Kalurahan Sumbersari Gelar Pemberhentian Purnatugas dan Sertijab Dukuh Semingin

Moyudan – Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, menggelar Penyerahan SK Pemberhentian dengan hormat Dukuh Semingin Sumbersari, Moyudan yang sudah memasuki Purnatugas. Kegiatan yang dilakukan bersamaan dengan serah terima jabatan tersebut diselenggarakan pada hari Rabu (2/10/2024) bertempat di Warung Sega Welut Godean, Sleman.

Lurah Sumbersari, Sukadi dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Mujiyanto Dukuh Semingin yang telah mengabdikan diri sebagai bagian dari Pemerintahan Sumbersari selama 33 tahun.

Lebih lanjut Sukadi juga mengungkapkan bahwa tali asih yang dapat diberikan sejumlah , – sesuai dengan regulasi yang berlaku.

“Mungkin tali asih yang kami berikan belum sesuai dengan pengabdian dan perjuangan dari Dukuh Semingin kami mohon maaf, karena kita diatur dengan Perda,” tutur Sukadi.

Selanjutnya Sukadi juga berpesan kepada Dukuh Semingin agar tetap mengabdi untuk rakyat Semingin dan tetap memberikan bimbingan kepada penggantinya nanti.

“Atas nama Pemerintah Kalurahan Sumbersarikami kami mengucapkan selamat memasuki purnatugas, tetap semangat untuk mengabdi, dan telalu jalin silaturahmi walau sudah memasuki masa purnatugas,” pungkas Sukadi.

Senada, Panewu Moyudan Harsowasono juga menyampaikan selamat memasuki Purnatugas kepada Dukuh Semingin.

“Semoga Tuhan selalu memberkahi nikmat kepada keluarga dan umur panjang,” tambahnya.

Ia berpesan kepada Mujiyanto yang masih enegik dan semangat untuk tetap mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

“Pengabdian sebagai Dukuh selama 33 tahun tentu saja memiliki dinamika dalam pengabdiannya, semoga hal yang baik bisa menjadikan contoh dan dilanjutkan oleh penggantinya nanti,” ungkap Harso.

Selanjutnya setelah penyerahan SK Purnatugas Dukuh Semingin juga diserahkan SK Pejabat Dukuh Semingin kepada Zamzuri Latif Dukuh Nasri.  (Giek/KIM Moyudan) 




Dispora Sleman Lakukan Fact Finding Pemuda Pelopor Kabupaten Sleman 2024 Bidang Seni Budaya di Kapanewon Gamping

Sleman – Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman menyelenggarakan program fact finding pemuda pelopor Kabupaten Sleman Tahun 2024 di bidang seni budaya. Kegiatan ini dilakukan guna mencari dan mengidentifikasi pemuda di Kabupaten Sleman yang memiliki potensi kepemimpinan, inovasi, dan kemampuan untuk berkontribusi pada masyarakat khususnya di bidang seni budaya.

Salah satunya dengan dengan menyambangi kediaman Rakemas Sekar Kinanti, salah seorang tokoh pemuda perwakilan Kapanewon Gamping yang terletak di Dusun Patran, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Selasa (1/10/2024).

Dalam presentasinya, Rakemas yang sejak kecil tumbuh di lingkungan keluarga seniman merasa terhormat dapat terpilih sebagai salah satu calon pemuda pelopor di bidang seni budaya Kabupaten Sleman tahun 2024. Kesempatan ini menjadi peristiwa yang sangat berharga bagi dirinya untuk berbagi tentang apa yang telah dilakukan dalam upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya di wilayah Patran.

Sebagai seorang pemuda yang lahir dan besar di lingkungan yang kaya akan tradisi, Rakemas selalu merasa terpanggil untuk menjaga dan meneruskan warisan seni budaya yang telah diwariskan oleh leluhurnya, baik dibidang seni karawitan, seni tari, maupun senam bagi ibu-ibu dan orang lanjut usia.

Di sisi lain, dirinya juga memahami bahwa seni budaya harus terus beradaptasi agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Oleh karena itu, melalui berbagai kegiatan dan inovasi, saya bersama komunitas seni Widya Pramana Banyuraden berupaya menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan sentuhan modern, sehingga seni budaya Sleman tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang,” ucap Rake dihadapan Tim Penilai.

Sementara itu, Panewu Gamping, Tamzis Sarwana menambahkan pemuda yang terpilih sebagai pelopor di bidang seni budaya di Kabupaten Sleman biasanya memiliki dedikasi tinggi terhadap berbagai bentuk seni, misalnya seni tari. Karena Ia tidak hanya bertindak sebagai pelestari, tetapi juga inovator yang mampu memodernisasi seni budaya tanpa menghilangkan esensinya.

Melalui berbagai inovasi yang diwujudkan dalam kreasi-kreasi baru yang menggabungkan elemen tradisional dengan tren kontemporer, maka pemuda pelopor bidang seni budaya memiliki peran penting dalam melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi.

“Seni dan budaya merupakan aspek vital dalam menjaga identitas daerah, dan pemuda pelopor di bidang ini menjadi garda terdepan dalam memastikan nilai-nilai tradisional tidak hilang di era globalisasi,” tegas Tamzis.

Pemuda Pelopor di bidang seni budaya nantinya berperan sebagai jembatan antara masyarakat lokal dengan dunia luar. Mereka sering kali diundang untuk tampil di acara-acara nasional atau internasional, memperkenalkan seni budaya Kabupaten Sleman ke panggung yang lebih luas. Partisipasi ini tidak hanya meningkatkan citra daerah, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Dengan adanya Pemuda Pelopor di bidang seni budaya, Kabupaten Sleman tidak hanya menjaga warisan budayanya, tetapi juga menghidupkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap tradisi lokal. Pemuda-pemuda ini menjadi simbol harapan bahwa budaya tidak akan pernah mati, tetapi akan terus berkembang sesuai dengan zaman, tanpa melupakan akar sejarah dan nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




DLH Sleman Gelar Pembinaan KPP IPAL Komunal Moyudan

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman melakukan pembinaan kepada Kelompok Pemelihara dan Pemanafaat (KPP) se-Kapanewon Moyudan, di Ruang Rapat Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Rabu (2/10/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Kerja Pengelolaan Air Limbah DLH Kabupaten Sleman, Muhammad Zidin, Carik Sumbersari, Ulu-ulu se-Kapanewon Moyudan, dukuh yang memiliki IPAL Komunal, serta perwakilan pengurus KPP.

Carik Sumbersari, Junaidi dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada DLH Sleman atas kepercayaan yang diberikan kepada Kalurahan Sumbersari sebagai tuan rumah dalam pertemuan KPP se-Kapanewon Moyudan. Ia juga menuturkan bahwa KPP merupakan pekerjaan sosial, yang harus tetap dilakukan demi kelangsungan pemanfaatan IPAL Komunal.

“Apabila nantinya terbentuk forum KPP Moyudan merupakan sesuatu hal yang positif, untuk menjadi sarana tukar pikiran dan tukar informasi,” tuturnya.

Sementara, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Air Limbah DLH Kabupaten Sleman, Muhammad Zidin, pada kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada KPP se-Kapanewon Moyudan, yang telah menginisiasi pembentukan forum KPP.

Zidin juga mengungkapkan, apabila IPAL dikelola dengan baik maka kualitas air juga baik, sehingga berdampak baik pula bagi kesehatan.

“KPP tentunya memiliki masalah yang banyak, mari kita selesaikan bersama-sama. Kami yakin semua masalah pasti ada solusinya,” ujar Zidin.

“Sanitasi merupakan satu kebutuhan, karena sanitasi merupakan standar kesehatan. Mangga kalau forum KPP Moyudan mau dibentuk silahkan, semoga nantinya menginisiasi kapanewon yang lain, karena baru ini satu-satunya yang ada di Kabupaten Sleman,” imbuhnya.

Lebih lanjut, KPP Moyudan ini diketuai oleh Sugiyanto dan Sudaryanto. Kemudian sekretaris dipegang oleh Santika Cahyani dan Alvan Rizkiana.  Sedangkan bendahara diampu oleh Maryanti dan Maria Suryanti. Kepengurusan KPP Moyudan juga dilengkapi seksi operasional yang diambil dari 8 KPP se-Kapanewon Moyudan.

Usai pembentukan kepengurusan, acara dilanjutkan dengan diskusi dari masing-masing KPP. Pada kesempatan ini, Hasya menuturkan saat ini di Moyudan sudah ada sembilan KPP.

“KPP tersebut yaitu Nasri, dan Sombangan di Sumbersari. Ngento-Ento, Pendulan dan Malangan Kalurahan Sumberagung. Sedangkan Kalurahan Sumberrahayu KPP Saren, untuk Kalurahan Sumberarum KPP Sermo dan Setran,” tandas Harsya.  (Giek / KIM Moyudan)




Gelar Rakor Terbatas, DMI Sleman dan BPJS Ketenagakerjaan Tindaklanjuti MoU Kedua Pihak

Sleman – Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Sleman dan BPJS Ketenagakerjaan Sleman melangsungkan rapat kordinasi terbatas, dalam rangka menindaklanjuti MoU kedua belah pihak. Rapat tersebut dilkasanakan di Kantor DMI Sleman yang berada di Menara Masjid Agung Sleman lantai 3, Selasa (1/10/2024).

Acara itu dihadiri Kepala Koordinator BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman, Novaria Sulistyo didampingi Taufik Seno Nugroho dan Budi Ade. Kemudian Ketua DMI Kabupaten Sleman, Masuko Haryono, didampingi Wakil Ketua, Suripto dan Riyanto, serta bendahara DMI Sleman, Basuki Rahmat dan Heny Wahyu W.

Pada kesempatan itu, Ketua DMI Kabupaten Sleman, Masuko Haryono menuturkan bahwa DMI Sleman telah melaksanakan MoU yang akan berakhir tahun 2025 mendatang.

“Kegiatan yang pernah dilakukan sosialisasi terkait dengan BPJS Ketenagakerjaan dan bagaimana implementasi pelaksanaan program bahkan sudah 300-an anggota takmir yang sudah menjadi anggota dan mempunyai Kartu Anggota BPJS Ketenagakerjaan. Namun karena bantuan dana CSR atau Stimulan hanya 3 bulan, maka yang bersangkutan berhenti dan tidak bisa melanjutkan iuran biayanya,” kata Masuko.  

“Hal ini kaena para takmir masjid belum bisa menindaklanjuti iuran BPJS lanjutan sehingga kartu tidak berlaku lagi sampai saat ini,” sambungnya.

Selanjutnya, Kepala Koordinator BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman, Novaria Sulistyo memaparkan program BPJS Ketenagakerjaan secara detail, terkait sasaran program, besaran iuran, hingga masalah besaran santunan jika terjadi musibah meskipun hal itu tidak diinginkan.

“Namun BPJS Ketenagakerjaan mempunyai tugas dan kewajiban mewakili pemerintah memberikan perlindungan dan rasa aman bagi pekerja rentan,” tutur Novaria.

Novaria mengatakan besaran iuran BPJS Ketenagakerjaan per bulannya sangat terjangkau, yakni sebesar rupiah, dan pembayarannya tidak boleh terlambat. Sementara santunan meninggal langsung dibayar sebesar 42 juta rupiah.

“Kalau kecelakaan dan cacat, maka ada perhitungan tersendiri dan masih banyak yang menarik santunan dari BPJS Ketenagakerjaan,” tandasnya.

“Pengalaman di daerah lain, bahwa yang rentan seperti rois dan takmir termasuk imam, muadzin serta marbot masjid musala, pihak pemerintah berusaha memberikan dan akan memfasilitasi iuran ini melalui dana APBD ataupun dana lainnya yang bisa memberikan perlindungan yang rentan ini,” imbuh Novaria.

 Hal ini tergantung kepedulian dan ketersediaan dana dari pemerintah setempat, dan bisa didiskusikan antara DMI Sleman, BPJS Ketenagakerjaan, serta juga Pemda Sleman. Untuk itu, dibutuhkan berbagai syarat pendukung lainnya, yaitu data masjid dan musala se-Kabupaten Sleman, serta data takmir, imam, muadzin dan marbot yang akan diusulkan secara bertahap.  (Suripto/KIM Ngaglik)




Cegah Penyakit Japanese Encephalitis, Puskesmas Ngaglik 1 Adakan Imunisasi bagi Pelajar TK dan RA

Sleman – Puskesmas Ngaglik 1 mengadakan kegiatan vaksin JE untuk anak-anak usia TK dan RA di dua tempat, yaitu di RA Pandanaran dan Aula Kalurahan Sardonoharjo, Rabu (02/10/2024). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya kesehatan rutin untuk melindungi anak-anak dari penyakit menular.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Puskesmas Ngaglik 1 atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat

“Terima kasih atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dalam kegiatan imunisasi vaksin JE ini,” ungkap Harjuno.

Sementara, Kepala Puskesmas Ngaglik 1, Endang Triretno mengatakan bahwa imunisasi JE diberikan agar anak-anak terlindungi dari penyakit Japanese Encephalitis, yang dapat menyebabkan infeksi serius pada otak.

“Vaksin ini penting untuk menjaga kesehatan anak-anak, terutama di wilayah yang berisiko,” ungkapnya.

“Kegiatan vaksinasi ini menargetkan 1000 anak untuk diimunisasi,” tandas Retno.

Nantinya, semua kalurahan di Kapanewon Ngaglik akan mengadakan kegiatan imunisasi JE serupa sepanjang bulan Oktober. Hal ini betujuan untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak terhadap penyakit Japanese Encephalitis, meningkatkan cakupan imunisasi, dan memastikan kesehatan masyarakat. Terlebih bagi anak-anak usia dini, agar terlindungi dari risiko infeksi otak yang serius. (Eka Sastra/ Kim Ngaglik)