JPSM Sehati Gelar Evaluasi Kerja Tahun 2024, Bahas Program Pengelolaan Sampah

Sleman – Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati Kabupaten Sleman melaksanakan pertemuan akhir tahun bertempat di Ruang Pertemuan Kapanewon Gamping, Kamis (12/12/2024). Rapat kali ini mengusung tema evaluasi kerja JPSM Sehati dan pembentukan Bank Sampah Induk JPSM Kabupaten Kabupaten Sleman.

Panewu Kapanewon Gamping, Tamzis Sarwono mengapresiasi pertemuan para pelaku penggiat sampah yang tergabung dalam JPSM Sehati Kabupaten Sleman atas semangatnya mengelola lingkungan terutama sampah. Dengan adanya penutupan TPA Piyungan menjadikan penangan sampah menjadi sulit.

“Karena kita terbiasa terlena akan kemudahan menggunakan TPA Piyungan sebagai tempat pembuangan sampah,” ujar Tamzis.

Untuk itu, Pemerintah Kapanewon Gamping memberikan prioritas. Salah satunya dengan melakukan studi tiru ke salah satu tempat pengelolaan sampah di Bali.

“Hasil studi tiru akan diaplikasikan di wilayah Gamping disesuaikan dengan kondisi yang ada. Salah satunya pengambilan keputusan siap melangkah untuk mengelola sampah, berani mengambil resiko konsekuensi dari keputusan yang diambil,” ungkapnya.

Lebih lanut, mengacu pada Surat Edaran Bupati Sleman Nomor 30 tahun 2022 tentang pengelolaan sampah dari sumbernya, Pemerintah Kapanewon Gamping mendorong setiap kalurahan untuk membuat program dan anggaran dalam upaya pengelolaan sampah.

“Program tersebut meliputi pembentukan kelompok Bank Sampah disetiap padukuhan. Melakukan kegiatan bersih bersih lingkungan minimal empat kali dalam setahun. Memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah juga membantu sarana pengelolaan sampah,” jelas Tamzis.

Sementara, Wakil ketua JPSM Sehati, Sumarsa berpesan agar para pengurus JPSM Sehati menjaga kekompakan dan melakukan semua kegiatan yang telah diprogramkan. Banyak hal yang dilakukan untuk kegiatan tahun 2024, namun ada juga beberapa program yang kurang maksimal dan belum dilaksanakan.

“Salah satunya pembentukan Bank Sampah Induk JPSM Sehati Sleman. Untuk membuka wacana tentang BSI maka Gipsum mengundang Direktur BSI Kota Magelang,” kata Marsana.

Direktur Bank Sampah Induk Kota Magelang, Afton Maulana sebagai pemateri menyampaikan persiapan yang dilakukan untuk mengawali pembentukan BSI dengan panduan mengelola Bank Sampah Induk.

“Kedudukan dan cakupan wilayah kerja BSI berada di tingkat kabupaten atau kota, bermitra dengan Bank Sampah Unit (BSU) yang ada di seluruh wilayah kerjanya,” ucap Afton.

“Selain itu BSI harus memiliki Standar operasional Proses (SOP) dan peraturan yang jelas transparan. Peraturan meliputi jam pelayanan, jenis sampah yang diterima, jumlah minimum sampah masuk, ketentuan hak kewajiban karyawan. Kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun akademisi akan dapat membantu pengembangan serta keberlanjutan usaha BSI,” sambungnya.  (Kusnadi/KIM Berbah)




Peringati HUT Ke-6, DPD PPY Sleman Gelar Pertuntujakan Lima Dalang Wayang Kulit

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-6 Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY), DPD Kabupaten Sleman mengelar pertunjunkan wayang kulit dengan lakon “Wahyu Cakraningrat”, di Pendopo “Kromoredjan” Kalurahan Condongcatur, Rabu (11/12/2024). Gelaran yang menampilkan lima dalang berbakar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Dinas Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman, dan perwakilan Kapanewon Depok.

Sebagai tuan rumah, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menyampaikan apresiasinya terhadap kiprah PPY yang selama enam tahun terakhir tetap konsisten melestarikan seni panatacara dan seni budaya Jawa lainnya. Semagnat itu diharapkan agar dapat terus dijaga dan menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan budaya leluhur.

“Semangat ini harus terus dijaga, sehingga dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan budaya leluhur,” katanya.

Selain pagelaran wayang kulit, acara ini pun diisi dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan dan kontribusi PPY dalam melestarikan seni budaya Jawa.

Sementara, Ketua DPD PPY Sleman, Agus Wiranto dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak yang turut memeriahkan peringatan ini. Perayaan ulang tahun tersebut merupakan komitmen DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta dalam rangka melestarikan budaya dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya.

“Semoga seni panatacara dan wayang kulit tetap hidup di tengah kehidupan masyarakat modern,” ujar Agus.  (Wasana / Kim Depok)




PMI Seyegan Sosialisasikan Program Ladamanis

Seyegan – PMI Kapanewon Seyegan menyelenggarakan sosialisasi Ladamanis Rabu (11/12/2024) di Aula Kapanewon Seyegan. Sosialisasi diikuti perwakilan relawan, utusan sekolah tingkat SMA/SMK, Perwakilan Kalurahan dan Pendamping PKH dengan narasumber dari PMI Kabupaten Sleman.

Ketua PMI Kapanewon Seyegan Beny Sijendro menuturkan, sosialisasi bertujuan memberikan pemahaman kepada kelompok perantara terkait dengan program Ladamanis yang ada di PMI Kabupaten Sleman. Harapan selanjutnya para peserta dapat turut mensosialisasikan lebih luas kepada masyarakat.

“Mungkin saat ini masyarakat masih ada yang mengetahui tentang program pelayanan darah bagi masyarakat Kabupaten Sleman gratis, nah giliran para peserta sosialisasi nantinya diharapkan turut aktif membantu sosialisasi secara bertahan,” pinta Beny.

Sementara itu Panewu Seyegan Samino dalam sambutanya memberikan apresiasi kepada PMI Kapanewon Seyegan yang telah aktif dan hadir dalam setiap kegiatan, baik level Kapanewon maupun Desa.

“Terkait dengan program Ladamanis, pemerintah Kapanewon dan jajarannya berkomitmen mendorong setiap upaya peningkatan perolehan darah setiap penyelenggaraan donor darah di Seyegan agar ketersediaan/stok darah PMI Kabupaten Sleman tidak menipis atau bahkan mengalami kekurangan,”  ungkap Samino.

Lebih lanjut Panewu Seyegan menuturkan, berdasarkan pemantauan dan catatan, setiap penyelenggaraan donor darah hasilnya masih berkisar 30 – 40 kantong darah, artinya baru berkisar 0,1 % dari jumlah penduduk berdasarkan DPT sekitar orang. Perolehan itu dirasa masih kecil dan perlu diupayakan peningkatannya.

“Kita perlu mencari akar broblematikanya serta merumuskan solusinya. Setidaknya ada perkiraan, apakah kesadaran masyarakat masih rendah, apakan pengetahuan masyarakat tentang manfaat donor darah masih rendah, atau darah,” ungkap Samino.

“Kalau itu yang terjadi maka harus dilakukan sosialisasi dan edukasi   kepada masyarakat dan lembaga. Sosialisasi dan edukasi dimaksud menyangkut materi Manfaat Donor darah bagi pendonor dan pasien, persyaratan donor darah maupun program Ladamanis itu  sendiri. Untuk itu semua perlu ada pembekalan secara khusus bagi kita,” pungkasnya.

Peserta mendapatkan materi sosialisasi tentang Ladamanis dari Pengurus PMI Kabupaten Sleman Tri Joko S.

Disampaikan bahwa program Ladamanis merupakan program hasil gotong royong antara Pemerintah Daerah, PMI dan Masyarakat. Pemerintah Daerah mencukupi Beaya produksi pengolahan darah, PMI sebagai pelaksana teknis perolehan darah, proses produksi dan distribusi kepada pasien penduduk Sleman yang membutuhkan.

“Sedang masyarakat sebagai relawan pendonor dan penyuplay ketersediaan,” tukasnya.

Program Ladamanis dimulai tahun 2019. Ladamanis diperuntukkan bagi pasien penduduk Sleman yang memerlukan transfusi. Masyarakat Sleman tanpa memandang status sosial dan jenis kelamin dapat mengakses melalui Rumah Sakit yang merawat dengan persyaratan foto copy kartu identitas yang sah dan masih berlaku (KTP/KK)

Terkait penyelenggaraan donor darah, Tri Joko menuturkan bahwa selain penyelenggaraan yang dilaksanakan oleh PMI Kapanewon, kelompok masyarakat dapat menyelenggarakan secara mandiri baik dilaksanakan di komplek masjid atas inisiatif Pengurus Takmir, Di Komplek Gerja bahkan ditingkat padukuhan atas prakarsa pemuda/Karang Taruna.

“Yang terpenting perencanaan dikomunikasikan dengan PMI Kapanewon maupun PMI Kabupaten. Waktu permohonan  tidak mendadak dan sudah ada daftar calon peserta 30 orang. Lebih banyak lebih baik, dan tidak ada pungutan Beaya alias gratis,” pungkas Tri Joko. (Tri Joko S – KIM Kalasan)