PPS Trihanggo Lakukan Supervisi Pengunggahan Mandiri Data Diri KPPS ke Sistem SIAKBA

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memiliki tanggung jawab besar dalam menyelenggarakan pemilu yang adil dan transparan. Salah satu bagian penting dari penyelenggaraan pemilu adalah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas mengelola tempat pemungutan suara (TPS). Untuk memastikan proses ini berjalan lancar maka KPU menggunakan Sistem Informasi Anggota KPU dan Badan Ad Hoc (SIAKBA) guna memfasilitasi pengelolaan data anggota KPPS secara digital.

Salah satu langkah awal yang penting dalam sistem ini adalah pengunggahan secara mandiri data diri KPPS ke dalam SIAKBA seperti yang dilakukan oleh petugas KPPS dari 28 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 12 padukuhan se-Kalurahan Trihanggo yang berlangsung di Aula Kantor Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (18/10/2024).

Kegiatan pengunggahan data diri anggota KPPS secara mandiri ke dalam SIAKBA yang dipandu oleh Dewi Safitri Ariani selaku anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Trihanggo Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumberdaya Manusia didampingi Muhammad Rachmad Putra selaku anggota PPS Trihanggo Divisi Teknis Penyelenggaraan, Data dan Informasi serta dipantau secara langsung oleh Ketua PPS Trihanggo, Adnan Iman Nurtjahjo.

Di sela-sela monitoringnya, Adnan menuturkan bahwa proses pengunggahan data diri anggota KPPS  ke SIAKBA ditujukan untuk memverifikasi dan mendata petugas yang akan bekerja di TPS selama pemilihan bupati dan wakil bupati sleman 2024. Data yang diunggah harus lengkap dan akurat, mencakup informasi seperti nama lengkap, nomor induk kependudukan (NIK), Alamat domisili, dan riwayat pengalaman kerja dalam penyelenggaraan pemilu sebelumnya.

“Pengelolaan data di SIAKBA ini sangat penting untuk memastikan petugas KPPS yang terlibat telah memenuhi syarat dan memiliki integritas yang baik,” terangnya.

Menurutnya, Sistem SIAKBA dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mengunggah data. Formulir pengisian dibuat sederhana dengan berbagai petunjuk yang jelas agar meminimalisir kesalahan input. Selain data pribadi, anggota KPPS juga diminta mengunggah dokumen pendukung seperti KTP, ijazah terakhir, pasfoto, daftar Riwayat hidup, surat keterangan sehat, dan surat pernyataan bermeterai Rp. ,-.

“Proses ini dilakukan untuk menjamin keabsahan data dan kesiapan petugas KPPS dalam menjalankan tugasnya di TPS nanti,” imbuh Adnan.

Sementara itu, Dewi Safitri mengungkapkan untuk memulai proses ini, anggota KPPS terlebih dahulu harus memiliki akun pada SIAKBA. Proses pendaftaran akun dilakukan melalui pemberitahuan resmi yang diberikan oleh KPU Kabupaten Sleman. Setelah mendapatkan akses kedalam system maka anggota KPPS dapat melakukan login menggunakan username dan password yang telah diberikan.

“Dalam dashboard SIAKBA, anggota KPPS akan diarahkan ke menu unggah data diri, di mana mereka harus melengkapi formulir yang sudah disediakan,” jelasnya.

Jika verifikasi berjalan lancar maka data anggota KPPS akan disetujui dan tercatat dalam sistem SIAKBA sebagai petugas resmi. Anggota KPPS yang datanya sudah terverifikasi akan menerima notifikasi melalui sistem atau email resmi dari KPU. Selanjutnya akan mengikuti pelatihan atau pengarahan yang diperlukan sebagai persiapan sebelum hari pemungutan suara. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




GP Ansor Sleman Selenggarakan FGD Peningkatan Kesadaran Kesehatan Mental Santri

Sebagai organisasi masyarakat keagamaan, kepemudaan, dan kemasyarakatan yang paling populer di Indonesia, Gerakan Pemuda (GP) Ansor memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi salah satu organisasi yang mencetak generasi yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan.

Melalui Gerakan Sahabat Sehat Mental (GASSMEN) untuk masyarakat Sleman yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan dilakukan bersama-sama maka Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Sleman berupaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan masyarakat Sleman dalam bentuk kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Pondok Pesantren Ar-Risalah Mlangi, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Jumat malam (18/10/2024).

Kegiatan yang dipandu oleh Gus H.A. Syukron Amin menghadirkan Dr. K. Muhammad Ridwan, dan Dr. Siti Nurunniyah selaku narasumber yang mengupas tentang gerakan yang dibentuk dengan dasar kepedulian terhadap tingginya angka kasus gangguan mental di masyarakat, seperti depresi, kecemasan, dan stress.

Dengan meningkatnya tantangan kehidupan modern, termasuk tekanan ekonomi, sosial, dan teknologi, masalah kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting. Gerakan ini hadir untuk memberikan dukungan, edukasi, serta layanan konseling yang mudah diakses oleh masyarakat sehingga bisa memahami dan menjaga kesehatan mentalnya dengan lebih baik.

Dalam pemaparan materinya, Dr. Siti Nurunniyah membahas mengenai pentingnya kesehatan mental bagi santri. Para santri sering kali menghadapi berbagai tantangan, seperti tuntutan akademis, adaptasi dengan lingkungan pesantren, serta tekanan sosial diantara teman sebaya. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau bahkan depresi yang berpotensi mengganggu proses belajar dan ibadahnya. Karenanya, menjaga kesehatan mental akan membantu santri tetap fokus, tenang dan bersemangat dalam menjalani kehidupan pesantren serta memaksimalkan potensi akademis dan spiritualnya.

“Jangan pernah ragu untuk berbagi cerita dan mencari bantuan jika kalian merasa kesulitan. Menjadi kuat tidak berarti harus selalu mengatasi semuanya sendiri. Mari kita saling mendukung, karena bersama kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang seimbang dan berdaya,” tutur Dr. Nurunniyah dihadapan peserta FGD.

Lebih lanjut, Ia menyebutkan pesantren merupakan tempat santri membangun karakter dan mentalitas yang kuat. Dalam lingkungan ini, keseimbangan antara spiritualitas, akademis dan kesehatan mental harus dijaga. Santri yang memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih mudah menerima pelajaran, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Mereka juga akan lebih mampu menghadapi tantangan kehidupan dan menyelesaikan masalah dengan bijak yang merupakan bagian penting dari pengembangan dirinya.

Sementara itu, Dr. Ridwan menambahkan bahwa kebiasaan membanding-bandingkan antar anak dapat berdampak buruk pada perkembangan emosional dan mentalnya. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda, sehingga membandingkan dengan anak lain bisa merasa tidak dihargai atau bahkan merasa kurang berharga. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak merasa tidak mampu. Ketika terus-menerus dibandingkan maka anak dapat mengalami tekanan, kecemasan dan berkurangnya motivasi untuk berkembang sesuai dengan potensinya.

“Pupuklah rasa percaya diri anak karena hal itu dapat membantu anak menghargai dirinya sendiri, merasa berkompeten dan termotivasi untuk belajar sehingga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berkontribusi lebih baik di masa depan,” pesannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




TP PKK Condongcatur Sosialisasikan Pencegahan Bulying di Lingkungan Sekolah 

Sleman – Tim Pengerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kalurahan Condongcatur menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan Bulying di lingkungan Sekolah  bertempat di ruang Kelas 2A SD Negeri Kentungan Condongcatur Depok Sleman, Jumat (18/10/2024).

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan orangtua  wali murid SD Kentungan dari kelas 1-6 dengan narasumber dari Dinas P3AP2KB Kabuapten Sleman, Babinkamtimas, Carik Carik Condongcatur dan TP PKK Kalurahan Condongcatur

Ketua TP PKK Condongcatur, Dewi Nurlaila, menyampaikan kegiatan ini merupakan Turba dari Pokja 2 TP PKK Condongcatur ke sekolah sekolah berada di wilayah Condongcatur

“Kegiatan ini adalah melanjutkan dari program sebelumnya dalam pencegahan anti Bulying di sekolah yang berada diwilayah Kalurahan Condongcatur mengundang guru guru di tingkat PAUD , TK maupun SD,” tuturnya.

Sri Wandasari Agustini selaku narasumber dari Tim Kerja Perlindungan Anak Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa Bulying merupakan perilaku yang tidak pantas dan tidak bermoral yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah atau

“Bullying dapat berupa kata-kata, tindakan, atau sikap yang menyakiti, menghina, atau mengejek orang lain. Bullying dapat terjadi di mana saja, seperti di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan, atau di media sosial,” paparnya

Ditambahkan Sri Windasari, Bullying dapat berdampak negatif bagi korban maupun pelaku. Korban bullying dapat mengalami stres, depresi, trauma, rendah diri, kehilangan motivasi, atau bahkan bunuh diri.

“Pelaku bullying juga dapat mengalami masalah psikologis, sosial, atau hukum bahkan Bullying juga dapat merusak hubungan antara individu, kelompok, atau masyarakat,” ungkap Sri Wandasari.

Sementara Ketua Pokja 2 TP PKK Kalurahan Condongcatur, Wji Astuti menyampaikan kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terhadap dampak bahaya Bulying  dan memiliki harapan besar agar Bulying harus dicegah dan dihentikan khususnya dimulai dr lingkungan sekolah

Disisi lain Bhabinkamtibmas Condongcatur, Bripka Bagiyo juga menyampaikan dalam mengatasi bullying  diperlukan adanya sinergi  bersama yaitu kerja sama antara berbagai pihak, seperti satuan pendidikan, guru, orang tua, dan masyarakat, untuk menciptakan budaya inklusif dan bebas perundungan.

“ Semoga kegiatan ini bisa menjadi langkah efektif untuk pencegahan perilaku bulying  dengan mengaplikasikan pengetahuan  yang di dapatkan dari kegiatan ini,” ungkapnya. (Wasana/KIM Depok)




Berada di Kawasan Rawan Bencana, Siswa SDN Brengosan 1 Dapatkan Pendidikan Mitigasi Bencana

Sleman – Untuk memenuhi materi dalam kurikulum satuan pendidikan tentang mitigasi kebencanaan , Sekolah Dasar Negeri Brengosan 1  menggandeng Destana Donoharjo untuk melakukan   pendidikan Mitigasi bencana. Acara berlangsung di halaman SD Brengosan 1, Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada Kamis (17/10/2024).

“Kegiatan sosialisasi mitigasi kebencanaan perlu dilaksanakan karena bencana itu ada, sehingga siswa guru dan staf perlu mendapatkan bekal tentang jenis bencana, cara menghadapi dan  menanggulangi bila terjadi dan dapat mengkondisikan situasi dengan baik sehingga bila terjadi bencana dapat menghadapi dan mengatasinya dengan tenang dan dapat menginformasikan pada yang lain tentang mitigasi bencana di lingkungan sekolah , rumah dan di masyarakat,” kata Erni Susilawati kepala Sekolah SD Brengosan 1.

Sementara itu Agus Hardiyo Pancoro, Ketua Destana Donoharjo dalam keterangannya menyampaikan bahwa berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dan Destana  memetakan  wilayah rawan bencana di Donoharjo.

“Bagian barat ke selatan sebagai kawasan rawan bencana angin kencang, Donoharjo bagian selatan sebagai daerah yang paling terdampak jika  terjadi gempa bumi, sedangkan Donoharjo bagian Utara sangat rawan jika terjadi erupsi gunung Merapi dan sisi timur berpotensi terkena dampak banjir di sepanjang wilayahnya yang dilewati sungai Boyong,” kata Agus.

Oleh karena itu , lanjutnya, sebagai warga yang tinggal di daerah rawan bencana harus mengetahui dan paham pentingnya pengetahuan pertolongan dan penyelamatan pada saat terjadi gawat darurat. Kewaspadaan menghadapi bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak tahu kapan bencana akan terjadi.

Dalam kesempatan tersebut tim Destana  mengenalkan berbagai alat yang digunakan dalam upaya penyelamatan dan juga   alat untuk mengurangi  dampak terjadinya bencana, misal alat mitigasi bencana angin kencang yang meliputi tali tambang besar ,gergaji mesin sepatu boot,  pelindung kepala serta, kacamata.

“Alat ini diperlukan untuk mengantisipasi saat terjadi angin kencang terutama gergaji mesin untuk memotong batang pohon yang tumbang  mengenai rumah warga dan menutup akses jalan ,” terang Agus.

Dikenalkan juga alat untuk penyelamatan bencana air  meliputi  rompi pelampung dan tali tambang  besar yang digunakan untuk menolong korban laka air.

Ada juga vertikal rescue berupa dragbar dan tali tambang yang digunakan untuk penyelamatan korban dari titik yang rendah ke titik yang lebih tinggi maupun sebaliknya, misalnya  korban yang jatuh ke jurang atau tebing.

“Alat ini juga digunakan untuk pengiriman logistik di kawasan  bencana yang tidak dijangkau oleh kendaraan melewati jalan darat,” terang Agus.

Pada kesempatan tersebut diperkenalkan mobil Ambulans Donoharjo  hasil swadaya masyarakat berikut perlengkapan yang ada di dalamnya. Ambulans tersebut disiapsiagakan  untuk warga yang membutuhkan pertolongan saat terjadi kegawatdaruratan, seperti untuk antar jemput warga yang sakit ke rumah sakit maupun saat prosesi pemakaman.

Anak anak menampakkan antusias dan kegembiraan mengikuti acara tersebut apalagi dikemas menarik  dengan menampilkan flying fox yang bisa dicoba oleh para siswa.

“Acara sengaja dikemas dengan penuh keceriaan agar anak-anak terkesan alat apa saja yang dipergunakan untuk pertolongan,  dan selalu ingat bahwa jangan ragu  untuk memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan dan selalu berbuat baik dimana pun berada,” tandas Agus. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)




Forum KIM Kabupaten Sleman Periode 2024-2029 Resmi Dikukuhkan

Sleman – Pjs Bupati Sleman, Kusno Wibowo mengukuhkan 23 pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman pada Jumat, (18/10) di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman.

KIM di Kabupaten Sleman merupakan wujud penerapan Peraturan Bupati Sleman Nomor 51 Tahun 2017 tentang Kelompok Informasi Masyarakat yang setiap tahunnya terus bertambah. Saat ini tercatat ada 42 KIM di Kabupaten Sleman, 25 di antaranya adalah KIM Kalurahan.

Kusno dalam sambutannya menyampaikan Keberadaan KIM Sembada Kabupaten Sleman ini diharapkan dapat mendukung upaya Pemkab Sleman dalam meningkatkan literasi digital masyarakat. Dengan literasi digital yang memadai, masyarakat dapat menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum sesuai dengan kegunaannya untuk komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan literasi digital yang baik, masyarakat dapat mengenali dan menghindari informasi hoaks, yang acap kali meresahkan dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Literasi digital dapat membuat masyarakat lebih bijak dalam menggunakan serta mengakses teknologi informasi komunikasi,” ujar Kusno

Lebih lanjut, Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Eka Suryo Prihantoro melaporkan Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman telah menjadi sebuah komunitas yang menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Sleman.

Peran KIM diantaranya melakukan pertemuan setiap bulan membahas isu dan program, menjadi peserta aktif sosialisasi kebijakan pemerintah daerah, menjadi kontributor/wartawan yang aktif menyebarkan berita baik yang terjadi di pelosok Kabupaten Sleman yang mungkin tidak terjangkau oleh media massa, serta menjadi pelestari budaya melalui pertunjukan rakyat.

“Pengukuhan KIM Sembada Kabupaten Sleman Periode 2024-2029 diikuti oleh 23 peserta anggota KIM Sembada Kabupaten Sleman Periode 2024-2029. Dengan pengukuhan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebanggaan bagi para anggota KIM dan semakin termotivasi mensosialisasikan program-program pemerintah, membangun budaya dan literasi masyarakat serta kepedulian terhada pelestarian media tradisional yang ada di Kabupaten Sleman,” jelas Eka