Kenalkan Demokrasi Sejak Muda, PPK Tempel Sosialisasikan Pilkada 2024 ke SMP Negeri 4 Tempel

Sleman – Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kapanewon Tempel  hadir sebagai narasumber pada acara Pengenalan Demokrasi Sejak Usia Muda yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 7 dan 8. Kegiatan tersebut dilangsungkan di aula SMP Negeri 4 Tempel, Jum’at pagi (23/8/2024).

Ketua PPK Tempel, Hartono pada kesempatan itu menyampaikan materi pengenalan peran generasi muda dalam  kehidupan demokrasi dan implementasinya di lingkungan sekolah.

“Sekolah adalah laboratorium awal bagi para siswa untuk mengenal kehidupan demokrasi, dengan pembiasaan musyawarah mufakat dalam mencari solusi dari sebuah permasalahan, saling menghargai pendapat, dan juga penyelenggaraan pemilihan ketua OSIS, misalnya”.

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif dan diselingi kuis atau pertanyaan berhadiah yang disambut antusias oleh para siswa. Saat sesi diskusi, muncul berbagai pertanyaan kritis dari para siswa yang ingin lebih mengetahui apa dan bagaimana seharusnya kehidupan demokrasi berjalan di lingkungan sekolah.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Hartono mengatakan hal itu menjadi awal yang baik bagi siswa untuk peduli terhadap keberlangsungan demokrasi.

“Merupakan suatu awal yang baik, ketika generasi muda kita memiliki kepedulian dan ketertarikan untuk mengenal lebih jauh apa dan bagaimana seharusnya sebuah proses demokrasi berlangsung, dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali mereka dengan informasi yang benar dan valid,” ungkap Hartono.

Untuk itu Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Tempel, Chatarina Lusi Noviyanti sangat menyambut baik kegiatan tersebut. Meski siswa SMP masih belum memiliki hak memilih di pilkada, namun setidaknya kegiatan tersebut memberikan pemahaman tentang arti demokrasi kepada mereka.

“Demokrasi di sekolah adalah sistem atau prinsip yang mempromosikan partisipasi aktif, keterlibatan, keadilan, dan keputusan bersama antara siswa, guru, dan staf sekolah dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan di lingkungan sekolah,” tutur Chatarina.

“Konsep ini didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi yang melibatkan kebebasan berbicara, penghormatan terhadap hak asasi manusia, keterbukaan terhadap pendapat yang berbeda, dan keadilan. Terima kasih kepada jajaran PPK Kapanewon Tempel yang telah memberikan informasi kepada anak-anak kami,” imbuhnya.

Chatarina menambahkan ada beberapa hal yang bisa diajarkan dalam menerapkan demokrasi di sekolah dengan melibatkan beberapa aspek.

“Antara lain dengan partisipasi siswa dalam berdemokrasi, keterbukaan dan transparansi, keadilan dan persamaan hak,menghargai pendapat dan keragaman dan pembelajaran aktif dan partisipatif,” tandasnya.  (Sih Budi Daryanto/Kim Tempel)




Makna Filosofis Pagelaran Wayang Kulit Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak

Sleman – Pagelaran wayang kulit pada malam Midodareni Pengantin Bekakak memiliki makna yang sangat mendalam, terutama dalam konteks tradisi Jawa dan upacara adat saparan di wilayah Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Wayang kulit sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional berfungsi tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai-nilai filosofis dan spiritual yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat.

Hal ini dituturkan Sumaryanto selaku Lurah Ambarketawang dalam pembukaan pagelaran wayang kulit dengan lakon Bimo Kurdo yang dibawakan oleh Ki Dalang Bayu Aji Nugroho yang berlangsung di Pendapa Kantor Pemerintah Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Jumat malam (22/8/2024).

Sumaryanto mengingatkan pentingnya pelestarian budaya, seperti pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga bersama. Ia pun mengajak masyarakat  menghormati dan menghargai nilai-nilai budaya, serta memastikan bahwa generasi muda harus terlibat aktif dalam melestarikannya, demi membangkitkan semangat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap tradisi lokal.

“Saya berharap pagelaran wayang kulit malam ini dapat memberikan hiburan sekaligus pelajaran moral bagi semua yang hadir. Cerita-cerita dalam wayang sarat dengan ajaran tentang kebaikan, kesabaran, dan keadilan yang perlu untuk direnungkan nilai-nilainya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Adapun lakon Bimo Kurdo menceritakan perjalanan spiritual Werkudara atau Bhima dalam pencarian kesaktian dan penemuan jati diri sejatinya. Kisah ini dimulai dengan Bhima yang merasa masih belum cukup sakti meskipun telah memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia mendapat bisikan dari gurunya bahwa untuk mencapai kesempurnaan ilmu harus menjalani laku prihatin dan mendapatkan wahyu dari Dewa Ruci yaitu makhluk kecil yang memiliki bentuk serupa dengannya.

Bhima lantas menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanannya, termasuk godaan dari para raksasa dan makhluk gaib yang berusaha menghalanginya. Namun, dengan kekuatannya yang besar dan keteguhan hatinya mampu mengatasi semua tantangan tersebut hingga bertemu dengan Dewa Ruci di dasar lautan.

Kemudian Dewa Ruci mengajarkan Bhima mengenai makna kehidupan sejati dan mengungkapkan bahwa kekuatan fisik dan kesaktian bukanlah segalanya. Namun, yang paling penting adalah kesadaran spiritual dan pemahaman tentang diri sendiri serta hubungannya dengan alam semesta sambil membawa Bhima ke dalam tubuhnya yang kecil demi memperoleh wawasan tentang asal-usul kehidupan, ketenangan batin, dan keselarasan dengan alam.

Pertunjukan wayang kulit di malam midodareni Pengantin Bekakak adalah refleksi dari nilai-nilai kehidupan yang harus dipegang melalui cerita yang disajikan untuk selalu menanamkan nilai-nilai kesabaran, kebijaksanaan, dan cinta kasih dalam hubungan keseharian, sehingga wayang kulit menjadi alat yang efektif guna menyampaikan pesan-pesan secara mendalam dan penuh makna.(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




PAUD Tunas Bangsa Sombangan Berpartisipasi Meriahkan Peringatan HUT ke-79 RI

Sleman – Guna memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang nilai sejarah kemerdekaan, PAUD Tunas Bangsa Sombangan melakukan karnaval, Jum’at (23/8/2024). Karnaval tersebut dimulai di gedung PAUD Tunas bangsa, kemudian berjalan mengelilingi wilayah Padukuhan Sombangan, dan berakhir di gedung PAUD Tunanas Bangsa.

      Selain diikuti seluruh peserta didik, karnaval itu juga diikuti oleh seluruh guru dan wali siswa. Para peserta nampak mengenakan berbagai antribut, termasuk membawa sebuah gunungan yang terbuat dari bahan bekas dan sampah.

      Kepala PAUD dan KB Tumas Bangsa, Riningsih menuturkan kegiatan karnaval ini sebagai sarana mengenalkan peserta didik mengenai kemerdekaan melalui perjuangan panjang Bangsa Indonesia.

“Dengan karnaval ini, peserta didik akan bisa merasakan perjuangan bangsa, dan kami bisa memberikan motivasi untuk mengisi kemerdekaan kepada peserta didik,” terangnya.

Riningsih juga mengungkapkan, replika gunungan berasal dari barang bekas dan sampah yang bertujuan agar para peserta didik mendapatkan pengetahuan bahwa barang bekas dapat dimanfaatkan kembali.

“Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), kami juga memanfaatkan barang bekas sebagai alat peraga,” pungkasnya,  (Ciek / KIM Moyudan)




Kenduri Midodareni Pengantin Bekakak Bentuk Penghormatan Sejarah Ambarketawang

Sleman – Masyarakat Kalurahan Ambarketawang menjalani upacara midodareni atau malam menjelang perkawinan yang dimaknai para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada sepasang boneka pengantin bekakak. Prosesi ini berlangsung di Gedung Serbaguna Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kamis malam (22/8/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana yang didampingi Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Sandro Dwi Rahardian, Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, serta Lurah Ambarketawang, Sumaryanto.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto dalam keterangannya menuturkan bahwa dalam konteks pengantin saparan bekakak, kenduri memiliki nilai simbolis yang lebih dalam. Sebab, tradisi ini erat kaitannya dengan penghormatan terhadap sejarah dan budaya masyarakat Ambarketawang.

“Terutama menyangkut dengan Raja Mataram yang pernah memerintah wilayahnya. Sehingga, dengan melaksanakan kenduri maka secara tidak langsung masyarakat turut memperkuat identitas budaya Ambarketawang serta menjaga warisan leluhur yang sudah ada sejak zaman dahulu,” kata Sumaryanto.

“Kenduri dalam malam midodareni sebagai sarana untuk mengirimkan doa-doa baik kepada arwah leluhur, lantaran masyarakat Jawa percaya bahwa leluhur memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan hidup generasi penerus,” tambahnya.

Sementara itu Panewu Gamping,Tamzis Sarwana berharap agar tradisi saparan bekakak yang telah menjadi warisan budaya tak benda ini tetap dilestarikan dan terus menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Ambarketawang. Sehingga nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan para leluhur dapat terus hidup dan dilanjutkan kepada generasi berikutnya.

“Semoga Saparan Bekakak dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari kebanggaan budaya lokal Ambarketawang. Tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi warisan budaya yang diakui secara lebih luas,”pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Masyarakat Nasri Sumbersari Terkesan dengan KKN UIN Sunan Kalijaga

Sleman – Iman adalah percaya adanya Tuhan dengan menjalankan semua kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.  Sholat bagi kaum muslimin merupakan kewajiban, ibadah yang harus dikerjakan, jangan sampai ditinggalkan.  Demikian pula halnya puasa Ramadahan wajib bagi yang mampu, jangan sampai meninggalkan.

“Andai ada udzur tidak bisa puasa Ramadhan, bisa mengganti dihari lain sesuai syariat.  Jangan sampai meninggalkan salat karea salat tiang agama,” pesan Ustaz Bahrul Ulum saat menyampaikan tausiyah pada pengajian sekaligus perpisahan mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan warga Pedukuhan Nasri III Sumbersari Moyudan Sleman Rabu (21/8/2024) di halaman Masjid An-Nashr.

Pada kesempatan itu, ustaz Bahrul Ulum menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Nasri III Sumbersari, karena para mahasiswa KKN diterima dengan baik, direngkuh sebagai keluarga dan warga.  Bahrul dan teman-temannya memperoleh banyak manfaat selama melaksanakan program KKN. 

Sementara Dukuh Nasri, Zamzuri Latif mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa yang telah memberi banyak inspirasi, dedikasi, menjalankan program untuk masyarakat, seperti sosialisasi literasi keuangan, pengajian, penyuluhan hingga terbentuknya grup hadroh. 

Latif berharap para mahasiswa bisa belajar hidup bermasyarakat.  “Ada aturan, unggah-ungguh, tepa selira dalam bermasyarakat,” ungkapnya. 

“Itulah seninya hidup di masyarakat, saling membantu, guyup, rukun, saling menghagai,” tegas Latif. 

Selain tausiah, pada kesempatan itu Grup Hadroh bersama para ibu warga RW 06 tampil dengan syair-syair sholawat diiringi rebana yang menambah meriahnya pengajian. Dua perwakilan pemuda RW 6 dan 7 juga menyampaikan kesan-kesan positif, para mahasiswa bisa berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Dakawaon dan Tlukan-Jetis yang berada di wilayah Nasri. 

“Terima kasih atas kerja sama selama ini, utamanya saat 17-an.  Semoga kakak-kakak mahasiswa dapat segera lulus dengan nilai baik,” tutur Fina mewakili Muda-mudi Ihwanul Muslimin RW 07 Nasri III Sumbersari.  (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)