Sleman Wisuda 220 Mahasiswa dari 6 Sekolah Lansia

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman menggelar Wisuda Sekolah Lansia Bina Keluarga Lansia (BKL) di Graha Sarina Vidi, Rabu (23/10/2024).

Sebanyak 220 lansia dari enam BKL yang ada di Kabupaten Sleman diwisudakan pada kegiatan kali ini. Adapun Keenam BKL tersebut, di antaranya BKL Melati Banyurejo Tempel, BKL Cemara Pondokrejo Tempel, BKL Melati Condongcatur Depok, BKL Lentera Tegaltirto Berbah, BKL Apel Gayamharjo Prambanan, dan BKL Banyuraden Gamping.

Prosesi wisuda ditandai dengan pemindahan tali samir dan pemberian serifikat oleh Pjs Bupati Sleman yang diwakilkan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Suparmono.

Pada kesempatan itu, Suparmono mengucapkan selamat kepada wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dan mengasah keterampilannya di Sekolah Lansia Kabupaten Sleman.

“Saya berharap agar bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas hidup para lansia,” ujar Suparmono.

Lebih lanjut, keberadaan sekolah lansia ini diharapkan tidak hanya meningkatkan interaksi antara lansia. Tetapi juga dengan pihak lainnya, baik pemerintah, lembaga masyarakat, maupun penyedia lain. Dengan begitu, hak para lansia bisa terpenuhi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY, Muhammad Iqbal Apriansyah menerangkan keberadaan sekolah lansia sangat diperlukan di lingkungan masyarakat.

Iqbal berharap, keberadaan sekolah lansia dapat menambah kebahagiaan dan kesehatan bagi semua lansia.

“Bersama kita satukan gerak dan langkah untuk menciptakan lingkungan yang ramah lansia, agar lansia yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Kabupaten Sleman tetap sehat, tetap produktif, dan membawa manfaat bagi generasi selanjutnya,” pungkas Iqbal.




Pemerintah Kalurahan Margorejo Gelar Pameran Dolanan Anak dan Festival Makanan Tradisional

Sleman – Kalurahan Margorejo menyelenggarakan Pameran Dolanan Anak dan Festival Makanan Tradisional sebagai bagian dari rangkaian acara Semar Fest (Semarak Margorejo Festival) Tahun 2024, di Gedung Serbaguna Kalurahan Margorejo Kapanewon Tempel, Rabu (23/10/2024).

Acara yang diselenggarakan selama enam hari ini dihadiri oleh peserta didik dari berbagai Sekolah Dasar di wilayah Margorejo dan sekitarnya. Di mana, pameran ini menampilkan berbagai permainan tradisional yang mengingatkan generasi muda akan kekayaan budaya lokal. Sementara festival makanan tradisional menyajikan beragam kuliner khas daerah.

Lurah Margorejo yang diwakili oleh Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo mengatakan tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menumbuh kembangkan bakat serta keterampilan anak, penanaman rasa solidaritas, dan semangat kegotongroyongan antar anak.

“Penyelenggaraan Semar Fest ini juga bermanfaat untuk memperkenalkan dan melestarikan permainan tradisional anak-anak sekaligus membangkitkan kenangan bagi orang-orang yang pernah memainkan dolanan tersebut dimasa lalu, serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap permainan tradisional karena saat ini permainan tradisional menjadi sesuatu yang langka di kehidupan anak-anak,” kata Ariyanto saat ditemui disela-sela kegiatan.

Sementara, festival makanan tradisional juga memiliki daya tarik tersendiri. Berbagai hidangan lokal yang autentik dipamerkan dan dapat dinikmati oleh para pengunjung. Festival ini tidak hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga sarana edukasi bagi anak-anak dan masyarakat agar lebih mengenal makanan tradisional yang kaya akan rasa dan gizi.

“Makanan tradisional ini memperlihatkan keanekaragaman budaya dan kekayaan kuliner yang harus dilestarikan. Pameran Dolanan Anak ini menampilkan berbagai macam dolanan anak seperti gobak sodor, dakon, engklek, ndok-ndokan, cublak-cublak suweng, delikan, jaranan,dan masih banyak lagi permainan tradisional lainnya,” ungkapnya.

Sebelum mengakhiri wawancara, Ariyanto berharap kegiatan tersebut dapat menjadi Langkah awal dalam menghidupkan kembali minat terhadap permainan dan makanan tradisional di kalangan anak-anak. Mengingat, dukungan dari para pendidi dan masyarakat sangat penting dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan lestari.

“Acara ini merupakan salah satu wujud konsistensi kami dalam mempertahankan budaya kearifan lokal di lingkungan Kalurahan Margorejo, dengan melestarikan, mengenalkan serta mempertahankan budaya. Selain dapat dilakukan melalui media seni, dapat pula dilaksanakan melalui pameran dolanan anak ini. Dengan adanya kegaitan ini diharapkan menjadi salah satu langkah mengajak anak-anak untuk dapat hidup bersosialisasi dan bergerak secara dinamis di tengah gempuran aplikasi permainan menarik lainnya yang ditawarkan secara online malalui gadget di era digitalisasi saat ini,” pungkas Ariyanto. (Sih Budi Daryanto / Kim Tempel)




Pemkal Condongcatur Terima Kunker DPRD dan BRIDA Provinsi Jawa Tengah

Sleman – Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi E Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah melakukan Kunjungan Kerja (Kungker) di Kantor Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Selasa (22/10/2024).

Sebelumnya pihak BRIDA Jawa Tengah telah menghubungi dan berkoordinasi dengan Pemkal Condongcatur untuk melakukan kunjungan kerja komisi E DPRD Jawa Tengah terkait Kalurahan Condongcatur yang menjadi juara Kalurahan Inovatif (Kalinov) terbaik tahun 2024 Tingkat Kabupaten Sleman.

“Kunjungan kerja ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam tentang Kalurahan Condongcatur yang menjadi peringkat terbaik pertama dalam lomba Penilaian Kalurahan Inovatif terbaik tahun 2024 yang di ikuti 17 Kapanewon se-Kabupaten Sleman,” ucap Ketua Brida Jateng, Tri Yuni Atmojo.

Kunjungan kerja lapangan ini didipimpin langsung oleh Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widiastuti, dan Ketua Badan Riset dan inovasi Daerah (BRIDA) yang di wakili Sekretarisnya, Tri Yuni Atmojo, dan beberapa DPRD Jawa Tengah lainnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, dalam sebutan selamat datang menyampaikan, Kalurahan Condongcatur menyambut hangat kehadiran anggota DPRD dan BRIDA Jawa Tengah yang datang berkunjung ke Condongcatur.

“Program inovasi andalan kami adalah ‘Semanis Madu’ yaitu Selasa melayani semua mudah dan terbaru, juga bantuan pembangunan 40 juta rupiah per RW setiap tahunya.  Kami siap berdiskusi, bersinergi dan sharing informasi,” ucapnya.

Acara dilanjutkan dengan paparan profil kalurahan dan materi tentang Kalurahan Inovatif yang disampaikan oleh Carik Condongcatur yang juga menjadi ketua tim Kalurahan Inovatif, Riska Dian Nur Lestari. Pada kesempatan itu, Riska menjelaskan detail program unggulan Kalurahan Condongcatur baik dari segi fisik maupun non fisik.

“Inovasi kegiatan kami cukup banyak khususnya inovasi berkaitan dengan layanan kepada masyarakat yang bertujuan untuk memberikan kemudahan dan mewujudkan layanan prima bagi seluruh lapisan masyarakat, untuk profil kalurahan maupun dokumentasi kegiatan inovasi dapat diakses di media sosial kami seperti di Instagram, Facebook, Youtube dengan nama akun Kalurahan Condongcatur juga di website kalurahan,” jelasnya.

Usai pemaparan dilakukan diskusi dan tanya jawab. Anggota Dewan dan Brida sangat antusias mengupas tuntas semua aspek. Selanjutnya hasil kunjungan kerja lapangan ini sebagai oleh-oleh sebagai bahan untuk dapat diaplikasikan di Jawa Tengah.

“Kami sangat bangga melihat dinamika dan kekompakan SDM yang ada di Kalurahan Condongcatur yang mampu membuat Kalurahan Condongcatur memperoleh peringkat pertama Kalurahan Inovatif tahun 2024 tingkat Kabupaten Sleman. Program-program yang sangat menarik akan kami diskusikan, siapa tahu bisa kami aplikasikan ke desa- desa di Jawa Tengah,” ujar Sekretaris Brida Jawa Tengah, Tri Yuni Atmojo.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widiastuti . Ia mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan komponen yang ada untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi daerahnya.

“DPRD Provinsi Jawa Tengah siap bekerjasama dengan semua komponen masyarakat untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi dapil kami dengan mengadopsi program inovasi dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman ini,” pungkasnya. (Wasana / Kim Depok)




Pemerintah Kalurahan Margorejo Adakan Bimtek ILP bagi Kader Posyandu dan Kader Remaja

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margorejo Kapanewon Tempel menyelenggarakan bimbingan teknis terhadap kader posyandu dan kader remaja bekerja sama dengan Puskemas Tempel Satu dengan mengambil tema tentang Posyandu Integrasi Layanan Primer, di Gedung Serbaguna Kalurahan Margorejo Kapanewon Tempel, Selasa (22/10/2024).

Bimbingan teknis ini diikuti oleh kader posyandu dan kader remaja se-Kalurahan Margorejo. Hadir mewakili Lurah Margorejo, Ariyanto Wibowo selaku Carik dan sebagai pemateri dihadirkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Ajeng Rizki Fauzi, SKM, dan narasumber dari Puskesmas Tempel Satu, Christina Yulin Wulandari.

Pada kesempatan itu, Ajeng menyampaikan tentang posyandu terintegrasi, yang merupakan kegiatan pelayanan kesehatan dengan bertujuan untuk menguatkan pelayanan kesehatan di wilayah kalurahan. Tujuannya untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat.

“Dengan harapan bahwa masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan dapat dengan mudah menuju ke lokasi dan itu merupakan suatu upaya mensinergikan berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat, meliputi perbaikan kesehatan dan gizi, pendidikan dan perkembangan anak, peningkatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan keluarga dan kesejahteraan sosial di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Balita,” kata Ajeng.

“Ada juga pelayanan sosial dasar yang dimaksud BKB (Bina Keluarga Balita) dan PAUD, karena menyadari anak usia dini atau balita membutuhkan kualitas kesehatan dan pendidikan yang maksimal serta memadai, maka salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menambah kegiatan di posyandu dengan BKB dan PAUD. Jadi kegiatan posyandu bukan sekedar di isi dengan penimbangan berat badan balita. Dengan demikian tujuan dasar diadakannya posyandu dapat dicapai yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini melalui layanan sosial dasar masyarakat untuk menunjang pembangunan,” sambungnya.

Lebih lanjut Ajeng Riski Fauzi memberikan contoh kegiatan posyandu yang terintegrasi. Ia mengatakan bahwa di Posyandu, balita akan dipantau kesehatan dan perkembangan dan pertumbuhannya. Kemudian di BKB, orang tua balita akan diberikan kesempatan untuk saling belajar bagaimana mendidik balita pada usia emas, seperti pemberian asupan makanan yang bergizi dan seimbang, dan bagaimana mengajak balita berkomunikasi, sampai dengan melatih perkembangan pertumbuhannya.

“Sementara balita bisa bermain dengan teman-teman seusia di PAUD sambil dipantau perkembangan pola pikirnya oleh mentor PAUD atau Kader Posyandu. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman terus mendorong pelayanan posyandu terintegrasi untuk mendukung transformasi pelayanan primer. Posyandu di era transformasi layanan primer yaitu posyandu berbasis program seperti posyandu balita, posyandu remaja, posbindu PTM dan posyandu lansia menjadi posyandu terintegrasi. Pelaksanaan layanan kesehatan terintegrasi setiap bulan serentak atau terjadwal untuk seluruh sasaran ibu hamil, balita, remaja, usia dewasa dan lansia,” ucap Ajeng.

Sebelumnya, Carik Kalurahan Margorejo, Ariyanto Wibowo dalam sambutannya menyampaikan dukungan atas apa yang menjadi program dari Puskesmas Tempel Satu ini.

“Pemerintah Kalurahan Margorejo sangat mendukung adanya kegiatan Posyandu ILP ini, dan kalurahan sudah menganggarkan 10 % dari ADD untuk kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam mendukung pelaksanaan ILP di puskesmas, Kalurahan Margorejo sudah menyiapkan 2 orang kader yang muda dan pandai IT. Pada saat pelaksanaan posyandu ILP ini Pemerintah Kalurahan Margorejo juga menyediakan PMT baik untuk semua sasaran maupun kadernya,” ungkap Ariyanto.

Perwakilan Puskesmas Tempel Satu, Christina Yulin Wulandari menambahkan beberapa bentuk pengintegrasian layanan sosial dasar di Posyandu, di antaranya pembinaan gizi dan kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan,prilaku hidup bersih dan sehat, kesehatan lanjut usia, BKB, Pos PAUD, percepatan penganekaragaman konsumsi pangan, pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyandang masalah kesejahteraan sosial, dan kesehatan reproduksi remaja serta peningkatan ekonomi keluarga.

“Pada bimbingan teknis ini para kader dibekali materi kebijakan Integrasi Layanan Primer seperti keterampilan dasar dalam pengelolaan posyandu, keterampilan dasar pelayanan ibu hamil, ibu nifas, dan ibu menyusui di posyandu. Kemudian keterampilan layanan dasar usia produktif dan lanjut usia di posyandu, keterampilan dasar bayi dan balita di posyandu, keterampilan layanan dasar usia sekolah dan remaja. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kecakapan dalam memberikan pelayanan di posyandu,” tutur Christina.(Sih Budi Daryanto/ Kim Tempel)




DLH Sleman Sosialisasikan Pengelolaan Sampah di Huntap Banjarsari Glagahharjo

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyelenggarakan penyuluhan pengelolaan sampah organik bagi penggiat lingkungan, dan tokoh masyarakat serta pamong kalurahan, di Gedung Pertemuan Huntap Banjarsari Kalurahan Glagaharjo Kapanewon Cangkringan, Selasa (22/10/2024).

Kebiasaan warga yang masih sering membuang sampah di badan air (sungai), membakar sampah dan menimbun sampah, menjadi alasan perlunya diadakan sosialisasi atau penyuluhan tentang pengelolaan sampah. Terlebih pengetahuan tentang Pengurangan sampah belum dipunyai oleh warga Huntap Banjarsari.

Ulu ulu Kalurahan Glagaharjo, Sriyono dalam sambutannya mengatakan bahwa Huntap Banjarsari yang dihuni oleh 178 KK ini kerap mendapat protes dari warga dari wilayah lain, terutama dari warga Argomulyo yang letaknya di bawah karena warganya sering membuang sampahnya di sungai.

“Saya berharap apa yang disampaikan oleh narasumber ini bisa merubah perilaku masyarakat sehingga lebih bijak dalam mengelola lingkungan. Saya juga berpesan untuk tokoh masyarakat yang hadir bisa menyampaikan kepada warga yang lain utamanya dalam mengelola sampah,” kata Sriyono.

Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Cangkringan, Wahyu Tri Yulianto dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini merupakan kegiatan dari Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat (PUPM) yang merupakan usulan dari bawah. Artinya kegiatan ini merupakan kebutuhan yang mendesak karena masih dalam kondisi darurat sampah.

Wahyu menjelaskan juga bahwa permasalahan lingkungan juga dihadapi oleh lima kalurahan lain di wilayah Cangkringan.

“Selain sampah, di Huntap Banjarsari ini ada enam Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang bermasalah, dan dua dari SPAL tersebut sekarang dalam masa perbaikan,” tuturnya.

Sementara, salah satu praktisi sampah, Sutarto Agus Raharjo yang menjadi nara sumber pada kesempatan tersebut menyampaikan tentang kondisi darurat sampah yang ada di DIY. Sutarto berharap semua warga mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah di DIY.

“Karena pada dasarnya, kita adalah penghasil sampah, sehingga perlu diupayakan untuk masing-masing kita melakukan diet sampah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sutarto menggarisbawahi dua komponen dalam pengelolaan sampah yaitu pengurangan dengan 3R, dan penanganan dengan kata kuncinya yaitu pemilahan. Kegiatan ini sejalan dengan sosialisasi Surat Edaran (SE) Bupati Sleman nomor 305 tahun 2024 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah di Kabupaten Sleman.

Volume sampah yang terus meningkat, kapasitas TPST yang terbatas daya tampungnya menjadikan pengelolaan sampah secara masif harus dilakukan. Berdirinya bank sampah dan sedekah sampah di wilayah Sleman diharapkan memberi kontribusi yang tidak sedikit dalam mengurangi timbulan sampah.

“Dengan kegiatan pemilahan sampah ini diharapkan menjadi perubahan perilaku dan mindset dari masyarakat untuk berubah. Minimal ada kegiatan pemilahan sampah organik dan an organik di masing-masing rumah tangga,” tandasnya.

Sutarto pun membagikan ilmu tentang teknologi pengomposan sampah organik. Teknologi yang dipilih adalah teknologi yang sederhana dan bisa langsung dipraktekkan oleh masyarakat. Mulai dari yang paling sederhana yaitu pembuatan lubang atau rolak dengan memanfaatkan lahan yang masih tersedia di pekarangan rumah. Kemudian lubang biopori yang bisa dibuat di halaman rumah, yang bisa berfungsi sebagai komposter atau wadah untuk memanen air hujan.

“Untuk rumah tangga yang ketersediaan lahan tidak ada bisa menggunakan biopot, yaitu menanam paralon yang diberi lubang dibawahnya dan tutup di atasnya yang diletakkan dalam pot bunga. Biopot ini sebagai penampung sampah organik rumah tangga dan sekaligus bisa digunakan sebagai penghasil nutrisi tanaman dalam pot,” kata Sutarto.

Serupa dengan biopot, Sutarto memperkenalkan Losida (Lodong Sisa Dapur), namun paralon yang digunakan tidak diletakkan dalam pot tapi langsung di tanah pekarangan. Sementara, untuk komposter skala rumah tangga, Sutarto menjelaskan membuat sekaligus tahapan dalam membuat komposnya sampai dengan cara memanen kompos yang sudah jadi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab dengan nara sumber dan dimanfaatkan juga oleh bapak dukuh untuk membentuk kepengurusan lembaga bank sampah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)