Teacher Journey Conference dan Launching Buku Guru Tanpa Batas Waktu

Sleman – Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Badan Kerjasama Sekolah (BKS) SMP Muhammadiyah se-Sleman dan Unisa Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Pendidikan, Teacher Journey Conference, Be A Good and Inspiring Teacher sekaligus peluncuran buku Guru Tanpa Batas Waktu. Kegiatan diselenggarakan di Gedung Siti Moenjijah Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu, 23 November 2024.

“Bahwa guru itu bisa belajar dari murid sehingga dari sekolah SMP Muhammadiyah di Sleman muncul inspirasi yang tertuang dan tertulis dalam kisah-kisah inspiratif dalam buku Guru Tanpa Batas Waktu,” ujar Faisal Isnan, anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari FBSB UNY sebagai mitra BKS dalam terbitnya buku Guru Tanpa Batas Waktu,

Selanjutnya dalam sambutan dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Umi Rohmiyati, mengucapkan selamat kepada BKS SMP Muhammadiyah Sleman atas pengembangan literasi yang telah dilakukan sehingga bisa menginspirasi BKS yang lain, tidak hanya SMP.

“Dalam membangun tradisi literasi bisa mewujudkan sebuah buku. Bahkan nanti bisa berkembang di kalangan siswa sebagai pengembangan literasi,” ungkapnya.

“Hal ini karena guru bisa menginspirasi siswa untuk terus menumbuhkan minat literasi dalam kegiatan sekolah. Menjadi warisan intelektual bagi anak bangsa karena guru itu rahim anak bangsa untuk melahirkan generasi terbaik bangsa. Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman sekaligus melaunching Buku Guru Tanpa Batas Waktu,” tegas Umi.

Acara seminar juga menghadirkan Dr. Iwan Setiawan dosen Unisa Yogyakarta, Etyk Nurhayati, . I, serta Keynote Speech Prof. Dr. Ir. Sukamta, S.T., ., ASEAN Eng, wakil Rektor Bidang Akademik UMY. (Arief Hartanto/KIM Turi)




PPS Trihanggo Serahkan Dana Operasional Pembentukan TPS dan Buku Pedoman Kerja KPPS

Panitia Pemungutan Suara (PPS) Trihanggo menyerahkan dana operasional pembentukan tempat pemungutan suara (TPS) serta buku pedoman kerja Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) kepada 28 Ketua KPPS di Graha Mangesti Hanggo, Kantor Pemerintah Kalurahan Trihanggo, Jumat malam (23/11/2024). Penyerahan ini merupakan bagian dari persiapan penyelenggaraan pemilihan bupati dan wakil bupati sleman 2024 yang akan digelar dalam waktu dekat.

Ketua PPS Trihanggo, Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan bahwa dana operasional tersebut ditujukan untuk mendukung kesiapan setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), seperti penyediaan sarana dan prasarana pembuatan TPS, alat tulis kantor, konsumsi makan dan minum, sewa tenda dan kursi, sewa alat pengganda atau printer, hingga kebutuhan logistik lainnya.

 “Kami berharap dengan fasilitas ini, TPS dapat berfungsi optimal dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pemilih,” ungkapnya saat membuka acara.

Selain dana operasional, PPS Trihanggo juga membagikan buku pedoman KPPS yang berisi panduan teknis dan prosedur selama proses pemungutan dan penghitungan suara. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan utama petugas KPPS dalam melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai regulasi yang berlaku.

Penyerahan dana operasional dilakukan Ketua PPS Trihanggo, Adnan Iman Nurtjahjo bersama staf keuangan sekretariat PPS Trihanggo, Ridhan Wahyuti secara secara satu per satu kepada seluruh Ketua KPPS yang hadir, diikuti dengan penjelasan singkat tentang penggunaan dana operasional beserta cara pembuatan laporan pertanggungjawaban keuangan oleh Leoni Rizky Kiswari selaku staf administrasi sekretariat PPS Trihanggo. Sedangkan buku pedoman kerja Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara dibagikan oleh anggota PPS Trihanggo Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, Dewi Safitri Ariani.

“Dana ini harus digunakan secara tepat sasaran dan dipertanggungjawabkan sesuai mekanisme,” tegas Leoni dihadapan KPPS.

Wira Kurniawan, salah satu Ketua TPS yang menerima buku pedoman teknis pemungutan dan penghitungan suara sekaligus dana operasional pembentukan tempat pemungutan suara tersebut, menyatakan apresiasinya atas dukungan Panitia Pemungutan Suara Kalurahan Trihanggo.

“Buku pedoman ini sangat membantu kami memahami prosedur dan meningkatkan kesiapan di TPS 13 dusun Baturan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, PPS Trihanggo juga mengadakan sesi diskusi dan tanya jawab dengan para Ketua KPPS. Beberapa diantaranya menyampaikan aspirasi dan tantangan yang mereka hadapi dalam proses persiapan, seperti keterbatasan tempat dan kebutuhan tambahan logistik. PPS berjanji akan berkoordinasi lebih lanjut untuk mencari solusi terbaik.

Dengan penyerahan dana operasional dan buku pedoman teknis ini, PPS Trihanggo optimistis seluruh TPS di wilayahnya dapat beroperasi sesuai prosedur dan memberikan pengalaman pemilihan yang baik bagi masyarakat. Warga pun diimbau untuk menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan suara nanti serta diharapkan dapat bekerjasama demi menciptakan pemilihan yang jujur, adil, dan transparan.

Langkah ini menunjukkan keseriusan penyelenggara pemilihan di tingkat kalurahan untuk memastikan proses demokrasi berjalan lancar dan menjadikan Kalurahan Trihanggo sebagai contoh penyelenggaraan pemilihan yang berkualitas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Puskesmas Tempel 1 Gelar MMD, Bahas Stunting dan Perencanaan Program 2025

Sleman – Puskesmas Tempel 1 menyelenggarakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) untuk Kalurahan Lumbungrejo di Aula Lantai 2 Kalurahan Lumbungrejo pada hari Jum’at (20/11/2024) pukul .

Kegiatan MMD ini mengundang Lurah Lumbungrejo, Kamituwo, Dukuh, dan kader kesehatan dari masing-masing Padukuhan untuk bersama-sama mencermati hasil SMD (Survey Mawas Diri) yang telah dilakukan melalui google form.

Al-Hakim Lurah Lumbungrejo menyampaikan sambutannya berupa ucapan terimakasih kepada Puskesmas Tempel 1, para dukuh dan juga kader kesehatan

“Kami ucapkan terimakasih kepada Puskesmas Tempel 1 yang telah mendampingi dan melayani masyarakat dalam hal kesehatan , juga kepada bapak/ibu dukuh yang selalu menggerakan masyarakat untuk menjaga kesehatan, dan terimakasih tak terhingga kepada seluruh kader kesehatan yang terus bergerak melayani mendampingi masyarakat semoga para kader kesehatan di Kalurahan Lumbungrejo senantiasa diberikan kesehatan,” sambut Misbah

Selain itu Lurah Lumbungrejo juga menyampaikan banyak hal yang berkaitan dengan kinerja kader kesehatan di Lumbungrejo dan program 2025 yang sinergis dengan para kader kesehatan yang ada di Lumbungrejo

“Kami menghimbau ke Ibu-ibu kader untuk lebih mencermati pelaporan jumlah balita yang ada dimasing-masing Padukuhan, jangan sampai nantinya ketika ada alokasi PMT (Pemberian Makanan Tambahan) jumlah balita yang dilaporkan untuk pengajuan pengadaan pmt tidak sama dengan laporan penimbangan balita yang ada dimasing-masing Padukuhan. Ini harus singkron, kenapa karena menggunakan Dana Desa kita harus berhati-hati, jangan sampai kita dalam validasi data lemah, karena bisa berakibat fatal. Selain itu di tahun 2025 nanti kita akan menambah fasilitasi terhadap kader kesehatan, mengingat kinerja ibu-ibu kader ini sangat gesit dan sigap dalam hal pendampingan dan pendataan kesehatan masyarakat,” jelas Misbah.

“Selanjutnya angka stunting kita perlu diperhatikan, dan perlu adanya langkah-langkah bersama agar Kalurahan Lumbungrejo bisa zero stunting. Selain itu dengan program dari presiden untuk ketahanan pangan maka ditahun 2025 Kelompok Wanita Tani yang sudah ada akan banyak kesempatan mendapatkan bantuan, maka ini harus dimanfaatkan betul, terutama bisa disinergikan dengan pembuatan PMT untuk menekan angka stunting yang ada. Di kalurahan Lumbungrejo sendiri nantinya kita akan menggandeng tenaga kesehatan yang ada dimasing-masing Padukuhan untuk bisa bekerjasama dan membantu pelayanan kesehatan di Padukuhannya masing-masing,” tambah Misbah

Wulandari Yurin selaku narasumber mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Kalurahan Lumbungrejo.

“Terimakasih Pak Lurah sudah sangat mensupport kader kesehatan Lumbungrejo, dari paparan Pak Lurah tadi Saya apresiasi bahwa Lumbungrejo Keren, karena mampu mengintegrasikan program-program kesehatan yang sudah disampaikan tadi dengan penganggaran APBKal yang ada di Kalurahan. Selain itu Pak Lurah juga menegaskan komitmenya untuk mensejahterakan Ibu-ibu kader kesehatan dan menggunakan dana APBKal untuk kegiatan-kegiatan penunjang pelayanan kesehatan masyarakat. Apalagi tadi mengajak tenaga kesehatan yang ada di Lumbungrejo untuk bisa bekerjasama saling membantu masyarakat dipadukuhan-padukuhan tempat mereka tinggal, tentunya ini menarik dan sangat kami dukung,”kata Yurin

Yurin juga menyampaikan masalah-masalah yang ditemui saat survey mawas diri melalui google form

“ Sepuluh permasalahan besar yang kita temui di masyarakat diantaranya : Minimnya penyuluhan kesehatan remaja, masih banyak pembakaran sampah diwilayah Lumbungrejo, kesadaran merokok tidak didalam rumah, pemberian ASI Eksklusif, rendahnya keikutsertaan kelas ibu hamil, kesadaran akan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit, tablet tambha darah untuk remaja putri, menimbangkan balitanya ke posyandu setiap bulan, PUS yang menggunakan KB, perilaku berobat bagi penderita PTM. Nah inilah masalah-masalah yang harus kita hadapi bapak/ibu, jadi dalam musyawarah ini kita harus merancang program kedepan agar maslah-masalah ini teratasi,” kata Yurin

Dari permasalahan yang disampaikan narasumber dan dimusyawarahkan forum disimpulkan bahwa Kalurahan Lumbungrejo ditahun 2025 akan fokus mengatasai dan menekan 10besar  permasalahan yang sudah dibahas dengan validasi data dari kader kesehatan, penyuluhan dan pendampingan secara berkala kepada masyarakat, dan juga fasilitasi terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik.

(Ais-KIM Ceria Lumbungrejo Tempel)




Aktif Sampaikan Informasi ke Masyarakat, Kapanewon Depok Apresiasi Keberadaan KIM Depok

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok mengapresiasi keberadaan KIM Depok sebagai kelompok diseminasi informasi di Kapanewon Depok. Hal itu disampaikan Panewu Anom Depok Wawan Hariawan dalam pertemuaan Pembinaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Depok Sleman, Bertempat di ruang rapat lantai 2, Depok , Sleman, Jum’at (22/11).

“Kapanewon Depok sangat bangga atas capaian KIM Depok yang berhasil meraih Juara 2 Lomba Pentunra yang diselenggarakan Dinas Kominfo Sleman kemaren,” ujar Wawan.

Lebih lanjut, Wawan mengatakan pihaknya akan berusaha mendukung berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum KIM Depok Sleman.

“Insya Allah setiap kegiatan KIM akan kita dukung. Dalam waktu dekat kita akan sosialisasikan Forum KIM ini ke tingkat Kalurahan,” ungkapnya, menambahkan.

Pasalnya, menurut Wawan, banyak sekali kegiatan di wilayah Depok yang layak diulas menjadi sebuah berita.

“Hari ini kita sama-sama belajar yang akan diajari oleh mentor kita sendiri, keluarga kita sendiri, yaitu beliau Mas Athiful Khoiri,” imbuhnya.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Jawatan Sosial Kapanewon Depok Masrodli mengatakan bahwa KIM Depok berada dalam garis koordinasi Jawatan Sosial.

Masrodli berharap KIM Depok ke depannya bisa bersinergi dengan Pemerintah Kapanewon, sehingga bisa maksimal dalam memberikan informasi dan kegiatan yang ada di masyarakat.

Salah satu peserta pertemuan Adi Yananta mengusulkan agar dalam waktu dekat KIM Depok menginisiasi pertemuan yang digunakan sebagai sarana saling belajar terkait penulisan berita.

“Kalau sekarang ini kita mendengarkan materi, selanjutnya saya usul langsung praktik saja membuat berita. Mas Athiful Khoiri tadi materinya bagus sekali sehingga perlu kita perdalam lagi bersama-sama,” ungkapnya setelah kegiatan berlangsung. (Lidya Agustina Kristanti/KIM DEPOK)




Melihat Upacara Adat Tingkeban di Banyuraden

Warga Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman baru-baru ini melaksanakan upacara adat tingkeban atau mitoni, sebuah tradisi Jawa yang digelar untuk mendoakan keselamatan calon ibu dan bayi yang masih dalam kandungan. Acara ini diadakan di salah satu rumah warga dusun Sukunan, Jumat (22/11/2024) dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat setempat.

Upacara tingkeban biasanya dilakukan saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan. Dalam tradisi Jawa, angka tujuh memiliki makna spiritual yang mendalam, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. Di Kalurahan Banyuraden, upacara ini menjadi salah satu momentum untuk melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.

Prosesi upacara adat tingkeban yang dilakukan sepasang suami istri, Nisa Daranurisma dan Sidik Nurwanto ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa. Doa tersebut diucapkan dengan harapan agar ibu dan bayi yang dikandungnya diberikan kesehatan dan kelancaran hingga proses persalinan. Setelah doa selesai, prosesi dilanjutkan dengan siraman sebagai salah satu ritual utama dalam tingkeban.

Siraman dilakukan menggunakan air yang telah diberi bunga tujuh rupa yang mencerminkan harapan akan kesucian dan keberkahan. Air siraman ini diambil dari tujuh sumber mata air yang berbeda sebagai simbol kemurnian. Dalam prosesi tersebut, calon ibu dimandikan oleh para sesepuh dan keluarga terdekat yang menandai pembersihan lahir batin menjelang kelahiran sang buah hati.

Selain siraman, prosesi tingkeban juga dimeriahkan dengan tradisi memecahkan kendi yang melambangkan harapan agar proses persalinan kelak berjalan lancar seperti air yang mengalir keluar dari kendi. Ritual ini disambut dengan tepuk tangan dan doa-doa penuh semangat dari para tamu yang hadir.

Acara semakin meriah dengan penyajian berbagai hidangan tradisional, seperti tumpeng, kolak, dan jajanan pasar. Hidangan tersebut tidak hanya menjadi sajian bagi tamu tetapi juga memiliki simbolis rasa syukur atas karunia yang diberikan. Tumpeng, misalnya, melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Sementara itu, Sulung Pramono selaku Ulu-Ulu Kalurahan Banyuraden dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada warga yang tetap menjaga tradisi leluhur. Menurutnya, tingkeban bukan sekadar acara adat saja tetapi juga wujud nyata syukur kepada Allah SWT sekaligus sebagai ajang memperkuat solidaritas antar warga dusun Sukunan.

“Upacara adat ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan generasi muda terhadap kekayaan budaya lokal,” tutur Sulung.

Banyak anak muda Banyuraden yang ikut terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan acara, mulai dari membuat dekorasi hingga membantu menyajikan hidangan. Hal ini diharapkan dapat menjaga kelestarian tradisi ini agar tetap hidup di masa mendatang.

Upacara tingkeban di Banyuraden ini menjadi salah satu bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat yang istimewa di tengah arus modernisasi. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan.

Sulung Pramono sebagai salah satu tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dalam pengelolaan budaya dan tradisi setempat menyebutkan bahwa upacara adat tingkeban merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai spiritual dan kearifan lokal yang diyakini dapat menjadi identitas budaya demi memperkuat karakter Kalurahan Banyuraden.

“Pelestarian tradisi seperti ini adalah bagian dari visi menjadikan Banyuraden sebagai rintisan desa budaya yang mampu menarik perhatian warga lokal dan wisatawan dari luar daerah,” imbuhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)