Mengenal Konsep Adat Desa Panglipuran, Salah Satu Destinasi Wisata di Pulau Dewata

Sleman – Salah satu yang membuat Desa Panglipuran di Bali terkenal hingga ke mancanegara adalah karena peran media. Adanya turis mancanegara yang memotret kegiatan budaya di atas Desa Panglipuran dan dilihat oleh orang-orang dari berbagai negara,  memberikan dampak tersendiri kepada orang yang melihatnya, sehingga mereka tidak hanya tertarik kepada keindahan Pulau Dewata namun datang juga untuk menikmati keindahan budaya di Desa Panglipuran.

Demikian disampaikan I Ngengah Moneng, Ketua Kelompok Sadar wisata Desa Panglipuran , Bangli , Bali  pada acara Peningkatan kapasitas Pamong dan perwakilan Lembaga Kalurahan tanggal 8-12 Oktoberi 2024 di Pulau Bali.

I Ngengah menjelaskan, Desa Panglipuran memiliki konsep filosofi Tri Hita Karana yang artinya tiga sebab kebahagiaan jika mampu mengimplementasikan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

“Secara garis besar, Desa Panglipuran memiliki satu jalan utama yang memanjang dari tempat yang paling tinggi lalu berangsur turun ke bawah. Tata ruang  Desa Panglipuran menganut konsep  Tri Mandala yang terdiri dari tiga zona,” terangnya.

I Ngengah menuturkan, Zona pertama adalah utama mandala, atau  zona tertinggi yang dinamakan Parahiyangan, merupakan tempat yang paling disucikan dan merupakan tempat pemujaan.

Zona kedua dinamakan madya mandala atau zona Pawongan, yaitu wilayah yang ditempati untuk tempat tinggal termasuk tempat usaha. Pada zona Pawongan juga diharuskan memiliki rumah adat lengkap dengan tempat pemujaan di mana setiap tempat tinggal harus ada Parahiyangan atau tempat pemujaan yang merupakan bangunan tertinggi.

Ketiga nista mandala merupakan zona yang terletak pada posisi  yang paling bawah, di sana ada kuburan. Kuburan dibedakan antara kuburan meninggal saat masih remaja, meninggal katena kecelakaan atau  bunuh diri dan kuburan untuk umum.

“Telah ada kesepakatan untuk menjaga warisan leluhur berupa rumah adat. Diwajibkan warga untuk merehab rumah dengan diberikan subsidi oleh desa adat dengan nilai 10 juta. Selebihnya rumah modern tapi beradaptasi dengan rumah di Bali,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, Setiap pintu terhubung dengan jalan dan tetangga. Dengan tetangga wajib karena jika tidak ada maka dianggap aneh, ada masalah apa.  Jika tidak terhubung akan menjadi urusan adat karena bisa dimanfaatkan untuk kegiatan upacara adat keagamaan.

“Setiap tahun kami masih mempertahankan ritual keagamaan diantaranya ngusaba yaitu perayaan menyambut hari raya nyepi, Panglipuran Village Festival di setiap akhir tahun dan Megabung yang bertujuan melestarikan warisan adat budaya leluhur,” tutup I Ngengah. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Pemkap Gamping dan Bakesbangpol Sleman Selenggarakan Outbound Demi Kokohnya Nilai-Nilai Kebangsaan

Agar lebih memahami makna persatuan dan kesatuan dalam keragaman, serta memperkuat rasa kebangsaan dan nasionalisme di kalangan pemerintah kapanewon dan pemerintah kalurahan beserta jajarannya pada era globalisasi, maka Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Outbound Kebangsaan yang berlangsung di Area Wisata Taman Kopeng , Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/10/2024).

Kegiatan yang mengangkat tema ‘Melalui Outbound Kebangsaan Kita Jaga Persatuan dan Kesatuan Untuk Menyukseskan Pilkada 2024’ dipimpin oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana didampingi Panewu Anom Gamping, Subagio dan diikuti sebanyak 200 peserta yang terdiri dari Lurah beserta Pamong se-Kapanewon Gamping, Dukuh, Badan Permusyawaratan Kalurahan se-Kapanewon Gamping, Puskesmas Gamping I, Puskesmas Gamping II, serta Kepala jawatan dan pegawai pada Pemerintah Kapanewon Gamping.

Outbound Kebangsaan dibuka secara resmi oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana yang menuturkan pentingnya menjaga dan memperkokoh nilai-nilai kebangsaan demi meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab sosial sebagai pelayan masyarakat di wilayah Kapanewon Gamping.

Selain itu, kegiatan ini juga mendukung program pemerintah dalam membangun sumberdaya manusia yang berkarakter unggul dan berdaya saing tinggi melalui penguatan rasa kebangsaan dan kemampuan bekerjasama agar mampu bersaing dalam skala regional maupun nasional.

“Saya berharap seluruh peserta dapat lebih memahami betapa pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah-tengah keberagaman yang ada. Mari kita jaga dan rawat persatuan bangsa dengan cara menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di tahun pemilu 2024 ini,” tegas Tamzis.

Dirinya pun mengapresiasi terhadap Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman yang telah melaksanakan kegiatan yang dapat memberikan manfaat besar bagi seluruh pimpinan dan jajaran pemerintah Kapanewon Gamping beserta pimpinan dan jajaran pemerintah kalurahan se-Kapanewon Gamping untuk  memperkuat rasa kebangsaan sebagai warga Indonesia.

“Outbound ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kerjasama, saling percaya, dan saling menghargai. Tidak ada kesuksesan yang bisa kita raih tanpa kerja sama,” terangnya.

Melalui permainan outbound kebangsaan yang dilakukan oleh seluruh peserta maka diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam Pilkada, mulai dari menggunakan hak pilih secara bijak hingga peranan dalam mengawasi jalannya pemilihan secara jujur dan adil.

Mengakhiri sambutannya, Tamzis menekankan perlunya penciptaan iklim yang lebih kondusif selama pilkada berlangsung khususnya di wilayah Kapanewon Gamping karena salah satu tantangan besar dalam Pilkada adalah polarisasi dan potensi konflik antar pendukung. Outbound kebangsaan mengajarkan pentingnya kerjasama dan solidaritas di tengah perbedaan sehingga dapat membantu meredam potensi konflik sosial yang mungkin terjadi akibat perbedaan pilihan politik.

“ Suasana kondusif dan bebas dari konflik sangat dibutuhkan agar proses pemilihan dapat berjalan lancar dan demokratis. Lewat nilai-nilai kebangsaan dan persatuan yang ditekankan dalam outbound kebangsaan maka dapat mendukung proses pemilihan yang damai,” tutup Tamzis. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Margomulyo Selenggarakan Musrenbangkal RKP Tahun 2025

Sebanyak 60 undangan menghadiri Musyawarah Rencana Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal) Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan Margomulyo Tahun 2025 di Gedung Serba Guna pada hari Minggu (13/10/2024).

Undangan sendiri terdiri dari Kepala Jawatan Praja Kapanewon Seyegan, Lurah dan pamong, BPKal Margomulyo, LKK Margomulyo, Babinsa/Babinkamtibmas, Ketua RW Se Margomulyo, Tokoh Masyarakat dan Pendamping Desa. Adapun sebagai bertindak selaku pengarah sekaligus Nara sumber dalam Musrenbangkal tersebut adalah Panewu Seyegan.

Eko Puji Mulyanto, Lurah Margomulyo dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk pelaksanaan Musrenbangkal pada saat ini sengaja tidak mengundang anggota Dewan karena usulan kegiatan yang dikawal oleh Anggota DPRD Kabupaten Sleman sudah diinput melalui BKK Pokir Dewan.

Berkaitan materi Musrenbangkal, Eko juga sampaikan bahwa prioritas Dana Desa masih untuk penanganan Stunting.

“Margomulyo masih menjadi lokus Stunting, sehingga prioritas Dana desa salah satunya untuk penanggulangan masalah Stunting,” tandas Eko.

Untuk pembangunan infrastruktur, Eko juga menyampaikan bahwa tahun 2025 mendatang direncanakan akan merehab Gedung Serba Guna guna memaksimalkan fungsinya. Untuk itu ada beberapa Padukuhan yang tidak bisa mendapat alokasi dana desa. Artinya alokasi dana berdasarkan kebutuhan yang lebih prioritas.

Menyinggung pelaksanaan dan penyerapan dana di tahun 2024 ini, Eko sampaikan bahwa sudah sekitar 7,5 Milyar dana BKK, Dana desa dan sumber dana lain yang sudah terserap artinya sudah sekitar 90 % pembangunan dilaksanakan hanya menyisakan kegiatan pemberdayaan.

“Adapun Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Perubahan dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) baru pada akhir bulan Oktober dilaksanakan,” terang Eko.

Panewu Seyegan, Samino, mengingatkan forum musyawarah tertinggi, Musrenbangkal diharapkan dapat menyepakati usulan stakeholder yang mendasarkan kebutuhan untuk rencana pembangunannya.

Samino menyinggung perencanaan partisipatif dari musdus, muskal dan Musrenbangkal yang menyangkut 3 komponen yaitu fakta kebutuhan infrastruktur yang prioritas, yang kedua potensi yang dimiliki baik SDM maupun SDA sebagai bagian dari proses penyelenggaraan dan yang ketiga adalah asumsi perencanaan tahun 2025 yang terkait dengan kondisi ekonomi, sosial dan politik.

Diakhir pengarahannya, Samino menyampaikan bahwa sumber pendanaan banyak, namun demikian perencanaan tetaplah mengacu pada program prioritas. RKP merupakan representasi dari perencanaan yang hasilnya betul betul mencerminkan kebutuhan masyarakat dan tujuan akhirnya mensejahterakan masyarakat.

Irvan Susanto, Carik Margomulyo memimpin jalannya Musrenbangkal yang merupakan pencermatan kembali terhadap usulan rencana kegiatan sebagaimana yang tertulis dalam materi Musrenbangkal. Septiana Dwi, Pangripto Margomulyo membacakan rancangan RKP tahun 2025 yang meliputi bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Kalurahan dengan total pendanaan Rp ,-, bidang pelaksanaan pembangunan Kalurahan Rp ,-, bidang pembinaan kemasyarakatan Rp ,-, bidang pemberdayaan masyarakat  Rp ,- dan bidang penanggulangan bencana Rp ,-. Total anggaran untuk 5 bidang sebesar Rp ,-

Didalam materi Musrenbangkal tersebut juga disampaikan daftar usulan tahun 2025 dengan sumber pendanaan dari BLK, PUMP, non PUPM dan DANAIS.

Musyawarah berjalan dengan baik, dengan menerima usulan, koreksi dan masukan dari peserta baik dari Padukuhan maupun dari lembaga. Dan sebagai pengarahan akhir berasal dari pendamping desa yang menyampaikan bahwa ada perimbangan dari alokasi dari Dana Desa yaitu penanggulangan kemiskinan sebesar 10 – 15 %, dan  ketahanan pangan sebesar 20 % yang harus menjadi program prioritas Kalurahan. Sebagai penutup dilakukan penandatanganan Berita Acara Musrenbangkal oleh perwakilan peserta dari unsur pamong Kalurahan, lembaga, kelompok wanita dan tokoh masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PPK Tempel Gelar Bimtek dan Simulasi Penggunaan Aplikasi Sirekap untuk Pilkada Sleman Tahun 2024

Sleman – Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Tempel mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) serta Simulasi Penggunaan aplikasi sirekap bagi Panitia Pemungutan Suara (PPS) se-Kapanewon Tempel . Acara ini dilaksanakan di Pendopo Kapanewon Tempel pada Minggu (13/10/2024) siang

Ketua PPK Tempel, Hartono menyampaikan, kegiatan bimtek dan simulasi ini bertujuan untuk mempersiapkan penyelenggaraan Pilkada Sleman Tahun 2024, terutama dari sisi kesiapan teknis.

“Sesudah mengikuti bimtek dari  KPU Kabupaten Sleman selanjutnya PPK Tempel harus juga melaksanakan bimtek kepada seluruh anggota PPS. Tujuannya, selain agar semakin memahami tupoksi dan teknis pemungutan suara, anggota PPS nanti bisa juga melanjutkan bimtek ke KPPS terkait dengan penggunaan aplikasi sirekap sekaligus uji coba terhadap beban servernya,” ungkap Hartono.

Ia juga kembali menegaskan semua anggota PPS se-Kapanewon Tempel selalu menjaga soliditas, integritas dan sinergitas antar penyelenggara pilkada. Terlebih kurang lebih 44 hari lagi menjelang pencoblosan pada 27 November 2024 mendatang.

“Menjelang hari H pencoblosan, semua anggota bisa lebih fokus terhadap tahapan penyelenggaraan pemilihan Sehingga, tetap bisa menjaga integritas dan loyalitas sebagai penyelenggara pemilihan bupati dan wakil bupati Sleman tahun ini,” tegasnya .

Materi selanjutnya disampaikan oleh Anggota PPK Tempel Divisi Perencanaan Data & Informasi (Rendatin ), Heru Krisdiantara.

“Bimtek dan simulasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada PPS terkait penggunaan Aplikasi Sirekap dalam rangka Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman pada Pilkada Serentak Tahun 2024. Fokus kita saat ini pada penggunaan Aplikasi Sirekap (Sistem Informasi Rekapitulasi). Aplikasi ini diharapkan dapat mempermudah proses rekapitulasi dan penghitungan suara di setiap tingkat pemilihan, mulai dari TPS hingga tingkat kabupaten, propinsi dan pusat,” jelas Heru.

Tak hanya itu, Heru Krisdiantara juga menjelaskan dengan mekanisme rekapitulasi memanfaatkan Sirekap.

Sirekap sebagai alat bantu rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilu harus dapat memfasilitasi penyelenggaraan di setiap jenjang untuk dapat merekam hasil pemilihan secara utuh.

“Proses aplikasi Sirekap terdiri dari dua macam yaitu Sirekap Mobile dan Sirekap Web. Sirekap Mobile dilakukan pada saat pemungutan suara, nanti KPPS mengambil gambar C-Hasil dengan Sirekap mobile, gambar dibaca Sirekap, dan dikonfirmasi angka hasil pembacaan oleh Sirekap, dan data dikirim ke server ,proses Sirekap Web digunakan saat Rekapitulasi ditingkat PPK, Kabupaten, Provinsi,hingga nasional. Hasil Sirekap dipublikasikan melalui website,” jelasnya.

Heru pun mengingatkan agar operator Sirekap se-Indonesia menjaga kebersihan sibernya. “Jangan pernah membagikan password OTP, memberikan data apa pun kepada pihak yang tidak jelas/tidak ada surat resmi, jangan membuka file dari orang yang tidak dikenal, jangan pernah meninggalkan laptop/handphone terbuka tanpa password, menginstal antivirus pada laptop/handphone, dan jika ga handphone yang terinstal Sirekap hilang segera melaporkan ke KPU,” tegas Heru.

Seusai paparan dilanjutkan uji coba langsung Sirekap mobile dan Sirekap web kepada anggota PPS se-Kapanewon Tempel yang dilaksanakan serentak se Indonesia pada pukul WIB, Hal ini untuk uji beban server serta menguji bagaimana jaringan internet yang digunakan. Heru menekankan pentingnya penerapan teknologi dalam pelaksanaan Pemilihan, untuk menjamin transparansi, kecepatan, dan akurasi dalam penghitungan suara.

“Penggunaan Aplikasi Sirekap merupakan inovasi yang sangat penting bagi pelaksanaan Pilkada Serentak 2024. Dengan aplikasi ini, kita bisa mempercepat proses penghitungan suara dan meminimalisir potensi kesalahan manusia dalam rekapitulasi suara,” tambah Heru.

Dengan dilaksanakannya Bimtek ini, PPK Tempel berharap penerapan Aplikasi Sirekap akan memberikan dampak positif pada proses pemilihan, baik dari segi kecepatan maupun keakuratan hasil pemilihan.“Kami berharap, dengan bekal dari Bimtek dan simulasi ini, teman-teman PPS mampu melaksanakan tugas dengan baik dan benar saat nanti memberikan bimbingan teknis dan simulasi juga ke begitu, Pilkada Serentak 2024 dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan sesuai dengan prinsip demokrasi yang jujur dan adil,” tutup Heru.(sbd_kimtempel)




Belajar dari Desa Wisata Panglipuran, Desa Terbersih Se-Indonesia

“Sebagai desa wisata, maka kami berusaha sekeras tenaga bagaimana mampu mengimplementasikan sapta pesona yaitu Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan,” ungkap I Ngengsah Moneng, Ketua Kelompok Sadar wisata Panglipuran , Bangli , Bali pada acara peningkatan  kapasitas Pamong Kalurahan dan perwakilan Kelembagaan  Donoharjo di Desa Pulau Dewata yang diselenggarakan pada 8-12 Oktober 2024.

I Ngengsah menuturkan, Sapta Pesona merupakan program pemerintah untuk memaksimalkan industri pariwisata. Tujuannya  untuk memberikan pelayanan prima kepada wisatawan, terutama yang datang ke desa wisata.

“ Dengan sapta pesona, diharapkan wisatawan akan betah dan tinggal lebih lama, bahkan akan menjadi kenangan  dan berulang kali hadir kembali lagi di Panglipuran  sehingga dana masuk akan lebih tinggi,” tegas I Ngengsah.

I Ngengsah menuturkan, Desa Panglipuran memiliki Luas 112 ha, Penduduk jika jiwa dan 250 KK. Setiap warga memegang filosofi konsep tri hita karana, yaitu tiga sebab kebahagiaan jika mampu mengimplementasikan hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

Desa Wisata Panglipuran sendiri dirintis antara  tahun 1989 dan 1990, konsepnya waktu itu merupakan desa konservasi pelestarian adat dan lingkungan.

“Mendapat dana dari Pemerintah pusat, maka mulai  diatur agar pedagang berdagang di pekarangannya, diatur drainasenya dan lain-lain. Tahun 1993 dianggap layak dan ditetapkan sebagai desa wisata. Namun sampai tahun 2011 tidak ada perhatian dari desa adat,” terangnya.

“Pada tahun 2013 ditunjuk lomba dan pada  tingkat nasional mendapat juara 1 serta mendapat Citra award. Selanjutnya mengikuti lomba homestay, lomba proklim, dan setiap tahun memperoleh juara tingkat nasional, asean dan internasional serta penghargaan  ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) pada tahun 2017, dan  masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation,” tambahnya lagi.

I Ngengsah menambahkan, pihaknya menggunakan berbagai strategi untuk mengembangkan Desa Panglipuran, salah satunya membangun komitmen pada tokoh masyarakat dan semua elemen masyarakat.

“Semoga desa wisata penglipuran mampu melestarikan budaya lingkungan management berbasis masyarakat,” tutupnya. (Endarwati/KIM Donoharjo)