Lakukan Riset Pasir Besi Alam Pantai Parangtritis, Dua Siswi MAN 4 Sleman Berlaga di OPSI 2024

Sleman – Dua orang peserta didik MAN 4 Sleman yakni Bilqis Adelia Saputra dan Anggun Shofiyana, lolos dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2024, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Balai Pengembangan Talenta Indonesia.

OPSI adalah ajang kompetisi bergengsi yang diikuti oleh peserta didik dari berbagai provinsi di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan membangun pelajar Pancasila yang berkarakter kreatif, inovatif, dan berpikir kritis untuk terus menggali berbagai gejala, peristiwa, dan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Ajang tersebut berlangsung selama tujuh hari, mulai Minggu, 3 November 2024 sampai dengan Sabtu, 9 November 2024 di Novotel Jakarta Mangga Dua Square, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.  

Pada OPSI tahun ini, kedua siswi MAN 4 Sleman itu mempersembahkan karya penelitian berjudul “Optimalisasi Proses Ekstraksi Material Magnetik dari Pasir Besi Alam Pantai Parangteritis Bantul dengan Metode Ultrasoundd-Assisted’. Judul tersebut telah memperoleh Hak Cipta, berdasar Surat Pencatatan Ciptaan Nomor EC002024207763 tertanggal18 Oktober 2024 dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia. 

Pendamping tim penelitian MAN 4 Sleman, Astuti Nafiah Apriliani menuturkan kedua peserta didiknya yaitu Bilqis dan Anggun, akan mempresentasikan hasil penelitiannya di depan empat orang dewan juri. Selanjutnya, dewan juri juga akan menilai setiap stan dan karya yang dipamerkan para peserta.

“Sejak pagi hingga siang ini keduanya latihan untuk presentasi.  Untuk jadwal presentasi pada jam WIB.  Mohon doanya nggih Bapak Ibu, semoga lancar meraih yang terbaik,” ujar Astuti, Selasa (5/11/2024).

Lebih lanjut, Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf menuturkan berdasar surat Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga (DIKPORA) Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor , untuk Tingkat SLA, tim yang lolos dari DIY adalah SMA N 1 Yogyakarta, SMA N 3 Yogyakarta, SMAN 6 Yogyakarta, SMAN 2 Bantul, SMAN 1 Pundong, SMA Al-Azhar 9, SMA MBS Sleman, MAN 1 Yogyakarta, MAN 3 Bantul dan MAN 4 Sleman.  

“Alhamdulillah dari Sleman ada 2 dan salah satunya madrasah kita.  Semoga meraih terbaik, semakin meneguhkan MAN 4 Sleman madrasah riset,” kata Ahmad.   (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Tinjau Kembali Regulasi BUMKal, Forum PHFK BUMKal Bersama Sleman Gelar Kegiatan Peningkatan Kapasitas

Sleman – Forum Pelaksana Harian Fungsi Kepenasihatan (PHFK) BUMKal Bersama LKD dan Direktur BUMKal LKD se-Kabupaten Sleman menggelar kegiatan peningkatan kapasitas di kantor BBPPM Yogyakarta, Selasa (5/11/2024).

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan keberlanjutan pasca transformasi dari PNPM MPd menjadi Badan Usaha Milik Kalurahan Bersama (BUMKALMA) LKD.

Ketua Forum PHFK Kabupaten Sleman, Aris Munandar dalam sambutannya mengatakan PNPM MPd di Sleman dalam perjalannya mencari legal formal kelembagaan, melakukan studi banding di beberapa tempat. Kemudian dengan adanya sejumlah regulasi meliputi PP Nomor 11 Tahun 2021, Peraturan Menteri Desa Nomor 15 Tahun 2021, dan Perbup Nomor 30.1 Tahun 2022, kelembagaan PNPM MPd dapat bertransformasi menjadi Bumdes Bersama.

Selanjutnya, dengan adanya nomenklatur keistimewaan di Yogyakarta, maka penyebutan PNPM MPd berubah menjadi menjadi BUMKal Bersama.

“Harapan kami ada kesinambungan dalam kinerja antara Direktur dengan PHFK. Selain itu, kelembagaann yang telah bertransformasi ini harus dijaga dalam hal kebersamaannya. Tujuan dari program adalah melindungi, melestarikan, dan mengembangkan hasil-hasil PNPM MPd,” kata Aris.

Sementara, perwakilan TAPM Kabupaten Sleman, Margiyanto dalam paparannya menyampaikan perjalanan transformasi BUMKal Bersama LKD. Di mana, tujuan utama dari program itu ialah pengentasan kemiskinan melalui Dana Bergulir Masyarakat (DBM). Untuk itu, BUMKal Bersama tetap harus menjaga marwah dari program.

Margiyanto menambahkan untuk program kelembagaan, menurut regulasi hal itu juga harus diselamatkan bersamaan dengan transformasi. Sementara kepemilikan modal adalah milik masyarakat kapanewon.

“Untuk Perbup terkait dengan tata kelola BUMKALMA LKD, baru Sleman yang segera mengeluarkan pasca proses transformasi selesai,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kegiatan ini dilangsungkan untuk meninjau kembali aturan yang menaungi BUMKal Bersama LKD. Di mana, aturan BUMKal Bersama reguler sangat berbeda.

“Untuk itu, aturan tersebut perlu dikupas dan dipahami secara bersama-sama,” tutur Margiyanto. (Yoko Erwe/Kim Mlati)




Ngentak Margoluwih Semangat Mengelola Sampah Organik

Sleman – Bertempat di Angkringan Pawon Deso, Dusun Ngentak, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Minggu (3/11/2024), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyelenggarakan penyuluhan pengelolaan sampah organik bagi penggiat lingkungan, dan tokoh masyarakat serta pamong Kalurahan.

Kebiasaan warga yang masih sering membakar dan menimbun sampah di kebun dan halaman rumah menjadi alasan perlunya diadakan sosialisasi atau penyuluhan tentang pengelolaan sampah. Terlebih pengetahuan tentang Pengurangan sampah dengan konsep 3 R belum sepenuhnya dihayati oleh warga Ngentak.

Hal ini menjadi ironis karena Padukuhan Ngentak bersebelahan dengan Padukuhan Cibuk Kidul dan Mandungan I yang baru saja memperoleh penghargaan sebagai juara 2 Kampung Hijau tingkat Kabupaten.

Ulu ulu Kalurahan Margoluwih, Sutikno,  dalam sambutannya mengatakan bahwa potensi Padukuhan Ngentak sebenarnya tidak kalah dengan Padukuhan lain di sekitarnya.

“Namun etos kerja dari masyarakat yang kurang peduli dengan pengelolaan yang menjadikan Ngentak masih tertinggal. Untuk itu perlu kiranya ada ketokohan yang menjadi panutan dalam mengelola lingkungan utamanya mengelola sampah,” ungkapnya.

Sutikno berharap apa yang disampaikan oleh narasumber bisa merubah perilaku masyarakat sehingga lebih bijak dalam mengelola lingkungan. Tidak lupa, Sutikno juga berpesan untuk tokoh masyarakat yang hadir bisa menyampaikan kepada warga yang lain utamanya dalam mengelola sampah.

Sutarto Agus Raharjo, praktisi Sampah yang menjadi narasumber pada kesempatan tersebut, diawal paparannya menyampaikan tentang kondisi darurat sampah yang ada di DIY. Sutarto berharap semua warga mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah di DIY.

“Karena pada dasarnya, kita adalah penghasil sampah, sehingga perlu diupayakan untuk masing masing kita melakukan diet sampah,” ujar Sutarto.

Sutarto menggarisbawahi 2 komponen dalam pengelolaan sampah yaitu pengurangan dengan 3 R nya dan penanganan dengan kata kuncinya yaitu Pemilahan. Kegiatan ini sejalan dengan sosialisasi Surat Edaran (SE) Bupati Sleman no. 305 tahun 2024 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah di Kabupaten Sleman.

“Volume sampah yang terus meningkat, kapasitas TPST yang terbatas daya tampungnya menjadikan pengelolaan sampah secara masif harus dilakukan. Berdirinya Bank sampah dan sedekah sampah di wilayah Sleman ini diharapkan memberi kontribusi yang tidak sedikit dalam mengurangi timbulan sampah. Dengan kegiatan pemilahan sampah ini diharapkan menjadi perubahan perilaku dan pola pikir dari masyarakat,” jelas Sutarto.

“Minimal ada kegiatan pemilahan sampah organik dan an organik di masing masing rumah tangga,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Sutarto membagikan ilmu tentang teknologi pengomposan sampah organik. Teknologi yang dipilih adalah teknologi yang sederhana dan bisa langsung dipraktikkan oleh masyarakat. Dari mulai yang paling sederhana yaitu pembuatan lubang/ rolak dengan memanfaatkan lahan yang masih tersedia di pekarangan rumah.

Kemudian Sutarto juga memperkenalkan lubang biopori yang bisa dibuat di halaman rumah yang selain berfungsi sebagai komposter juga bisa digunakan untuk memanen air hujan.

Untuk rumah tangga yang ketersediaan lahan tidak ada bisa menggunakan biopot, yaitu menanam paralon yang diberi lubang dibawahnya dan tutup diatasnya yang diletakkan dalam pot bunga. Biopot ini sebagai penampung sampah organik rumah tangga dan sekaligus bisa digunakan sebagai penghasil nutrisi tanaman.

Serupa dengan biopot, Sutarto memperkenalkan Losida (Lodong sisa dapur),  namun paralon yang digunakan tidak  diletakkan dalam pot tapi langsung di tanah pekarangan. Untuk komposter skala rumah tangga, dijelaskan juga oleh Sutarto selain fungsinya juga konstruksi alatnya. Cara membuat sekaligus tahapan dalam membuat komposnya sampai dengan cara memanen kompos yang sudah jadi.

Sedikit menyinggung tentang kelembagaan, Sutarto mengajak kepada peserta untuk membentuk lembaga pengelola sampah dalam bentuk bank sampah maupun sedekah sampah. Pada kesempatan itu, Sutarto menjelaskan tentang mekanisme pengelolaan sampah dengan metode Bank sampah.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab dengan Nara sumber dan dimanfaatkan juga oleh bapak dukuh untuk menghidupkan kembali Lembaga Bank Sampah yang dulu pernah ada. Dan pada pula, pak Dukuh meminta Nara sumber   kelompok Bank sampah dalam pelaksanaannya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pemkab Sleman Raih Penghargaan Bhumandala Award 2024

Sleman – Komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan pelayanan publik dan pembangunan khususnya dalam pengembangan simpul jaringan kembali membuahkan hasil.

Bhumandala Award sebagai ajang penilaian Simpul Jaringan Informasi Geospasial, kembali memberikan penghargaan kepada Kabupaten Sleman sebagai peraih Bhumandala Kanaka (Medali Emas) atas Kinerja Simpul Jaringan informasi geospasial terbaik untuk kategori kabupaten dan Penghargaan Pemanfaatan Simpul Jaringan Informasi Geospasial Terbaik.

Bhumandala Award 2024 ini menjadi tahun keempat Kabupaten Sleman berhasil mempertahankan gelar Bhumandala Kanaka (Medali Emas) secara berturut – turut.

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik Antonius Bambang Wijanarto kepada Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Sleman Kusno Wibowo bertempat di Grand Studio Metro TV, Jakarta Barat, Senin (4/11/2024)

Kepala BIG Muh Aris Marfai dalam sambutannya mengatakan bahwa Bhumandala Awards merupakan bentuk apresiasi yang tinggi bagi simpul jaringan yang terdiri dari Lembaga Negara, TNI, Polri, Kementerian, dan Pemerintah Daerah yang telah menyelenggarakan informasi geospasial di wilayahnya masing – masing.

Ia mengungkapkan, penerima penghargaan pada Bhumandala Award ini merupakan simpul jaringan yang terbukti konsisten melaksanakan lima elemen yaitu kebijakan, kelembagaan, standar data, teknologi dan sumber daya manusia.

Lebih lanjut, Ia juga menyebut pada tahun 2024 terdapat ratusan simpul jaringan yang turut serta dalam penilaian simpul jaringan informasi geospasial. Namun, hanya 10 simpul jaringan yang terpilih, termasuk salah satunya Kabupaten Sleman.

Atas penghargaan tersebut, Pjs Bupati Sleman Kusno Wibowo menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah bekerja secara maksimal dalam pengelolaan data geospasial di Kabupaten Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Kusno juga menjelaskan bahwa Pemkab Sleman berkomitmen meningkatkan pelayanan publik dan pembangunan khususnya dalam pengembangan simpul jaringan di daerah. Komitmen tersebut dapat dilihat dari terlaksananya lima elemen penilaian penerapan simpul jaringan informasi geospasial di Kabupaten Sleman.

Lebih lanjut, Ia menuturkan bahwa pengelolaan data geospasial di Kabupaten Sleman tidak terlepas dari peran “Satu Data”, yang bertujuan untuk menciptakan integrasi dan sinkronisasi data dari berbagai sumber.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Sleman Agung Armawanta. Menurutnya, kolaborasi antara pembina data statistika yaitu BPS Kabupaten Sleman dan Pembina data geospasial yaitu Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Kabupaten Sleman telah dijalankan sesuai amanat satu data, sehingga didapatkan data yang valid dan berkualitas dan pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam perencanaan dan pengembangan wilayah.




Program B2SA, Senjata Kalurahan Margomulyo Hadapi Stunting

Sleman – Program Makanan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) yang sudah berlangsung selama 4 bulan di Kalurahan Margomulyo sudah berakhir. Acara penutupan program B2SA tersebut diikuti segenap pengurus yang merupakan kelompok PKK Kalurahan Margomulyo dan juga 42 balita serta 3 Bumil sasaran.

Kegiatan yang digelar di gedung serbaguna Kalurahan Margomulyo pada hari Sabtu (4/11/2024) dihadiri juga oleh perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Kepala BP4 Wilayah III Seyegan, Lurah Margomulyo, Babinsa/Babinkamtibmas, ketua Penggerak PKK Margomulyo dan Petugas PPL Kalurahan Margomulyo.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto menyampaikan bahwa tahun depan, program B2SA tetap akan dilanjutkan dengan sumber dana yang lain karena Margomulyo menjadi lokus Stunting.

“Harapannya dengan dukungan dari dana desa tersebut, angka Stunting akan menurun,” ungkap eko.

Nurhayati, Kepala BP4 Wilayah III Seyegan dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada Tim pelaksanan B2SA yang berjalan dengan baik, bukan saja dalam pelaksanaannya, demikian juga dalam pemanfaatan bahan makanan sendiri. Nurhayati juga mendukung untuk melanjutkan program yang dilaksanakan mulai pada tanggal 20 Juni 2024 dan berakhir di tanggal 20 Oktober tersebut.

Sri Lestari, Ketua Penggerak PKK Kalurahan Margomulyo memberi laporan pertanggung jawaban pengurus B2SA yang berisi tentang kegiatan B2SA selama 4 bulan  dengan pemberitaan makanan yang beragam, bergizi dan seimbang bagi sasaran yaitu 43 balita dan 3 ibu hamil.

Sri Lestari juga menyampaikan kendala yang terjadi yaitu menu makan yang kurang disukai, orang tua malu anaknya mendapat makanan tambahan dan orang tua yang kerepotan mengantar.

“Adapun solusi yang ditempuh untuk menghadapi masalah tersebut adalah pemberian Makanan tambah diantar ke rumah sasaran. Sedangkan untuk memberikan penyegaran kepada pengurus dan sasaran dilakukan kegiatan senam B2SA setiap hari Sabtu,” ungkap Sri Lestari.

Cahyo Rusdiyanto dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, dalam pengarahan dan sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada pelaksanaan B2SA di Kalurahan Margomulyo yang berjalan baik. Hal ini berkaitan dengan pemakaian bahan pangan lokal yang bersumber dari pemanfaatan pekarangan sendiri. Sekaligus dengan program B2SA dapat mengedukasi masyarakat untuk konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.

“Sebagai Lokus Stunting, kami berharap program B2SA ini dapat dilanjutkan,” imbau Cahyo menutup sambutannya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).