Lomba Masak Pangan Lokal Bersertifikasi Halal dan PIRT Dorong Kreativitas UMKM

Untuk mendorong pengembangan dan diversifikasi produk olahan pangan lokal maka Pemerintah Kapanewon Gamping menyelenggarakan lomba masak olahan pangan lokal bersertifikat halal dan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang berlangsung di Pendapa Kantor Kapanewon Gamping, Jumat (20/9/2024).

Lomba masak menggunakan bahan-bahan asli daerah diikuti oleh Sembilan peserta yang merupakan perwakilan dari lima kalurahan se-Kapanewon Gamping dibuka oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kapanewon Gamping, Etik Mawarti.

Dalam sambutannya, Etik menuturkan bahwa kegiatan lomba masak ini juga bertujuan untuk mendorong kreativitas para peserta dalam menciptakan produk makanan olahan yang inovatif menggunakan bahan-bahan lokal dan diharapkan peserta dapat menciptakan menu yang baru dan menarik sehingga mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional.

“Yang tidak kalah penting, peserta dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam setempat sehingga membantu mengurangi ketergantungan pada produk impor dan memperkuat kemandirian pangan,” tambahnya.

Tampak hadir dalam kegiatan antara lain Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, bersama Tim Juri yang terdiri dari Ahli Gizi Puskesmas Gamping I, Slamet Haryanto, dan Ketua Forum Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kapanewon Gamping, Pudyasminarsi.

Di sela waktu penilaian masakan, Panewu Gamping, Tamzis Sarwana mengatakan salah satu tujuan jangka panjang dari lomba ini adalah meningkatkan daya saing produk pangan lokal di pasar karena produk yang bersertifikasi halal dan PIRT mempermudah pelaku usaha memasuki pasar yang lebih luas.

“Lomba masak olahan pangan lokal bersertifikat halal dan PIRT menjadi salah satu upaya strategis guna mendorong perkembangan industri pangan lokal yang berkelanjutan, inovatif, dan berkualitas khususnya di wilayah Kapanewon Gamping,” cetusnya.

Adapun hasil penilaian lomba yang terbagi menjadi kategori genap dan kategori ganjil antara lain Nur Hidayati dari Ambarketawang (Juara I), Bekti Istini dari Balecatur (Juara II), Sri Asri dari Banyuraden (Juara III) untuk kategori genap. Sedangkan kategori ganjil Juara I diraih oleh Nuri Setiawati dari Balecatur, Siti Malika Dian dari Ambarketawang (Juara II), serta Tari dari Trihanggo sebagai Juara III.

Pelaku UMKM diharapkan dapat lebih percaya diri dalam memproduksi dan memasarkan produknya, terutama setelah mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya sertifikasi halal dan sertifikasi PIRT untuk memastikan produk tidak hanya lezat tetapi juga aman untuk dikonsumsi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Isi Pengajian Forkom PRM dan PRA Sumbersari “Jangan Sampai Miskin Mata”

Moyudan – Forkom PRM dan PRA (Forum Komunikasi Pengurus Ranting Muhammadiyah dan Pengurus Ranting Aisyiyah) se- Sumbersari, Moyudan  mengadakan pengajian bersama  bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, Minggu (22/09/2024. Pengajian tersebut merupakan kegiatan rutin Ahad Paingan Forkom PRA-PRA di Sumbarsari sekaligus maulid nabi.

Ketua Forkom PRA-PRA Sumbersari Anton Rahmad Widodo dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada lurah Sumbersari beserta  segenap pamong dan stafnya yang selalu memberikan dukungan penuh dan menyediakan fasilitas tempat untuk berkegiatan tanpa imbalan apapun.

Sementara itu arik Sumbersari Junaidi menyampaikan bahwa Permkal Sumbersari selalu memberikan dukungan karena tugas pemkal antara lain mengadakan pembinaan masyarakat, dan pengajian merupakan kegiatan keagamaan yang  merupakan kegiatan pembinaan masyarakat. Selanjutnya ia menyampaikan pesan dari lurah untuk diadakan regenerasi dan kaderisasi bagi muda-mudi Muhammadiyah.

Penceramah yang dihadirkan pada kesempatan itu adalah Sigit Warsito, pengasuh Pondok Pesantren  Al Hakim Sinar Melati Sleman. Ia memberikan materi tentang mencintai Allah dan Rasulnya. Dikatakan bahwa untuk dapat meneladani Rosulullah sehingga mencapai derajat keimanan yang tinggi adalah dengan menepis egoisme dari jiwa.

“Misalnya orang enggan bangun untuk sholat Shubuh karena lebih memilih tidur, itu lebih mencintai dirinya sendiri  dari pada mencintai Allah dan rasulnya yang memerintahkan untuk sholat Shubuh,” tuturnya.  

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kegiatan sehari-hari haruslah berorientasi kepada kehidupan akhirat agar tidak dimiskinkan matanya.

Diterangkan maksudnya,j ika mata melihat gemerlapnya dunia yang mewah dan mahal, itu bisa membuat orang merasa tak mampu membelinya, trus merasa dirinya  miskin.

“Kita  syukuri nikmat yang kita miliki, jangan melihat nikmat orang lain saja. Memang pelangi  selalu di atas kepala orang lain. Itulah kehidupan, naka jangan teroedaya oleh dunia,”  pungkasnya. (Eny Ms/KIM Moyudan)




TSR Berbasis Masyarakat  PMI Kabupaten Sleman Ikuti Latihan Bersama Tingkat Nasional di Kebumen

Sleman – PMI Kabupaten Sleman telah mengadakan acara Pelepasan Peserta Latihan Gabungan TSR Sibat PMI Nasional III. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) dalam menghadapi berbagai situasi bencana. Acara pelepasan ini melibatkan beberapa tim dari PMI di berbagai daerah, termasuk dari Sleman, sebagai bagian dari upaya nasional memperkuat respon terhadap bencana dan situasi darurat lainnya, Senin (23/09/2024) bertempat di Markas PMI Kabupaten Sleman.

Dalam sambutannya, Sekretaris PMI Kabupaten Sleman, Jazim Sumirat, menyampaikan bahwa kegiatan Sibat yang berlangsung selama 5 hari di Kebumen merupakan kesempatan berharga untuk belajar. Ia menekankan bahwa menjadi seorang sukarelawan harus didasari oleh jiwa suka terlebih dahulu, sebelum kemudian muncul kerelaan dalam membantu masyarakat.

“Semangat tersebut adalah dasar utama bagi para sukarelawan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan dengan tulus dan efektif,” tegas Jazim.

Relawan TSR Sibat  Kabupaten Sleman nantinya akan bergabung dengan PMI Provinsi DIY bersama dengan TSR Sibat dari kabupaten dan kota lain. Mereka akan membentuk satu tim dalam Latihan Gabungan tersebut. Selama kegiatan ini, para relawan akan saling berbagi ilmu dan pengalaman dengan peserta dari seluruh Indonesia.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan sinergi antarrelawan, sehingga lebih siap menghadapi situasi bencana dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas,” pungkas Jazim (EKA SASTRA – KIM SARDONOHARJO)




Sanggar Cipta Nuraga Dowangan Bantu Generasi Muda Pahami Akar Budaya Lewat Sarasehan

Untuk menjaga keberlangsungan tradisi serta memperkuat rasa bangga akan warisan leluhur, maka Sanggar Cipta Nuraga Dowangan menggelar kegiatan sarasehan budaya yang dilaksanakan di Dusun Dowangan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Jumat malam (20/9/2024).

Menurut Bowo Indar Sulasto selaku Pengasuh Sanggar Cipta Nuraga Dowangan bahwa pendidikan budaya Jawa dapat membantu generasi muda dalam memahami akar budaya yang meliputi pengenalan adat istiadat serta nilai-nilai sejarah Jawa sehingga anak-anak muda dapat merasa lebih terikat dengan identitasnya.

Melalui pendidikan budaya maka generasi muda dapat mempelajari dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membantunya menjadi individu yang lebih bijaksana, menghormati orang lain, serta memiliki sikap empati yang tinggi.

Salah satu ajaran utama dalam budaya jawa adalah pentingnya menghormati orang tua dan sesepuh karena melalui pendidikan budaya maka generasi muda diajarkan untuk selalu menunjukkan rasa hormat kepada yang lebih tua, baik dalam tutur kata maupun tindakan.

“Sikap hormat ini akan menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga dan masyarakat,” tutur Bowo.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pendidikan budaya dapat menumbuhkan kreativitas generasi muda dengan memperkenalkan mereka pada berbagai bentuk ekspresi seni tradisional. Selain itu, apresiasi terhadap seni lokal dapat meningkatkan rasa cinta terhadap seni dan budaya Nusantara secara lebih luas.

Di era digital saat ini, generasi muda juga diharapkan dapat memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan dan menjaga budaya Jawa. Misalnya, melalui konten digital yang mengenalkan tradisi Jawa kepada dunia internasional.

“Walaupun globalisasi sering membawa perubahan gaya hidup dan pemikiran, namun generasi muda harus tetap menghargai dan menjaga identitas budaya Jawa, meskipun terbuka terhadap budaya lain,” ujarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pemkal Banyuraden Ikuti Penilaian Lomba Evaluasi Perkembangan Desa dan Kalurahan 2024

Tim penilai lomba evaluasi perkembangan desa dan kalurahan tahun 2024 yang dipimpin oleh Samsul Bakri selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman melakukan penilaian di Gedung Serbaguna Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (20/9/2024).

Penilaian berdasarkan indikator evaluasi bidang pemerintahan yang meliputi pemerintahan, kinerja, inisiatif, kreatifitas dalam pemberdayaan masyarakat desa dan kalurahan berbasis teknologi serta pelestarian adat dan budaya.

Kehadiran tim juri disambut oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, Lurah Banyuraden, Sudarisman didampingi Pamong Kalurahan, Kepala Jawatan Praja Kapanewon Gamping, Budi Supriyanto, Badan Permusyawaratan Kalurahan Banyuraden, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, Babinsa serta Bhabinkamtibmas.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Samsul Bakri menuturkan bahwa lomba ditujukan untuk mendorong desa dan kalurahan agar berinovasi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Dengan adanya lomba, diharapkan muncul ide-ide baru yang kreatif dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dalam aspek ekonomi, sosial, maupun budaya.

Selain itu, diharapkan pembangunan desa/kalurahan akan lebih terfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program dan inovasi yang dilakukan pemerintah desa/kalurahan sehingga dapat secara langsung berkontribusi pada peningkatan taraf hidup warga, baik melalui peningkatan ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun infrastruktur.

Keterlibatan masyarakat mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi hasil pembangunan, serta keberhasilan pemerintah kalurahan dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat menjadi aspek penting dalam penilaian.

Sedangkan aspek inovasi dinilai dari sejauh mana desa/kalurahan menciptakan terobosan dalam menangani masalah lokal, seperti pengelolaan sumber daya, pengembangan ekonomi kreatif, teknologi tepat guna, atau inovasi pelayanan publik.

“Untuk menjadi juara harus mempunyai keunggulan dibanding peserta yang lain, sehingga perlu adanya inovasi baru guna menambah penilaian. Karenanya, inovasi yang efektif dan bisa ditiru oleh desa lain akan memberikan nilai tambah,” terang Samsul. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)