Sleman – Karang Taruna Kalurahan Banyurejo Kapanewon Tempel mengadakan kegiatan Pelatihan Pranatacara atau Pembawa Acara dalam Bahasa Jawa selama 2(dua) hari, yaitu tanggal 18-19 September 2024, di Ruang Rapat Kalurahan Banyurejo. Kegiatan itu dihadiri oleh pengurus dan 30 anggota Karang Taruna Kalurahan Banyurejo.
Acara dibuka oleh Kamituwo Banyurejo, Muh Yusuf Wibawanta, dan menghadirkan dua orang narasumber sekaligus praktisi budaya dari DPC PPY Kapanewon Tempel, Saryanto dan Sih Budi Daryanto.
Dalam sambutannya, Kamituwo Banyurejo mengharapkan dengan pelatihan Pranatacara yang direncanakan selama 2(dua) hari ini budaya jawa di wilayah Kalurahan Banyurejo khususnya di kalangan anak-anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna akan terus terjaga dan lestari hingga ke anak cucu kita kelak.
“Karena pranatacara adalah bagian dari pelestarian budaya Jawa yang adiluhung sebagai sumber kearifan dalam kehidupan bermasyarakat dan mencerminkan identitas lokal masyarakat Jawa. Karena di era milenial ini banyak anak muda yang sudah tak peduli lagi dengan pelestarian bahasa dan sastra Jawa di daerahnya,” ngkapnya Yusuf, Rabu (18/9/2024) malam.
“Jarang sekali yang mampu berbicara dengan unggah-ungguh atau berbahasa Jawa halus dengan “Krama Inggil”. Jadi monggo kegiatan seperti ini besok tahun depan bisa diadakan lagi tapi waktunya lebih intens agar para peserta dapat materi lebih banyak sekaligus latihan praktek MC bahasa Jawa langsung,” tambahnya.
Materi pertama disampaikan oleh Ketua DPC PPY Kapanewon Tempel, Sih Budi Daryanto. Pada kesempatan itu Sih menyampaikan tentang pranatacara, dalam Bahasa Indonesia disebut pewara.
Pranatacara merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus, karena yang bersangkutan harus memahami benar susunan suatu acara menggunakan bahasa Jawa krama Inggil.
“Pranatacara sering dihubungkan dengan upacara adat Jawa, seperti pengantin (temanten), kematian (kesripahan), pertemuan (pepanggihan), perjamuan (pasamuan), pengajian (pengaosan), pentas, dan sebagainya. Sehingga profesi pranatacara juga sudah mendapat pengakuan dan penghargaan yang baik dari masyarakat dan terus berkembang menjadi profesi menguntungkan,” kata Sih.
“Peran pranatacara dalam acara-acara resmi maupun hiburan, tetap menjadi tolak ukur sukses tidaknya suatu acara. Sehingga dapat dibayangkan bagaimana bila suatu acara tidak ada pranatacaranya, maka acara itu akan terasa tidak urut dan tidak enak dilihat,” sambungnya.
Sih menambahkan, untuk menjadi pranatacara tidak hanya mempunyai bekal keberanian saja. Tetapi juga harus mempunyai bekal kemampuan.
“Keberanian akan timbul apabila seseorang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, dan rasa percaya diri ini timbul bila seseorang mempunyai keyakinan atas kemampuan yang dimiliki. Seorang pranatacara harus dapat melafalkan dengan benar kata-kata bahasa Jawa krama inggil. Mereka juga diwajibkan mampu mengendalikan suaranya agar tetap menarik dan tidak menjemukan,” jelas Sih.
“Selain suara, nafas juga harus di kendalikan secara teratur. Beberapa syarat yang biasanya menjadi dasar bagi pranatacara agar mampu melaksanakan tugasnya antara lain adalah, memiliki kemampuan olah swara (teknik vocal),” tambahnya.
Pemateri selanjutnya, Saryanto menyampaikan bahwa pranatacara juga harus mengutamakan, serta memperhatikan penampilan.
“Peribahasa dalam bahasa Jawa menyebut, ajining diri gumantung kedaling lathi, ajining raga gumantung ing busana. Peribahasa itu sesuai profesi pranatacara. Seorang pranatacara akan tampil sangat bagus jika didukung bagusnya suara, postur badan dan pakaiannya. Olah raga berhubungan dengan sikap, solah bawa, kesusilaan, dan subasita. Olah raga, atau cara berpenampilan yang baik bagi pranatacara selalu diawali keadaan tubuh yang sehat, suara yang tidak serak, volume suara yang enak didengar, tidak melengking dan tidak rendah,” tutur Saryanto.
Saryanto pun menyampaikan bagaimana tips dan trik agar menguasai materi pranatacara dan pamedharsabda (pidato dalam bahasa Jawa) dengan baik, sehingga dapat dijadikan sebagai profesi yang menjanjikan dan menyenangkan oleh para peserta yang hadir ke depannya. Selanjutnya untuk hari besok akan dilanjutkan pembahasan materi mengenai busana Jawa beserta cara memakainya,serta diakhiri dengan mempraktekkan langsung dari materi yang disampaikan tentang bagaimana menjadi pranatacara dan pamedharsabda. (Sih Budi Daryanto/Kim Tempel)