Wayang Kulit ‘Wahyu Katentreman’ Merajut Ketenangan untuk Kedamaian Nusupan

Sebagai sarana untuk menjaga dan memperkuat hubungan antara warga dusun serta sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah alam yang diberikan Allah SWT, maka warga Padukuhan Nusupan Kalurahan Trihanggo menyelenggarakan kegiatan merti dusun dengan mengangkat tema ‘Gumregah Nyawiji Angrabuk Rukun Ambangun Dusun’ yang dipusatkan di Gardu Ronda Nusupan, Sabtu malam (31/8/2024).

Guna memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup, baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, maupun manusia dengan Sang Pencipta, pada puncak acara merti dusun digelar pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh dalang Ki Geter Pramuji Widodo dan Ki Gading Pawukir Seno Saputro secara bergantian, serta dimeriahkan bintang tamu Elisha Orcarus Allaso dan Sihono saat adegan limbukan.

Pagelaran wayang kulit dengan lakon ‘Wahyu Katentreman’ dihadiri oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana bersama Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Wahyani dan Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Sandro Dwi Rahardian, serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman, Herman Budi Pramono yang disambut kehadirannya oleh Dukuh Nusupan, Sumarjono.

Menurut Sumarjono selaku Dukuh Nusupan, lakon ‘Wahyu Katentreman’ merupakan salah satu cerita dalam dunia pewayangan yang sarat dengan makna filosofis dan spiritual yang memiliki arti wahyu atau anugerah yang membawa ketenangan dan kedamaian.

“Kami memilih cerita ini agar warga Dusun Nusupan dan sekitarnya memahami bahwa kedamaian sejati dalam masyarakat hanya bisa tercapai jika pemimpin memiliki kebijaksanaan dan ketenangan batin,” tuturnya.

Dalam konteks pewayangan, wahyu merupakan simbol dari pengetahuan ilahi atau kearifan yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Lakon ini menggambarkan pencarian spiritual oleh para ksatria atau raja untuk mendapatkan wahyu demi menciptakan kedamaian di kerajaannya.

Cerita di awali oleh Ki Geter Pramuji Widodo yang menceritakan perjalanan seorang ksatria yang harus melalui berbagai ujian dan rintangan untuk memperoleh wahyu katentreman. Perjuangan ini menggambarkan betapa sulitnya mencapai ketenangan batin dan kedamaian sejati yang hanya bisa diraih melalui pengendalian diri, pengorbanan, dan keikhlasan.

Saat perjalanan mencari wahyu, sang ksatria dihadapkan pada berbagai godaan dan pertarungan melawan kekuatan jahat yang ingin menggagalkan usahanya. Pertarungan ini melambangkan konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang ada dalam setiap manusia. Hanya dengan menaklukkan hawa nafsu dan godaan duniawi maka manusia dapat mencapai ketenangan dan kedamaian sejati.

Hal tersebut mengajarkan bahwa kedamaian dan ketenangan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari dan diperjuangkan. Di dunia yang penuh dengan konflik dan ketidakpastian, pesan ini menjadi sangat penting sebagai pengingat akan nilai-nilai spiritual yang sering kali terabaikan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Sebanyak 581 Karateka Ikuti Ujian Kenaikan Tingkat Kyu INKANAS 2024

Sleman – Sebanyak 581 karateka INKANAS (Institut Karate-Do Nasional) ikuti Ujian Kenaikan Tingkat  Kyu semester 2 tahun 2024 di Markas Polda DIY Jalan Ring Road Utara , Depok, Sleman pada Minggu (1/09/2024).

Ujian kenaikan tingkat diikuti oleh Kohai sabuk putih sebanyak 104, sabuk kuning 193, sabuk hijau 116, sabuk biru 78 dan sabuk coklat 27 , kesemua kohai berasal dari 45 Dojo  di wilayah DIY yaitu Sleman 12 Dojo, kulon Progo 21 Dojo, Kota Yogyakarta 8 Dojo, Bantul 3 Dojo dan Gunung Kidul 2 Dojo.

Ketua penyelenggara, Pranoto menyampaikan bahwa  ujian kenaikan tingkat  dimaksudkan sebagai evaluasi untuk karateka mempraktekkan kamampuan beladiri selama para kohai  melakukan latihan  di Dojo masingmasing.

“UKT ini sekaligus sebagai sarana sejauh mana para kohai memahami dan menyerap teknik karate yang diajarkan para Senpai ,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa UKT kali ini terasa istimewa karena bertepatan dengan  ulang tahun  ke 19 INKANAS  yang jatuh pada tanggal 28 Agustus.

Kapolda DIY Irjen Suwondo Nainggolan selaku Ketua Umum INKANAS DIY saat membuka acara tersebut menyampaikan pesan agar para karateka peserta ujian bersungguh sungguh dan semangat dalam mengikuti ujian kenaikan tingkat.

“Setiap ujian pasti ada yang harus dikerjakan untuk bisa memastikan apakah para kohai menguasai olah fisik seperti teknik karate. Namun lebih dari itu di dalam karate mengajarkan kita untuk menjadi pribadi dengan karakter yang kuat, pantang menyerah, jujur, disiplin, sportif,  semangat,  memiliki rasa tanggung jawab dan menjunjung tinggi etika,” kata Suwondo.

Lebih lanjut ia berpesan agar para karateka memiliki jiwa pelindung dan penolong dan pendai untuk mengendalikan diri.

“Beladiri tidak mengajarkan kekerasan, bukan juga untuk disombongkan, karateka harus pandai mengendalikan diri, tidak mudah terpancing amarahnya dan harus memiliki rasa welas asih kepada sesama,” pungkasnya. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Lurah Banyuraden Lakukan Pelepasan Purna Tugas Kamituwa

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada Muhajir selaku Kamituwa Banyuraden yang telah mengabdikan diri untuk memimpin dan melayani masyarakat Kalurahan Banyuraden selama 42 tahun masa jabatannya, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menyelenggarakan acara pelepasan purna tugas kamituwa yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat sore (30/8/2024).

Pelepasan purna tugas yang dilakukan oleh Sudarisman selaku Lurah Banyuraden dihadiri Panewu Gamping, Tamzis Sarwana yang didampingi Kepala Jawatan Praja Kapanewon Gamping, Budi Supriyanta, Kamituwa se-Kapanewon Gamping, tokoh masyarakat, serta tokoh agama se-Kalurahan Banyuraden.

Untuk menghindari Kekosongan kepemimpinan, dalam kesempatan ini Lurah Banyuraden mengangkat Ulu-Ulu Banyuraden, Sulung Pramono sebagai Pelaksana Tugas Kamituwa Banyuraden agar ketidakpastian yang mungkin timbul akibat kekosongan jabatan Kamituwa dapat diminimalkan sekaligus memastikan bahwa aturan dan regulasi kalurahan tetap ditegakkan.

Dalam sambutannya, Sudarisman menuturkan acara pelepasan ini selain untuk memberikan apresiasi atas pengabdian dan dedikasi terhadap Kamituwa juga berfungsi untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah Kalurahan Banyuraden. Menurutnya, dengan melibatkan berbagai pihak dalam peristiwa ini diharapkan tercipta komunikasi yang lebih baik dan kepercayaan yang lebih kuat antara warga dengan para pemimpinnya yang sangat penting demi keberhasilan program-program pembangunan Kalurahan Banyuraden di masa depan.

“Adanya pelaksana tugas Kamituwa menjadikan urusan administratif dan keputusan penting di kalurahan tetap bisa dijalankan sesuai aturan yang berlaku, sehingga tidak ada penundaan dalam pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping mengatakan pengangkatan Pelaksana Tugas Kamituwa memberikan waktu yang cukup untuk mempersiapkan transisi kepemimpinan yang lebih mulus ke Kamituwa definitif. Beberapa hal yang harus dilakukan meliputi persiapan administrasi, sosialisasi kepada masyarakat, dan memastikan bahwa pemimpin baru dapat segera bekerja efektif setelah dilantik.

Pelaksana Kamituwa berfungsi untuk melanjutkan pelayanan publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah kalurahan meliputi pengelolaan administrasi, pelayanan kepada warga, serta pelaksanaan program-program kalurahan yang telah direncanakan sehingga hak-hak warga tetap terpenuhi dan pelayanan kalurahan tidak terganggu.

Mengakhiri sambutannya, Tamzis menegaskan Pelaksana Tugas Kamituwa memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan lancar tanpa hambatan sekaligus menjalankan tugas-tugas administratif dan operasional kalurahan dengan penuh dedikasi.

“Pantau dan pastikan program-program Kalurahan Banyuraden yang telah direncanakan sebelumnya tetap dilaksanakan dengan baik dan tidak ada pekerjaan yang tertunda, meskipun sedang dalam masa transisi kepemimpinan,” tegasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Semarakkan Lembayungfest #2, Kalurahan Lumbungrejo Adakan Lomba Adzan

Sleman- Guna menyemarakkan kegiatan Lembayungfest #2 sekaligus mencari bibit-bibit muadzin di Lumbungrejo, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo menggelar lomba adzan antar padukuhan. Kegiatan lomba adzan dalam rangka Lembayungfest #2 Kalurahan Lumbungrejo dilaksanakan di Aula Kalurahan Lumbungrejo, Sabtu (31/08/2024) pukul WIB sampai selesai.

Acara ini dihadiri Agung Saputra Pangripta Lumbungrejo yang sekaligus panitia penanggungjawab lomba adzan, Imam Muchlasin Dukuh Ngepos yang juga penanggungjawab lomba, 2 Anggota LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kapanewon Tempel yang ditunjuk sebagai juri. Lomba ini diikuti 39 peserta dengan kriteria anak berusia 12th kebawah dari masing-masing padukuhan yang ada di Kalurahan Lumbungrejo.

Panitia lembayungfest #2 Agung Saputra, mengatakan, lomba adzan digelar dalam rangka memeriahkan Lembayungfest #2 dan juga mencari bibit muadzin dan memupuk semangat religius anak-anak Lumbungrejo

“Lomba adzan yang digelar bertujuan syiar dan mencari bibit -bibit muadzin masa depan. Selain untuk syiar dan pencarian bibit muadzin kegiatan ini sebagai penanaman jiwa religi dan penghargaan bagi mereka yang sudah terbiasa adzan diwilayah kalurahan Lumbungrejo,” jelas Agung.

Ditemui ditempat yang berbeda Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim mengutarakan menjadi seorang muadzin bukanlah perkara mudah karena yang melakukan pastilah anak yang disiplin, konsisten dan mau.

“Seorang muadzin harus tepat waktu mengumandangkan adzan ketika waktu sholat. Dia memiliki tanggung jawab yang besar menyerukan panggilan kepada seluruh umat muslim agar menunaikan salat, untuk itu saya mengapresiasi kegiatan lomba adzan untuk anak-anak ini,” ungkap Misbah

“Tahun depan saya harap lombanya tidak hanya adzan saja tetapi dengan beragam lomba keagamaan lainnya agar dapat menggali potensi-potensi anak-anak Lumbungrejo,” ujar  Misbah

Dari 39 peserta terjaring 5 juara dengan kategori juara 1,2,3 harapan 1 dan harapan 2. Dari hasil yang kita dapatkan dari dewan juri, keluar 5 nama anak-anak yang menjadi juara, yakni juara 1 Muhammad Zaki Mustofa dari padukuhan Lodoyong juara 2 Fakhri Zafran Hakiki dari padukuhan Kopen, juara 3 Abyan dari padukuhan Ngepos, juara harapan 1Affan Maulana Putra, juara harapan 2 Rakka Fajrin Yudistira dari padukuhan Sedogan.

“Saya ingin anak-anak di Lumbungrejo selalu percaya diri melantunkan azan dengan bagus dan enak didengar dan salah satu upayanya yakni melalui lomba ini,” tutup Misbah saat menyampaikan hadiah kepada para pemenang

Salah satu orang tua dari pemenang yakni Triyatno wali dari Affan Maulana Putra mengatakan “Saya tidak menyangka anak saya bisa masuk juara walaupun masih harapan 1 akan tetapi saya sangat senang dan bangga, tidak menyangka anak saya bisa menjadi juara, karena kalau teringat pada saat sakitnya kambuh rasanya sedih karena nafasnya terenga-enga akan tetapi pada saat lomba ternyata dia bisa dan mampu, terimakasih kepada pemerintah kalurahan lumbungrejo yang telah mneyelenggarakan kegiatan Lomba ini, semoga menjadi penyemangat anak-anak kami dalam beribadah ” ucap Triyatno

Para pemenang lomba mendapatkan Piala, piagam dan juga uang pembinaan sebagai apresiasi dan penyemangat untuk tetap mensyiarkan agama islam dengan menjadi muadzin di padukuhannya masing-masing.  (Ais-Kim Ceria Lumbungrejo)




Komunitas Banyu Bening Manfaatkan Air Hujan Sebagai Air Minum Yang Sehat

Menyongsong ritual tahunan Kenduri Banyu Udan ke-9 dan meningkatkan pemahaman serta kemampuan penerapan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) secara lebih efektif demi tercapainya peningkatan kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, maka Sekolah Air Hujan Banyu Bening menggandeng Unit Pelaksana Teknis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ngaglik I menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis bagi tokoh masyarakat yang berlangsung di Ruang Pertemuan Komunitas Banyu Bening, Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu (31/8/2024).

Kegiatan Sabtu Belajar yang mengangkat tema peran media dalam penyebarluasan informasi mengenai pengelolaan air minum yang sehat tersebut dihadiri oleh Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih dan berbagai elemen masyarakat antara lain Kepala Padukuhan, Ketua Rukun Warga, serta tokoh masyarakat yang menerima materi pelatihan dari Amilda Utami selaku Kepala Sanitarian Puskesmas Ngaglik I.

Dalam paparan materi Sanitasi Sosial Berbasis Masyakat, Amilda menyampaikan perlunya pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter bagi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan demi menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.

“Pelibatan tokoh masyarakat dalam penyusunan strategi dan rencana aksi yang efektif untuk mengimplementasikan program STBM sangat diperlukan pada komunitas masing-masing,” tegasnya.

Menurut Amilda, ada lima pilar STBM yang memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari risiko penyakit diantaranya tidak melakukan buang air besar sembarangan, mencuci tangan dengan air menggunakan sabun, mengolah air minum yang aman, mengelola sampah rumah tangga, serta mengelola limbah cair rumah tangga.

Kelima pilar tersebut bekerja secara sinergis untuk membangun kesadaran dan praktik sanitasi yang baik di lingkungan masyarakat. Apabila diterapkan secara efektif maka diharapkan dapat menurunkan angka penyakit menular dan meningkatkan kualitas kesehatan serta lingkungan hidup masyarakat.

Lebih lanjut, Sri Wahyuningsih selaku Ketua Komunitas Banyu Bening mengatakan bahwa selain edukasi diperlukan peran dari media informasi dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu kritis terkait air minum. Melalui penyebaran informasi yang memuat kasus-kasus kontaminasi air, kekeringan, maupun masalah akses air bersih di berbagai wilayah maka dapat membantu membangkitkan perhatian publik terhadap pentingnya menjaga sumber air dan praktik pengelolaan air yang baik.

Media informasi dapat menyebarluaskan teknologi pengolahan air minum yang inovatif dan dapat diakses oleh masyarakat luas seperti yang dilakukan oleh Komunitas Banyu Bening yang telah memanfaatkan air hujan sebagai air minum yang menyehatkan demi meningkatkan kualitas air minumnya untuk kesehatan masyarakat.

“Kesadaran yang dibangun melalui media informasi ini seringkali mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam penggunaan dan pengelolaan air,” terangnya. (Adnan Nurjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)