Tinjau Pembangunan Stadion Maguwoharjo, Wabup Sleman: Sesuai Standar FIFA

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa melaksanakan peninjauan terkait progres pembangunan Stadion Maguwoharjo pada Selasa, (10/12). Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sleman, Mirza Anfansury

Rehabilitasi Stadio Maguwoharjo ini dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang sudah dimulai sejak tanggal 27 Desember 2023. Adapun pekerjaan yang dilakukan antara lain pekerjaan struktur yakni kolom dengan metode jacketing, penambahan kursi single seat, penggantian rumput lapangan, dan pembuatan tribun difabel serta nantinya akan berkapasitas penonton.

Danang menyampaikan peninjauan ini dimaskudkan untuk melihat progres pembangunan stadion baik sarana prasarana pendukung maupun rumput stadion. Menurutnya, progres pembangunan harus sejalan dengan rencana awal dan perlu dipastikan pelaksanaannya sehingga ketika diserahkan dan diresmikan nantinya akan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

“Kami memberikan beberapa catatan kepada pengembang dan vendor. Mudah mudahan dapat segera terselesaikan karena ini fasilitas vital untuk aktivitas olahraga khususnya sepak bola di Kabupaten Sleman,” ujar Danang

Danang juga menyampaikan stadion ini harus sesuai standar FIFA yang dimana untuk memenuhi standar tentu tidak mudah dan butuh kerjasama banyak pihak untuk mewujudkannya. Apabila memenuhi standar, Danang menyampaikan kedepan aktivitas olahraga di Stadion Maguwoharjo ini akan lebih maju dan berkembang.

“Saya berharap karena ini adalah stadion kebanggaan warga Sleman maka proses renovasi dan rehabilitasinya dapat segera terselesaikan sehingga dapat digunakan kembali untuk pertandingan sepakbola maupun kegiatan event lain di bagian luar stadion karena salah satu pendapatan daerah Sleman juga berasal dari sini,” kata Danang




Sukses Tertibkan Sanitasi di Masyarakat, Sleman Raih Peringkat 1 Nasional STBM Award

Sleman – Penghujung tahun ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil meraih peringkat pertama tingkat nasional untuk Penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) kategori STBM Paripurna Terbaik 1. Tak hanya itu, Pemkab Sleman juga membawa pulang Penghargaan Program Keamanan Pangan Olahan Siap Saji. Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono kepada Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dan Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama di St. Regis Hotel Jakarta, Selasa (10/12).

Penghargaan tersebut merupakan apresiasi kepada Kepala Daerah yang telah berkomitmen dalam menyelesaikan masalah sanitasi dengan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Untuk kategori STBM Paripurna diberikan kepada Kepala Daerah yang melakukan pembinaan untuk keberhasilan mencapai 100% Stop Buang air besar Sembrangan dan juga telah melaksanakan pilar-pilar STBM lainnya.

Sedangkan Penghargaan Program Keamanan Pangan Olahan Siap Saji menjadi wujud apresiasi Pemerintah Pusat kepada Kepala Daerah yang berkomitmen dalam pembinaan keamanan pangan pengolahan makanan siap saji. Wamen Dante Saksono Harbuwono menyampaikan apresiasi kepada Pemda, pelaku usaha serta penyelenggara fasilitas umum, yang telah mengikutsertakan masyarakat dalam program perbaikan sanitasi.

“Karena dengan masyarakat yang sadar akan sanitasi yang baik maka kejadian kematian akibat penyakit yang disebabkan sanitasi buruk menjadi lebih rendah,” ujar Dante.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan seluruh jajaran Pemkab Sleman, khususnya seluruh tenaga kesehatan Sleman yang telah mendukung Kabupaten Sleman dalam melaksanakan pilar-pilar STBM. Dengan penghargaan ini, ia berharap kualitas sanitasi Kabupaten Sleman dapat semakin meningkat.

“Tentu kami berharap dengan kualitas sanitasi yang baik juga ikut mendorong kualitas kesehatan masyarakat yang semakin baik. Semoga capaian ini dapat terus memotivasi semua pihak untuk selalu berperilaku positif dalam menjaga kesehatan lingkungan,” begitu ujar Kustini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama menjelaskan, Dinkes Sleman telah melakukan strategi dengan meningkatkan penguatan sistem jaminan keamanan dan mutu pangan. Hal ini didukung dengan diterbitkannya Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) atau label pembinaan bagi pelaku usaha kuliner yang telah memenuhi standar.

“Penghargaan ini sekaligus mendukung  Kabupaten Sleman sebagai destinasi wisata, pendidikan dan hunian dengan standar dan perilaku sanitasi terbaik di Indonesia,” tegasnya.




PMI Kalasan Gelar Sosialisasi Kebencanaan dan P3K

Kalasan – Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Kalasan menyelenggarakan sosialisasi tentang  Kebencanaan dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) pada Selasa (10/12-2024) bertempat di Ruang Sumanggem Kapanewon Kalasan.

Sosiali Kebencanaan sekaligus pelatihan P3K diikuti relawan berasal dari Kalurahan  Tamanmartani, Tirtomartani, Selomartani dan Purwomartani dan Palang Merah Remaja (PMR) Madya SMP N 1 Kalasan, SMP Kanisius, SMP Muhammadiyah 1 dan 2, SMP N 3. Sementara  untuk PMR Wira dari SMK N 1 Kalasan, SMA N 1 Kalasan dan SMA Muhammadiyah Kalasan.

Ketua PMI Kapanewon Kalasan Sidi Nugroho menuturkan, sosialisasi kebencanaan menghadirkan narasumber dari BMKG ibu Nana Nawangsari dan untuk P3K Sarjuri dari PMI Kabupaten Sleman.

Menurut Sidi Nugroho, sosialisasi dan pelatihan bertujuan memberikan bekal pengetahuan tentang ancaman gempa bumi Megathrus dan ketrampilan P3K. Diharapkan setelah mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan para peserta dapat melakukan mitigasi, bila terjadi bencana tidak panik serta dapat bertindak cepat, tepat dan sesuai standart operasional prosedur.

Sementara itu Panewu Kalasan Joko Susilo dalam sambutanya memberikan apresiasi dan dukungan atas inisiatif Pengurus PMI Kapanewon untuk mengadakan sosialisasi kebencanaan dan pelatihan P3K. Panewu menilai materi sangat tepat bila dikaitkan dengan isu-isu saat ini serta tuntutan situasi dalam  kesiapsiagaan masyarakat.

Terkait dengan peran relawan dan PMR, Joko Susilo meminta agar senantiasa setiap saat dalam kondisi apapun relawan siap mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan termasuk siap siaga bila terjadi sesuatu dampak dari hydrometeorologi.

“Pengetahuan dan keterampilan bisa menjadi bekal pribadi dalam  pengabdian kepada masyarakat. Kami meminta pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi  ditularkan kepada teman yang lain,” pinta Joko Susilo. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




Jawatan Keamanan Gamping Latih Relawan Tangani Situasi Darurat Medis

Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping menggelar pelatihan penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD) bagi komunitas relawan pada Selasa, (10/12/2024). Pelatihan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Wirasuta lantai II Kantor Pemerintah Kapanewon Gamping. Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan relawan dari berbagai komunitas yang antusias mengikuti program peningkatan kapasitas ini.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dasar kepada para relawan dalam menangani situasi darurat medis. Hal ini dinilai sangat penting mengingat peran aktif relawan sering kali menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama di lokasi kejadian sebelum tenaga medis profesional tiba.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana didampingi Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

“Kami ingin memastikan bahwa relawan memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam memberikan bantuan yang benar dan cepat kepada korban,” tuturnya.

Pemaparan materi pelatihan dilakukan Suryanto selaku instruktur dari Gayus Adventure Rescue Training yang membeberkan cara melakukan pertolongan pertama kegawatdaruratan atau  Medical First Responder yang meliputi pengenalan tanda-tanda kondisi gawat darurat, teknik resusitasi jantung paru (RJP), penanganan luka berat, pembidaian hingga evakuasi korban secara aman. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi langsung dengan menggunakan alat bantu medis yang disediakan.

Erwin, salah satu peserta dari Komunitas Tim Reaksi Cepat Gamping menyebutkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat. Menurutnya, disini dapat  mempelajari bagaimana bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat, terutama ketika menangani korban kecelakaan atau kondisi kritis lainnya.

“Pelatihan dan simulasi seperti ini benar-benar membantu kami menjadi lebih percaya diri,” ungkapnya.

Selain itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara relawan dan layanan darurat profesional. Para relawan diajarkan untuk segera menghubungi layanan medis atau ambulans setelah memberikan pertolongan pertama, serta melaporkan kondisi korban secara jelas agar penanganan lanjutan dapat dilakukan secara efektif.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan komunitas relawan di Kapanewon Gamping semakin sigap dan terlatih dalam menghadapi berbagai situasi darurat yang mungkin terjadi di lingkungan mereka.

Di akhir acara, Bambang Nurdianto selaku Kepala Jawatan Keamanan berharap kegiatan serupa dapat terus digalakkan untuk memperluas jangkauan pembekalan kepada lebih banyak relawan di masa mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




BMKG Sleman Beri Pembinaan Kebencanaan Gempabumi dan Tsunami Bagi Komrel Gamping

Pemerintah Kapanewon Gamping melalui Jawatan Keamanan menyelenggarakan pembinaan keterampilan kebencanaan yang difokuskan pada kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya gempabumi dan tsunami bagi komunitas relawan (Komrel) yang ada di wilayah Kapanewon Gamping. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Wirasuta lantai II Kantor Pemerintah Kapanewon Gamping, Selasa (10/12/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, didampingi Kepala Jawatan Keamanan kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto, perwakilan dari berbagai elemen masyarakat se-Kapanewon Gamping yang tergabung dalam komunitas relawan kebencanaan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, termasuk perangkat pemerintah kalurahan khususnya Jagabaya, dan tokoh masyarakat setempat. Dengan tema ‘Meningkatkan Kesiapsiagaan, Mengurangi Risiko Bencana’ pembinaan ditujukan guna memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, terutama di wilayah rawan.

Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping dalam sambutannya menyatakan pentingnya edukasi mengenai mitigasi bencana bagi masyarakat. Menurutnya, wilayah Kapanewon Gamping memiliki potensi terdampak bencana, seperti tanah longsor, angin puting beliung, banjir, termasuk gempabumi. Karenanya, pembinaan ini menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Ia menyampaikan keprihatinannya terkait rendahnya tingkat kepedulian sumberdaya manusia terhadap mitigasi bencana di wilayahnya. Ditekankan bahwa kurangnya perhatian terhadap upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana dapat meningkatkan risiko kerugian yang lebih besar jika bencana benar-benar terjadi.

“Masih banyak masyarakat menganggap mitigasi bencana sebagai hal yang tidak mendesak. Sesungguhnya, upaya mitigasi adalah investasi keselamatan di masa depan, baik bagi diri sendiri maupun komunitas,” ujar Tamzis dihadapan para relawan.

Dirinya pun menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dalam mitigasi bencana. Tugas ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Namun, seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif agar dapat membangun komunitas yang tangguh terhadap bencana.

Sementara, materi pembinaan dipaparkan oleh Heru Gunawan selaku Petugas dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Kabupaten Sleman yang mencakup pengertian gempabumi dan tsunami, termasuk potensinya di Yogyakarta, serta kesiapsiagaan dalam menghadapinya berikut simulasinya. Peserta diajak untuk memahami langkah-langkah praktis dalam menyelamatkan diri dan orang lain saat terjadi bencana.

Selain itu, peserta juga diberikan pengetahuan tentang identifikasi zona rawan bencana di wilayah Gamping. Melalui peta risiko bencana, peserta diajak memahami pentingnya jalur evakuasi dan titik kumpul aman yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian material.

“Periode merusak gempabumi kuat terjadi sangatlah singkat, maka prioritaskan melakukan perlindungan diri,” ucap Heru.

Para peserta mengaku mendapatkan wawasan yang bermanfaat dari pembinaan ini. Salah satu peserta, Bakoh Waluyo dari Komunitas Relawan Geplakan Siap Siaga menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan rasa percaya diri dalam menghadapi situasi darurat.

“Kami jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi, terutama dalam menyelamatkan keluarga,” katanya.

Dengan adanya pembinaan ini, pemerintah Kapanewon Gamping berharap masyarakat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama dalam mewujudkan kesiapsiagaan bencana yang optimal. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)