroanthus spp.) yang memiliki manfaat ekologis seperti memberikan habitat bagi burung dan membantu dalam konservasi tanah sebagai simbolis menanam pohon dapat menambah debit air serta menjaga kebersihannya karena embung ini merupakan bukti sejarah peradaban masyarakat sekitar. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)