Lestarikan Tradisi, Dusun Dowangan Gelar Kirab Budaya Asok Glondong Pangareng-Areng

Sebuah perwujudan dari komitmen masyarakat Dusun Dowangan untuk tetap menjaga, melestarikan, dan mempromosikan nilai-nilai budaya, sosial dan spiritual yang ada di lingkungan sekitar, sekaligus berkontribusi pada kemajuan kalurahan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menggelar kegiatan Kirab Budaya Asok Glondong Pangareng-Areng hasil bumi tlatah Dusun Dowangan yang di awali dari Sendang Kamulyan Dusun Dowangan menuju Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Minggu (25/8/2024).

Rombongan kirab yang terdiri dari Bregada Bremana Geni Dowangan, Bregada Wironogo Kaliabu, Bregada Ranuwira Patuk, Gunungan Ulam Mina, Gunungan Jajan Pasar dan Buah, Gunungan Janganan Kebon, Kesenian Ogoh-Ogoh serta petugas pembawa kendi yang berisi air dari Umbul Kamulyan, Umbul Rahayu,dan Umbul Kamukten dilepas secara resmi oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana didampingi Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, dan Perwira Unit Pembinaan Masyarakat, Ipda Mamik Susanti mewakili Kepala Kepolisian Sektor Gamping.

Setiba di depan panggung kehormatan Kalurahan Banyuraden, Sudarisman selaku Lurah Banyuraden menerima tiga buah kendhi dari tiga sumber air berbeda sebagai simbol kemurnian dan keberkahan, serta pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus menghormati tradisi dan mempererat tali persaudaraan antar warga.

Dalam sambutannya, Ia mengapresiasi seluruh warga Dusun Dowangan yang telah berpartisipasi tanpa memandang latar belakang status sosialnya demi menciptakan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan yang kuat sehingga kegiatan ini menjadi peristiwa penting bagi masyarakat untuk saling bekerjasama dan menjaga persatuan.

“Asok Glondong yang diarak merupakan simbol hubungan manusia dengan alam, dimana keseimbangan dan keharmonisan dengan lingkungan harus terus dijaga demi keberlangsungan hidup generasi mendatang,” ungkap Sudarisman.

Usai melantunkan doa yang dipimpin oleh Kyai Ahmad Shofi kepada Allah SWT sebagai permohonan keselamatan dan perlindungan bagi seluruh warga Dusun Dowangan seraya berharap melalui doa-doa tersebut selalu dijauhkan dari mara bahaya dan bencana alam demi menjaga kehidupan sosial dan spiritual warga yang damai dan sejahtera dilanjutkan rayahan Gunungan Tri Rejeki berupa hasil panen yang patut disyukuri.

Rayahan gunungan yang terbuat dari beragam hasil bumi menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam agar tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam demi mendapatkan rezeki yang berlimpah. Sedangkan proses arak-arakan dan perebutan gunungan tersebut menjadi pengingat bahwa sumberdaya alam harus dimanfaatkan secara bijak agar keberlangsungannya tetap terjaga. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Kirab Gunungan Warnai Merti Dusun Padukuhan Donolayan Donoharjo

Sleman – Merti dusun merupakan bentuk upaya  membersihkan diri dari hal-hal negatif dengan melakukan slametan atau wilujengan, melakukan sedekah, juga  pesta bersama dengan menampilkan kelompok kesenian Masyarakat.

Demikian dijelaskan oleh Arif Ernawan, Dukuh Padukuhan Donolayan Donoharjo Ngaglik Sleman pada puncak  acara Merti Dusun Donolayan, Minggu (25/8/2024).

Kirab Gunungan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan merti dusun berupa pembersihan makam, ziarah dan doa bersama, misa, kenduri, pengajian, kirab gunungan, jathilan dan pentas seni.

“Merti dusun diselenggarakan di bulan Sapar sebagai wujud syukur atas hasil panen. Karena itu dibuat gunungan hasil bumi sebagai  panen yang disedekahkan agar panen lebih banyak lagi dan  rejeki makin berlipat,” jelas Arif.

Arif menjelaskan, kegiatan Kirab diawali dari dalem Dukuh Donolayan dimana ada prosesi pengambilan pusaka songsong Pengayoman, yaitu payung peninggalan dukuh Pertama R Wirosumarjo. Pusaka tersebut kemudian dibawa berputar mengelilingi kampung Donolayan. Di tengah kirab mampir makam, melakukan doa bersama lalu melanjutkan perjalanan.

“Sampai di lapangan Donolayan dilakukan  upacara merti dusun, rayahan gunungan, pentas Jathilan serta pentas seni masyarakat,” tuturnya.

Arif menambahkan, ada tiga simbol yang mencerminkan arti Donolayan. Dono adalah uang artinya memberi uang, kemudian loyo artinya layu atau susah. Karena itulah dilakukan dengan memberi santunan kepada orang yang berkesusahan.

“Secata simbolis, diberikan kepada 1 orang setiap RT  di Donolayan yang terdiri dari 5 RT.  Kepada masing-masing perwakilan diberikan  tali asih sebagai wujud rasa syukur kepada manusia,” jelas Arif.

Kedua, wujud syukur kepada alam semesta yang secara simbolis divisualkan dengan pelepasan burung piaraan dari warga berupa burung  perkutut. Rasa syukur ketiga yaitu rasa syukur kepada ibu Pertiwi disimbolkan dengan menanam pepohonan karena ibu pertiwi senang ketika dipakai untuk menanam sehingga tumbuh subur dan semoga bisa sejahtera seperti yang diharapkan masyarakat.

“Dengan merti dusun  ini semoga masyarakat semakin sejahtera, semakin baik lagi, lebih guyub rukun golong gilig,” harap Arif mengakhiri pembicaraan. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Pererat Silaturahmi, Warga Donolayan Gelar Tradisi Kenduri Saparan

Sleman – Warga masyarakat padukuhan Donolayan, Donoharjo Ngaglik Sleman mengadakan Kenduri saparan bertempat di lapangan Padukukan Donolayan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada hari Sabtu (24/8/2024).

Kenduri saparan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan merti dusun  yang dirancang dengan agenda ziarah ke makam para leluhur, bersih kampung, sembahyangan/misa bagi umat Kristen/ Katolik, pengajian akbar dan puncaknya adalah kirab bergada rakyat dan gunungan yang diiringi oleh seluruh warga masyarakat Donolayan.

Arif Irnawan selaku Kepala Dusun Donolayan menyampaikan bahwa kenduri ini diikuti sekitar 250 kepala keluarga yang berasal dari 5 RT di wilayahnya. Kenduri saparan ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai momen untuk membersihkan diri dan mensucikan hati serta sebagai momen untuk mempererat tali persaudara dan silaturahmi antar warga.

“Kenduri saparan ini merupakan tradisi yang digelar setiap tahun dan menjadi ajang untuk melestarikan budaya adiluhung peninggalan nenek moyang kita. Meskipun tradisi ini diturunkan nenek moyang sejak dahulu kala tetapi di era sekarang ini tetap relevan untuk memelihara kekeluargaan, kegotong royongan, kerukunan , kekompakan, dan guyup rukun warga,” kata Arif.

“Tradisi Saparan juga bermakna sebagai ungkapan dan doa agar diberikan kesehatan, tambahan kenikmatan, rezeki yang melimpah , barokah serta diberikan lancar dalam usahanya dan dijauhkan dari marabahaya,” imbuhnya.

Sementara itu rois Wagiman yang memimpin kenduri menyampaikan bahwa ubarampe pada kenduri saparan memiliki makna filosofi yang mendalam bagi kehidupan bermasyarakat.

“Tumpeng sekul suci bermakna rasa syukur kepada  Tuhan Yang Maha Suci, juga harapan mendapat kehidupan yang lebih baik di masa akan datang.  Ingkung sebagai lambang kenikmatan yang diberikan oleh Alloh SWT. Ambengan mempunyai nilai memohon doa agar kita diberikan kehidupan yang ayem tentrem kerta raharja,” terangnya.

“Golong giling bermakna persatuan dan kesatuan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai warga masyarakat. Bunga mempunyai arti harapan rasa aman, nyaman, damai seperti halnya ketika mencium wanginya bunga di taman,” tutup Wagiman. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Susun Rencana Kegiatan Tanam untuk Setahun Kedepan, Gapoktan Donomakmur Gelar Rapat RDKK

Sleman – Sebanyak 19 kelompok tani di wilayah Donoharjo yang tergabung dalam Gapoktan (Gabungan kelompok tani) Donomakmur mengadakan rapat RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) pada Jumat (23/8/2024).

Penyusunan RDKK dimaksudkan sebagai landasan bagi perencanaan kegiatan tanam untuk satu tahun kedepan termasuk penggunaan pupuk bersubsidi.

“Pemberian pupuk bersubsidi harus direncanakan dengan baik terkait dengan kuota yang diberikan dan penyaluran atau pendistribusiannya. Untuk itu diperlukan RDKK yang  menjadi acuan atau rujukan dinas pertanian dalam menyediakan pupuk bersubsidi bagi petani. Artinya saat ini petani wajib terdata di RDKK, jika tidak terdaftar maka petani tidak bisa membeli pupuk bersubsidi” kata Dwi Damai Yanti , Penyuluh Pertanian Lapangan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa data petani penerima manfaat yang terdapat di RDKK juga menjadi dasar pembagian Kartu Tani yang akan digunakan untuk pembayaran pupuk bersubsidi.

“Persyaratan utama memiliki Kartu Tani adalah petani yang memiliki e-ktp kemudian  tergabung dalam kelompok tani yang menyusun RDKK. Karena mengacu pada NIK maka tidak akan muncul data ganda, sehingga   petani penerima pupuk bersubsidi tersebut sesuai dengan RDKK yang diajukan, tidak ada penerima melebihi kuota. Jadi pemberian pupuk tepat sasaran, merata dan mencegah terjadinya penyelewengan,” kata Damai

Damai menambahkan, jumlah kuota pupuk yang diperoleh petani tergantung dari luas lahan yang dimiliki, jenis pupuk dan dosis pupuk sesuai rekomendasi yang diinput dalam RDKK.

Saat ini pupuk yang disubsidi pemerintah meliputi urea, NPK dan pupuk organik. kuota pupuk yang disediakan hanya untuk 9 komoditas yaitu Untuk tanaman pangan terdiri dari padi, jagung, kedelai. Tanaman hortikultura meliputi cabai, bawang merah, bawang putih sedangkan tanaman perkebunan terdiri dari tebu rakyat , kakao dan kopi rakyat. 

“Untuk tanaman  Padi diberikan pupuk urea dengan kuota 225kg/ ha dan NPK 250kg/ha. Sedangkan jagung,  urea 250kg/ha dan NPK 300kg/ha,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut Dwi Damai Yanti selaku PPL Pertanian mengimbau kepada ketua kelompok tani untuk meneliti dan mendaftar Petani di wilayahnya yang belum masuk di RDKK.

“Ini adalah kesempatan bagi petani yang belum masuk RDKK agar terinput  dan mendapatkan akses pupuk bersubsidi sehingga meningkatkan hasil panen, selain itu bisa menambahkan luas lahan dan kuota pupuk pada musim tanam mendatang yang sebelumnya tidak masuk dalam RDKK,” pungkas Damai. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Puncak Peringatan HUT ke-79 RI, Padukuhan Kayen Gelar Kirab Budaya

Sleman – Sebagai puncak rangkaian kegiatan dari peringatan HUT Ke-79 RI, Padukuhan Kayen Condongcatur Depok Sleman melaksanakan Kirab Budaya dan Pentas Seni Jathilan, Minggu (25/8/2024)

Ketua Panitia HUT ke-79 RI Padukuhan Kayen, Berlian Aji Putra Wijaya mejelaskan Peringatan HUT RI ini mengambil Tagline KASTURI (Kayen Asri Bertradisi Unggul dan Lestari)

“Untuk lomba lomba telah dimulai sejak pertengahan bulan Juli 2024 dengan  mengelar Lomba Voly antar RT yang berlangsung selama 2 pekan dan juga diadakan lomba untuk anak anak dan ibu-ibu,” ungkapnya.

Ditambahkan Ajik, untuk puncak acara pada Minggu (25/8/2024) dilaksanakan Kirab Budaya dengan menampilkan 3 pasukan Bregada dengan peralatan musik bregada dan pakaian khas bregada Bregada Gardo Wirotomo RW 43, Bregada RW 44 dan Bregada Unggul Yudho RW 45.

“Setiap pasukan bregada RW membawa Gunungan untuk diperebutkan warga usai upacara juga dibarisan belakang diikuti Ibu ibu dengan pakaian kebaya jawa dan pakaian ala pedagang, ala petani dan peralatannya seperti memakai caping, mengendong tenggok dsb setiap padukuhan peserta kirab bregada dan pengikut dibelakang sekitar 200 orang,” ungkapnya.

Usai melakukan kirab keliling Padukuhan Kayen melewati Jurugsari Padukuhan Joho dan Banteng Baru yang menempuh jarak 2.5 KM selama sekitar 1 jam, kirab menyentuh garis finish di lapangan Cikal Dempet Kayen. Acara kemudian dilanjutkan dengan Upacara Bregada dengan pengageng Upacara Dukuh Kayen, dan kemudian digelar pentas Jatilan.

Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh, yang hadir bersama Ketua Ketua TP PKK Kalurahan Condongcatur mengucapkan terima kasih atas partisipasi masyarakat dalam rangka Hut ke-79 kemerdekaan, semangat gotong royong, guyub rukun melalui Kirab Budaya /merti dusun ini sebagai wujud semangat kemerdekaan.

“Potensi Padukuhan Kayen baik potensi wisata, potensi budaya potensi SDM  diharapkan dapat dikelola dengan bsik oleh masyarakat sehingga menjadikan Kayen sebagai salah satu padukugan di Condongcatur mampu memberdayakan semua potensi masyarkat untuk kemajuan padukuhan,” tuturnya.

Sementara Ketua Sub unit LPMKal Kayen, Jindarto mengapresiasi Kegiatan pawai budaya yang menampilkan potensi seni warga Kayen.

“Kegiatan kirab seperti ini pada zaman dulu dilaksanakan oleh simbah simbah kita dengan nama “merti dusun” sedangkan untuk kirab budaya semacam ini terakhir dilaksanakan satu Padukuhan terakhir pada tahun 2018, diharapkan kegiatan seperti ini bisa rutin di gelar 5 (lima) tahun sekali sebagai wujud syukur atas kerukunan yang semakin kuat antar warga, melalui kegiatan ini rasa persaudaraan dan kekeluargaan semakin terpupuk baik mulai dari anak anak, remaja, orangtuanya bahkan lansia,” ucapnya. (Wasana/KIM Depok)