Sleman – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY bersama Anggota DPRD DIY, menggelar Bedah Buku “Cerdas Mengelola Sampah Mandiri Bersama Komunitas,” di Pendopo Beteng, Padukuhan Beteng Margoagung Seyegan pada hari Jum’at (28/6/2024).
Kegiatan yang diprakarsai oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kapanewon Seyegan ini, diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari Kapanewon Seyegan dan sekitarnya. Mayoritas peserta adalah praktisi sampah yang tergabung dalam Bank Sampah ataupun Sodaqoh Sampah yang selama ini telah berjuang menjadi relawan dan penggiat persampahan dalam menjaga lingkungan dengan pengelolaan sampahnya.
Asih Rahayu, yang selama ini dikenal sebagai pegiat Bank Sampah di wilayah Margomulyo memberikan ulasan mengenai bagaimana memulai Bank Sampah. Secara detail, Asih menjelaskan tentang pemahaman mengenai Sampah termasuk jenis sampah yang harus dikelola.
Selanjutnya Asih menjelaskan tentang jenis pengolahan sampah organik dengan teknologi tepat guna seperti komposter, Takakura, biopori, jugangan/rolak, ataupun pembuatan eco-enzym.
Asih juga mengajak peserta bedah buku untuk bijak dalam mengelola sampah karena pada dasarnya kita adalah produsen sampah.
“Artinya pengelolaan sampah juga menjadi tanggung jawab kita. Sedangkan pemerintah bertanggung jawab dengan pengelolaan residunya,” tuturnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab penghasil Sampah, Asih mendukung peserta yang sebagian besar ibu-ibu tersebut dengan mendirikan Bank Sampah di wilayahnya masing-masing. Untuk itu, Asih memberi gambaran tentang bagaimana mengajak warga masyrarakat yang peduli lingkungan untuk melakukan study tiru, sebagai bekal untuk memulai bank sampah.
Asih yang juga pengurus inti JPSM Kabupaten Sleman ini menyampaikan kepada peserta tentang fasilitasi DLH yang bisa diakses oleh bank sampah baik sarana/prasarana maupun pelatihan pelatihan yang dibutuhkan.
Sementara itu, Yomi Windri Asni, salah satu penulis buku, dalam paparannya menyampaikan bahwa buku yang ditulisnya bersama teman-teman tersebut adalah sebagai bentuk kepedulian untuk ambil bagian dalam merawat lingkungan dengan pengelolaan sampah.
Titik berfikir kritisnya, Yomi melihat kesadaran individu yang masih rendah, dan perubahan perilaku yang masih dalam proses menjadi semangat dalam menyusun buku yang praktis dan aplikatif sehingga mampu menjawab kegelisahan masyarakat dalam mengelola sampah.
Dalam bukunya, Yomi mengajak pembaca untuk membandingkan pengelolaan sampah di beberapa negara dengan pengelolaan sampah di Indonesia. Berbagai cara mengelola sampah organik rumah tangga dengan teknologi komposter yang tepat guna seperti komposter gerabah, ember tumpuk, losida, cacing, komunal, biopori, karung maupun drum.
“Khusus untuk membentuk bank sampah juga disampaikan secara detail seperti membentuk kepengurusan, memilih pengepul, model pengelolaan, administrasi dan pengembangan bank sampah sendiri,” ujar Yomi.
Sofyan Setyo Darmawan, anggota DPRD Provinsi DIY dalam arahannya menyampaikan bahwa Yogya dengan status darurat sampah ini memerlukan kelompok kelompok masyarakat pengelola sampah untuk ambil bagian dalam mereduksi timbulan sampah.
“Pemerintah pun mempunyai tanggung jawab dalam menyelesaikan Residu. Ini artinya pemerintah memerlukan kemitraan dalam pengelolaan sampah,” ujar Sofyan.
Sofyan juga bercerita, sejak TPST Piyungan ditutup banyak masalah yang timbul sehubungan dengan pembuangan sampah akhir. Sehingga perlu dicari terobosan yang mau tidak mau memerlukan teknologi dan pendanaan yang tidak sedikit.
“Sekarang ini proses untuk pengadaan alat penghancur sampah yang akan diuji cobakan di beberapa Kalurahan. Harapannya dengan alat tersebut dapat mengatasi persampahan yang masih menjadi problem di masa datang,” tutupnya. (Sutarto Agus/ KIM Seyegan)