Antisipasi Bencana, TRC Lumbungrejo Lakukan Pemangkasakan Pohon Rawan Tumbang

Sleman – Tim Reaksi Cepat Kalurahan Lumbungrejo aktif melaksanakan giat dalam rangka pemangkasan pohon yang rawan tumbang mengenai permukiman warga.

Pada hari Minggu, 30 Juni 2024, Relawan TRC Kalurahan Lumbungrejo melakukan pengkondisian pemangkasan pohon yang rawan tumbang mengenai pemukiman warga. Relawan TRC Lumbungrejo berkoordinasi dengan pemerintah Kalurahan Lumbungrejo dalam hal ini diwakili oleh Jogoboyo lumbungrejo, Nugroho Subagyo serta dibantu oleh warga sehingga pengkondisian berjalan aman dan lancar.

Relawan TRC Kalurahan Lumbungrejo  melaksanakan giat pemangkasan dan pemotongan pohon yang membahayakan permukiman warga dalam rangka upaya mitigasi bisa menimpa pemukiman warga khususnya jika ada hujan deras dan angin kencang.

Giat ini dilaksanakan di Padukuhan Krasakan dan Wonokerso, dengan memangkas dan menumbangkan 4 pohon kelapa.

Relawan TRC Lumbungrejo yang diketuai Rahmat Jadmiko beserta seluruh anggotanya melaksanakan giat bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta warga sekitar

“Relawan TRC Lumbungrejo , bersama sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dibantu masyarakat menebang pohon kelapa untuk mengantisipasi hujan disertai angin kencang belakangan ini terjadi, hari ini kami kerja bakti menebang empat pohon kelapa yang tumbuhnya tepat di belakang rumah warga,” kata Ketua TRC Lumbungrejo, Rahmat Jadmiko.

Rahmat mengatakan bahwa penebangan pohon kelapa itu sudah atas persetujuan pemilik pohon dan  dilakukan dengan hati-hati karena posisinya berdekatan dengan rumah warga.

“Dalam kesempatan itu pula TRC Lumbungrejo minta warga dapat meningkatkan waspada bencana alam agar tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan besar,” ungkap Rahmat Jadmiko. (sbd_kimtempel)




Pentingnya Peran Tim Pendamping Keluarga Dalam Pendataan Ibu Hamil

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo bekerja sama dengan Puskesmas Tempel 1 melaksanakan kegiatan Pembinaan Bagi Tim Pendamping Keluarga perwakilan dari setiap padukuhan, Sabtu (29/6/2024).

Pembinaan dihadiri , Perwakilan dari Puskesmas Tempel Satu, Bidan Kalurahan Lumbungrejo,  dan perwakilan kader dari setiap padukuhan. Pembinaan di mulai pukul WIB dan dilaksanakan di aula lantai dua Kalurahan Lumbungrejo.

dr Yulin Wulandari dari Puskesmas Tempel I membahas terkait dengan mekanisme pendampingan bagi keluarga ibu hamil.

“Peranan Kader Tim Pendampingan keluarga dalam mendampingi keluarga ibu hamil sangat penting guna mencegah kekurangan gizi dan risiko bayi lahir stunting. Karena masih banyak warga masyarakat yang masih belum sadar akan pentingnya makanan bergizi selama hamil,” tukasnya.

Sedangkan Bidan Kalurahan Lumbungrejo, Murviana Anisa Putri, menyampaikan terkait dengan pemberian PMT (Pemberian Makanan Tambahan) bagi ibu hamil yang Risti (Resiko Tinggi) atau KEK (Kekurangan Energi Kronis).

“Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil merupakan salah satu bentuk suplementasi Gizi bagi ibu hamil. Mengingat, ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami permasalahan kesehatan diantarnya kekurangan gizi,” tuturnya.

“Permasalahan mengenai kekurangan gizi pada ibu hamil ini banyak terjadi di negara-negara berkembang seperti Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil maupun kekurangan zat gizi mikro. ibu hamil dengan status gizi KEK ini dapat berpotensi menyebabkan keguguran, bayi berat lahir rendah (BBLR), Kematian neonatal, anemia pada bayi, dan asfiksia intra partum,” ungkap Murviana. (sbd_kimtempel)




Membedah Buku Cerdas Mengelola Sampah Mandiri di Seyegan

Sleman – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY bersama Anggota DPRD DIY, menggelar Bedah Buku “Cerdas Mengelola Sampah Mandiri Bersama Komunitas,” di Pendopo Beteng, Padukuhan Beteng Margoagung Seyegan pada hari Jum’at (28/6/2024).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kapanewon Seyegan ini, diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari Kapanewon Seyegan dan sekitarnya. Mayoritas peserta adalah praktisi sampah yang tergabung dalam Bank Sampah ataupun Sodaqoh Sampah yang selama ini telah berjuang menjadi relawan dan penggiat persampahan dalam menjaga lingkungan dengan pengelolaan sampahnya.

Asih Rahayu, yang selama ini dikenal sebagai pegiat Bank Sampah di wilayah Margomulyo memberikan ulasan mengenai bagaimana memulai Bank Sampah.  Secara detail, Asih menjelaskan tentang pemahaman mengenai Sampah termasuk jenis sampah yang harus dikelola.

Selanjutnya Asih menjelaskan tentang jenis pengolahan sampah organik dengan teknologi tepat guna seperti komposter, Takakura, biopori, jugangan/rolak, ataupun pembuatan eco-enzym.

Asih juga mengajak peserta bedah buku untuk bijak dalam mengelola sampah karena pada dasarnya kita adalah produsen sampah.

“Artinya pengelolaan sampah juga menjadi tanggung jawab kita. Sedangkan pemerintah bertanggung jawab dengan pengelolaan residunya,” tuturnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab penghasil Sampah, Asih mendukung peserta yang sebagian besar ibu-ibu tersebut dengan mendirikan Bank Sampah di wilayahnya masing-masing. Untuk itu, Asih memberi gambaran tentang bagaimana mengajak warga masyrarakat yang peduli lingkungan untuk melakukan study tiru, sebagai bekal untuk memulai bank sampah.

Asih yang juga pengurus inti JPSM Kabupaten Sleman ini menyampaikan kepada peserta tentang fasilitasi DLH yang bisa diakses oleh bank sampah baik sarana/prasarana maupun pelatihan pelatihan yang dibutuhkan.

Sementara itu, Yomi Windri Asni, salah satu penulis buku, dalam paparannya menyampaikan bahwa buku yang ditulisnya bersama teman-teman tersebut adalah sebagai bentuk kepedulian untuk ambil bagian dalam merawat lingkungan dengan pengelolaan sampah.

Titik berfikir kritisnya, Yomi melihat kesadaran individu yang masih rendah, dan  perubahan perilaku yang masih dalam proses menjadi semangat dalam menyusun buku yang praktis dan aplikatif sehingga mampu menjawab kegelisahan masyarakat dalam mengelola sampah.

Dalam bukunya, Yomi mengajak pembaca untuk membandingkan pengelolaan sampah di beberapa negara dengan pengelolaan sampah di Indonesia. Berbagai cara mengelola sampah organik rumah tangga dengan teknologi komposter yang tepat guna seperti komposter gerabah, ember tumpuk, losida, cacing, komunal, biopori, karung maupun drum.

“Khusus untuk membentuk bank sampah juga disampaikan secara detail seperti membentuk kepengurusan, memilih pengepul, model pengelolaan, administrasi dan pengembangan bank sampah sendiri,” ujar Yomi.

Sofyan Setyo Darmawan, anggota DPRD Provinsi DIY dalam arahannya menyampaikan bahwa Yogya dengan status darurat sampah ini memerlukan kelompok kelompok masyarakat pengelola sampah untuk ambil bagian dalam mereduksi timbulan sampah.

“Pemerintah pun mempunyai tanggung jawab dalam menyelesaikan Residu. Ini artinya pemerintah memerlukan kemitraan dalam pengelolaan sampah,” ujar Sofyan.

Sofyan juga bercerita, sejak TPST Piyungan ditutup banyak masalah yang timbul sehubungan dengan pembuangan sampah akhir. Sehingga perlu dicari terobosan yang mau tidak mau memerlukan teknologi dan pendanaan yang tidak sedikit.

“Sekarang ini proses untuk pengadaan alat penghancur sampah yang akan diuji cobakan di beberapa Kalurahan. Harapannya dengan alat tersebut dapat mengatasi persampahan yang masih menjadi problem di masa datang,” tutupnya. (Sutarto Agus/ KIM Seyegan)




Tingkatkan Kreativitas, Santri TPQ Al Istiqomah Belajar Buat Aksesoris

Sleman – Santri putri Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) Al Istiqomah belajar membuat aksesoris gelang dari manik-manik pada hari Jumat (28/6/2024) di Serambi Musola Al Istiqomah Cepor, Sendagtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Menurut Uqbatul Fahiroh, pengasuh TPQ Al Istiqomah bahwa kegiatan santri putri belajar membuat gelang dari manik-manik merupakan rangkain kegiatan dalam kemah santri TPQ Al Istiqomah ke-4 tahun 2024.

“Dengan belajar bareng membuat gelang harapannya akan menumbuhkan kreativitas santri putri dan bisa membuka peluang usaha. Minimal dipakai sendiri untuk kebanggaan bisa membuat gelang sendiri,” ucap Uqba.

“Untuk tentor membuat gelang pengajar TPQ Al Istiqomah sendiri. Elok Ashofa dan Himmatul Muflihah,” tambahnya.

Menurut tentor kerajinan Elok Ashofa bahwa membuat gelang dari manik-manik diperlukan keterampilan, ketelatenan juga kreativitas masing-masing santri. Sedangkan bahan dan alat yang diperlukan manik manik, tali, gunting korek atau lilin.

Dirinta menambahkan, untuk membuat  satu gelang modal usaha kisaran tiga ribu rupiah. Satu jam bisa bikin sepuluh gelang. Untuk harga satu gelang kisaran sepuluh sampa duapuluh lima ribu rupiah. “Harga gelang akan berbeda tergantung tingkat kerumitan dan pangsa pasar,” imbuhnya.

Himmatul Muflihah menambahkan bahwa selain menjadi gelang, manik-manik bisa juga dibentuk menjadi barang yang lain seperti gantungan HP, gantungan kunci, kalung, bros dan barang lainnya.

“Sebagai asesoris pelengkap penampilan. Terutama untuk remaja putri,” jelas Himma. (Kusnadi/KIM Berbah)




Bupati Sleman Serahkan 258 SK Perpanjangan Masa Jabatan BPKal

Sleman – Pemerintahan Kabupaten Sleman mengukuhkan 258 Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) yang diselenggarakan di Pendopo Parasamya pada Sabtu (29/6). Pada kesempatan tersebut Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengukuhkan dan menyerahkan secara langsung Surat Keputusan terkait perpanjangan masa jabatan BPKal menjadi 2 tahun

Pengukuhan dan Penyerahan Keputusan Bupati merupakan tindak lanjut dari ditetapkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa, yang Menyatakan secara resmi masa jabatan Lurah diperpanjang dari 6 tahun menjadi 8 tahun.

Dengan perpanjangan masa jabatan BPKal ini, Bupati berharap anggota BPKal dapat memperkuat perannya  dalam menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik di tingkat kalurahan.

“Berkenaan dengan hal ini saya harap perpanjangan masa jabatan ini anggota BPKal dapat memperkuat perannya dalam menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik di tingkat kalurahan,”ujar Bupati.

Bupati, Kustini menhimbau anggota BPKal berperan untuk mendukung program Sleman dalam upaya pengentasan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting di wilayahnya. Selain itu, Bupati menghimbau anggota BPKal dapat menjalin koordinasi dan bersinergi dengan perangkat kalurahan serta Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan sehingga terjalin hubungan kerja yang harmonis dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan kalurahan.

“Dalam Pelaksanaan tugas BPKal harus diiringi dengan integritas dan profesionalisme agar kegiatan pembangunan kalurahan dapat terlaksana dengan baik. Tugas ini tidak ringan, namun dengan niat tulus dan kerja keras saya yakin kita dapat membawa perubahan positif bagi Kabupaten Sleman,” ujar Bupati.

Dalam pemaksimalan kinerja, Bupati berpesan agar Panewu ikut mendampingi dan mengawal program-program pembangunan di kalurahan agar lebih terarah pelaksanaannya serta dapat mengawal keselarasan antara program-program pembangunan dan bertanggungjawab penuh dalam memberikan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat.