Pemkal Banyuraden Sosialisasikan Tanggap Bencana Agar Pahami Potensi Risiko Bencana

Kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana di mulai dari pemahaman yang baik mengenai potensi risiko bencana di wilayah tempat tinggal dan dusun masing-masing. Hal tersebut disampaikan oleh Febrianto Sapto Adi selaku narasumber dari Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dalam kegiatan sosialisasi tanggap bencana yang diselenggarakan Pemerintah Kalurahan Banyuraden yang berlangsung di Gedung Serbaguna Banyuraden, Jumat malam (27/12/2024).
Sosialisasi yang ditujukan guna meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dibuka secara langsung oleh Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama didampingi Jagabaya Banyuraden, Sidiq Wijanarko yang diikuti sebanyak 50 peserta dari unsur Komunitas Relawan (Komrel), Jagawarga, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta Dukuh di wilayah Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping.
Kegiatan ini diinisiasi karena wilayah Kalurahan Banyuraden dikenal sebagai daerah yang rawan terhadap berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Potensi tersebut meningkat terutama saat musim penghujan tiba. Oleh karena itu, sosialisasi ini menjadi langkah preventif pemerintah untuk mengurangi dampak bencana di kemudian hari.
“Pengetahuan dan kesiapan adalah kunci utama dalam menghadapi bencana. Kita ingin masyarakat memiliki kemampuan untuk merespons dengan cepat dan tepat saat situasi darurat terjadi,” ucap Hendy Indra Kusuma selaku Carik Banyuraden dalam sambutannya mewakili Lurah Banyuraden.
Dalam kegiatan tersebut, Febrianto Sapto Adi selaku narasumber dari Tim Reaksi BPBD Kabupaten Sleman memberikan pemaparan tentang jenis-jenis bencana yang dapat terjadi di wilayah Banyuraden. Mereka juga membahas pola mitigasi yang efektif, seperti mengenali tanda-tanda awal bencana, jalur evakuasi, serta pentingnya koordinasi antar relawan bersama warga.
Lebih lanjut, Ia mengulas tentang jenis bencana yang kemungkinan terjadi dan patut diwaspadai antara lain bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Disebutkan, bencana alam yaitu bencana yang diakibatkan oleh serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Sedangkan bencana nonalam merupakan bencana yang diakibatkan oleh rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Serta bencana sosial yang timbul karena peristiwa yang diakibatkan ulah manusia seperti konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.
Selain itu, para peserta juga diberi wawasan cara melakukan tanggap darurat. yang meliputi cara penyelamatan korban banjir, mendirikan posko darurat, dan teknik dasar evakuasi pertolongan pertama. Para relawan terlihat antusias mengikuti sosialisasi ini demi memperkuat kesiapan mereka dalam situasi nyata.
Kegiatan ini juga menjadi momen penting untuk mempererat hubungan antara relawan, jagabaya, babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para dukuh dalam upaya menjaga keamanan dan keselamatan warga. “Kerjasama adalah elemen penting. Kita semua di sini punya tanggung jawab bersama untuk melindungi Masyarakat,” cetus Sidiq Wijanarko selaku Jagabaya yang turut hadir.
Para relawan pun menyambut positif kegiatan ini. Mereka berharap kegiatan semacam ini dapat diadakan secara berkala guna memastikan kesiapan masyarakat tetap terjaga dan memahami cara bertindak saat bencana terjadi.
Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap upaya yang dilakukan dapat menciptakan lingkungan yang lebih tanggap dan tangguh terhadap bencana, serta meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana melanda. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

