Jagongan Jaga Warga, Siniar Satpol PP DIY Bentuk Kelompok Jaga Warga Padukuhan

Sleman – Siniar (podcast) “Jagongan Jaga Warga” sebagai bentuk pembinaan terhadap Kelompok Jaga Warga diselenggarakan oleh Pemerintah DIY melalui Satpol PP DIY, di Balai Kalurahan Tamanmartani, Padukuhan Sentono, Kapanewon Kalasan, Jum’at (25/10/2024). Siniar ini mengambil tema ‘Jaga Warga sebagai Mediator dalam Menyelesaikan Konflik antar Peserta Pilkada dan Menciptakan Ruang Dialog yang Konstruktif’.

Acara dihadiri oleh Plt Kepala Satpol PP DIY, Noviar Rahmad, Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, perwakilan Panewu Depok, Panewu Seyegan, Panewu Kalasan, Panewu Pakem, Panewu Gamping, dan Panewu Tempel. Sedangkan peserta merupakan perwakilan dari enam Kelompok Jaga Warga tingkat padukuhan.

Pada kesempatan itu, Plt Kepala Satpol PP Propinsi DIY, Noviar Rahmad mengatakan pelaksanaan kegiatan ini berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 41 tahun 2023 tentang Pembentukan Kelompok Jaga Warga Ditingkat Padukuhan, dan Omah Jaga Warga untuk Tingkat Kalurahan.

“Peraturan ini bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekitar mereka. Dengan melibatkan kelompok jaga warga, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan bersahabat bagi seluruh warga,” kata Noviar.

“Melalui program jaga warga, masyarakat diajak untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggal mereka, serta saling mendukung dalam menjaga ketentraman dan ketertiban bersama,” tandasnya.

Noviar menambahkan salah satu fokus utama dari jaga warga ialah kemampuan membuat Analisa permasalahan dan problem solving.  

“Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan itu bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Dengan diselenggarakannya kegiatan pembinaan dalam bentuk podcast ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan,” imbuh Noviar.

“Penting ditingkatkan kolaborasi antara pemerintah setempat, Satuan Polisi Pamong Praja, dan masyarakat setempat diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pembangunan wilayah serta kesejahteraan bersama. Sinergi antara berbagai pihak dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan adalah kunci utama untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan sejahtera bagi seluruh masyarakat,” sambungnya.

Pada pertemuan itu, Plt Kepala Satpol PP DIY didampingi Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman menyerahkan atribut berupa Baju Rompi yang diperuntukan kepada perwakilan jaga warga dari 6 Kapanewon, 6 Kalurahan, dan 46 wakil Padukuhan.

Noviar mengatakan, penyerahan baju rompi sebagai identitas jaga warga menjadi salah satu wujud dukungan dalam pelaksanaan jaga warga. Di samping itu, diharapkan dapat mempercepat koordinasi di antara anggota.

Selanjutnya, Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi dalam paparannya menyampaikan, kelompok jaga warga memberikan peran penting untuk menciptakan keamanan dan ketertiban warga.

“Apalagi menjelang penyelenggaraan Pilkada Sleman tahun 2024. Kehadiran jaga warga dapat meminimalisir gesekan politik yang dapat terjadi kapan saja. Di samping itu, jaga warga harus menjaga netralitas dengan tidak memihak kepada salah satu calon. Kemudian sebagai mitra pemerintah, jaga warga diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan di wilayahnya secara mandiri,” tuturnya.

Shavitri menambahkan, hingga saat ini jumlah kelompok jaga warga yang terbentuk sebanyak 1160 dari padukuhan se-Kabupaten Sleman. Sesuai amanat Gubernur, target pembentukan jaga warga akan dipercepat, sehingga sudah dapat terpenuhi pada tahun 2024.

“Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk memenuhi target, salah satunya dengan melakukan sosialisasi, fasilitasi pembentukan dan pengukuhan kelompok jaga warga,” tandasnya.

Menurut Shavitri salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk berkoordinasi adalah memanfaatkan kegiatan ronda. Melalui cara tersebut diharapkan dapat meningkatkan sinergi untuk menjaga keamanan warga. Selain itu, ia pun berharap jaga warga dapat mempererat kerukunan warga di lingkungannya.

“Semoga jaga warga juga dapat meningkatkan kerukunan warga. Seperti ketika ada warga baru yang hadir, silakan untuk diajak berkoordinasi. Sehingga jaga warga dapat merekatkan hubungan antar warga sekaligus menjaga ketentraman lingkungan,” pungkas Shavitri. (Sih Budi Daryanto / Kim Tempel)




KIM Kalasan Bersahabat Adakan Rakor Bahas Inventarisasi Pegiat Medsos Kalurahan

Sleman – Kelompok Informasi Masyarak (KIM) Kalasan Bersahabat mulai melakukan inventarisasi pegiat media sosial dan kader di wilayahnya. Inventarisasi dilakukan dalam rangka mencari sumber daya yang diharapkan memperkuat KIM Kapanewon Kalasan di masa mendatang.

Hal tersebut disampaikan Ketua KIM Kalasan Tri Joko, dalam rapat koordinasi yang dihadiri Panewu Kalasan Joko Susilo dan Panewu Anom Gunardi, di Rumah Makan Damandiri, Karangmojo, Tamanmartani, Kamis (24/10/2024).

Tri pun meminta anggotanya untuk aktif menulis dan diunggah di media sosial yang dikuti.

“Aktif menulis maupun aktif menginformasikan agenda. Informasi itu penting agar kegiatan masyarakat bisa dipublikasikan. Hal serupa juga bisa dilakukan oleh pengelola web yang dimiliki oleh setiap kalurahan masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu Panewu Kalasan, Joko Susilo memberikan apresiasi kepada KIM yang telah mempublikasikan kegiatan pemerintah dan masyarakat. Pasalnya, dengan publikasi itu kegiatan pemerintah dapat dimengerti oleh masyarakat, bahkan memberikan inspirasi untuk memunculkan kegiatan positif lainnya.

“Terhadap berita hoax, dimohon agar anggota KIM mampir sebagai filter dan mengedukasi masyarakat, dengan demikian masyarakat bisa memilah dan memilih mana berita yang baik dan mana yang menyesatkan,” tutur Joko.

Lebih lanjut, untuk lomba Video Pertunjukan Rakyat tahun 2024 yang diselenggarakan oleh Dinas Kominfo Kabupaten Sleman, Joko mengatakan pihaknya mendorong KIM Kalasan Bersahabat untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Adapun tema yang diambil, disesuaikan dengan isu-isu nasional dan daerah.

“Pilih tema yang tepat. Jadikan video itu sebagai sarana edukasi yang komunikatif dan mudah dipahami penonton,” pungkas Joko.

Selain evaluasi kegiatan KIM, rapat ini juga membahas poka rekrutmen keanggotaan, aktifasi KIM Kalurahan, dan rencana keikut sertaan lomba video pertunjukan rakyat tahun 2024. (Tri Joko S / KIM Kalasan Bersahabat)




Dispora Sleman Tutup Pelatihan Pranatacara Pemuda Kalurahan Sendangtirto

Sleman – Kabid Pembinaan Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman menutup kegiatan pelatihan Pranatacara (MC bahasa Jawa) untuk pemuda Kalurahan Sendangtirto, di gedung Serbaguna kalurahan Sendangtirto, Berbah, Kamis (24/10/2024).

Kamituwo Kalurahan Sendangtirto, Dwi Sulityo mengatakan pelatihan Pranatacara MC bahasa Jawa merupakan usulan Pemerintah Kalurahan Sendangtirto yang difasilitasi oleh Dispora Kabupaten Sleman. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 21 sampai 24 Oktober 2024.

“Untuk peserta merupakan pemuda warga Kalurahan Sendangtirto dibatasi bagi pemuda usia 16 sampai 30 tahun. Peserta berjumlah 30 orang. Setiap peserta mendapatkan fasilitas yang sama berupa buku panduan, alat tulis, jarik kain batik, uang saku, makan satu kali dan snack dua kali,” kata Dwi.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan mengucapkan terima kasih kepada Dispora Kabupaten Sleman yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan pranatacara untuk pemuda Kalurahan Sendangtirto.

“Harapannya ilmu yang didapat merupakan bekal yang bisa digunakan untuk dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap Amir.

Lebih jauh, ia pun berharap agar Dispora Sleman memberikan program pelatihan berikutnya sebagai tambahan pengetahuan. Hal itu sekaligus menjadi upaya menjaga budaya Jawa.

“Semoga ada pelatihan berikutnya sebagai program berkesinambungan dan juga program lain yang sesuai,” kata Amir.

Kepala Bidang Pembinaan Pemuda Dispora Sleman, Riyang Sukrisman, menyampaikan pelatihan pranatacara merupakan program Dispora Sleman sebagai upaya melestarikan budaya dan sastra Jawa. Mengingat, saat ini banyak pemuda yang tidak mengetahui tatakrama.

Program ini pun sudah berjalan di sebelas kelompok pemuda di Kabupaten Sleman.

“Pelatihan di Kalurahan Sendangtirto merupakan yang terakhir untuk tahun ini,” kata Riyang.

“Diharapkan setelah mendapatkan  pelatihan, peserta lebih bisa mengembangkan dan menerapkan ilmu yang didapat dalam kehidupan bermasyarat,” jelasnya.

Salah satu peserta pelatihan Subandi warga Pajangan, Sendangtirto mengaku senang mengikuti pelatihan pranatacara ini. Ia mengatakan ilmu yang diberikan oleh pemateri yang ahli dibidangnya mudah dimengerti.

“Semoga pelatihan seperti ini sering dilakukan untuk menumbuhkan budaya Jawa yang santun, serta menghormati sesama dan pengembangan SDM untuk pemuda Sendangtirto,” ucap Subandi. (Kusnadi / KIM Berbah)




Cegah TBC, Dinkes Sleman Gelar Bimtek di Kapanewon Gamping

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan bimtek pencegahan dan penanggulangan tuberculosis di Kapanewon Gamping, Kamis (24/10/2024).

 Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 2 Kantor Kapanewon Gamping ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Panewu Gamping, Lembaga Siklus Indonesia Kabupaten Sleman, dan Ketua Lakon Semar atau Inovasi Layanan Kesehatan Kalurahan Margoluwih.

Sedangkan peserta bimtek berasal dari perangkat Kalurahan Gamping, perwakilan Puskesmas Gamping 1 dan 2, kader kesehatan, anggota Koramil Gamping, serta anggota Polsek Gamping.

Panewu Gamping, Tamzis Sarwana menyampaikan penyakit TBC bisa mengakibatkan kematian. Pada masa pandemi, para penderita TBC yang terkena covid-19 tidak bisa diselamatkan.

“Kita berharap, dengan adanya bimtek hari ini, akan menjadi sarana menambah wawasan serta ada langkah-langkah konkrit untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit TBC di Kapanewon Gamping,” ucapnya.

Selanjutnya, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Bagus Hadi Sulistyo memberikan arahan kepada para peserta untuk memahami bahwa penyakit TBC disebabkan oleh kuman atau bakteri microbacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan juga otak, tulang, serta kelenjar getah bening.

“Diharapkan (masyarakat) untuk mencegah (sejak) dini dengan olahraga rutin, menjaga menu makanan yang sehat guna daya tahan tubuh menjadi kuat,” kata Bagus.

Di Kalurahan Margoluwih Seyegan sendiri, sudah ada aksi nyata dalam pencegahan TBC, dengan terbentuknya Komunitas Lakon Semar. Komunitas tersebut berkunjung ke seluruh padukuhan, dan RT/RW untuk mengadakan pertemuan dan sarasehan pencegahan penyakit tuberculosis.

“Untuk kita ketahui bersama, penderita TBC (menurut) data terbaru tahun 2024 ini untuk Kabupaten Sleman tertinggi di DIY. Untuk Kapanewon Gamping nomor 2 setelah Kapanewon Depok,” ucap Bagus.

Selanjutnya, Ketua Inovasi Layanan Kesehatan Kalurahan Margoluwih Seyegan, Sri Widodo selaku narasumber kedua mengatakan forum inovasi layanan kesehatan masyarakat di Kalurahan Margoluwih sudah terbentuk sejak tahun 2023 lalu. Forum tersebut melaksanakan program jemput bola yang dilakukan ke 14 padukuhan dan RT/RW. Adapun program yang diberikan ialah penyuluhan, cek golongan darah, serta cek kesehatan rutin dan berkala.

“Program kelompok kami Zero TBC di 14 Padukuhan Kalurahan Margoluwih Kapanewon Seyegan. Kami mengajak para kader kesehatan kalurahan-kalurahan di Kapanewon Gamping, untuk memulai intensif bermitra dengan pemerintah kalurahan agar Kapanewon Gamping bisa zero TBC,” kata Sri. (Djoko PS / KIM Gamping)




DLH Gelar Bimtek GerBang Sik Asik untuk Tekan Sampah di Sleman

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman mengadakan bimtek Gerakan Bebarengan Reresik dan Olah Sampah Organik (GerBang Sik Asik) di Aula Nakula Lantai III Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman, Kamis (24/10/2024).

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, Ketua Tim Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Lingkungan Hidup, Ketua Tim Kerja Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Lingkungan, Ketua Tim Kerja Pengembangan Kapasitas dan Peran Serta Masyarakat, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Sampah, Panewu se-Kabupaten Sleman, dan para dukuh yang masuk 8 besar nominasi Kampung Hijau 2024.

Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sleman, Eni Yuliani mengatakan, bimtek ini dilakukan untuk menumbuhkan kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah organik di masing-masing rumah.

“Kegiatan pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, namun harus saling bergandengan tangan semua elemen masyarkat, maka bapak-ibu yang hadir pada kesempatan ini merupakan kepanjangan tangan DLH dalam mengkampanyekan pengelolaan sampah, kami berharap setelah kegiatan ini bapak-ibu share materi pada hari ini di wilayahnya masing-masing.” Sambut Eni

Eni selaku penggagas program inovasi GerBang Sik Asik tersebut menambahkan, mulai bulan Juli sampah organik tidak akan diangkut lagi. Untuk itu, setiap rumah tangga maupun instansi yang berlangganan angkut sampah, harus mengolah sampah organiknya menjadi kompos.

“Dengan Gerakan Bebarengan Reresik dan Olah Sampah Organik ini, kita harapkan setiap kepala keluarga bisa memilah sampah sesuai dengan metodenya. GerBang Sik Asik ini juga akan menyasar 3 padukuhan yang menjadi pilot project. Tiga Padukuhan itu yakni Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi yang kemarin meraih apresiasi Kampung Proklim Nasional. Kemudian Padukuhan Kuwang, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, dan Padukuhan Mandungan I, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan yang merupakan 2 besar Kampung Hijau Kabupaten Sleman tahun 2024,” tutur Eni.

“Pilot project ini dilakukan dengan memberi stimulan kepada padukuhan yang menjadi pilot project berupa kelengkapan untuk bank sampah ataupun sedekah sampah. Lalu sampah organik yang didapat kita dorong untuk diolah menjadi pupuk kompos. Di mana sampah organik yang diolah selama 4-6 minggu setelah jadi kompos, dan kompos tersebut akan dibeli Dinas DLH dengan harga seribu tiga ratus rupiah per kilogram,” tandasnya.

Salah satu peserta bimtek, Dimas yang berasal dari Dukuh Warak Kidul, Kalurahan Sumberadi, Kapanewon Mlati mengajukan pertanyaan kepada Eni mengenai pengelolaan sampah yang ada di perkampungan.  

“Izin bertanya, di tempat kami itu mbah-mbah dan orang sepuh itu masih mengelola sampah dengan membakar sampah. Nah apakah ada regulasi atau semacam aturan tentang pembakaran sampah, karena kami kesulitan memberitahu untuk menyetop kebiasaan membakar sampah,” tanya Dimas.

Eni pun menjawab “memang kebiasaan membakar sampah dimasyarakat susah untuk dihilangkan. Tapi paling tidak diedukasi pelan-pelan Bahasa Jawanya ‘mbuh pie carane’, dengan berbagai cara dan upaya yang menarik kita jangan lelah untuk terus mengedukasi orang-orang di sekitar kita untuk tidak membakar sampah, karena efeknya bisa mengancam udara dimasa yang akan datang,” jelas Eni. (Ais-KIM Ceria Lumbungrejo, Tempel)