Komunitas Kekandhangan Gamping Gelar Bakti Sosial dan Edukasi Relaksasi bagi Warga Purwosari

Sleman – Kegiatan bakti sosial dan edukasi relaksasi digelar oleh Komunitas Kekandhangan Gamping di Padukuhan Nglegok, Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Minggu (1/12/2024). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat setempat dalam mengelola stres yang disebabkan oleh serangan satwa liar, khususnya monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) terhadap lahan pertanian mereka.

Acara dimulai pagi hari dengan pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Padukuhan Nglegok, Asnanta, pengurus dan anggota Komunitas Kekandhangan Gamping, serta warga setempat. Sekretaris Komunitas Kekandhangan, Adnan Iman Nurtjahjo dalam sambutannya menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis para petani akibat kerugian yang ditimbulkan monyet ekor panjang.  

Pasalnya, satwa liar tersebut sering merusak tanaman para petani. Hal ini tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga menambah beban psikologis para petani yang semakin cemas dan tertekan.

“Untuk itu, Komunitas Kekandhangan Gamping mengadakan sesi edukasi tentang cara-cara relaksasi untuk mengelola stress oleh narasumber kita, Setyo Hari,” kata Adnan.

Narasumber kegiatan, Setyo Hari pada kesempatan itu memberikan informasi kepada peserta mengenai teknik relaksasi yang sederhana, namun efektif yang disebut dengan teknik hipnoterapi. Teknik ini dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh saat merasa cemas atau tertekan.

Menurutnya, terapi ini dirancang khusus untuk membantu orang melepaskan stres yang berlebih, mengatasi kecemasan dan menemukan ketenangan batin. Stres yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti hipertensi atau gangguan tidur. Oleh karena itu, relaksasi menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari stres yang dialami oleh para petani.

“Dengan teknik hipnoterapi ini, para petani dapat mengembalikan keseimbangan emosionalnya,” ucap Hari.

Selain edukasi relaksasi, kegiatan ini juga mencakup sesi diskusi di mana para petani dapat berbagi pengalaman dan cara yang mereka lakukan untuk mengatasi serangan satwa liar. Salah satu solusi yang diajukan adalah pembuatan pagar pembatas dan penggunaan alat pengusir satwa yang ramah lingkungan. Masyarakat diberi informasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar dapat meminimalkan konflik dengan satwa liar.

Di samping itu, sebagai bagian dari bakti sosial, Komunitas Kekandhangan Gamping juga menyerahkan bantuan berupa 100 paket sembako dan makanan kepada warga yang terdampak serangan satwa liar. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban para petani dan meningkatkan semangat mereka dalam menjalankan aktivitas pertanian sehari-hari.

Kegiatan itu pun mendapatkan apresiasi positif dari warga Padukuhan Nglegok. Dukuh Nglegok, Asnanta mewakili warganya mengungkapkan terima kasih atas adanya kepedulian dari Komunitas Kekandhangan dan edukasi mengenai pengelolaan stres bagi warganya.

“Semoga dengan pencerahan yang diberikan kami bisa lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi masalah di lahan pertanian,” ujarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




MUI Depok Gelar Rapat Pleno II Bahas Penguatan Peran dan Fungsi MUI bagi Masyarakat

Sleman – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok menggelar Rapat Pleno II di Kantor Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman, Minggu (1/12/2024). Rapat kali ini membahas mengenai penguatan peran dan fungsi MUI di tengah-tengah masyarakat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok, KH Sunhaji pada kesempatan itu menegaskan pentingnya penguatan peran dan fungsi MUI agar semakin relevan dengan kebutuhan jamaah, khususnya di wilayah Kapanewon Depok.

“Rapat pleno membahas berbagai hal. Pertama, berkaitan dengan penguatan, peran, dan fungsi MUI agar sesuai khittah perjuangannya untuk mengembangkan khidmah peran-peran MUI kepada kepentingan-kepentingan umat,” ungkap Kiai Sunhaji.

Menurutnya, rapat ini tidak hanya membahas penguatan internal organisasi, tetapi juga menangkap isu-isu aktual yang tengah berkembang dimasyarakat.

“Dalam kesempatan ini akan dibahas berbagai hal, misalnya terkait dengan maraknya dekadensi moral seperti maraknya judi online, pinjol, miras, toilet tidak suci, dan masih banyak persoalan-persoalan masyarakat lain,” tandasnya.

Lebih lanjut, Sunhaji menjelaskan bahwa keberadaan MUI Depok Sleman akan berusaha memaksimalkan peran para anggotanya, baik dalam kontribusi pemikiran maupun gagasan-gagasan yang dapat diimplementasikan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. 

“Di sini, kami semua yang duduk sebagai anggota harus dimaksimalkan peran-perannya dalam organisasi, baik melalui pemikiran maupun gagasan-gagasannya, yang kami yakini sangat luar biasa,” tegasnya. 

Komitmen tersebut direalisasikan dengan langkah MUI Depok Sleman merekomendasikan pelaksanaan berbagai program yang bersifat rintisan dan strategis, dengan dampak luas dan signifikan bagi masyarakat, khususnya di wilayah metropolitan seperti Kapanewon Depok.

“Kami berusaha merekomendasikan agar MUI Depok, dalam membangun atau melaksanakan program-programnya itu lebih berorientasi kepada yang memiliki dampak luas pada masyarakat,” imbuhnya. (Athiful/Kim Depok)




Lestarikan Budaya Jawa, Sanggar Tari Mangun Harjo Gelar Pentas Ujian Tari Kreasi

Sleman – Sanggar Tari Mangun Harjo, Pandean Kalurahan Sidoluhur Kapanewon Godean menyelenggarakan Pentas Ujian Tari Kreasi di RTH Gumuk Sikuneng, Pandean VII, Sabtu (30/11/2024).

Ketua Sanggar Tari Mangun Harjo, Ema Yuliati menuturkan bahwa pentas ini merupakan penyelesaian pembelajaran untuk tahun 2024. Di mana, jumlah peserta didik di Sanggar Tari Mangun Harjo sebanyak 100 orang. Sementara, peserta didik yang mengikuti pentas ujian tari kreasi tersebut berjumlah 91 anak.

“Dari 91 anak itu, terbagi dalam Kelas A usia PAUD/TK sebanyak 18 anak, dengan membawakan tari Sluku Sluku Bathok dan Tari Wercitra. Untuk kelas B usia SD kelas 1-3 sebanyak 30 peserta dengan tari Sembagi Arutala dan Kencana Wingka,” kata Ema.

“Sementara untuk kelas C peserta usia SD kelas 4-6 jumlahnya 27 dengan tari Suka Pari Suka dan Mulang Wring dan kelas D usia kelas SMP. SLTA dan Umum sebanyak 16 dengan Tari Krenteg Semarangan dan Ciptaan Ciptaan Sanggar Mangun Harjo yaitu Ni Luh Sekar,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ema menambahkan, sanggar yang dipimpinnya berdiri pada 27 Agustus 2015. Hingga saat ini sanggar tersebut memiliki tiga pelatih dan seorang admin. Materi pembelajaran yang diberikan meliputi tari klasik dan kreasi.

Sanggar tersebut didirikan untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung. Melalui sanggar pihaknya bermaksud menggugah kembali dan mendorong anak-anak, remaja dan pemuda serta masyarakat untuk bangkit mencintai dan melestarikan seni tari.

“Dengan seni tari kita bisa olah raga, olah rasa dan olah cipta,” tandas Ema.

Peserta didik Sanggar Mangun Harjo berasal dari berbagai wilayah Sleman barat, seperti Godean, Gamping, Seyegan, Minggir, bahkan ada yang dari luar wilayah Kabupaten Sleman. Pembelajaran dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan jadwal mulai pukul WIB untuk kelas A, pukul WIB untuk kelas B, dan pukul WIB bagi kelas C. Sementara untuk peserta kelas D, pembelajaran dimulai pukul WIB hingga pukul WIB. (Tri Joko S – KIM Kalasan).




Dukung Kelompok Seni Tradisional, Pemkab Sleman Serahkan Hibah 70 Gamelan dan Alat Musik

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyerahkan hibah gamelan dan alat musik kepada 70 kelompok kesenian se-Kabupaten Sleman. Hibah tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, pada Sabtu (30/11) malam, bertempat di Balai RW 23, Padukuhan Panggungsari, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.

Ia mengucapkan selamat kepada kelompok kesenian yang pada hari ini menerima bantuan hibah gamelan dan alat musik tahun 2024 ini. Dikatakan bahwa pemberian bantuan hibah gamelan dan alat musik ini merupakan wujud kepedulian sekaligus dukungan Pemkab Sleman kepada para komunitas atau kelompok budaya.

“Saya harapkan hibah yang diberikan ini dapat menjadi motivasi untuk lebih memajukan dan mengembangkan seni budaya di Sleman,” kata Danang.

Lebih lanjut Danang mendorong warga masyarakat Sleman, khususnya generasi muda, untuk lebih mengutamakan kesenian tradisional ketimbang kesenian dari negara luar. Dengan begitu diharapkan kesenian yang kita miliki bisa terus lestari, serta bisa menjadi jati diri bangsa kita di mata masyarakat global.

“Jadikan gamelan dan alat musik ini sebagai sarana untuk generasi muda terus berkarya dan menginspirasi mempromosikan seni budaya kita di tingkat lokal hingga internasional,”

Dijelaskan oleh Edy Winarya, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, bahwa 70 kelompok kesenian penerima hibah terdiri dari berbagai jenis kesenian. Diantaranya 14 kelompok jathilan, 11 kelompok hadroh, 8 kelompok kubro, 3 kelompok campursari, 10 kelompok bregodo, 2 kelompok badui, dan 22 kelompok karawitan.

Lebih lanjut dikatakan bahwa hibah gamelan dan alat musik ini didanai oleh Dana Keistimewaan DIY. Untuk itu ia berharap agar hibah tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, guna mengembangkan kesenian dan kebudayaan tradisional yang ada di lingkungannya masing-masing.




Pemkab Sleman Gelar Upacara Bendera Dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun KORPRI ke 53 Tahun 2024

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ke 53 Tahun 2024 pada Jumat, (29/11) di Lapangan Pemda Sleman.

Upacara bendera ini diikuti oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dalam pelaksanaannya, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa bertindak sebagai Inspektur Upacara dan menyampaikan amanat Bupati Sleman.

Dalam amanat yang dibacakannya, Danang menyampaikan momentum HUT KORPRI merupakan saat tepat dalam membangun mentalitas positif, penguatan reformasi birokrasi yang efisien, serta menciptakan terobosan inovatif dalam mendukung pelaksanaan tugas sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.

“Di usia yang ke 53 ini seluruh anggota KORPRI harus senantiasa meningkatkan kemampuan, kapasitas diri dan dedikasinya sebagai perwujudan dari profesionalitas agar dapat mengikuti perkembangan jaman serta mampun memenuhi tuntutan masyarakat,” jelas Danang

Lebih lanjut, tema HUT KORPRI ke 53 yakni “KORPRI untuk Indonesia” yang dimaknai bahwa ASN baik di Pusat dan Pemerintah Daerah hadir demi memperkokoh persatuan dan kesatuan sehingga eksistensi KORPRI bisa dirasakan manfaatnya bagi seluruh masyarakat Indonesia dan anggota KORPRI.

“Nilai luhur dan integritas setiap insan KORPRI diharapkan bisa menjadi role model sekaligus agen perubahan yang mewarnai proses pembangunan nasional menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata Danang

Sebagai penutup amanatnya, Danang berpesan setiap insan KORPRI harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan transformasi digital serta kreatif dalam mengatasi permasalahan pelayanan publik. Jadilah aparat birokrasi yang dinamis, inovatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Serta memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik dengan kualitas terbaik dan waktu yang cepat.

“Sebagai penutup saya ingin mengapresiasi dan berterimakasih kepada seluruh ASN yang telah bekerja keras melaksanakan tugas dan pengabdiannya untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Bumi Sembada,” pungkas Danang