DLH Sleman Gelar Penguatan Kapasitas Pengelolaan Air Limbah Domestik

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menggelar pertemuan dengan Ketua Kelompok Pemelihara dan Pemanfaat (KPP) Ipal Komunal se- Kabupaten Sleman, di Puri Mataram, Drono, Tridadi, Kamis (5/12/2024).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau DLH Kabupaten Sleman, Kepala Aksansi Pusat, dan sejumlah perwakilan dari 140 KPP se-Kabupaten Sleman.
Kabid Kebersihan dan Pengelolaan RTH DLH Kabupaten Sleman, Junaidi dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh KPP. Mengingat, menjadi Pengurus KPP merupakan pejuang lingkungan yang tiada harganya. “Kami hanya bisa mendoakan semoga perjuangan kalian semua mendapat imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
Ia pun berharap kepada KPP untuk tetap semangat mengelola Ipal Komunal yang sudah dibangun.
Selanjutnya, Satuan Kerja Pengelola Air Limbah DLH Kabupaten Sleman, Sasi Kirana pada kesempatan itu menyampaikan bahwa berdasarkan hasil monitoring kerja KPP, diketahui pengujian sampling air masih dalam kondisi yang kurang.
“Memang parameter dari Kementerian DLHK cukup ketat, jadi kalau harus memenuhi baku mutu agak susah,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Aksansi Pusat, Prastyatuti Puspa Wardaya menyampaikan bahwa di Sleman sampai tahun 2023 telah dibangun sejumlah 149 SPAL DT, 28 Ipal Huntab, dan 1 Sanitasi Reguler Energi berkelanjutan.
“Dari sejumlah sanitasi tersebut 14% masuk kategori Kontribusi Sanimas ke SDGs 6 Akses aman,” kata Pras.
Pada kesempatan itu, Pras juga mengupas cara pemeliharaan pasca pembangunan Ipal dalam cara teknis operasional dan perawatan dan tata kelola keuangan dan kelembagaan. Adapun manfaat dari pembinaan pengelola sanitasi masyarakat di antaranya adalah meningkatkan semangat, terpenuhinya kualitas baku mutu dan manfaat tata kelola kelembagaan.
“Alasan Ipal banyak dibangun adalah kesehatan masyarakat menjadi prioritas, instalasinya kedap tidak mencemari sumber air baku, cakupan layanan cukup besar, ” tutur Pras.
“Alasan dibangunnya Ipal adalah didesain sumur yang sangat lama, tahan bencana, dan cocok dengan kultur budaya masyarakat Indonesia. Sedangkan alasan Ipal harus berkelanjutan dikarenakan populasi terus bertambah, lahan pemukiman semakin sempit. Alasan lainnya yaitu pemakaian air tanah semakin meningkat, sistem paling mudah dirawat, dan akses sanitasi aman sesuai target seluruh dunia,” tandasnya. (Giek/KIM Moyudan)

