Tes Jabatan Dukuh di Klisat dan Semingin Masuki Tahap Akhir

Sleman – Padukuhan Klisat dan Semingin di Kalurahan Sumbersari, Moyudan akan mendapat Dukuh baru. Setelah melalui beberapa tahapan dalam pengisian Jabatan Dukuh di dua Padukuhan tersebut sebagai puncaknya adalah pada Senin ( 2/12/2024) mulai pukul WIB sampai dengan pukul para kandidat Dukuh mengikuti tes yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri ( UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pada waktu yang sama dilakukan pengumuman hasil tes bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman yang dihadiri langsung oleh Panewu Moyudan, Kepala Jawatan Projo Kapanewon Moyudan, Lurah Sumbersari beserta Pamong dan Staf. Tidak ketinggalan ikut hadir keluarga calon dan sebagian warga dari kedua Padukuhan yang sudah menunggu sejak pukul WIB.

Lurah Sumbersari Sukadi pada saat memberikan sambutan menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh panitia yang sudah bekerja secara optimal sesuai tahapan dan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya Sukadi menuturkan semua calon adalah putra putri terbaik, namun semua ditentukan hasil tes dan nilai tambahan pengabdian dan lokalitas.

“Kami harap semua calon dan warga bisa menerima siapapun nanti yang jadi, itulah putra terbaik dari yang baik,” ungkap Sukadi.

Ia pun berpesan kepada calon yang dengan nilai terbaik untuk tidak jumawa dan untuk siap mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Dukuh adalah pelayan masyarakat yang harus siap memberikan pelayanan selama 24 jam,” pungkasnya.

Panewu Moyudan Harsowasono  dalam sambutannya menyampaikan bahwa setelah melalui beberapa tahapan pengisisn jabatan Dukuh Klisat dan Semingin saat ini merupakan puncak dari tahapan tersebut berupa pengumuman hasil tes, sesuai dengan regulasi dilakukan bekerjasama dengan perguruan calon yang mendapatkan nilai tertinggi yang akan jadi, setelah mendapat nilai tambahan nilai pengabdian dan lokalitas.

“Kepada siapapun yang mendapat nilai tertinggi, saya berpesan agar segera menyesuaikan diri untuk mengabdi kepada masyarakat, dan ini mungkin merupakan kado terbaik di hari jadi Kalurahan Sumbersari yang ke- 78,” tutur Harso.

“Kepada yang belum berhasil tetap semangat untuk mengabdi, saya yakin kalian adalah putra-putra teebaik yang potensial untuk membantu dalam pembangunan wilayah,” imbuhnya.

Ketua Panitia Pengisian Dukuh Novi Kuntansari Hadiningroem menyampaikan bahwa nilai yang diperoleh meliputi nilai akademik, psikologi, praktik, dan wawancara yang dilakukan oleh perguruan tinggi dan ditambah nilai pengabdian dan lokalitas. Selanjutnya dibacakan nilai dari masing-masing calon. Adapun hasilnya adalah untuk Padukuhan Klisat Rama Wikan Pratama mengungguli dua ksndidat lainnya dengan total nilai 90,12. Dua calon lainnya yaitu Dewanto Arisaputro total nilai 81,86, dan Wahyu Santoso memperoleh total nilai .

Sedangkan untuk Padukuhan Semingin Edy Saputra yang unggul dengan jumlah nilai 88,68 mengalahkan 3 kandidat lainnya. Maruli Taufik total nilai 82,20, Desta Ganda Kusuma dengan jumlah nilai 87,53, dan Anom Sudrajat memperoleh total nilai 80,32. (Giek/KIM Moyudan)




Pahami Makna Surah Al-Kautsar, Pengajian Seroja Seimbangkan Ibadah Ritual dan Sosial

Untuk mengajak masyarakat menyeimbangkan ibadah ritual dan sosial, maka Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan pengajian yang mengangkat tema ‘Belajar dari Al-Kautsar: Ibadah Ritual dan Sosial’ yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan, Dusun Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu sore (1/12/2024).

Sebagai pemateri utama, yaitu Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BSMI, Indra J Sukarno dalam penyampaiannya mengajak jama’ah untuk memahami dan menggali lebih dalam makna surah Al-Kautsar, yang merupakan salah satu surah pendek dalam Al-Qur’an, namun memiliki pesan yang sangat mendalam.

“Surah Al-Kautsar bukan hanya berbicara tentang rahmat dan berkah, tetapi juga mengandung ajaran tentang keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial,” ujarnya di hadapan para jama’ah yang hadir.

Lebih lanjut, Indra menjelaskan bahwa ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan zakat merupakan sarana penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, yang tak kalah penting adalah ibadah sosial yang melibatkan interaksi antar sesama manusia. Menurutnya, Al-Kautsar mengajarkan manusia untuk tidak hanya mengutamakan hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperhatikan sesama melalui amal sosial yang bermanfaat.

Acara ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari warga setempat yang tergabung dalam pengajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) hingga anggota BSMI Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlihat sangat antusias mengikuti jalannya pengajian. Pendhapa Kekandhangan yang merupakan sebuah tempat berkegiatan berbagai komunitas di Kabupaten Sleman menjadi pilihan lokasi yang tepat untuk menyelenggarakan acara ini karena memberikan nuansa yang unik bagi para jama’ah.

Indra J Sukarno juga mengajak para peserta untuk mengambil pelajaran dari surah Al-Kautsar dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks sosial. Dalam kehidupan modern yang serba sibuk ini, seringkali manusia lupa untuk berbagi dengan sesama.

“Al-Kautsar mengingatkan bahwa hidup yang penuh berkah adalah hidup yang dibarengi dengan kepedulian terhadap orang lain,” imbuhnya.

Sebagai salah satu organisasi yang aktif dalam kegiatan sosial, BSMI berkomitmen untuk terus menggelar acara yang tidak hanya meningkatkan pemahaman agama, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antar umat. Pengajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi jamaah, baik dari sisi spiritual maupun sosial.

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Indra adalah bahwa keberkahan yang terkandung dalam surah Al-Kautsar tidak hanya didapatkan dengan beribadah, tetapi juga dengan berbagi dan peduli terhadap sesama.

Dengan suksesnya pengajian ini, BSMI Daerah Istimewa Yogyakarta berharap dapat terus memperkuat hubungan antar umat serta menumbuhkan rasa saling peduli di tengah Masyarakat sebagai implementasi langsung dari nilai-nilai sosial yang diangkat dalam pengajian. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Komunitas Kekandhangan Gamping Gelar Bakti Sosial dan Edukasi Relaksasi bagi Warga Purwosari

Sleman – Kegiatan bakti sosial dan edukasi relaksasi digelar oleh Komunitas Kekandhangan Gamping di Padukuhan Nglegok, Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Minggu (1/12/2024). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat setempat dalam mengelola stres yang disebabkan oleh serangan satwa liar, khususnya monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) terhadap lahan pertanian mereka.

Acara dimulai pagi hari dengan pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Padukuhan Nglegok, Asnanta, pengurus dan anggota Komunitas Kekandhangan Gamping, serta warga setempat. Sekretaris Komunitas Kekandhangan, Adnan Iman Nurtjahjo dalam sambutannya menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis para petani akibat kerugian yang ditimbulkan monyet ekor panjang.  

Pasalnya, satwa liar tersebut sering merusak tanaman para petani. Hal ini tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga menambah beban psikologis para petani yang semakin cemas dan tertekan.

“Untuk itu, Komunitas Kekandhangan Gamping mengadakan sesi edukasi tentang cara-cara relaksasi untuk mengelola stress oleh narasumber kita, Setyo Hari,” kata Adnan.

Narasumber kegiatan, Setyo Hari pada kesempatan itu memberikan informasi kepada peserta mengenai teknik relaksasi yang sederhana, namun efektif yang disebut dengan teknik hipnoterapi. Teknik ini dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh saat merasa cemas atau tertekan.

Menurutnya, terapi ini dirancang khusus untuk membantu orang melepaskan stres yang berlebih, mengatasi kecemasan dan menemukan ketenangan batin. Stres yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti hipertensi atau gangguan tidur. Oleh karena itu, relaksasi menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari stres yang dialami oleh para petani.

“Dengan teknik hipnoterapi ini, para petani dapat mengembalikan keseimbangan emosionalnya,” ucap Hari.

Selain edukasi relaksasi, kegiatan ini juga mencakup sesi diskusi di mana para petani dapat berbagi pengalaman dan cara yang mereka lakukan untuk mengatasi serangan satwa liar. Salah satu solusi yang diajukan adalah pembuatan pagar pembatas dan penggunaan alat pengusir satwa yang ramah lingkungan. Masyarakat diberi informasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar dapat meminimalkan konflik dengan satwa liar.

Di samping itu, sebagai bagian dari bakti sosial, Komunitas Kekandhangan Gamping juga menyerahkan bantuan berupa 100 paket sembako dan makanan kepada warga yang terdampak serangan satwa liar. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban para petani dan meningkatkan semangat mereka dalam menjalankan aktivitas pertanian sehari-hari.

Kegiatan itu pun mendapatkan apresiasi positif dari warga Padukuhan Nglegok. Dukuh Nglegok, Asnanta mewakili warganya mengungkapkan terima kasih atas adanya kepedulian dari Komunitas Kekandhangan dan edukasi mengenai pengelolaan stres bagi warganya.

“Semoga dengan pencerahan yang diberikan kami bisa lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi masalah di lahan pertanian,” ujarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




MUI Depok Gelar Rapat Pleno II Bahas Penguatan Peran dan Fungsi MUI bagi Masyarakat

Sleman – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok menggelar Rapat Pleno II di Kantor Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman, Minggu (1/12/2024). Rapat kali ini membahas mengenai penguatan peran dan fungsi MUI di tengah-tengah masyarakat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok, KH Sunhaji pada kesempatan itu menegaskan pentingnya penguatan peran dan fungsi MUI agar semakin relevan dengan kebutuhan jamaah, khususnya di wilayah Kapanewon Depok.

“Rapat pleno membahas berbagai hal. Pertama, berkaitan dengan penguatan, peran, dan fungsi MUI agar sesuai khittah perjuangannya untuk mengembangkan khidmah peran-peran MUI kepada kepentingan-kepentingan umat,” ungkap Kiai Sunhaji.

Menurutnya, rapat ini tidak hanya membahas penguatan internal organisasi, tetapi juga menangkap isu-isu aktual yang tengah berkembang dimasyarakat.

“Dalam kesempatan ini akan dibahas berbagai hal, misalnya terkait dengan maraknya dekadensi moral seperti maraknya judi online, pinjol, miras, toilet tidak suci, dan masih banyak persoalan-persoalan masyarakat lain,” tandasnya.

Lebih lanjut, Sunhaji menjelaskan bahwa keberadaan MUI Depok Sleman akan berusaha memaksimalkan peran para anggotanya, baik dalam kontribusi pemikiran maupun gagasan-gagasan yang dapat diimplementasikan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. 

“Di sini, kami semua yang duduk sebagai anggota harus dimaksimalkan peran-perannya dalam organisasi, baik melalui pemikiran maupun gagasan-gagasannya, yang kami yakini sangat luar biasa,” tegasnya. 

Komitmen tersebut direalisasikan dengan langkah MUI Depok Sleman merekomendasikan pelaksanaan berbagai program yang bersifat rintisan dan strategis, dengan dampak luas dan signifikan bagi masyarakat, khususnya di wilayah metropolitan seperti Kapanewon Depok.

“Kami berusaha merekomendasikan agar MUI Depok, dalam membangun atau melaksanakan program-programnya itu lebih berorientasi kepada yang memiliki dampak luas pada masyarakat,” imbuhnya. (Athiful/Kim Depok)




Lestarikan Budaya Jawa, Sanggar Tari Mangun Harjo Gelar Pentas Ujian Tari Kreasi

Sleman – Sanggar Tari Mangun Harjo, Pandean Kalurahan Sidoluhur Kapanewon Godean menyelenggarakan Pentas Ujian Tari Kreasi di RTH Gumuk Sikuneng, Pandean VII, Sabtu (30/11/2024).

Ketua Sanggar Tari Mangun Harjo, Ema Yuliati menuturkan bahwa pentas ini merupakan penyelesaian pembelajaran untuk tahun 2024. Di mana, jumlah peserta didik di Sanggar Tari Mangun Harjo sebanyak 100 orang. Sementara, peserta didik yang mengikuti pentas ujian tari kreasi tersebut berjumlah 91 anak.

“Dari 91 anak itu, terbagi dalam Kelas A usia PAUD/TK sebanyak 18 anak, dengan membawakan tari Sluku Sluku Bathok dan Tari Wercitra. Untuk kelas B usia SD kelas 1-3 sebanyak 30 peserta dengan tari Sembagi Arutala dan Kencana Wingka,” kata Ema.

“Sementara untuk kelas C peserta usia SD kelas 4-6 jumlahnya 27 dengan tari Suka Pari Suka dan Mulang Wring dan kelas D usia kelas SMP. SLTA dan Umum sebanyak 16 dengan Tari Krenteg Semarangan dan Ciptaan Ciptaan Sanggar Mangun Harjo yaitu Ni Luh Sekar,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ema menambahkan, sanggar yang dipimpinnya berdiri pada 27 Agustus 2015. Hingga saat ini sanggar tersebut memiliki tiga pelatih dan seorang admin. Materi pembelajaran yang diberikan meliputi tari klasik dan kreasi.

Sanggar tersebut didirikan untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung. Melalui sanggar pihaknya bermaksud menggugah kembali dan mendorong anak-anak, remaja dan pemuda serta masyarakat untuk bangkit mencintai dan melestarikan seni tari.

“Dengan seni tari kita bisa olah raga, olah rasa dan olah cipta,” tandas Ema.

Peserta didik Sanggar Mangun Harjo berasal dari berbagai wilayah Sleman barat, seperti Godean, Gamping, Seyegan, Minggir, bahkan ada yang dari luar wilayah Kabupaten Sleman. Pembelajaran dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan jadwal mulai pukul WIB untuk kelas A, pukul WIB untuk kelas B, dan pukul WIB bagi kelas C. Sementara untuk peserta kelas D, pembelajaran dimulai pukul WIB hingga pukul WIB. (Tri Joko S – KIM Kalasan).