Papringan Bersholawat Sarana Pererat Ukhuwah Islamiyah Padukuhan Bedog

Untuk mempererat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan di antara para jama’ah di wilayah Padukuhan Bedog Kalurahan Trihanggo Kapanewon Gamping, maka warga masyarakat Dusun Papringan menggelar kegiatan pengajian lapanan bertajuk ‘Papringan Bersholawat’ pada Sabtu malam (29/6/2024) yang menghadirkan Habib Abdullah Bin Umar Assegaf dan KH. Mujiharno.
Mengawali kegiatan, Habib Abdullah Bin Umar Assegaf menuturkan bahwa melalui lantunan sholawat maka para jama’ah dapat mengekspresikan rasa cinta dan penghormatannya kepada Rasulullah sekaligus menguatkan kecintaan terhadap ajaran islam yang beliau bawa. Di samping hal tersebut, dengan melantunkan sholawat bersama-sama, peserta pengajian merasa lebih dekat satu sama lain serta semakin mendalam rasa kebersamaan dan solidaritasnya.
Menurutnya, dari sisi psikologis kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya rohani, tetapi juga membantu mengurangi stres dan kecemasan, karena lantunan sholawat dapat memberikan ketenangan dan kedamaian batin sehingga para jamaah merasa lebih tenang dan damai setelah mengikuti pengajian.
“Dari konteks edukatif, sholawatan menjadi sarana untuk mengajarkan kepada para jama’ah terutama generasi muda tentang pentingnya sholawat dan kisah-kisah mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW,” imbuhnya.
Sementara, KH. Mujiharno dalam ceramahnya menguraikan tentang pentingnya khitan bagi anak laki-laki sejalan dengan kegiatan pengajian walimatul khitan anak Ahmad Farid Rusydi tersebut. Dikatakannya, khitan merupakan salah satu sunnah dalam Islam yang sangat dianjurkan bagi anak laki-laki karena khitan dianggap sebagai bagian dari fitrah atau kebersihan alami dan merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga walimah ini menjadi momentum guna mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan keluarga atas selesainya ibadah tersebut.
Adapun kegiatan walimatul khitan merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelancaran proses khitan yang dijalani oleh anak. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan anak yang telah dikhitan kepada lingkungan masyarakat, sekaligus meminta doa restu agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan sehat.
“Melalui walimatul khitan, keluarga yang punya hajat dapat berbagi kebahagiaan dan berkah dengan warga masyarakat di sekitarnya. Sedangkan dari sudut pandang budaya, walimatul khitan sering kali disertai dengan berbagai tradisi dan adat istiadat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat, sehingga juga berfungsi sebagai bentuk pelestarian budaya,” urainya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon gamping)



